Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
pertama kali


__ADS_3

"ngomong-ngomong kok ada tas besar, kalian mau kemana?" tanya Emily penasaran.


"mau naik gunung Arjuno, mau ikut juga?" tawar Gadis.


"boleh, tapi aku harus izin om dulu," kata Emily.


"tapi jika kamu ikut, pasti ratu akan ikut, dan itu bisa menyusahkan nantinya," kata Arkan.


"owh... ratu sedang berada di rumah ibunya di Jogyakarta, kemarin baru berangkat," jawab Emily.


"baiklah, kalau begitu kita berangkat sore nanti ke Pasuruan, ingat bawa semua keperluan safety, jangan lupa untuk jaket dan bawa makanan yang cukup," pesan dari Gadis.


"siap kak, lagi pula aku sudah sering naik gunung, bahkan solo hiking di gunung kelut juga berani kok," jawab Emily.


"mantep nih, ya sudah cepat izin, supaya besok kita naiknya gak kesiangan," kata Gadis.


"kalau begitu aku antar, biar segera dapat izin," kata Raka.


"iya om terima kasih," jawab Emily.


Raka berangkat dengan Randi yang kebetulan juga bawa mobil, mereka pun tak perlu waktu lama karena desa mereka bertetangga.


Emily heran saat sampai di rumah kok mobil Setyo ada di rumah, dan saat masuk ternyata pria itu sudah membawa koper besar.


"om mau kemana? kok bawa koper segala?" tanya Emily heran.


"om ada kerjaan di Manado, untuk mengurusi pabrik yang di tinggalkan orang tua mu, apa kamu mau ikut sekalian ziarah," tanya pak Setyo.


"tidak om, aku tak sanggup jika harus bertemu opa, jadi om hati-hati di jalan, dan aku pulang mu izin naik gunung bersama keluarga teman ku," kata Emily.


"apa mereka ikut, aku ingin bicara dengan mereka," kata pak Setyo.


"halo pak lurah, aku ingin mengajak Keponakan anda apa bisa?" tanya Raka yang baru berdiri di belakang Emily.


"kalau begitu aku izinkan, toh anda akan menjaganya dengan baik, tapi aku mohon selalu awasi gadis ini," kata pak Setyo.


"tentu, dia akan jadi tanggungjawab kami selama di sana," kata Raka.


akhirnya pak Setyo pamit, dan Emily sedang paking untuk naik gunung setelah libur karena ujian.


rumah mewah itu begitu nampak begitu mistis, terlebih ada harimau yang di awetkan.

__ADS_1


belum lagi ada beberapa jenis kepala binatang juga, "itu hasil buruan dari om Setyo, dulu dia senang sekali berburu, tapi sekarang beliau sudah berhenti,"


"wah hebat ya," kata Randi yang kaget melihat carrier yang di bawa oleh Emily.


"kamu yakin bawa carrier sebesar itu, itu akan sangat berat," kata Raka.


"ini sudah biasa yang aku pakai om, jadi sudah terbiasa," jawab Emily.


"ya sudah ayo berangkat, dan apa sudah ada makanan yang cukup?" tanya Randi pada Emily.


"tenang, Semuanya lengkap om, oh ya aku titip tas yang berisi baju ganti ya,"


"bawaan mu banyak ya neng," goda Randi.


"habis kalau aku ya gitu, baju baik gunung dan sehari-hari beda om," jawab Emily.


sesampainya di rumah, ternyata semua sudah siap juga. mobil Raka di bawa Fahri, dan di mobil itu ada Raka, Wulan, Arkan, Aryan dan Emily.


sedang mobil Randi, ada Fero dan Gadis, mobil mereka berangkat beriringan, dan di pertengahan jalan Arkan pindah ke mobil Randi.


mereka pun sampai di kabupaten Pasuruan setelah berkendara cukup lama.


mereka sampai di Pasuruan cukup malam, dan mereka pun tetap melanjutkan perjalanan dan memilih beristirahat di basecamp sambil menunggu pagi.


terlebih jalur yang mereka pilih adalah jalur yang biasa di gunakan untuk wisata religi.


Raka memaksa semua khodam milik keluarga untuk tetap di basecamp, jika ada yang melanggar perintahnya akan di hukum.


setelah sholat subuh, mereka semua kembali paking dan tak lupa membawa kantong sampah yang cukup.


Raka dan Fahri yang mengurus perizinan, dan mereka memilih benar-benar jalan kaki meski bisa memilih naik ojek menuju pos satu.


bahkan Raka meminta Emily juga tidak membawa penjaganya, dan Raka serta semua yang akan menjaga Emily.


mereka pun di pandu seorang tour guide, karena Fahri takut kesasar, pasalnya mereka tak pernah lewat jalur itu.


terlebih mereka akan melewati tujuh pos sebelum akhirnya sampai puncak.


yang jadi navigator untuk perjalanan kali ini adalah Faiz, seorang pemuda yang sering naik turun gunung itu.


dan sweeper adalah Raka yang bertugas mengawasi rombongan dari belakang.

__ADS_1


mereka semua sudah menyesuaikan HT dalam satu frekuensi karena jika ada apa-apa akan mudah di hubungi.


terlihat Fahri, Randi, Fero dan Gadis tak ada kendala, begitupun dengan Aryan, Arkan dan Emily.


Raka di belakang berjalan sambil mengawasi istrinya, pasalnya Wulan sudah sangat lama tak pernah naik gunung.


pos satu, pos dua terlewati dengan baik mereka juga sempat foto, tak lupa mereka juga mengucapkan salam saat sampai di beberapa petilasan.


mereka memutuskan untuk terus lanjut setelah berhenti sejenak, terlebih Emily beberapa kali telihat bengong.


"awasi gadis itu," suara yang terdengar oleh Raka.


"baik eyang..." jawab Raka dengan suara batin.


ternyata ada beberapa sosok yang mengawasi, tapi mereka tidak memperdulikan.


bahkan Arkan dan Aryan santai saja dari tadi, mereka saling bantu saat jalan menanjak.


meski pengalaman pertama tapi karena terbiasa dengan olah raga, mereka jadi memiliki stamina yang cukup kuat.


di perjalanan kelompok mereka terbagi menjadi dua tim, karena Wulan dan Emily sempat muntah di pertengahan jalan.


beruntung hanya sebuah gangguan kecil, sedang rombongan Faiz dan Fahri sudah hampir sampai di pos empat.


mereka pun lanjut jalan dan tak melihat hal aneh, mereka benar-benar memiliki kesamaan aura jadi tak ada pertentangan.


itulah kenapa Raka memaksa semua khodam untuk menunggu di mobil, jadi perjalanan mereka lancar.


saat menuju ke pos empat, jalan mulai menanjak dan banyak akar pohon di sepanjang jalan.


di pos empat jalan di dominasi akar-akar pepohonan dan batu-batu besar. Perjalanan akan sangat menguras tenaga sampai akhirnya menemukan pos 4 dengan beberapa gubuk seperti di pos 2. Di tempat ini juga terdapat sumber air.


Ada Pondok Konservasi Treppa dan juga gubuk-gubuk lain yang bisa digunakan untuk beristirahat.


saat sampai disana, Emily mulai bersikap aneh, gadis itu tiba-tiba saja menangis tanpa henti.


Wulan dan Gadis berusaha menenangkan Emily, "tenang nak, tarik nafas ya, kita sudah setengah jalan,"


"Amma, aku merasa seperti melakukan perjalanan spiritual, dari tadi ada sesuatu yang berbisik di telingaku dari pos dua, dan aku butuh ketenangan bunda, dan saat tadi bunda membaca sholawat aku menjadi tenang selama di perjalanan," lirih Emily.


Wulan pun memeluk Emily, sudah nanti kita bahas saat turun ya, sekarang kita sudah di sini lebih baik kita berdo'a untuk meminta keselamatan pada sang pencipta.

__ADS_1


setelah makan dan ngopi Sebentar, mereka pun lanjut jalan dan tak meninggalkan sampah satu pun.


(informasi jalur pendakian dari google, https:/tahuraradensoerjo.or.id)


__ADS_2