Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
berjalan sesuai alur.


__ADS_3

Aris pun terpaksa membiarkan putrinya itu baik motor sendiri, meski awalnya dia tak yakin jika Niken bisa.


sedang Ayu berusaha untuk tetap percaya dan yakin akan kemampuan putrinya.


sedang di rumah, Faraz pagi ini berangkat terlebih dahulu karena ada janji dengan beberapa dosen.


pasalnya dia akan mengadakan penelitian tentang beberapa cara menanam yang lebih cepat dan efisien.


saat menuju ke kampus, tak sengaja dia melihat Niken yang mengendarai sepeda motor.


Faraz membunyikan klakson, Niken pun menoleh dan melihat Faraz, "halo mas," sapa Niken.


"iya, kamu lanjutkan berkendara, aku akan mengikuti mu dari belakang," kata Faraz yang di angguki Niken.


hari ini keduanya saling menjaga, terlebih Faraz yang tak ingin terjadi sesuatu pada gadis muda itu.


setelah di Depan sekolah Niken, Faraz langsung tancap gas menuju kampusnya.


Niken pun merasa sedikit lega, pasalnya dia tadi sedikit khawatir akan perjalanan ke sekolah yang melewati jalur utama yang ramai.


Faraz pun segera menemui dosen, dan mereka langsung membahas semua ide dari Faraz tentang pertanian.


sedang Niken Juga langsung ikut berbaris sebelum masuk kelas, pasalnya hari ini Jum'at sehat jadwal untuk senam bersama-sama.


sedang Aryan juga baru selesai membantu Raka dan Wulan, beruntung dua balita itu begitu tenang dan tak rewel.


"Amma, bukannya hati ini jadwalnya posyandu ya, terus ini adek Husna jadwalnya untuk imunisasi juga," kata Aryan membaca buku KIA milik dua balita itu.


"iya kakak, jadi hari ini ayah yang akan bantu Amma bawa keduanya ke posyandu, ayah harus mau," kata Wulan melirik Raka .


"baiklah, apapun untuk mu sayang," jawab Raka pasrah.


pasalnya pasti dia akan jadi satu-satunya pria yang ada di posyandu, terlebih ini harus pegangin Husna yang mau imunisasi juga.


sedang Aryan bersiap untuk ke kampus juga, pasalnya dia juga ada kelas jam sembilan pagi.


dia mengenakan Hoodie berwarna pink yang di belikan oleh Nayla, biasanya para pria akan malu, sedang berbeda dengan Aryan yang malah percaya diri memakai pakaian seperti itu.


dia menuju ke kampus, dan sat sampai aryan sudah menjadi pusat perhatian karena bajunya.

__ADS_1


"wuih bro... Hoodie mu bagus tuh, beli di mana?" ledek Syahrir.


"di belikan ini, nanti juga tau," jawab Aryan enteng.


benar saja tak lama Nayla datang membawa mobil berwarna hitam, saat keluar semua mahasiswa langsung kaget.


pasalnya gadis itu memakai Hoodie yang sama dengan Aryan, "ciye... ternyata samaan sama kekasihnya, aduh romantis sekali..." kata Syahrir.


"biasa tuh," jawab Aryan.


Nayla menyapa Vani dan mengajaknya masuk kedalam kelas, sedang Aryan menuju ke area laboratorium pasalnya Faraz yang memanggilnya tadi.


sesampainya di laboratorium, ternyata ada beberapa dosen yang sedang melihat praktek dari Faraz.


Aryan membantunya, setelah selesai, mereka pun segera masuk ke dalam kelas pasalnya hari ini ada ulangan dadakan.


Raka sudah siap berangkat ke tempat posyandu untuk menimbang kedua putrinya.


Raka ikut antri, bahkan pria itu menjadi pusat perhatian untuk para ibu-ibu yang juga sedang antri.


"Husna sekarang timbang yuk," kata sala satu kader posyandu.


Husna langsung memeluk erat Raka, dan balita menangis dengan sangat keras.


"Monggo pak," kata ibu bidan.


"wah... delapan puluh lima, ini gimana Amma?" panggil Raka pada istrinya.


"bobot mas kan memang tujuh puluh ayah, jadi tinggal di kurangi saja," jawab Wulan yang sedang memegangi Alena yang juga sedang menangis karena di ukir tinggi badannya.


dan sekarang giliran di ukur tinggi badan dan sudah menangis lagi, belum juga si suntik Raka sudah lelah duluan.


Wulan pun menepuk punggung suaminya, "ayo ayah bisa, peluk Husna sekarang, biar ibu bidannya bisa segera memberi imunisasi,"


"baiklah, ayo sayang, putri ayah bisa," kata Raka.


tapi baru juga melihat jarum suntik, Raka kaget, "itu buat suntik, nanti sakit dok Bu bidan, ini bersih kan?"


"iya pak, setiap satu bayi satu harum suntik, jadi pasti steril kok," jawab Bu bidan.

__ADS_1


"tapi nanti panas gak Bu, jika panas kasihan nanti dia sakit dong," kata Raka yang memeluk Husna tak mau bocah itu di suntik.


"aduh ayah, sudah itu sudah biasa, cepetan atau Amma tinggal nih," ancam Wulan yang kesal melihat suaminya.


"nanti dia sakit Amma," jawab Raka.


"sini kalau ayah gak mau pegangin, biar amma saja, atau kasihan yang lain ayah sedang antri," kata Wulan gemas sendiri melihat Raka.


"baiklah-baiklah, tapi tolong pelan-pelan," kata Raka yang memeluk Husna yang sudah mulai berontak.


akhirnya Husna di suntik, meski Raka yang ikut heboh karena hal itu, bahkan pria itu mengomel karena putrinya yang menangis karena di imunisasi.


Wulan meminta maaf, dan tak lupa memberikan beberapa jenis kue untuk para kader posyandu dan Bu bidan.


Wulan langsung meminumkan obat pereda nyeri dan tak lupa Wulan juga memakaikan plaster kebutuhan panas saat suhu tubuh Husna mulai naik.


tapi balita itu tetap terlihat aktif, bahkan masih bisa bermain dengan Alena dan Raka.


Wulan pun merasa bersalah pada Jasmin, tapi wanita itu perlu menenangkan diri sebelum siap menjaga dan merawat putri dan putranya.


tapi tanpa keluarga Raka ketahui, jika kondisi Jasmin makin memburuk, terlebih saat di rumah sakit,dia mengalami pelecehan yang begitu mengerikan.


sayangnya pak Handoko yang juga sibuk tak bisa selalu melihat putrinya, Jasmin memburuk dengan ketakutan yang dia rasakan.


saat sebuah langkah kaki membuatnya ketakutan, pasalnya itu seakan peringatan jika akan ada sesuatu yang akan terjadi padanya.


Jasmin langsung bersembunyi di bawah ranjang ketakutan, pasalnya dia selalu mendapatkan pukulan dan juga pelecehan seksual.


"halo cantik... kamu kemana, lihat dokter bawa apa..." panggil pria itu.


"jangan sembunyi dong, padahal dokter ingin mengajakmu main loh," kata pria itu yang melihat ke bawah ranjang.


di sanalah Jasmin lihat tatapan mesum dan dia langsung di tarik dan langsung di tindih di atas ranjang.


dia berontak tapi tak bisa mengalahkan stamina dari pria itu, saat pria itu ingin menyentuh Jasmin, seorang perawat datang dengan buru-buru.


"maaf dokter menganggu, ada pak Handoko datang ingin menjengguk putrinya," kata perawat itu.


"sialan,ingat jika kamu berani buka mulut, akan ku buat dirimu tak bisa melakukan apapun, ingat itu," ancam dokter itu.

__ADS_1


pria itu pun melepaskan wanita itu, dan perawat itu membawa Jasmin keluar.


"seharusnya kamu menghubungi putra mu sekarang, agar kamu lepas dari dokter dakjal itu, karena aku tak bisa membantu apapun," kata perawat itu.


__ADS_2