
Raka pulang dengan sedikit panik, karena janin setan itu bisa di ambil oleh penanamnya, maka akan bisa di pastikan akan terjadi Malapetaka.
"assalamualaikum sayang," sapa Raka yang mencium pipi Wulan.
"waalaikum salam, ada apa ayah, kenapa kamu terlihat panik begitu?" tanya Wulan.
"mana anak-anak, desa sedang dalam keadaan genting, ada seseorang yang sedang mencari kekayaan dengan memanfaatkan orang untuk jadi inang," jelas Raka yang mengambil sarung tangan.
"Amma bantu," kata Wulan.
"tapi Amma kita juga membutuhkan dia putra kita," kata Raka melihat istrinya.
"kami juga bantu ayah, om Fahri tolong bantu kami menyiapkan kain putih yang ada di kamar khusus," kata Arkan yang sudah mengetahui segalanya.
"baiklah, ayo Aryan bantu om," ajak Fahri.
Fahri dan Aryan menaikan kain putih yang ada dua glondong, setelah itu mereka pun bergegas menuju ke desa.
ternyata Rafa sudah bersama dengan ustadz Arifin dan beberapa muridnya, "tolong buat bilik dari kain ini, dan ingat yang boleh masuk hanya para remaja putri dan ibu mereka," pesan Raka.
"tapi Wulan akan kesulitan jika sendiri," bantah Rafa.
"tidak, aku akan memanggil putri kami," kata Raka
"Arsana, datang nak Amma butuh bantuan mu, begitupun ayah dan kedua saudara mu," panggil Raka dengan suara lembut sambil menggenggam erat sebuah bunga kantil.
tiba-tiba angin bertiup pelan dan menerpa tubuh Wulan dan juga kedua putranya.
seorang gadis cantik seusia Arkan dan Aryan terlihat berjalan dengan anggun, gadis itu mengenakan pakaian bak seorang penari.
Arkan pun mengenali rupa cantik gadis itu, "putri di istana tumenggung Wira Sanjaya,"
"iya kakanda, salam kenal dari adinda," kata gadis itu sambil menangkupkan tangannya pada Arkan.
__ADS_1
Wulan pun langsung berjalan dan mencium angin tanpa ada orang yang bisa melihatnya kecuali keluarga Rakasa.
"kita sudah siap, Aryan dan Arkan ambil posisi kalian, Amma dan Arsana juga," kata Raka.
Wulan berjalan masuk dan menancapkan dua buah Pring petuk untuk menjadi pagar ghaib.
baru seminggu, tapi ketujuh remaja putri itu sudah mau mengeluarkan bayi ghaib.
sekutu dari pak Doni tertawa, karena ketujuh titisannya akan datang dan akan menjadi penambah kekuatannya.
orok itu berubah menjadi sosok tinggi besar dengan wujud yang makin menyeramkan.
pak Doni kaget melihat wujud asli dari mahluk yang dia sembah, pasalnya lidahnya menjulur sampai di lutut dengan gigi dan kuku tajam.
bahkan wajah dari mahluk itu sekarang menyerupai bentuk terburuk, "ha-ha-ha-ha anak-anak ku ate lahir, ilmu ku akan semakin sakti,"
pak Doni hanya bisa menunduk sambil berlutut, mahluk itu kini bersila dan mulai membaca mantra.
Wulan pun merasakan sebuah angin yang cukup kuat, Aryan mengeluarkan sebuah panah sakti pemberian nyai Nawang.
Wulan mengambil tombak Cokro Geni dan menancapkan tombak itu ketanah, tiba-tiba kondisi mereka seperti terlindungi.
Arsana mulai menari dan terdengar suara gamelan Jawa mengalun dengan suara cukup keras.
Rafa bisa menyaksikan bagaimana dua keponakannya kini berpakaian seperti prabu jaman Majapahit.
kedua remaja itu kini bersiap melawan ke tujuh mahluk yang akan segera lahir.
Rafa dan ustadz Arifin terus membantu doa bersama dengan para orang tua.
"gak onok seng iso ngalahno aku, ha-ha-ha-ha!" tawa mahluk itu dengan suara menggelegar.
semua gadis itu mulai berteriak bersamaan saat Wulan juga masih memutar tasbih miliknya sambil berdzikir.
__ADS_1
tarian Arsana makin luwes dan penuh dengan aura magis, dan Aryan sudah siap dengan panah api begitupun Arkan.
semua khodam milik mereka sudah siap membantu, malam itu terjadi badai hebat, Aryan dan Arkan bahkan melawan mahluk yang mungkin berkali-kali lipat ukurannya dari mereka.
"kakanda, adinda bisa melawannya," kata Arsana pada kedua kakaknya.
"tidak, kita bertiga saudara maka kita harus melawan mahluk itu, dan melindungi ayah, Amma dan semua orang," kata Arkan.
Ki Adhiyaksa datang dengan wujud terbesar begitupun Sesnag dan nyai Ageng tri mustika.
"ternyata kalian bertiga yang memiliki mustika yang hancur itu, keberuntungan ku bisa membinasakan kalian bertiga, dan aku bisa menguasai dua kerajaan ghaib terbesar itu, ha-ha-ha," kata mahluk itu
"sebelum banyak bicara, kita lihat saja siapa yang akan musnah, kamu mahluk burik atau kami," kata Aryan.
Arsana sudah melepaskan selendang miliknya, dan membaca mantra, panah Aryan sudah menjadi panah api yang begitu terang.
begitu pun dengan keris pusaka milik Arkan, tiga khodam mereka maju dan mulai bertarung.
Ki Adhiyaksa dengan gagah saling adu ilmu Kanuragan. sedang Sesnag dan nyai Ageng tri mustika sama-sama melemparkan racun untuk membuat mahluk itu buta.
Ki Adhiyaksa langsung menggoyak tubuh mahluk itu, tapi itu tak membuatnya mati.
"Semuanya minggir!" teriak Arsana yang melesatkan selendangnya untuk melilit tubuh mahluk itu.
setelah itu Aryan dan arkan melepaskan pusaka mereka untuk melawan mahluk itu.
tapi mahluk besar itu tak bisa mati, sampai Arkan mendengar sebuah suara di telinganya.
"ha-ha-ha, kalian bertiga hanya bocah kecil yang sok sakti, kalian bukan tandingan ku, ha-ha-ha," ejek mahluk itu.
"gunakan aku prabu, aku adalah benda pusaka milikmu," suara itu.
tanpa di duga Arkan mengangkat tangan kanannya, tiba-tiba suara petir menggelegar.
__ADS_1
tombak yang di tancapkan di ranjang menghilang dan kini di tangan Arkan.
Arkan pun di angkat oleh burung elang sakti, dan kemudian di jatuhkan tepat di atas kepala dari mahluk itu dan mahluk itu pun mati terbakar.