
para penggotong keranda mulai terlihat dari jauh, Emily mulai memutar rantai miliknya untuk menimbulkan angin agar penutup keranda terbuka.
pasalnya mereka harus segera menyelamatkan nyawa pria yang terjebak di keranda itu.
para penggotong keranda itu tetap berjalan dalam hembusan angin yang begitu besar.
"minggiro...."
tapi Arkan dan Emily tak gentar, tiba-tiba penutup keranda terbang dan ingin menyerang Emily.
Arkan langsung menghancurkan penutup keranda itu dengan dua kerisnya.
"kembalikan nyawa orang itu," kata Arkan saat berdiri tepat di depan para penggotong keranda.
"ketiwasan!" teriak seorang wanita yang berlari ke arah Arkan.
tapi tanpa ampun, Arkan langsung menusukkan keris miliknya ke tubuh wanita itu hingga terbakar.
para penggotong keranda itu marah dan kini melebarkan mulut mereka dengan darah yang mengucur deras.
"mati o ... binoso ...." kata keempat mahluk itu.
tanpa di duga Sesnag, dan Ki Adhiyaksa datang untuk melindungi Arkan dari keempat mahluk mengerikan itu.
"Sesnag masuk ke tubuh om Fahri,dan bawa pria yang ada di dalam keranda dan kirim ke rumahnya, dan Emily tugas mu melindungi mereka," perintah Arkan.
"baiklah!" jawab keduanya.
angin kembali bertiup, Sesnag sudah masuk ke tubuh Fahri, pria itu berjalan segera kearah keranda kematian itu.
Arkan masih bertarung bersama Ki Adhiyaksa, Emily yang awalnya kaget segera sadar.
Fahri berusaha melepas tutup keranda dan langsung menggendong pria itu.
kemudian dia mulai berlari dengan jiwa pria yang tak sadarkan diri itu, dan Emily akan terus menjaganya agar sampai dengan selamat.
ada satu penggotong keranda yang sadar dan ingin mengejar Fahri dan Emily.
tapi tanpa di duga Aryan keluar sambil membawa busur api miliknya, "jangan biarkan aku memusnahkan kamu,"
Wewe gombel yang tadi ingin membawa Randi juga datang, tapi saat ingin membawa pria itu.
tubuh wew gombel itu di lilit seekor ular yang melindungi ketiga orang itu, "dasar mahluk rendahan, beraninya kamu ingin menyentuh sahabat tuan ku, pergilah," kata nyai Ageng tri mustika menyemburkan racun miliknya.
pocong gosong juga datang membantu, dia menyemburkan ludahnya kepada salah satu penggotong keranda dan membuat mahluk itu meleleh.
Arkan sudah memusnahkan dua makhluk ghaib itu, begitu pun dengan Aryan yang memusnahkan satu dan membakar kerandanya.
"Aryan jaga mereka, aku harus mengejar Emily dan juga om Fahri," kata Arkan berlari.
"sen-sen!" panggil Arkan yang langsung melompat naik ke punggung harimau hitam itu.
__ADS_1
kini mereka menembus jalanan itu untuk membantu kedua orang itu, terlebih Arkan takut jika Emily kehabisan tenaga.
keris pun di tukar dengan tombak Cokro Geni, sen-sen benar-benar cepat untuk menemukan dua orang itu.
dari kejauhan, ada seseorang yang mengejar Emily dan Fahri, tanpa pikir panjang Arkan melemparkan tombak itu.
tapi saat melihat siapa yang ingin menghalangi, dia menyesal dan berusaha menarik kembali tombak itu tapi terlambat.
tombak itu menembus tubuh wanita itu, dan seketika wanita itu terjatuh ke tanah.
Emily melihat kebelakang tapi dia melanjutkan perjalanan karena dia tak ingin kehilangan pria yang di tolong ya dan Arkan.
Arkan berhenti dan melihat gadis itu tertancap pas di jantungnya, bahkan dia sempat tersenyum kearah Arkan.
"kenapa?" tanya Arkan tak percaya.
"karena aku tak mau dia bahagia dengan wanita lain, dia menolak diriku, dan dengan cara ini aku bisa mengikat jiwanya hanya melihat ku saja, tapi aku tak mengira jika temanku ini begitu sakti sampai bisa mengalahkan ajian ilmu yang aku dapat dari nenek moyangku, yang juga membutuhkan pengorbanan besar, maaf dan tolong doakan aku ya...."
Arkan pun melihat jiwa gadis itu terbakar di depan matanya, Arkan tak bisa apa-apa.
"ini adalah karma yang berlaku, dan jangan merasa bersalah," suara misterius itu lagi.
"tapi kenapa hanya karena cinta dan obsesi semua harus berakhir seperti ini!!!" marah Arkan.
akhirnya Emily dan Fahri Sampai di rumah yang paling besar berlantai dua.
Emily ternyata melihat dua anjing ghaib yang menjaga rumah itu ternyata aslinya berukuran besar.
"nona, kenapa jiwa tuan bersama anda?" tanya anjing penjaga itu dengan mengeram.
"kamu baru saja menyelamatkan jiwa ayah, tolong biarkan kami masuk untuk mengembalikan semua pada tempat yang seharusnya," mohon Emily.
"tentu nona, kamu adalah khodam mu, dan kamu berhak memerintah kami," jawab kedua aning itu memberi hormat.
Fahri pun masuk bersama Emily dan menuju ke lantai atas, mereka pun mengembalikan jiwa pada tuan Setyo.
pria itu tak sadar jika selama ini rada ketertarikan pada gadis yang mengejarnya adalah hasil ajian, dan yang makin membuat Emily tak percaya adalah sosok yang tega melakukan itu.
Fahri dan Emily keluar dari kamar, mereka melihat sosok genderuwo yang mengawasi dari pohon besar di sebrang rumah.
"seharusnya kamu mengusirnya," kata Fahri yang masih di rasuki Sesnag.
"tidak bisa, dia adalah pelindung dari ratu, dan dia itu kiriman ibu dari ratu," jawab Emily yang berjalan keluar dari rumah.
"ibu mana yang tega mengirimkan genderuwo sebagai pelindungnya, itu mustahil," tambahnya.
"sudah lebih baik sekarang kita kembali bersama yang lain," ajak Emily.
Fahri mengangguk dan kembali berlari, sesampainya di tempat arkan ternyata semua sudah berkumpul.
"sekarang kak Gadis sudah puas, lebih baik kita pulang sebelum kehadiran juta sudah di sadari pemilik tempat ini," kata Aryan.
__ADS_1
"ucapan mu benar, tapi sudah terlambat karena dia sudah tau kita mengacau di daerahnya," kata Arkan yang bangkit dari duduknya sambil membawa tombak Cokro Geni.
sayup terdengarlah suara gamelan Jawa yang mengalun indah, sesosok penari Jawa tengah berlenggok dengan indah.
"bawa mereka berempat kembali ke gapura desa, biar kami yang bereskan, dan ingat jangan pernah berhenti, terus lari," perintah Arkan.
"baik prabu," jawab Fahri yang langsung menarik semua keluar menuju ke gapura desa.
"gak onok seng iso mlayu teko wilayahku," kata wanita itu marah dan langsung menunjukkan wujud terseram.
tak di duga, Arsana datang dan menepis ilmu yang di tujukan untuk kedua saudaranya itu.
"beraninya makhluk seperti mu ingin melukai saudara ku, musuh mu adalah aku," tantang Arsana.
Arkan dan Aryan menyentuh bahu Arsana dan langsung terserap masuk kedalam tubuh saudari perempuan mereka.
Arsana berubah menjadi wanita bermahkota pusaka batu mustika nirwana.
kedua tangannya juga memegang pusaka busur api dan tombak Cokro Geni.
"musuh mu adalah aku," kata Arsana.
mahluk wanita itu makin murka melihat perwujudan dari Arsana, terlebih Mustika di kening Arsana begitu menggiurkan untuk di miliki.
tapi baru juga melangkah tubuh mahluk itu sudah tertembus panah Geni pas di jantungnya.
"musno!" teriak Arsana yang langsung terdengar suara ledakan hebat.
para mahluk yang ingin menghalangi kelima orang itu pun langsung minggir dan berlari kearah suara ledakan.
Arkan memeluk saudarinya itu, "terima kasih kamu memang pelindung kami,"
"kakanda bilang apa, Dinda selalu berusaha sebaik mungkin untuk menjadi pelindung karena tak ingin melihat Amma sedih lagi kehilangan anaknya," jawab Arsana tersenyum.
"uluh cantiknya, jika bukan saudara ku, pasti sudah aku pacarin nih," goda Aryan.
"kakanda suka mbak ratu kan, kenapa tidak bilang," kata Arsana melihat Aryan.
"tidak dia suka Arkan," jawab Aryan sedih.
"tapi kakanda Aryan tidak suka mbak ratu, dia menyukai gadis tadi," jawab Arsana.
"berhenti membongkar Semuanya Arsa," kesal Arkan yang langsung di sambut gelak tawa.
Raka yang mengawasi kedua Putranya pun kesal, pasalnya di sini dia dan Wulan mati-matian menjaga tubuh mereka.
eh disana malah ngomongin gadis yang di suka, Raka pun menarik semuanya kembali sesegera mungkin.
Emily juga sudah di kirim pulang oleh Suni tanpa dia sadari karena Raka membuat gadis itu pingsan.
kini semuanya terbatuk-batuk, bahkan Randi muntah darah karena sihir Wewe gombel yang melekat padanya akhirnya sudah lenyap.
__ADS_1