
mendengar itu Faraz menghalangi adiknya itu agar tak sampai di kamarnya, "kamu berani menyakitinya, langkah i dulu mayat ku,"
mendengar itu Arkan tertawa terbahak-bahak, "ha-ha-ha kau kira aku takut bang!" teriaknya dengan keras.
"ayah kenapa diam, pisahkan kedua putra mu," marah Wulan.
Arkan pun melempar goloknya dan mulai menarik kerah baju Faraz, Wulan yang tak bisa melihat kedua putranya berkelahi pun nekat.
dia mengambil golok yang di lempar oleh Arkan, "jika kalian terus ribut, Amma bisa melukai diri Amma di depan kalian sekarang juga,"
mendengar itu, Arkan dan Faraz pun melepas diri mereka, Aryan datang dan langsung merebut golok itu.
"hanya karena wanita kalian akan saling membunuh, dia bahkan belum jadi istri kalian, kenapa sampai membuat Amma sedih," marah Aryan.
Raka langsung mencekik kedua putranya itu, "jika kalian tak bisa mengendalikan diri,lebih baik aku kehilangan dua putra yang tak menghormati ibunya," marah Raka dan membuat Keduanya pingsan.
Niken dan Nia yang baru keluar kaget melihat dua pemuda itu pingsan, tapi saat keduanya mendekat Raka melarangnya.
"berhenti dan jangan menyentuhnya, sekarang pakde Kholik bawa Nia pulang, dan Aryan antar Niken dan Nayla pulang juga, biar keduanya jadi urusan ayah," perintah Raka yang terlihat marah.
"baik ayah," jawab Aryan.
Wulan pun hanya melihat keduanya, kemudian Wulan duduk bersila, Raka memosisikan keduanya saling sejajar.
Wulan memegang puncak kepala keduanya, sedang Raka duduk di ujung kaki keduanya.
Arkan dan Faraz sampai di sebuah ruang gelap, entah mereka berada di mana.
__ADS_1
tiba-tiba Arsana datang, "woi lah, Abang Arkan dan bang Faraz ada apa di kirim ayah kesini," tanya gadis cantik itu.
"Arsa, ini tempat apa?" tanya arkan.
"ini ruang khusus jika ayah dan Amma ingin bertemu dengan ku, oh ya bang Faraz kenapa syok begitu, aku juga asik mu loh," kata gadis berpenampilan seperti putri raja
"ah maaf, aku tak pernah tau jika kalian kembar tiga," jawab Faraz.
Arsana hanya tertawa, "benarkah, wah aku merasa tidak di akui, tapi bukan itu intinya, ayah mengirim kalian ke sini untuk bertemu mereka," kata Arsana yang mulai menari dan mengucapkan sebuah mantra.
tak lama sosok Ki Gondo Rekso, dan sosok Ki Antaboga datang dalam wujud manusia.
Arsana tersenyum dan mengucapkan salam pada kedua perewangan milik leluhur mereka itu.
"salam kula damel leluhur embah kakung buyut. (salam saya buat leluhur kakek buyut)" kata Arsana sambil menangkupkan tangannya di atas kepala.
"aku trima salam mu putu wadon ku, geneya bapa kowe kabeh nimbali kita , kang lawase iki keturon ing jero awak sadulur-sedulur mu? ( Aku terima salam mu cucu perempuan ku, kenapa ayah kalian memanggil kami, yang selama ini tertidur di dalam tubuh saudara-saudara mu?)" tanya Ki Antaboga pada sosok Arsana.
"kaping kalih kakang jaler kula puniki ngalami kesisahan, bapa nedha ing embah kakung buyut kangge ngrencanginipun, kados pundi piyambakipun sedaya saged nglawan dukun santet pemakan manungsa puniku? (Kedua kakak laki-laki saya ini mengalami kesulitan, ayah memohon pada kakek buyut untuk membantunya, bagaimana mereka bisa melawan dukun santet pemakan manusia itu?)" kata Arsana.
"le.. le.. le... sampeyan-sampeyan berdua ajeng[badhe] nglawan takdir ingkang kuwaos, kenging punapa sampeyan-sampeyan ajeng[badhe] ngorbanaken nyawa sampeyan-sampeyan demi tiyang ingkang malah dereng tamtu dados pasangan gesang sampeyan-sampeyan? kula kecewa ing sampeyan-sampeyan berdua ingkang meh sami-sami mejahi amargi setunggaling tiyang estri. ( Le.. le.. le... Kalian berdua mau melawan takdir yang kuasa, kenapa kalian mau mengorbankan nyawa kalian demi orang yang bahkan belum tentu jadi pasangan hidup kalian? Aku kecewa pada kalian berdua yang hampir saling membunuh karena seorang wanita.)" kata Ki Gondo Rekso dengan wajah murka.
"kita nedha pangapunten[nuwun sewu] embah kakung buyut, kita namung[naming] kajeng[badhe] nglindungi kaping kalih ipun, kula ngertos bilih kita sampun keterlaluan, nanging punapa lepatipun bilih kita ngrencanginipun. ( Kami mohon maaf kakek buyut, kami hanya ingin melindungi keduanya, saya tau jika kami sudah keterlaluan, tapi apa salahnya jika kami membantunya.)" jawab Faraz.
"nggih pun, kita purun ajeng[badhe] ngrencangi sampeyan-sampeyan berdua, nanging napa mawon ingkang kedados sasampunipun puniku, sampeyan-sampeyan berdua kedah ikhlas. mboten angsal nentang takdir allah. ( Baiklah, kami setuju akan membantu kalian berdua, tapi apapun yang terjadi setelah itu, kalian berdua harus ikhlas. Tidak boleh menentang takdir Allah.)" jawab Ki Antaboga.
Keduanya pun masuk kedalam tubuh titisan mereka, Faraz di membawa sosok Ki Gondo Rekso.
__ADS_1
sedang Arkan membawa sosok ular naga leluhur yang paling berkuasa, ya Ki Antaboga yang di yakini sebagai raja dari kaum ular.
bahkan ular naga itu bisa mewujudkan tiga kepala saat benar-benar sedang marah.
Raka melihat dua tato muncul di leher kedua pemuda itu, "kembalilah!" panggil Raka.
keduanya pun sadar, dan langsung bersujud di depan Wulan, sedang melihat reaksi kedua putranya.
Wulan langsung mengelus kedua kepala kedua putranya itu, "kaki minta maaf Amma, seharusnya kami tak boleh mengatakan hal buruk pada Amma," kata Faraz.
"seharusnya kami sadar, jika Amma adalah segalanya bagi kami, bukan malah bertengkar karena seorang wanita," tambah Arkan.
"baiklah, Amma sudah maafkan, asal kalian tak boleh bertengkar lagi lain kali," jawab Wulan pada kedua Putranya.
Raka berdiri dan melihat keduanya yang ingin memeluk Wulan, langsung menarik telinga kedua pemuda itu.
"sebelum peluk Amma kalian, cepat mandi sholat dan jangan membuat ku marah lagi, lekas!" perintah Raka.
"iya ayah, tapi lepas dulu, sakit..." protes Faraz.
keduanya pun buru-buru masuk kedalam kamar masing-masing dan mulai melakukan perintah Raka.
sedang Raka mengendong Wulan, "sudah tak sedih, sekarang ayo kita lihat dua gadis kita," ajak Raka.
Wulan mengangguk, dia tau jika Raka tak akan pernah membiarkan dirinya sedih.
bahkan pria itu begitu kejam saat kejadian seperti tadi sampai terjadi, pasalnya dia merasakan tidak enaknya tumbuh tanpa orang tua di sekitarnya.
__ADS_1