
Arkan sedang bangun dan mengambil minum air dingin, pasalnya tubuhnya tiba-tiba terasa begitu panas.
sedang Al-Fath yang juga sedang mengambil kuliah pasca sarjana di tempat Arkan menimba ilmu.
"kamu kenapa arkan?" tanya pria itu yang baru pulang.
"entahlah, aku merasakan tubuhku begitu panas dan rasa Sakit yang begitu menyebar, ah... aku tak tau ada apa dengan tubuhku," jawab Arkan yang begitu pucat.
"jangan bilang kaku baru saja melakukan kesalahan, terutama dengan gadis yang membawa satu keris yang seharusnya sepasang itu," tebak Al-Fath.
"ya, karena dia sangat lemah, tapi ini semua demi dirinya sendiri, dia terlalu terbawa emosi dan perasaannya, aku tau itu tak salah, tapi itu bisa di gunakan oleh orang jahat," jawab arkan.
"tapi seharusnya jangan melakukan hal yang begitu beresiko, padahal kamu tau, rasa sakit yang dia rasakan, kamu juga akan merasakannya bukan," jawab Al-Fath.
"aku sebenarnya tak ingin melakukan itu, tapi jika aku terus memanjakan dia, dia akan menjadi semakin lemah, kamu tau sendiri jika hidupku penuh dengan tantangan," jawab Arkan yang mulai sedikit merasa lega karena perlahan rasa sakit itu menghilang.
"kenapa kamu mendahului takdir tuhan, sudah percayakan semua pada takdir Allah, ingat kekuatan yang sesungguhnya adalah doa," kata Al-Fath yang menepuk bahu dari saudara sepupunya itu.
Arkan pun memilih untuk duduk di sofa untuk membuat dirinya lebih tenang.
sedang di rumah Niken, gadis itu terus teringat sosok Arkan yang sedih setelah mengatakan hal buruk padanya.
__ADS_1
dia tau jika Arkan tak mungkin jahat padanya, mungkin ada sesuatu yang dia sembunyikan.
terlebih Niken selama ini juga terlalu di manjakan hingga jadi gadis lemah dan tak pernah melakukan semuanya sendirian.
"baiklah, aku harus jadi gadis kuat supaya bisa berada di samping mu, jadi tunggu aku ya Arkan, kita akan berjuang bersama," lirih Niken.
keesokan harinya, Raka, Faraz dan Aryan sedang duduk bengong di belakang rumah.
sedang Wulan yang memasak hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah ketiganya.
"dari pada kalian tetap bengong gak jelas gitu, lebih baik cari bambu muda," kata Wulan pada ketiga orang itu.
Aryan dan Faraz pun mulai mengikuti orang tuanya itu, mereka bertiga sampai di kebun belakang rumah.
dan tak butuh waktu lama untuk mereka bisa menemukan bambu muda.
Aryan dan Faraz juga ikut mencoba mengambil tumbuhan itu, keduanya begitu sibuk karena kesulitan.
sedang Raka terlihat begitu mudah bahkan dia sudah mendapatkan tiga bung yang cukup muda.
"sudah-sudah ayah sudah bisa mendapatkannya, sekarang lebih baik kita pulang yuk, bisa-bisa Amma tak akan bisa masak jika kalian terus seperti ini," kata Raka yang melihat kedua pemuda itu.
__ADS_1
"yey.... akhirnya berakhir, sekarang ayo kita pulang," kata Aryan semangat.
sesampainya di rumah, Raka langsung membantu mengupas bambu muda itu.
sedang Wulan membuat bumbu untuk memasak bambu muda itu, Niken langsung berolahraga setelah bangun pagi.
setelah itu, dia berniat berangkat ke sekolah sendiri, "mbak kamu yakin bawa motor sendiri ke sekolah, bukankah mbak belum berani naik motor ke jalan raya sendiri?" tanya Ayu
"aku berusaha untuk berani bunda, cukup membuat ku sebagai putri yang lemah, aku ingin kuat dan mandiri bunda, boleh ya..." mohon Niken.
"tentu, ayah bangga melihat mu mau berubah, dan semoga ini bukan demi pemuda itu," kata Aris.
"tapi sayangnya aku memang melakukan ini demi dirinya, karena aku mencintainya," Jawab Niken.
"kenapa kamu begitu keras kepala," kata Aris membentak putrinya.
"memangnya apa yang salah ayah," kata Niken.
"cukup hentikan, tolong jangan bertengkar lagi, mas aku mohon untuk biarkan dia memilih cintanya, jangan terus memaksakan semua keinginan mu," kata ayu yang tak bisa diam lagi.
terlebih dia sudah cukup lama untuk hanya diam saja, kini dia perlu untuk bicara terutama untuk putri dan kedua putranya.
__ADS_1