
siang itu, para siswa bubar setelah dapat wejangan dari kepala sekolah, dan akan ada beberapa hari lagi untuk melakukan mos.
"kalian pulang mau nunggu jemputan apa sama kami?" tawar Arkan.
"emang mau gimana? orang kalian bawa sepeda gunung gitu," kata Emily tak habis pikir.
"bisa di atur, aku sama Arkan naik satu sepeda, lah kalian bawa sepedaku," kata Aryan.
"idih jangan gila ya, sudah itu Tante Sekar sudah jemput, sudah pergi sana," usir ratu yang kini sudah bisa menerima semua kenyataan.
mereka pun pulang terlebih dahulu, Sekar turun dari mobil dengan memakai baju hitam bahkan kaca mata hitam yang semakin membut penampilannya sangat sangar.
"ayo pulang, kita harus mulai berlatih," panggil sekar.
"siap Tante," jawab keduanya yang langsung masuk mobil.
Arkan dan Aryan mengayun sepeda mereka santai saja, sesampainya di rumah mereka langsung masuk dan segera mandi.
"loh anak Amma sudah pulang, mau kemana kok terburu-buru?" tanya wulan.
"itu Amma, kami mau ke tempat teman, soalnya mau melihat cara membuat bedug, mam sebentar lagi puasa," jawab Aryan.
"tidak usah buru-buru, sama ayah saja, Toh ayah juga mau ke tempat pak Dadang kan?" tanya Raka yang baru pulang dari sawah.
"ya kebetulan deh, kan kami bisa nebeng ayah," jawab Arkan.
Raka tertawa, setelah mandi mereka pun berangkat membawa mobil, sedang Wulan membantu Jasmin untuk menjaga putrinya.
"Wulan, apa kamu tau kemarin wanita bergaun merah yang pergi saat kami datang ke rumah sakit untuk menjengguk Arkan?" tanya Jasmin sedih.
"kenapa kakak ipar, jangan bilang kamu cemburu ya, dia itu teman lama ku," jawab Wulan menggoda Jasmin.
"aku serius, karena aku melihat tatapan matanya beda pada mas Rafa,"
"tenang kakek ipar, dia memang seperti itu, lagi pula tak mungkin dia menyukai pria lain selain suaminya yang sudah meninggal, dan lagi dia bukan seperti yang kakak ipar cantikku ini bayangkan," kata Wulan mencoba menenangkan Jasmin.
"kamu selalu saja begitu," kata Jasmin cemberut.
"lihat Husna, ibumu marah nak," kata Wulan menggoda Jasmin dengan putri kecilnya.
mobil Raka sampai di tempat pemesanan bedug langganan mereka, ternyata kedua Putranya juga memesan bedug untuk membangunkan orang sahur.
"loh kalian pesen bedug dari drum, memang punya uang?" tanya Raka melihat kedua Putranya.
"punya dong pa, oh ya sebenarnya sih di kasih sama om Setyo sebelum dia pergi, toh kampung kita kan selalu bersama-sama dalam acara begini," jawab Arkan.
"kamu memang pintar dalam berbisnis, pak Dadang bagaimana bedug pesanan ku untuk mushola?"
"Alhamdulillah mas, semuanya beres dan siap pakai, biar besok saya pasang di mushola," jawab pak Dadang.
Raka pun melihat hasil dari pesanannya, dan begitu memuaskan karena sesuai contoh.
di lain tempat, dua orang gadis sedang berlari sambil menarik ban secara berputar.
jika ratu satu ban mobil, maka Emily harus menarik dua ban mobil. tak hanya itu pelatihan untuk Emily cukup ketat.
"ya tuhan aku tak kuat," kata ratu terduduk di atas ban.
Sekar memberikan minum pada ratu, sedang Emily masih berlari satu kali putaran lagi, baru istirahat.
"nanti sore ada guru taekwondo, kalian jika ingin berlatih silahkan, jika tidak dan merasa lelah juga tak apa-apa," pesan Sekar.
__ADS_1
"aku mau Tante," kata Emily.
dia tau jika Arkan dan Aryan juga memiliki keahlian taekwondo sejak kecil itulah kenapa dia ingin bisa mengimbangi keduanya.
setelah istirahat, Emily langsung melakukan pull up dengan semangat, bahkan ratu tak mengira jika tubuh kecil Emily begitu kuat dan bugar.
sedang ratu memilih lari berkeliling kemudian memilih olahraga di dalam ruangan seperti zumba dan aerobik tentu dengan guru yang di panggil oleh Sekar.
ratu sedang beristirahat setelah membersihkan diri, sedang sore itu Emily masih belajar taekwondo.
gadis itu belajar tendangan dan juga pukulan, dan juga sambil mengenal titik vital di tubuh manusia.
"Tante, apa tidak apa-apa memberikan latihan seperti ini pada Emily, kelihatannya dia kecapekan,"
"tidak sayang, Emily memiliki keistimewaan dan dia harus menjaganya dan dirimu," jawab Sekar.
"kenapa? aku bisa menjaga diriku sendiri," jawab ratu tak mengerti.
"sekarang kamu belum sadar, tapi suatu saat kalian akan saling menjaga dan menguatkan," terang Emily.
suasana malam di desa malam ini cukup mencekam, Adri sedang menunggu kepulangan dari Rania yang kuliah di jam sore.
"aduh gadis ini kenapa belum pulang sih, sudah jam sembilan malam," kata Adri kesal.
pasalnya ponsel Rania juga tak bisa di hubungi, jadilah Adri pusing memikirkan putrinya itu.
"tenang mas, mungkin dia masih sibuk dengan dosennya, kan mas tau jika dia mengambil dua kelas sekaligus," jawab Nurul yang menyajikan kopi pda suaminya itu.
"tapi dek, perasaan ku tak enak, terlebih beberapa hari ini ada desas-desus yang mengatakan jika di desa tetangga kita setiap malam terjadi pemerkosaan oleh Buto ijo, mas makin takut di buatnya," jawab Adri yang memegangi kepalanya frustasi.
"mbak ania.... aik-aik aja..." celoteh dari Aslan putra Adri dan Nurul.
"amiin ya dek," jawab Adri yang mengendong putranya itu.
"aduh... bisa di omelin ayah nih karena pulang telat, kenapa ponselku juga mati sih, bikin kesel ..." kata Rania yang kini langsung memacu motornya segera pulang.
Rania pun tak bisa memilih jalan lagi, dia tepaksa melewati jalan tuwangan sawah yang panjang dan sepi serta minim pencahayaan.
"ya Allah tolong lindungilah aku.."
motor Rania berjalan cukup cepat hingga sesuatu menabraknya dengan keras hingga motornya jatuh ke jalan.
"Allahuakbar!" teriak Rania.
"sakit ...." lirihnya sambil memegangi sikunya yang terluka.
Rania melihat sekeliling tak menemukan apa yang menabraknya dari dalam sawah.
tapi dia bisa melihat dua mata merah di antara pohon jagung yang mulai tinggi.
angin berhembus dingin, Tania pun berusaha bangun dan mencoba lari meski tertatih-tatih, tapi sosok itu lebih cepat, kemudian sosok itu menarik jilbabnya hingga dia merasakan sakit di kepalanya.
"AAAAA.... tolong lepaskan, tolong!!!" teriak Rania sambil berusaha melepaskan jambakan dari sosok itu.
Rania di bawa ke tengah kebun jagung dan langsung di dorong jatuh ke pematang sawah yang cukup lebar.
Rania membaca alfatihah dan doa seingatnya, tapi sosok hitam itu hanya menyeringai pada dirinya.
"ya Allah tolong aku ... aku tak ingin berakhir kehilangan kesucian ku seperti ini..." lirih Rania.
sebuah sepeda motor sport berhenti karena melihat ada sebuah motor metik tergletak di tengah jalan.
__ADS_1
"apa ada orang!" teriak pria itu.
"tolong!!!" teriak Rania sebelum sosok itu membungkam mulutnya dengan kuku hitam panjang.
pria itu langsung mengeluarkan pisaunya dan mencari asal suara, tapi dia kesulitan karena sudah sangat malam.
"ya Allah selamatkan diriku, jika laki-laki ini bisa membebaskan ku, aku akan menyerahkan diriku untuk menjadi istrinya dan mengabdikan diri ku padanya ..." doa Rania yang sudah ketakutan.
"ssttss.... Rania sayang.. kamu jangan teriak om hanya ingin bermain dengan mu, karena om sungguh ingin mencicipi kemolekan tubuh mu ..." bisik mahluk itu sambil merobek baju yang Rania gunakan.
Rania hanya bisa menangis merutuki nasibnya, tapi dia juga mengenali suara itu, Rania berusaha berontak, dan sikunya mengenai ******** dari sosok itu.
"gadis sialan..." kata sosok itu menahan kesakitan karena ulah Rania.
"tolong aku!" teriak Rania yang berlari keluar dari kebun jagung.
ada sosok lain yang langsung memeluk tubuh Rania, "tutup matamu ..."
suara besar dan berat, Rania pun menutup mata dan pria itu melemparkan pisaunya ke arah mata mahluk itu dan tepat sasaran.
makhluk itu berlari setelah mencabut pisau dari matanya, "tunggu sebentar disini," bisik pria itu.
"tidak, tolong jangan tinggalkan aku tuan, aku takut ..." lirih Rania.
"tenang aku akan menjagamu, aku akan mengambil pisau ku dulu," kata pria itu yang memakaikan kemeja miliknya pada Rania yang sudah setengah tel*nj*ng.
pria itu berlari mengambil pisau, dan melihat mahluk itu ingin melukai Rania, dia pun langsung kembali memeluk Rania tapi lengan kanannya yang kini terluka karena mahluk itu.
pria itu kembali menusukkan pisau miliknya ke perut mahluk itu, dan lagi-lagi mahluk itu pergi hilang entah kemana.
"sekarang ayo pulang, aku antarkan kamu, dan tolong bertahanlah, aku akan mendorong motor mu," kata pria itu.
"tidak bisa motorku sepertinya rusak parah tuan," jawab Rania yang masih menangis sesenggukan.
"baiklah kalau begitu, naik motorku saja, ayo," kata pria itu yang bergegas mengajak Rania pergi.
pria itu bahkan menyuruh Rania memeluk perutnya, awalnya Rania tak mau, tapi pria itu malah memegangi tangan Rania.
" jangan di lepas, aku takut mahluk itu datang dan menarik mu lagi hingga jatuh," kata pria itu yang langsung mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
Rania pun merasa aman saat ini, dia menuntun pria itu untuk menuju rumahnya, saat sampai terlihat Adri yang sudah siap untuk pergi.
motor sport itu berhenti tepat di depan rumah itu, "ayah ..." kata Rania yang turun dan berlari ke arah Adri.
"Rania! apa yang terjadi nak, kenapa penampilan dan semua luka di tubuhmu!" kaget Adri yang langsung meneluk Rania.
Adri menatap marah kepada pemuda yang membantu Rania, "kau berani melakukan ini pada putriku, kau akan mati," kata Adri yang langsung memukul wajah pria itu.
"anda salah paham tuan," kata pria itu menahan pukulan Adri.
"janhan ayah, dia yang menolong Rania dari makhluk yang ingin melecehkan Rania ..."
ia pun pingsan di pelukan Nurul, "Rania sayang, buka matamu nak..."
Adri langsung mengendong Rania masuk dan menelpon dokter, Nurul juga mengajak pria itu masuk.
saat membersihkan tubuh Rania Nurul menangis karena di leher, siku dan lutut Rania banyak luka.
bahkan ada lebam di sudut bibir dan juga tangannya juga lebam serta ada luka cakar.
Raka dan keluarga datang melihat, begitupun Rafa yang juga datang karena baru tau ada ribut-ribut.
__ADS_1
pria yang membantu Rania sudah di obati lukanya juga sudah di jahit, begitupun Rania yang juga sudah di obati.
"maafkan aku ya mas, seharusnya aku berterima kasih bukan malah memukulmu," kata Adri dengan suara parau.