Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
malam mencekam


__ADS_3

sore hari mereka semua sedang menguji di rumah, saat Fahri dan beberapa temannya datang.


"assalamualaikum mbak, mas..."


"waalaikum salam, loh ada tamu, mari masuk," ajak Wulan.


Aryan langsung membawa Al-Qur'an masuk kedalam rumah, sedang rekan membantu juga.


"mari silahkan," kata Raka dengan lembut.


Gadis terus melihat kearah Wulan dan Raka, dan kedua pasangan itu bingung melihat reaksi dari gadis itu.


"apa kami pernah melihat kami, aku jadi salah tingkah nih di lihatin gadis muda," kata Raka tertawa.


"idih.... mas pede sekali," ejek Fahri.


Wulan tersenyum mendengar ucapan suaminya saja, karena Wulan tau jika itu hanya bercanda.


"aku melihat aura yang begitu kuat, dan yang aneh aura kalian begitu bersih," kata Gadis jujur.


"wah benarkah, terima kasih ya, silahkan di makan dan si minum, maaf hanya ada cemilan kampung," kata Wulan yang membawa nampan di bantu kedua Putranya.


Arkan melihat gadis yang seakan memiliki aura gelap, Raka memberi kode untuk putranya itu diam.


Fahri sadar dengan tingkah ayah dan anak itu, "kalian kenapa pakai kode-kode segala, ngomong langsung saja,"


"tidak ada, aku hanya ingin menyuruhnya untuk mengambil jagung yang tadi di siapkan oleh pakdenya, sudah kalian pergilah," kata Raka.


"siap ayah," jawab keduanya yang langsung pergi dengan motor karena cukup lumayan jika berjalan.


sebelum sampai, keduanya berhenti untuk membeli jajanan Anang lewat, seorang penjual bubur kacang hijau langganan.


"bang masih ada? mau dong bubur kacang ijo tanpa es ya," pesan Arkan.


"aku pakai es tanpa santan ya," kata Aryan.


"siap, beruntung masih ada, tapi ini ada tiga bungkus terakhir, tapi Abang buatkan khusus untuk kalian saja deh," jawab Abang penjual.


tapi saat sudah selesai membayar, ada seorang ibu hamil yang ingin membeli juga.


Arkan dan Aryan saling pandang, "bang masih ada, pesan satu,"

__ADS_1


"maaf Bu, kehabisan," jawab penjual bubur kacang hijau itu.


"mas Andri... buburnya habis, nanti anaknya ileran dong ..." sedih wanita itu.


"maaf ya Dila, untuk kali ini kita belum beruntung, kita cari di tempat lain yuk," ajak Andri membujuk wanita itu.


"maaf Tante, mau bubur milik ku, Tante boleh ambil, tapi boleh aku menyentuh perut Tante dan mendoakan bayi Tante," kata Arkan mengulurkan bubur miliknya.


"terima kasih, tentu boleh, dan semoga dia selamat ya saat lahir, karena aku pernah kehilangan dulu," kata Dila.


Arkan mengusap perut besar Dila dengan lembut, Arkan membacakan doa-doa untuk menjaga kesehatan dan juga melindungi janin itu.


terlebih begitu banyak orang yang mengincar bayi itu karena percampuran darah dan juga weton kedua orang tuannya yang sempurna.


"Tante, om nanti kau dedek bayinya lahir, buatkan gelang dari kayu stigi ya, pakaikan di tangan kiri dan di tangan kanan pakaikan gelang dlingo bengkel."


"ah iya, terima kasih nanti saya akan pesan kan," kata Andri.


"ingat om, buat saat keadaan anda suci, karena ini untuk keamanan putra anda," kata Arkan.


Andri pun mengangguk, Dila juga berterima kasih pada dua remaja itu.


Arkan dan Aryan kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Rafa untuk mengambil jagung manis itu.


keduanya juga langsung pulang karena takut kemalaman, Arkan sudah mendapatkan pesan dari Emily dan keduanya sudah berjanji nanti ketemu.


sholat magrib dan sholat isya' di jalani dengan tentram, tapi setelah itu suasana desa langsung sepi tanpa ada orang yang lewat.


"eh nih desa kok kayak kuburan sepi amat," kata Randi.


"maksud mu, ya beginilah desa, sudah bakar saja tuh jagung, ngomel Mulu kayak mulut emak-emak," kesal Fero.


"iya iya, dari pada kamu cuma berdiri kayak orang-orangan sawah, dasar kampret Lu," kesal Randi.


"sudah, selesaikan aku saja sudah selesai membantu mbak Wulan, kalian bakar jagung dari tadi gak selesai," kesal Gadis.


"beh.. nyai ratu udah ngomel, iya nih udah jagungnya, Semuanya rasa pedas manis, pedas sesuai pesanan ibu ratu," kata Fahri yang memberikan piring berisi jagung.


"ayo kita makan!" teriak Aryan dan Arkan bersamaan.


"wah kalian duluan, kami juga mau," kata semua orang.

__ADS_1


malam itu mereka sengaja duduk di luar sambil menunggu tentang apa yang di katakan oleh Gadis tentang peristiwa astral.


sebenarnya Raka dan Wulan pun mudah mengetahui hal itu, tapi mereka tak ingin mematahkan semangat dari Gadis dan teman-temannya.


sebenarnya dari tadi, beberapa mahluk sudah lewat, tapi mereka hanya diam karena itu adalah penghuni yang ada di desa dan tak jahat.


sudah pukul sepuluh malam, tapi apa yang di cari Gadis belum muncul juga, sedang Arkan sudah punya janji dengan Emily.


"bisakah aku pergi, karena aku punya janji untuk melakukan patroli malam," izin Arkan.


"kamu ingin melakukan dengan siapa, jangan macam-macam ya," kata Raka menginggatkan.


"aku pergi bersama teman ku ayah, kami bertemu saat aku menunggui pakde Rafa yang sedang melakukan semedi beberapa Minggu yang lalu," terang Arkan.


"a... gadis pembawa Tante yang berhasil membawa beberapa mahluk jahat itu, boleh aku ikut?" mohon Aryan


"tidak, kamu ember, nanti bisa bocor kemana-mana, jadi kamu di rumah dan jaga Amma beserta yang lain," terang arkan.


"jahat banget..." lirih Aryan sedih.


"bukan begitu Aryan, kamu kalau tau siapa gadis itu, aku takut kamu tak bisa menahan diri untuk merahasiakan, kecuali kamu berjanji padaku melakukan itu," kata Arkan.


"aku janji, aku akan diam saat tau siapapun gadis itu, jadi percayalah padaku ya," kata Aryan yang meyakinkan Arkan.


"baiklah, ayo kita berangkat, om mau ikut juga, tapi harus siap dengan apapun yang nanti akan kalian lihat," kata Arkan.


"baiklah aku mengerti, kita semua siap berangkat," kata Gadis sangat bersemangat.


mereka semua berjalan ke perbatasan desa, Emily menunggu sambil mengenakan pakaian hitam.


Aryan menutup mulutnya tak percaya, melihat gadis cupu itu berubah menjadi gadis dengan dandanan serba gotik.


"kamu bawa rombongan ya, ku kira kira hanya akan pergi berdua,"


"tidak, karena mereka ingin tau apa yang terjadi di desa ini, kak Gadis coba apa bisa melihat sesuatu?" tanya Arkan melirik gadis itu.


tapi Gadis mengeleng, tak lama Arkan dan Aryan langsung duduk bersila di bawah tiang gapura desa.


mulailah tercium aroma amis dan bau anyir yang begitu menyengat, tak hanya itu kadang juga ada aroma ubi bakar.


kedua remaja itu pun bangun sambil menyeringai, "selamat datang di desa hantu," kata keduanya bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2