Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
kami adalah pelindung


__ADS_3

Raka pun langsung mandi dan tidur, tapi pria itu masih terdengar terisak lirih.


karena Arkan tak tega, dia pun tidur di samping ayahnya, "ayah boleh peluk Arkan seperti waktu kecil,"


Raka pun berbalik dan memeluk putranya itu, Arkan pun menepuk punggung Raka pelan.


"Amma selalu bilang, kita memang busa berusaha semaksimal mungkin, tapi kita tak bisa menghindari takdir Allah, jadi ayah sudah melakukan yang terbaik, ayah sudah hebat dan Arkan bangga pada ayah," lirih Arkan.


Raka pun perlahan tertidur karena terlalu lelah, Arkan pun tanpa sadar memberikan kekuatannya pada Raka untuk lebih kuat.


sedang di rumah Aditya, Aryan memasak untuk Aditya yang sedang mandi.


"kamu bisa masak Aryan?" tanya Aditya tak percaya.


"menurut mas Aditya, meski tak seenak Amma atau Arkan, setidaknya lebih baik dari ayah," jawab Aryan percaya diri.


Aditya pun mencicipinya dan memang rasanya lumayan, setelah makan keduanya pun beristirahat bagaimana pun mereka habis melewati hari yang sangat lelah.


Jasmin masih sesenggukan melihat nisan bertuliskan nama suaminya, dia tak percaya jika Rafa alam pergi secepat ini.


Faraz pun mengajaknya pulang, terlebih Husna pasti juga lapar atau mungkin butuh Jasmin saat ini.


"ayo bunda, sekarang kita pulang, ayah sudah menitipkan bunda dan Husna padaku, jadi aku akan selalu menjaga kalian," kata Faraz mengajak jasmin.


"bunda hanya tak percaya jika ayah mu harus pergi secepat ini, padahal kemarin dia bilang akan menjemput bunda, ternyata tidak akan pernah dua lakukan," jawab Jasmin yang sedih.


"sudah bunda, sekarang kita harus berjuang bersama," jawab Faraz.


mereka pun pulang, Jasmin sedikit mulai bisa mengendalikan emosinya.


acara pengajian Rafa berjalan lancar, semua berkumpul selain Wulan dan Raka.


karena kondisi Wulan juga terus menurun, itulah kenapa dia harus tetap berada di rumah sakit.


setelah hati ke tujuh, Aira harus kembali ke Jepang. sedang Raka dan keluarga juga harus kembali ke kota tempat mereka tinggal sekarang.


Fahri menyewa rumah Raka untuk di jadikan tempat usaha sablon yang baru di rintis.


hari berganti bulan, tak terasa kandungan Wulan makin membesar dan akan segera melahirkan.


Raka sibuk dengan semua persiapan akan menyambut putri kecilnya, Raka hanya menghubungi keluarga sesekali.

__ADS_1


bukan Raka ingin memutus tali persaudaraan tapi Raka terus merasa bersalah tentang semua yang menimpa keluarganya.


Wulan pun menepuk bahu Raka, "ayah janji kalau Amma lahiran kita pulang ke rumah orang tuaku loh," kata Wulan.


"tapi Amma, nanti Fahri bagaimana? ya kali kita dempet-dempetan di sana," alasan Raka.


"aduh ayah, jangan kebanyakan alasan ya, sudah ayo lagi pula anak-anak sibuk dengan ujian Nasional, tau sendiri keduanya berhasil mengambil kelas akselerasi," terang Wulan.


"iya deh, iya, tapi nunggu anak-anak pulang ya," jawab Raka.


sedang di sekolah itu, meski Aryan dan Arkan termasuk berumur paking sedikit, tapi Keduanya sangat menonjol dari tubuh bahkan kepintaran.


"Arkan, ayo makan yuk,lapar nih," ajak Aryan.


"hadeh... repot nih kalau udah kepikiran makan Mulu tuh kepala isinya," kata Arkan tertawa.


"ya mau gimana lagi, aku kasihan kalau harus melihat Amma yang kesulitan membuat sarapan, jadilah aku bohong dengan kenyang cuma makan sereal dan susu, padahal mah itu cuma cemilan," protes Aryan.


"dasar perut karung, ayo kita pergi nyari makan," ajak Rafa.


mereka pun bergegas menuju ke sebuah warung di sekitar sekolah, karena hati ini cuma di adakan try out, jadi sekolah sedikit bebas.


setelah makan nasi pecel, tak lupa keduanya membeli pentol untuk di bawa ke dalam kelas.


"ada apa kalian menatap kami seperti itu?" tanya Aryan.


"kalian gak mati makan di warung itu, soalnya kemarin di warung itu ada orang yang menemukan bangkai tikus, terus ada yang bilang jika disana itu warung yang mengunakan penglaris," kata Wawan.


"penglaris apaan sih, orang warung bersih gitu, dan lagi masakannya itu sangat enak, oh masalah tikus itu, itu mah hanya mainan anak pemilik warung," terang Aryan.


Arkan pun ingin sekali tertawa, "makanya ya wan, jangan mudah terpengaruh oleh orang lain, kamu kan tau kami bisa melihat hal ghaib, jika warung itu ada penglaris maka aku orang yang paling tak ingin menyentuh warung itu selamanya,"


"ya kamu hebat ya, sudah ayo masuk, sebentar lagi try out akan di mulai lagi," ajak Wawan.


Arkan dan Aryan begitu serius mengerjakan soal tryout yang sengaja di lakukan berdekatan kaena ingin membuat para murid siap.


seusai sekolah, mereka pun nongkrong di warung tak jauh dari sekolah.


mereka membicarakan ingin mengadakan studi tour setelah ujian negara berakhir.


"enaknya kemana ya kalau wisata?" tanya Randu.

__ADS_1


"kenapa tidak ke Bali saja, kita liburan di pantai," usul Aryan.


"biayanya terlalu banyak, soalnya sekolah kita tak sepenuhnya anak orang mampu," jawab Wawan.


"aku tau kok,kenapa pusing ada dompet berjalan kakangmas Arkan," kata Aryan yang asal bicara.


karena kesal dengan ucapan adiknya, Arkan menjitak kepala Aryan dengan keras.


"mulut mu, itu buat biaya kuliah di luar tau, karena aku tak mau merepotkan ayah dan amma, kita ke Jogja saja, kalau itu aku bisa menyumbang dua bus, ya meski harus minta bantuan ayah," terang Arkan.


"boleh tuh, tapi biasanya kita kalau ke Jogja setidaknya tiga hari dua malam loh, gak papa!" tanya Randu yang tak ingin memberatkan Arkan.


"tenang saja, gak masalah, karena itu lebih menyenangkan dan tak akan ada halangan bagi para wanita yang lagi mens juga, karena jika ke Bali,maka akan sulit bagi yang sedang mens," terang Arkan.


"setuju itu, kan kasihan udah jauh-jauh ke Bali eh... malah harus nunggu di bus saja," kata Arkan.


"ya kalian bener juga," jawab Wawan.


"baiklah kalau begitu kita ke Jogja setelah ujian negara, nanti biar aku dan Arkan yang akan izin ke sekolah, masalah boleh atau tidak, atau mungkin kita di berikan alternatif lain," terang Randu.


"ya setuju," jawab keempatnya


mereka pun menikmati es dan gorengan di warung itu, meski berkumpul seperti itu, Aryan dan Arkan tetap tak menyentuh rokok demi kesehatan.


tak lama ada gerombolan para gadis lewat, Randu menggoda mereka. tapi mereka lewat berlalu begitu saja.


mereka pulang pas dengan adzan sholat dhuhur, Wulan dan Raka sudah siap untuk pergi ke Jombang lagi.


"ayah dan Amma jadi ke rumah Mbah?" tanya Arkan.


"iya nih, ayah gak bisa menolak permintaan Amma mu, kalian baik-baik di rumah selama tiga bulan ya," kata Raka pada kedua putranya


"beres ayah, tapi kami mau minta sumbangan untuk pariwisata yang akan kami lakukan, terlebih di sekolah itu banyak yang tidak mampu, jadi ayah mau bantu?" mohon Arkan.


"butuh berapa?" tanya Wulan yang langsung mengambil ponsel suaminya.


"sedikasihnya saja Amma," jawab Arkan tersenyum.


Wulan mentransfer uang enam puluh juta pada rekening putranya, Arkan pun senang dan langsung memeluk Wulan.


"terima kasih Amma, ini cukup sangat cukup," kata arkan.

__ADS_1


"baiklah kami pergi, dan uang kebutuhan di tempat biasa, uang saku kalian juga nanti Amma kirim setiap Minggu ya," kata Wulan.


"siap ibu negara," jawab kedua putranya.


__ADS_2