Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
masih memantau


__ADS_3

mereka pun mulai berjalan perlahan, Rute dari Pos 2 ke Pos 3 termasuk yang terpanjang dari semua rute dari Ranu Pani ke Ranu Kumbolo.


Di Pos 3 terdapat dua jembatan. Satu jembatan panjang yang bernama Jembatan Janik dan satu lagi jembatan pendek yang merupakan jembatan lama atau Jembatan Watu Rejeng. Para pendaki biasa beristirahat sejenak di Jembatan Janik -nama warga suku Tengger yang membuatnya. Di bawah jembatan ini ada sumber air.


Aditya pun meminta mereka beristirahat karena kondisi pendakian cukup sepi kali, "kalian tunggu disini, aku ambil air, dan coba hubungi Fahri karena takutnya kita terlalu jauh tertinggal,"


"siap mas," jawab arkan.


tanpa di suruh Aryan pun turun sambil membawa beberapa botol yang sudah kosong untuk di isi air kembali sebagai persediaan.


arkan pun selalu waspada, bahkan sesekali dia memutar tasbih yang ada di pergelangan tangannya.


"Arkan, kamu terus berdzikir ya, dari tadi mbak perhatikan, kamu dan Aryan," tanya Rania.


"tak apa-apa mbak, dari pada aku mengucapkan dan melanggar pantangan, karena aku dan Aryan kalau sudah bercanda kadang suka kelewatan," jawab Arkan tersenyum.


mereka pun kembali berjalan karena puncak masih sangat panjang dan jauh.


apalagi pendakian kali ini tak akan mudah, terlebih Medan yang di lalui tapi tak ada yang ingin menyerah.


mereka pun menuju ke pos selanjutnya, tapi perasaan dari Arkan sudah tak enak dari tadi.


pasalnya aura dari sekitarnya sudah sangat sesak untuknya, seperti ada begitu banyak orang.


Arkan pun memegang dadanya, "ya Allah, kenapa dengan dadaku," gumam Arkan


"kita turun, lagi pula kita sudah di Ranu Kumbolo, kita tak mau kamu Kenapa-kenapa Arkan, kalian jika ingin foto silahkan, aku akan menjaga arkan dan setelah itu kita kembali," perintah dari Aditya.


"tapi mas, kenapa?" tanya Rania yang sempat ikut bingung.


"karena kita lupa jika Arkan pernah melakukan operasi di dadanya, dan itu juga belum lama," jawab Aryan yang menutupi semuanya.


sedang Faraz sudah membeku diam, Aryan menutup mata saudara sepupunya itu.


"jangan di lihat terus, lebih baik kita segera turun," kata Aryan berbisik.


"baiklah aku setuju, dan aku bantu membawa career milik Arkan," kata Faraz yang sedikit pucat.


"jangan, kita pasti kemalaman di jalan, lebih baik cari tempat untuk mendirikan tenda darurat saja, karena suhu juga mulai turun," kata arkan.


"baiklah, dan minta Fahri untuk kembali dan mengambil sebagian logistik karena kita tak akan lanjut," perintah Aditya.


mereka pun mendirikan dua tenda, Arkan, Aditya dan Faraz akan tidur dalam satu tenda.


sedang Aryan akan menemani Rania karena Aditya harus menjaga Arkan yang takutnya terkena hipotermia atau mungkin bisa kesurupan juga.


setelah tenda jadi, Aditya dan Rania langsung memasak, dan Arkan makan roti dan minum obatnya.


"kenapa kamu aneh, tadi waktu naik semuanya baik, tapi disini?" tanya Aryan penasaran.


"aku juga tak mengerti, terlebih tadi aku merasa tubuhku di himpit sesuatu yang sangat bnyak, seperti ada ratusan orang yang ada di sekitar ku dan aku tak bisa menghirup oksigen dengan benar," jawab Arkan yang mulai mendingan.

__ADS_1


"aneh, kita sudah meninggalkan semua pegangan dan khodam kita di rumah, tapi kenapa masih di ganggu juga," kata Faraz yang memsng di beritahu oleh Rafa.


"itulah yang tak pernah kita bisa prediksi, terlebih semua bisa berubah seperti halnya mata angin," jawab Arkan yang tersenyum.


sedang di kelompok yang pertama mereka pun memutuskan kembali ke Ranu Kumbolo dan bergabung untuk membuat tenda di sana.


saat sampai, ternyata kondisi dari Fero juga tak baik, itulah kenapa Fahri juga memutuskan untuk turun.


"dia kenapa? kalau kena hipotermia cepat berikan pakaian tebal dan teh hangat," kata Aditya.


"tidak kak,suhu tubuhnya normal, tapi sepertinya ada sesuatu yang menganggu dan seperti ada yang menghisap energinya," terang Gadis.


"mana Aryan, setidaknya dia bisa melihat kondisi dari Fero, kita tak mungkin bisa meninggalkan dia seperti ini," panik dari Randi


"dek tolong panggilkan Aryan, sekalian berikan susu panas untuk ketiga orang itu," kata Aditya meminta tolong.


"baik mas," jawab Rania.


aryan pun keluar bersama Rania, langit mulai berganti dengan malam.


"ada apa mas? apa itu!!" teriak Aryan kaget bukan main hingga tanpa sadar berteriak dengan sangat keras.


"jangan panik Aryan, tolong ambil garam di career milikku dan usapkan ke telapak kaki dari kak Fero dan segera minta maaf, kau sudah tau caranya," perintah Arkan dari dalam tenda.


Faraz pun melihat wajah Arkan yang pucat, dan segera memintanya untuk istirahat.


Aryan pun melakukan apa yang di ucapkan Arkan, dan sekarang Fero yang berteriak kesakitan.


tapi dia segera membawa segelas kopi pahit dan rokok, setelah meminta maaf akhirnya semua berjalan baik.


tanpa terduga seekor ular melata dan mengejutkan semua orang, ular besar bersisik hitam dengan kepala yang berwarna emas.


"ular!!" teriak Siska yang membuat semuanya terkejut kecuali Arkan, Aryan dan Gadis.


"Aryan ular mu kenapa kesini?" tanya Arkan yang sudah mulai membaik dan bisa ikut makan malam sambil berbincang.


"hei Nyai Ageng tri mustika kenapa mengikuti ku kemari?" tanya Aryan yang langsung mengalungkan ular itu ke lehernya.


mereka pun kaget dan ketakutan, tapi Aditya sudah terbiasa dengan kedua saudara itu.


"sudah kembali makan, dan jika masih kurang kita bisa membuat mie instan, dan Arkan minum susu mu," perintah Aditya.


"iya mas, dan maafkan aku, karena aku kita harus turun padahal masih belum ke puncak Mahameru," kata Arkan sedih


"tidak Arkan, ini bukan salah mu, lagi pula kita yang salah, terlebih kita juga tak mengira jika Fero juga kondisinya memburuk seperti ini," jawab Fahri.


"itu benar, ini bukan salahmu, aku juga tak mau melihat istriku kecapekan jika harus memaksakan diri untuk naik ke puncak," jawab Aditya.


"terimakasih semuanya, jika aku sudah sehat, aku akan mentraktir kalian naik gunung manapun dengan gratis ya," kata Arkan


"baiklah," jawab yang lainnya.

__ADS_1


setelah selesai memasak, mereka pun duduk bersama sambil berbincang, Rania susah di minta tidur oleh Aditya.


dan malam ini Aditya akan bersama Rania dan Aryan. karena Fahri yang akan menjaga arkan dan Faraz.


semua sudah tidur, tinggal Fahri, Aditya dan Randi yang duduk-duduk santai di depan tenda masing-masing.


"apa kalian tak merasakan apapun yang aneh saat naik di pos dua?" tanya Fahri.


"berhenti, jangan di bahas, sekarang kita harus tetap fokus untuk keselamatan Fero dan Arkan dulu," kata Aditya yang tak ingin membahas hal ghaib di tempat seperti ini.


"baiklah mas, aku istirahat dulu," pamit Randi yang sudah mengantuk.


kini tinggal Aditya dan juga Fahri, keduanya asik ngopi dan menikmati gorengan dadakan yang di buat.


kedua pria itu benar-benar kuat begadang, bahkan Aditya tak merasa mengantuk sedikitpun.


"Fahri kamu sensitif seperti kakak mu atau tidak!" tanya Aditya penasaran.


"tidak, aku hanya pria biasa," jawab Fahri yang tersenyum takut karena tak sengaja melihat sosok di belakang tenda dari Gadis dan Siska.


"kamu melihatnya?" tanya Aditya tertawa.


"kenapa mereka keluar di saat begini, aku bukan orang yang sensitif," panik Fahri.


"sudah tenang saja, mereka paling hanya menunjukkan jika mereka itu ada di sekitar kita."


akhirnya Aditya pun mengajak Fahri beristirahat, terlihat perlahan tubuh Arkan membaik.


dan saat mereka tidur, tenda mereka bergoyang karena hembusan badai, tapi aneh jika mendadak ada badai yang menerjang karena dari tadi suasana cukup cerah.


Aditya melihat Rania dan Aryan sudah tidur pun memutuskan untuk tidur di sebelah Rania.


tak lama mulai terdengar suara langkah kaki, dan dari bunyi gema tanah, sepertinya ada beberapa puluh orang yang lewat.


tapi Aditya memilih menutup matanya, malam pun perlahan terlewati meski dengan semua ganguan.


pagi ini Rania dan Aditya pergi melipir untuk buang air kecil, sedang Fahri di bantu Randi memasak untuk semua orang.


Fahri menghangatkan lauk yang di bawakan oleh Wulan, tapi dia sedikit aneh.


"ada apa Fahri?"


"tidak ada, aku hanya heran kita kan baru baik, tapi kenapa ayam krispi ini begitu letoy," kata Fahri


"sudah cepat hangatkan saja, karena kita harus turun sesegera mungkin," kata Randi yang khawatir pada Fero.


pasalnya setelah dari Arjuno kemarin, Fero memang bertingkah sedikit aneh.


Arkan sudah merasa sehat dan jekuar dari tenda, dan dia menyadari sesuatu, "aduh .. sepertinya kami salah ambil tempat kemah," gumam arkan.


Aryan pun keluar dan begitu senang melihat Arkan susah sehat.

__ADS_1


"kamu kenapa woi?" tanya Arkan sesak karena pelukan dari aryan.


__ADS_2