Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
kelahiran adik baru


__ADS_3

Wulan dan Raka menuju ke rumah keluarga pak Suyatno, batu juga sampai mereka sudah di sambut begitu hangat.


"akhirnya kalian datang, mana cucu-cucu bapak?" tanya pak Suyatno.


"mereka sedang mengikuti ujian negara pak, ya keduanya mengambil kelas percepatan agar bisa segera lulus," kata Wulan yang duduk di kursi.


"Amma butuh sesuatu?" tanya Raka yang melihat istrinya begitu lelah.


"boleh ayah, minta air dingin ya," mohon Wulan.


"aduh hamil besar masih minum air dingin sih nduk," tegur Bu mut pada putrinya itu.


"gak apa-apa Bu, asal tidak manis, yang membuat bayi besar itu minuman yang terlalu banyak mengandung gula," jawab Wulan.


pak Suyatno mengeluarkan toples berisi kacang mete dan juga jenis kacang yang lain.


"wih makanan kesukaan semua ini, berasa di sayang ini mah," kata Raka yang datang membawa air dingin.


"maklum mau nambah cucu, jadi ayah mu sangat semangat saat menyiapkannya," kata Bu mut.


mereka pun tertawa bersama, Rania yang tau kepulangan dari Wulan, bergegas menghampiri kakak iparnya itu.


saat sampai gadis itu memeluk Wulan dengan erat, "ya Allah mbak, aku kangen," kata Rania.


"aduh-aduh bisa pentet ini anakku," protes Raka melihat adiknya itu.


"ih kok gitu sih, aku juga sedang hamil loh meski belum sebesar mbak Wulan," kesal Rania jujur.


"apa!" kaget Raka.


"iya mas, kandungan adek baru enam belas Minggu," jawab Aditya yang menaruh oleh-oleh.


"kalau begitu kita lakukan adat dodolan karena jika tidak,mbak sulit melahirkan karena menunggu kamu," kata Wulan.


"tunggu biar ibu dan Raka ke pasar untuk membeli semua kebutuhan dodolan," panik Bu mut.


Rania dan Aditya yang tak mengerti pun bingung, pasalnya kenapa semua langsung heboh.


"memang kenapa harus sekali sepertinya?" tanya Rania.


"ini adat nduk, sudah tinggi disini saja, Sebentar lagi Fahri datang bawa gorengan kayaknya juga,"kata pak Suyatno.


"iya pak," jawab Aditya yang kini menemani dua wanita hamil itu.


Bu mut membeli jajaran pasar dan beberapa peralatan serta kebutuhan yang lain, Raka merasa heran karena Dodolan tak sama dengan waktu hamil pertama.


"Bu bukannya hanya makanan ya?" tanya Raka.


"beda le, karena kali ini harus Dodolan dengan adik kandung mu, jadi yang di jual juga beda," jawab Bu mut.

__ADS_1


Raka pun hanya mengangguk saja karena dia juga tak mengerti dengan semua adat yang ada.


setelah selesai mereka pulang, Bu mut membungkus semua yang akan di jual dengan kain putih.


Raka memberikan tape ketan pada Rania, "ini untuk apa mas?" tanya Aditya.


"itu untuk membeli barang yang di jual kakak ipar mu, kasih itu dan uangnya berapapun," jawab Raka.


"owalah," jawab Aditya yang menaruh uang dua ratus ribu pada bungkus tape ketan itu.


Wulan memangku bungkusan dalam kain putih itu, dan Rania memberikan tape ketan pada Wulan.


"Alhamdulillah, Dodolan selesai, insyaallah semua akan lahiran dengan brosat-brosot," kata Bu mut.


Aditya merasa heran, pasalnya apa yang di jual oleh Wulan sangat berat, ternyata saat di buka itu ada kebutuhan dapur dan juga jajanan pasar, belum lagi ada yang lain.


"ini gak salah Mbah?" tanya Aditya pada Bu mut.


"gak le, memang adat Jawa itu beda-beda, tapi pada dasarnya itu sama saja," jawab Bu mut.


mereka pun lanjut berbincang, Wulan mencicipi tape ketan sebagai syarat, dan yang sisanya memakan adalah Fahri yang baru datang.


di rumah, Arkan sedang memasak untuk dirinya dan Aryan, dan beberapa teman mereka yang datang.


mereka semua sedang belajar bersama, terlebih ujian Nasional sebentar lagi.


"tenang saja, aku tak akan meracuni mu, jadi nikmati saja," kata Arkan yang datang membawa nasi goreng.


mereka pun makan bersama dan sangat menyukai nasi buatan dari Arkan.


mereka tak menyangka jika pria seperti Arkan bisa sehebat ini dalam memasak.


tiba-tiba di luar terjadi badai hujan yang cukup hebat, bahkan pot di teras rumah berjatuhan.


"kalian semua bisa adzan?" tanya Arkan.


"bisa," jawab Randu dan Wawan.


"kalau begitu kita adzan ke arah empat mata angin, semoga badai ini lekas berakhir, karena badai ini terasa membawa sesuatu," kata Arkan yang bangkit.


mereka pun mengambil tempat masing-masing, dan kemudian mereka adzan bersamaan.


ternyata beberapa rumah juga melakukan hal yang sama,tapi saat adzan akan selesai sebuah bungkusan putih terbang dan jatuh tepat di jalanan desa.


Arkan tak memperdulikan hal itu, dia pun menyelesaikan adzan dan badai hujan pun berhenti.


para warga pun berdatangan melihat bungkusan putih yang tergletak di jalanan desa.


awalnya mereka pikir itu adalah guling, tapi kenapa ada tali yang mengikat benda itu.

__ADS_1


saat benda itu di balik, ternyata sebuah pocong, jenazah yang tertiup angin hingga terbang.


"ini mayat siapa, kenapa bisa disini?" kaget pak RT.


"gak tau pak, mungkin dari tetangga desa sebelah," jawab yang lain.


"permisi, boleh saya menyentuhnya, biar saya tau," kata Arkan menyela semua orang.


Aryan menahan Arkan, "tunggu dulu Arkan, ingat pesan ayah, kita tak boleh sembarangan menunjukkan kekuatan kita," bisik Aryan takut.


"tapi kan kasihan jika ada yang mencarinya," jawab Arkan.


"pocongnya hidup!" teriak Wawan yang melihat pocong itu membuka mata.


semua pun mundur, dan pocong itu merasa tubuhnya kesakitan, "eh tolong dong, kenapa saya di ikat begini, saya ini masih hidup," protes pria itu.


"eh... kalau hidup kenapa di pocongin gitu," saut Aryan yang memberanikan diri.


"sebenarnya kami tadi lagi mencoba mencari bentuk sempurna pocong buat di jadikan konten, eh ternyata saat saya mencoba melompat malah terseret angin sampai sini," kata pemuda itu.


"dasar anak geblek, lapo kok gawe kafan barang, arep mati ta, arek kucluk pancen kok, (kenapa pakai kain kafan segala, mau mati apa? anak bodoh memang,)" seorang ibu datang membawa sapu sambil mengangkat dasternya.


"aduh ampun Mak, aku cuma main-main saja," jawab pemuda itu berlari kencang.


"onok-onok wae, guyonan arek Saiki gak ngotak," kata pak RT marah.


Aryan menarik Arkan masuk kedalam rumah, mereka pun membersihkan rumah dan menata rumah yang sudah acak-acakan.


"sudah ayo masuk kita tidur, sudah malam," ajak Aryan pada ketiganya


mereka pun tidur di ruang keluarga, dari kejauhan ada sesosok mata yang melihat kearah rumah keluarga Raka.


mata merah menyala, yang penuh dengan dendam, seakan siap membunuh seluruh yang tinggal di rumah itu.


pukul sebelas malam Wulan merasa tiba-tiba perutnya sangat sakit, Raka pun panik dan membawanya ke rumah sakit.


Wulan harus menjalani operasi sesar, terlebih dulu dia melahirkan juga secara sesar.


pas pukul dua belas malam, bayi mungil itu lahir ke dunia, Raka tak merasakan ada yang aneh pada putrinya.


"Alhamdulillah sepertinya putri kita normal ya Amma," kata Raka dengan sangat bahagia.


"Alhamdulillah," jawab Wulan


Raka pun mengadzani putrinya yang baru lahir, Bu mut dan keluarga yang lain ikut bahagia.


pasalnya mereka tak mengira akan mendapatkan cucu perempuan, dan lengkap sudah keluarga mereka.


Fahri juga ikut bahagia mengetahui jika dia mendapatkan keponakan cantik, meski usianya sudah tak muda lagi, atau lebih tepatnya keponakan kali ini lebih cocok jadi putrinya.

__ADS_1


__ADS_2