Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
selamat jalan Arkan.


__ADS_3

Niken pun berusaha membuka matanya tapi tidak bisa, dari kakinya terasa ada sentuhan.


Niken pun membaca ayat kursi di dalam hatinya, dan menginggat Arkan yang tersenyum padanya.


tiba-tiba dia sadar dan terbangun, mahluk yang mengganggunya sudah terbakar hangus.


semua mahluk pun mundur melihat itu, mereka tak mengira jika gadis yang memiliki aroma begitu enak itu tidak bisa di sentuh atau di ganggu.


"dia berbahaya... tapi dia lezat..." gumam para mahluk itu.


tapi tak lama, sebuah Geraman membuat semua mahluk kabur ketakutan, ternyata Suni kini menjadi penjaga Niken.


"sebenarnya seberapa besar tuan akan mencintai gadis ini, bahkan aku sendiri di suruh menjaganya," gumam Suni yang kembali tidur di samping ranjang Niken.


Niken pun kembali tidur, setelah mengambil air wudhu dan sebelum menutup mata dua berdoa terlebih dahulu.


keesokan paginya, Bu mut sedang menyuapi Arkan dengan tangannya sendiri.


wanita sepuh itu bahkan terus menangis karena cucunya yang begitu dia sayangi harus pergi jauh darinya.


"sudah Mbah uti, jika Mbah terus seperti ini aku akan sedih," kata Arkan memeluk sang Mbah.


"habis kamu akan jauh dari keluarga, dan tinggal sendiri di sana," jawab Bu mut.

__ADS_1


"yakinlah Mbah uti, cucu Mbah uti ini sudah sangat dewasa, masak badan sebesar ini masih takut untuk tinggal dan kuliah sendirian," jawab arkan.


setelah makan bersama, mereka pun siap pergi, Fahri dan Raka yang akan mengantarkan Arkan.


sedang yang lain mengantar dari rumah saja, bahkan setelah berpelukan dengan Faraz, Aryan nampak kesal.


"kenapa? marah dengan ku?" tanya arkan.


"tidak, sudah selesaikan, pergi sana," usir Aryan pada saudaranya itu.


"beneran nih aku pergi," kata Arkan menggoda saudara kembarnya itu.


"iya pergi sana, hus," kata Aryan yang sebenarnya sedih tapi dia malu.


Arkan pun menghampiri Aryan dan memeluknya, "aku titip Keluarga kita pada mu ya, aku yakin jika kamu bisa menjaga mereka," pesan Arkan.


"Ita adek ku yang cerewet, sekarang aku pergi ya, ingat jangan rindu, Faraz titip dia ya, jika salah langsung pukul saja karena dia sering tak sadar diri," kata Arkan.


"nyebelin, berangkat saja!" teriak Aryan.


semua tertawa, akhirnya Arkan berangkat menuju bandara, tanpa di duga ada Emily dan juga ustadz Rasyid.


setelah mengucapkan perpisahan, mereka pun batu bisa benar-benar berangkat, Raka tak mengira akan melepaskan putranya untuk mencari ilmu sejauh ini.

__ADS_1


Niken pun berdoa agar Arkan bisa menjalani semuanya dengan lancar, dan selalu di berikan keselamatan.


sedang di rumah, Faraz sedang membaca buku kumpulan hadis sahih, sedang Aryan membaca dan memperdalam pemahaman tentang Al-Qur'an.


terlebih keduanya sekarang Seung menjagi imam di Musholla, dan Raka tak keberatan karena bagus jika para anak muda mau untuk meramaikan rumah Allah.


...*****************...


tak terasa sudah seminggu dari kepergian Arkan, mereka mendapatkan kabar melalui telpon dan juga panggilan video setiap sore.


Arkan nampak makin tampan, dan dewasa meski belum lama di negara asing itu.


sedang Faraz dan Aryan sedang melakukan sedikit perjalanan untuk melihat kondisi sekitar.


pasalnya semalam terlihat beberapa Lulung bertebaran di mana-mana, ada yang aneh karena pulung-pulung itu seperti terbang tanpa tujuan.


Faraz mengambil segenggam tanah dan membiarkannya jatuh kembali ke tempatnya dan ada beberapa angin yang meniup tanah yang berubah menjadi merah darah.


Aryan yang melihat itu langsung mengambil garam dan ingin menaburkannya, tapi Faraz menghentikannya.


"tunggu, kata ustadz yang mengajarkan diriku tanah-tanah itu akan menuntun kita pada pelakunya," kata Faraz.


mereka pun saling lihat, dan kemudian mengikuti tanah yang bergerak secara perlahan itu.

__ADS_1


hingga tanah itu hilang di gapura luar desa, kedua berdiri tepat di tengah gapura dan kaget dengan apa yang di lihatnya.


"apa ini?"


__ADS_2