
sedang di empat rumah, para pemilik tuyul sedang kesakitan, karena tuyul mereka melukai tubuh mereka dengan bambu kuning runcing.
"kamu mau disiksa, berani-beraninya melukai tuan mu, kalian si hukum," kata pemilik tutul itu murka.
keempat orang pun kini sedang melampiaskan kemarahannya pada makhluk yang memberikan mereka kekayaan.
sedang di rumah juragan Husni, sang istri kaget dan bersyukur karena suaminya tak mengalami luka apapun.
"goblok, aku hampir mati Nok tangan ne warga, sejak kapan Nok kampung onok pos keliling maneh," murka juragan Husni.
"sudah pak, lain kali cari tempat lain saja," usul sang istri.
"ibu benar, desa ini juga tak memiliki orang kaya lagi, sudah bangkrut Semuanya," kata juragan Husni
malam ini, semua masih berkeliling sampai adzan subuh terdengar. bahkan Aryan beberapa kali memukul tiang listrik sesuai jam.
setelah sehat subuh, Raka mengajak semua orang sarapan di warung, setelah itu mereka bubar.
Raka pun pulang bersama kedua putranya, Wulan sudah menyiapkan air hangat untuk ketiganya mandi.
setelah mandi ketiganya pun tertidur di kamar, bahkan Raka tidur di tengah di apit kedua putranya.
Wulan pun hanya bisa menggeleng kemah, pasalnya dua tau jika mereka kecapekan setelah melakukan pengejaran semalam.
"nduk, ikut ibu belanja yuk, kebetulan bumbu dapur habis," ajak Bu mut.
__ADS_1
"inggeh Bu," jawab Wulan.
keduanya pun menuju ke Loho yang cukup besar di desa mereka, Wulan mengambil ikan mas kesukaan suami dan putranya.
tak lupa pisang kepok untuk buat pisang goreng, Bu mut memilih kebutuhan dapur.
saat masih belanja, sebuah motor datang dan ternyata itu Bu Husni yang datang dengan memakai perhiasan satu tubuh.
"lihaten ah, orang kaya baru, emas ae di pakai Kabeh, tak doakan di tampil wong, kalau gak gitu madu kecekek tub kalung emasnya, kaya tapi kikir cih..." kata seorang ibu.
Wulan hanya mengeleng mendengar itu, "Bu, kok ikannya tinggal ini, terus gak segera ih," ejek Bu Husni.
"ya beli di pasar Bu, kalau mau macamnya banyak, terus segar," jawab bakul sayur lijo itu.
ibu-ibu yang me dengar pun sedikit tertawa, pasalnya orang sombong itu langsung ketemu musuhnya.
"aku tak Sudi makan makanan ikan itu, Bu tolong itu ikan gabusnya enam ekor ya, terus ayam kampung juga dua ekor," kata Bu Husni dengan sombong sambil menggoyangkan tangannya yang penuh dengan gelang emas.
sambil menunggu, dia mengambil pisang porem dan memakannya, tapi keisengan ibu-ibu begitu menjadi.
mereka menukar pisang goreng dengan pisang mas, tak butuh waktu lama, wajah Bu Husni mulai memerah dan gatal.
dia kaget saat melihat pisang yang dia makan, "ini uangnya, aku pergi dulu, dasar orang kampung miskin, awas kalian," marahnya sambil pergi.
Wulan melihat uang yang di berikan oleh Bu Husni, "tunggu Bu, biar saya lihat,"
__ADS_1
benar saja, itu uang hasil pesugihan, Wulan memberikan uang itu dan membisikkan sesuatu pada ibu pedagang sayur itu.
"terus ini bagaimana neng?" tanya penjual itu dengan sedih.
"biar saya yang ganti, biar ibu tak rugi, sudah tolong di hitung ya Bu," jawab Wulan menenangkan pedagang itu.
para ibu bingung melihat pedagang sayur itu yang terus menangis, tapi Wulan meyakinkan jika tak akan terjadi apa-apa.
karena Wulan yang akan membawa uang itu dan membakarnya nanti, karena uang itu akan kembali kepada yang membelanjakan setelah dua puluh empat jam.
Bu Husni pun kesakitan sesampainya di rumah,sang suami kaget melihat wajah istrinya itu.
dia pun segera mengobati karena dia yang memasang susuk itu karena dia memiliki ilmu pemberian dari sang guru.
sedang Bu mut melihat Wulan membakar uang itu di perapian dapur beserta garam krosok.
dan kini tangan juragan Husni yang terasa kesakitan panas dan terbakar, tapi tak terasa lama, tapi membuat jari kelingkingnya gosong.
"sudah Bu, sekarang kita mulai masak untuk semua," kata Wulan
"iya nduk, ngomong-ngomong, mau kamu masakin apa, kok tadi beli ikan mas banyak banget," tanya Bu mut.
"di pepes saja Bu, kebetulan sudah lama tidak makan pepes bakar," jawab Wulan.
bu mut pun membantu putrinya itu untuk menyiapkan segalanya, sedang di kandang sapi ada Fahri yang sedang gejroh pucuk daun tebu.
__ADS_1
sedang pak Suyatno di sawah untuk melihat sawah yang siap panen, terlebih kali ini pak Suyatno dapat bantuan dari menantunya agar bisa mengunakan pupuk organik.
dan benar saja, sawah dari pak Suyatno sangat hijau di banding yang lain, belum lagi jagung juga tak kenal putih dan putter (jagung jelek).