
Raka dan keluarganya sudah selesai sholat subuh berjamaah di mushola terdekat, saat Wulan ingin masak Raka menahannya.
"ada apa ayah, aku mau memasak," kata Wulan.
"tidak sayang, Arkan, Aryan sudah siap?" tanya Raka yang merangkul istrinya.
"ayo Ayah, kami sudah siap," jawab kedua putranya itu.
"ayo kita berangkat," ajak Raka yang langsung mengendong istrinya.
"ayah berhenti seperti ini, aku itu berat, nanti ayah capek," bisik Wulan.
"tak ada kata capek untuk membahagiakan orang yang kita cintai," jawab Raka yang mencium pipi Wulan.
mereka pun siap berangkat, bahkan aryan membukakan pintu mobil untuk sang Amma.
mereka pun berangkat menuju ke sebuah warung langganan untuk sarapan bersama.
setelah membeli sarapan, mereka menuju ke rumah orang tua Wulan, saat sampai Wulan melirik Raka.
"aku rindu pada ibu dan ayah, terutama putra-putra mu itu terus berisik mau ke tempat kakek nenek mereka," kata Raka.
"Mbah... Arkan bawa sarapan," teriak Arkan yang sudah berlari masuk.
sedang Aryan yang membawa tas besar, "ya mas arkan tega banget," kesal Aryan yang kesal.
Fahri yang mendengar suara dari keponakannya itu pun keluar dan membantu membawa tas besar itu.
"kalian mau pindahan?" goda Fahri
"memang kenapa, ini juga rumah ku, memang gak boleh," kata Wulan menjewer telinga adiknya itu.
"sakit mbak, aku cuma bercanda saja," kata Fahri yang menyalami kedua orang itu.
__ADS_1
"sudah besar ya dek, bagaimana kuliah mu? semua berjalan baik?" tanya Raka pada adik iparnya itu.
"Alhamdulillah mas, semua baik, terlebih aku khusus mengambil jurusan psikologi," jawab Fahri.
tak lama dari dalam pak Suyatno dan bu mut dari dalam rumah, mereka langsung menyapa kedua anak dan menantunya.
"ya mas arkan kenapa menghabiskan telo gorengnya!" teriak Aryan yang mengejar Arkan.
semua tertawa melihat dua remaja itu yang terus berebut dan tak bisa diam, Raka bahkan langsung di ajak masuk oleh pak Suyatno.
"bagaimana kabar kalian le, apa baik semuanya?" tanya pak Suyatno.
sedang Bu mut masih mengorengkan ubi ungu untuk Aryan yang tak kebagian.
"Alhamdulillah semua baik, jasmin juga sudah melahirkan, saya mengajak istri dan anak-anak sengaja ingin menginap disini," kata Raka.
pak Suyatno tau ada sesuatu yang di sembunyikan oleh menantunya itu, dan sepertinya tak ingin bicara di depan Wulan.
"ya sudah, kalian masuk, kebetulan ibu mu sangat merindukan putrinya, dan bapak ada temen untuk menemani mencari rumput, mau le?" tanya pak Suyatno.
"tenang mas, aku libur hari ini, baiklah biar aku yang bayar dua bocah resek ini, jika nyebelin tinggal kotak aja Keduanya," kata Fahri tertawa.
"gak mau ah, om kalau bawa mobil kayak naik mobil mogok,masak maju berhenti,maju berhenti, terus," ledek Aryan.
"huh mulut mu Aryan, kamu jalan kaki aja deh," kesal Fahri
"ya gak gitu lah om, jangan ngambek ya, om ganteng deh," kata Aryan memohon.
"sudah-sudah sekarang cepat siap-siap ke sekolah, dan ini uang saku kalian berdua," kata Wulan mengulurkan dua lembar uang dua puluh ribu.
"gak usah Amma, kemarin malam kami sudah dapat uang saku dari ayah," jawab Arkan yang menolaknya sopan.
"buat aku saja mbak, lumayan buat beli es," kata fahri.
__ADS_1
Wulan hanya tersenyum dan mengmbil dua lembar uang seratus ribu dan memberikannya pada Fahri.
sedang Raka memberikan kartu debit miliknya pada Fahri, dan semua laporan keuangan akan masuk ke ponsel Wulan.
"dek, itu jangan buat yang tidak-tidak loh kartu milik mas mu," kata Wulan menginggatkan.
"siap mbak," jawab Fahri yang pergi bersama Arkan dan Aryan.
Raka sudah pamit ikut pak Suyatno ke sawah, sedang Wulan kini tidur sambil menikmati belaian dari sang ibu.
"aduh nduk, kamu kok masih manja saja sih, orang anak-anak mu sudah besar gitu," kata Bu mut.
"Wulan hanya rindu ibu, dan aku tak menyangka mas Raka mengajak menginap, sebenarnya aku habis kehilangan bayi kami Bu, aku keguguran," kata Wulan sambil terisak.
"ya Allah nduk, mungkin Allah lebih sayang pada bayi kalian, jadi jangan sedih, kamu masih bisa hamil lagi, mumpung masih muda, dan kedua putra mu juga pasti sudah bisa menerima saat memiliki adik nantinya," kata Bu mut menenangkan Wulan.
sedang di saung, Raka sudah terisak menceritakan Semuanya, pak Suyatno tak menyangka putrinya begitu mudah berkorban.
"sudah le, istri mu dari dulu memang seperti ini, jangan patah semangat ya, bapak dan ibu selalu mendukung kalian, dan Wulan masih hamil lagi, jadi jangan sedih ya," hibur pak Suyatno.
"inggeh pak," jawab Raka yang sudah mulai membaik.
keduanya pun kini benar-benar mencari rumput gajah, yang sengaja di tanam oleh pak Suyatno.
terlebih mertua Raka itu memiliki ternak sapi cukup banyak, setelah motor tossa penuh keduanya pun memutuskan pulang.
tapi pak Suyatno menghentikan motornya saat melewati pohon jambu mente (jambu monyet).
"ada apa pak?" tanya Raka yang duduk di samping mertuanya itu.
"itu jambu kesukaan istrimu, terutama mentenya, kita ambil dulu yuk," kata pak Suyatno
Raka pun diam, bukan apa, tapi ini pohon tumbuh di pinggir jalan, dan dia tak tau harus minta pada siapa.
__ADS_1
"tenang Raka, ini bapak yang nanam,lagi pula pak polo juga bilang siapapun boleh mengambil buah yang ada di pinggir jalan, tapi tidak untuk di jual," kata pak Suyatno.
"inggeh pak," jawab Raka lega.