
Vera berada di sebuah goa, di sana dia sedang menikmati santapan yang dia ambil sebelum masuk goa.
sedang di tempat lain, keluarga dari Raka sedang memilih sekolah untuk Arkan dan Aryan.
tapi karena sekolah yang bagus hanya sekolah di yayasan pondok, akhirnya mereka sekolah di sana.
sedang Raka yang mendapatkan kabar dari orang kepercayaannya kaget, pasalnya Rafa dan keluarganya dalam bahaya.
"ada apa ayah?" tanya wulan yang melihat Raka seperti orang yang syok.
"tidak ada apa-apa kok Amma, oh ya sekarang bagaimana kandungan mu?" tanya Raka.
"Semuanya baik, apa kamu dapat kabar dari mas Rafa dan mbak Jasmin, bagaimana kabarnya?" tanya Wulan khawatir.
"mereka baik-baik saja, meski Jasmin sedang ngambek dan pulang ke Surabaya," jawab Raka.
"pasti mas Rafa melakukan kesalahan, sudahlah mas hubungi saudara mu itu, tak baik jika terus bertengkar seperti ini," tegur Wulan mengingatkan suaminya.
"iya Amma, aku mengerti," jawab Raka pasrah
Rafa yang membayar semua biaya pengobatan kaget saat mendengar tentang kecelakaan yang menimpa ambulans yang membawa Vera.
Rafa buru-buru memastikan sesuatu, tapi kenyataannya dia malah mendapatkan informasi yang buruk.
saat kebingungan, ponselnya berdering ternyata itu Raka yang menghubunginya.
"assalamualaikum Raka, gawat karena ibu Vera kabur dan sekarang mungkin dia membahayakan untuk semua orang, karena semalam dia menyerang lima orang di desa," kata Rafa yang jujur.
"sudah ku katakan wanita itu gila dan berbahaya, ya sudah minta bantuan Aditya dan aku akan segera pulang dan membantumu," kata Raka yang mematikan telponnya.
Wulan tau jika ada masalah dan mungkin ini sangat serius, terlebih Raka yang nampak sangat panik.
"sayang aku harus kembali ke desa, mungkin untuk beberapa hari, dan tolong jangan khawatir ya, dan jaga kesehatan mu," pamit Raka.
"aku ikut mas, aku tak ingin tetap disini," mohon wulan pada suaminya.
"tidak bisa sayang, aku mohon ya untuk kali ini saja," mohon Raka.
Wulan pun mengizinkan suaminya itu pergi, dan Raka segera menuju desa lama tempat tinggalnya.
butuh dua setengah jam untuk sampai, sesampainya di rumah lamanya.
terlihat semua keluarga sudah berkumpul, tanpa bilang apa-apa Raka langsung menonjok wajah wajah Rafa tanpa ampun.
"kamu gila," kaget Rafa.
"ya aku gila, aku sudah bilang biarkan wanita itu di rumah sakit jiwa, tapi kamu sok-sokan mau merawatnya, sekarang dia menghilang," marah Raka.
amarah Raka benar-benar meluap, Aditya masih memegangi Raka agar tak anarkis lagi.
ini juga bukan keinginan semua orang, telebih wanita itu bisa membunuh orang dan menghisap darahnya.
"aku tau, tapi ada yang aneh, ibu Vera membunuh orang dan menghisap darahnya hingga habis, itu tak lazim " saut Rafa yang kini mencengkram kaos Raka.
Aditya yang kesal pun menarik kedua pria itu dan mendorongnya, "amarah kalian tak membuahkan hasil!" bentak pria itu.
Adri dan Rizal kaget melihat Aditya yang biasanya kalem bisa berubah lebih kejam dari Raka.
keduanya pun bangun dan bersalaman, "jika begini enak, apa mas Raka tak pernah merasakan aura yang aneh?" tanya Aditya.
__ADS_1
"setahuku tidak, tapi aku pernah dengar dari Aryan jika ibu Vera sering bergumam seperti orang gila, tapi aku lupa dia bergumam apa," kata Raka yang mencoba menginggat sesuatu.
"batik Iki kudu lahir, tuan pesan ngunu... musno ... musno..." kata Rafa.
"ya itu, tapi Aryan tak mengerti begitupun aku, aku kira itu hanya karena dia gila, jangan bilang dia hamil anak iblis," kata Raka melihat Rafa.
"jika itu terjadi, keluarga kita dalam masalah, karena jika bayi iblis itu lahir, maka dia perlahan bisa membunuh dan membalaskan dendam pada kita," tambah Rafa.
"kalau begitu kita cari, tapi dimana bisa menemukan wanita gila itu, kita ini luas," kata Adri.
"tidak mungkin jauh om, karena di lihat dari jam saat dia hilang, seharusnya beberapa jam lagi dia harusnya akan lahir," kata Rafa yang membuat mereka semua kaget.
"kita harus segera mencarinya, kita ke tempat lembab dan minim pencahayaan, karena mahluk seperti itu suka tempat yang seperti itu." kata Raka.
akhirnya mereka menyebar anak buah mereka, mereka menyusuri jalan tol, dan dari atas jalan tol Raka melihat ada hutan di kejauhan.
"kura ke tempat itu," tunjuk Raka
"AIA tidak terlalu jauh?"
"kamu tau sendiri kriteria orang yang kerasukan dimana, memang kamu tak merasakan ada yang aneh di hutan itu," kesal Raka.
"ah maaf .... aku sedang banyak pikiran jadi tak bisa berkonsentrasi," jawab Rafa.
mobil mereka tak bisa menembus hutan jati itu, ternyata warga sekitar bilang jika itu hutan yang cukup angker.
"kalian yakin mau masuk kedalam," tanya Adri.
"harus om,jika tidak kita semua bisa mati, tapi jika om tak ingin masuk tak apa-apa, anda bisa tinggal disini," jawab Raka.
Adri pun mengangguk, dia menunggu di mobil, sedang Rafa, Raka dan Aditya berjalan masuk sambil membawa beberapa senjata tajam.
mereka menyisir hutan, hari juga mulai menunjukkan warna jingga yang menandakan bahwa hari mulai petang.
"mas ini darahkan, banyak loh di pohon dan seperti telapak tangan," kata Aditya.
"ya ini seperti jejak, kita ikuti," ajak Rafa
Raka memanggil Ki Antaboga, dan juga sen-sen. kedua khodam itu kini menjaga ketiganya dari marabahaya
mereka berjalan masuk terus kehutan itu, meski tak jauh dari pemukiman penduduk tapi hutan ini terasa aneh, aura mistis yang kental terasa.
bahkan yang aneh suara hewan malam pun tak terdengar, sunyi terasa di hutan ini terlalu janggal.
mereka menemukan sebuah goa, tapi saat masuk tercium aroma amis yang begitu kental terasa.
tapi saat mereka masuk, kaget bukan kepalang, begitu banyak onggokan bangkai binatang.
"kenapa bisa seperti ini? siapa yang melakukannya?" gumam Aditya.
di dinding goa, seseorang sedang merayap dan menyeringai seram, tubuhnya kering tinggal kulit dan tulang.
Rafa merasakan ada sesuatu yang mengawasi mereka tapi tak dapat melihatnya.
sedang Raka fokus menyorot setiap sudut goa yang begitu gelap itu, tapi dia kaget hingga terlonjak.
sosok vera sedang tersenyum seram kearahnya, wanita itu menunjukkan gigi bekas mengigit mangsa hingga belumuran darah.
"musno...." katanya dengan seringai seram.
__ADS_1
Aditya pun mundur karena kaget, Rafa yang melihat pun berdiri berdampingan dengan Raka.
Keduanya bersiap untuk mulai menyerang, tapi tiba-tiba Vera terjatuh dan mengerang kesakitan.
"sakit!!" teriaknya.
tak terduga, perut Vera yabg membesar tiba-tiba, robek dan muncul sesosok gadis dari perut itu.
karena tau apa sosok itu Rafa ingin menebasnya, tapi dia malah melihat sosok istrinya di wajah mahluk itu.
Rafa terdiam, tak terduga mahluk itu menusuk perut Rafa dengan kuku tajamnya.
melihat hal itu Aditya mengambil golok Rafa dan langsung menebas dan mencincang tubuh mahluk itu.
"tidak!!! anakku," kata Vera yang melihat hal itu.
karena sudah marah dan tak ingin ada lagi korban, Aditya melempar golok itu dan memenggal kepala Vera, "bakar segera Aditya," perintah Raka.
Aditya pun menuangkan minyak tanah, dan saat akan membakarnya, tiba-tiba potongan mahluk yang keluar dari perut Vera ingin bersatu.
dengan segera Aditya membakar mahluk itu, dan sambil melemparkan garam krosok yang sudah di doakan.
sedang Rafa mengalami luka parah, sebisa mungkin raja menahan agar darah dari Rafa tak menetes.
"Aditya bawa dia pergi dahulu, lukanya terlalu parah," perintah Raka.
"tapi mas Raka?"
"aku akan menunggu api ini padam dan membuat mereka terkunci di goa ini," jawab Raka.
Aditya pun mengendong Rafa, yang mulai memucat, sebisa mungkin Aditya pergi dengan bergegas.
kini Raka menyegel kekuatan hitam itu di goa, dan dengan bantuan ku antaboga goa itu di tutup dan di buat tak terlihat.
Raka segera pergi dengan menunggangi sen-sen, harimau hitam ghaib miliknya itu pun mengantarnya sampai di mobil.
kondisi Rafa makin buruk, Adri menyetir mobil dengan cepat agar segera sampai di rumah sakit, dan Rafa langsung mendapatkan penanganan pertama.
Raka mendonorkan darahnya untuk Rafa, begitupun dengan Aditya yang ternyata memiliki resistensi darah yang sama dengan Rafa.
tapi Tuhan berkehendak lain, Rafa akhirnya menyerah di saat dokter masih berusaha untuk menyelamatkan dirinya.
Raka dan semua orang yang menunggu di luar sangat cemas, pasalnya luka Rafa sangat parah kali ini.
dokter pun keluar dan menghampiri ketiga pria yang sedang menunggu dengan cemas itu.
melihat dokter keluar dari ruang operasi, Raka langsung bangkit dan menghampiri dokter tersebut.
"bagaimana dengan saudara kembar saya dokter," tanya Raka.
"maaf pak, kami sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan pasien, tapi Tuhan berkehendak lain, pasien telah meninggal dunia pada jam dua puluh tiga tiga puluh, saya turut berduka cita, maaf .... kami turut berduka cita ya pak," kata dokter
tak lama tubuh kaku Rafa di dorong keluar dari ruang operasi, dan akan di bawa ke kamar jenazah.
Raka yang syok langsung memeluk tubuh saudara kembarnya itu, "Rafa!!! tidak bangun bang, jangan menggoda ku, bangun bodoh, kamu tak boleh mati seperti ini!!!" teriak Raka mengundang tubuh Rafa.
Adri dan Aditya mencoba menarik Raka, agar tak membuat keributan, "sudah Raka, ikhlaskan Rafa, dia sudah di panggil tuhan, jangan membuat jalan nya menjadi berat," kata Adri.
"tidak om, dia sedang membohongiku, dia tak mungkin mati semudah itu, dia itu masih hidup, Rafa!!!" teriak Raka yang akhirnya pingsan.
__ADS_1
Aditya buru-buru menahan tubuh Raka, dia juga membantu membawa Raka ke ruang UGD untuk mendapatkan pertolongan.
Adri pun menghubungi semua keluarga, sedang Raka pingsan karena kelelahan dan juga syok.