
Arkan dan Aryan sudah selesai berganti baju, karena mereka sudah sholat di sekolah sebelum pulang.
Fahri sudah duduk di belakang dan melihat Raka sedang di obati oleh Wulan.
"kenapa ini mbak?" tanya Fahri.
"ini mas mu habis bakar mente, ada beberapa yang meledak dah melukai tangannya," kata Wulan.
"ya mau bagaimana, aku juga baru pertama kali melakukannya," jawab Raka yang cemberut.
"sudah sayang, uh... bikin gemes deh," kata Wulan tersenyum.
kedua putranya datang dan siap untuk makan, "geser mas, sempit nih,"
"apa sih, itu ada kursi lain, berisik kamu," kesal Arkan.
"sudahlah kalian berdua, jangan ribut terus," kata Raka yang melihat kedua putranya.
"maaf ayah," kata keduanya.
"sudah-sudah cepat makan, tadi Mbah tadi masak ayam lodoh, dan urap-urap daun pepaya,"
"wah enak, asik..." kata Arkan.
kedua remaja pria itu langsung mengambil nasi dan mulai makan, begitupun dengan Fahri, sedang Raka menunggu Wulan.
akhirnya mereka pun makan bersama, dan terasa begitu hangat, entahlah Raka dan Wulan juga begitu nyaman.
lain halnya dengan keluarga Raka, Rafa sedang menimang sang putri, pasalnya bayi kecil itu sedikit rewel dari pagi.
Jasmin juga sedang memilih catering untuk acara aqiqah Husna dan juga tasyakuran pemberian nama.
"kemarikan ayah," kata Jasmin.
"baiklah, coba di Susui dulu ya Bun, mungkin dia haus," kata Rafa.
Jasmin mulai menyusui putri kecilnya, tapi putri kecilnya itu seakan menolak.
__ADS_1
akhirnya Rafa pun bergegas membuatkan susu untuk putrinya itu, bagaimana pun hanya itu yang bisa di terima bocah kecil itu.
"kenapa dengan Husna, kenapa dia seakan tak mau di susui?" bingung Jasmin
"sudah bunda, lebih baik coba pompa dengan alat asi," kata Rafa
"iya ayah," jawab Jasmin.
akhirnya Jasmin pun melakukan perintah suaminya, sedang Faraz sedang mengerjakan beberapa tugas yang di berikan oleh guru.
"kenapa kedua saudara itu harus menginap, aku jadi kesulitan seperti ini, setidaknya aku bisa membuat Aryan memberikan contekan padaku," kesal Faraz.
Sesnag dan Suni tak mengira Faraz berbeda dengan Rafa, bahkan bocah remaja itu cenderung begitu kasar.
terlebih Jasmin yang selalu memanjakan putranya itu, jadilah Faraz yang manja dan selalu di turuti keinginannya.
"Faraz tolong bunda sebentar," panggil Jasmin.
Faraz pun keluar dan langsung menemui Jasmin, "ada apa bunda?"
"kenapa tidak minta tolong pada ayah Raka, biasanya dia juga minta tolong pada kita begitu," kata Faraz.
"sudah berangkat, jangan banyak bantah, lagi pula ayah mu tak ada di rumah," kesal Rafa mendengar ucapan putranya.
Faraz pun berangkat meski sedikit ngedumel, Jasmin pun menenangkan Rafa agar tak marah pada putra mereka.
di tempat lain, Aryan dan Arkan belajar bersama Fahri dan Raka, sedang Wulan masih berada di dapur bersama sang ibu.
"ayah, bantu kami mengerjakan tugas sekolah dong, ini siapa yang buat pelajaran fisika, kenapa buah jatuh saja di hitung," kesal Aryan yang tak mengerti.
"apa sih le, kamu ini kenapa selalu sulit pelajaran fisika, padahal itu ilmu pasti, tapi kalau di suruh mengarang kamu itu ahlinya," jawab Raka.
"karena aku menyukai pelajaran yang seperti itu," jawab Aryan yang malah meletakkan kepalanya di meja.
"aku selesai," kata Arkan yang memang masuk murid paling pintar di sekolah.
"huh... mas sombong, ayolah ayah," mohon Raka.
__ADS_1
Raka yang kasihan pun mengajari Aryan, dan akhirnya tugas Keduanya pun selesai.
Arkan sedang membaca buku yang pernah di berikan oleh tumenggung Wira Sanjaya.
"kamu rindu main ke istana eyang yuk," ajak Aryan.
"kak tuh, aku mau fokus belajar, terlebih aku tak ingin nilai ku jeblok saat ujian nanti," jawab Arkan.
"tapi mas bukannya membaca buku pelajaran, malah buku ilmu mantra jaman dulu gitu," kata Aryan.
"siapa tau ini bisa menolong, terutama dengan kekuatan yang kita miliki, setidaknya kita siap dengan segala kemungkinan," kata Arkan yang menyadarkan adiknya itu.
"iya mas benar, aku pinjem dong," kata Aryan.
"tidak perlu, kamu itu sebenarnya sudah hapal semua bukan, lebih baik serius untuk mempersiapkan ujian Nasional, paham,"
"iya kakak ku yang tampan," kata Aryan yang pasrah.
Sesnag merubah wujudnya saat menghadap ke depan nyai Nawang, begitupun nyai Ageng tri mustika.
"ada apa kalian datang ke istana ku?"
"kami hanya khawatir pada anak dari Rafa yang memiliki sisi jahat pada dirinya, terlebih dia yang terus menganggu Aryan, aku khawatir cucu nyai tak bisa menahan amarahnya," kata Sesnag.
"tenang om Sesnag, selama aku bisa, aku akan menahan adikku karena aku adalah petunjuk untuknya," kata Arkan yang datang dan duduk di bawah kursi nyai Nawang.
"kamu benar, kamu adalah cucu kesayangan ku, jadi eyang mengandalkan mu," kata nyai Nawang pada Arkan yang terlihat begitu gagah.
"siapa dulu penjaganya," kata tumenggung Wira Sanjaya yang juga datang ke istana nyai Nawang.
"kamu ingin mati di sini,kenapa berani mengatakannya," kesal nyai Nawang.
Sesnag dan nyai Ageng tri mustika menundukkan kepala sambil menyatukan tangan saat tumenggung lewat.
kini Arkan bangun dan berdiri di samping Sesnag, "om, kenapa aku merasa jika dia orang ini menyimpan sesuatu, terlebih ruang putri begitu marah melihat eyang Wira?"
"ada banyak cerita di antara mereka," jawab Sesnag.
__ADS_1