
mobil Raka sampai di rumah, mereka pun bersiap untuk tidur, tak lupa Wulan memasang alarm pukul dua dini pagi.
saat semua terlelap, para pemuda itu di datangi oleh seseorang. "kalian kenapa masih mabuk-mabukan di sini, pulang nanti celaka," tegur suara itu.
"eh pak tua diam saja, ganggu saja pergi sana," usir beberapa pemuda itu.
"terserah kalian, aku hanya sekedar menginggatkan. jika di sini tempat ulat tahun dan malam ini mereka akan bercahaya," tambah pria itu.
"itu bagus kan, setidaknya kamu bisa menangkap dan menjualnya nanti, terlebih pasti ulat itu mahal," kata anak-anak muda itu.
"terserah kalian, aku sudah menginggatkan," jawab pria itu.
benar saja, pukul setengah satu dini hari, ada dua ekor ulat yang muncul di salah satu pohon di ruangan itu.
ulat itu bersinar dan kedua ulat itu berwarna keemasan dengan cahaya yang terang di gelapnya malam.
"hei lihat nih ada emas, ambil yuk, biar kita bisa minum tiap hari,", kata temen mereka yang ingin langsung menyentuh dengan tangan kosong.
"hei di sana juga ada, ayo lemas ambil," ajak semuanya bersama.
mereka pun berpencar dan mulai mengambil ulat-ulat itu, bahkan mereka mengunakan kaos mereka.
tapi salah satu dari mereka merasakan panas yang tiba-tiba menyerang.
"eh kok panas, kok gatal juga!!" kata pria yang pertama menyentuh ulat itu.
ternyata ulat itu memiliki racun, makhluk yang menjaga pohon itu pun tertawa melihat kelima pria itu kesakitan dan meregang nyawa.
__ADS_1
"semua orang tamak pasti terkena balasannya, Ha-ha-ha," tawa makhluk itu yang membawa semua ulat itu pergi.
dan perlahan kelima pria itu mati dengan kondisi mengenaskan, bahkan tubuh mereka penuh dengan luka bakar.
pukul tiga pagi, semua keluarga Raka sudah bangun, mereka juga sudah makan sahur.
baru juga selesai, terdengar suara ketukan pintu di rumah Rafa dan Raka.
"assalamualaikum... mas Raka!!!" panggil orang yang bertamu.
"waalaikum salam, ada apa pak, kenapa kok ketakutan gini," tanya Raka bingung.
"tolong pak, ada mayat, mereka mati di daerah tuwangan sawah di perbatasan desa, dan mayatnya sangat mengenaskan, dan kami belum berani menghubungi polisi," panik semua orang.
"ayo kita kesana, Arkan ikut ayah!" panggil Raka sedikit berteriak.
akhirnya mereka pun berangkat mengendarai motor, Arkan pun mendampingi Raka, saat sampai ternyata kondisi para mayat itu sangat mengenaskan.
para warga pun mundur, sedang Arkan membuka mata istimewa miliknya.
dia menemukan jejak emas menuju ke pohon aren yang tumbuh di putukan tengah sawah.
"ayah, sepertinya ini adalah akibat mereka menyentuh ulat tahun, ayah tau ulat itu berbentuk emas bukan," bisik Arkan.
"apa! bukankah ulat itu sudah musnah, aku dan Rafa sudah membakar pohon yang dulu di diami oleh mereka, tapi kenapa muncul lagi," kata Raka tak habis pikir.
"Raka harusnya kamu kan tau, ular tahun atau ulat emas itu adalah hewan yang akan muncul dan berkembang saat di desa percaya klenik dan mulai meninggalkan agama," kata Rafa yang datang dengan beberapa polisi dan ambulans.
__ADS_1
para polisi kaget melihat semua korban yang gosong dan penuh luka membusuk.
"aish... ini kenapa? kok bisa seperti ini? apa kalian tau apa penyebabnya?" tanya polisi Babinsa.
"kami tak tau pak, ini juga yang menemukan anak-anak yang patrol sahur, dan saat mereka ingin melintas kaget karena melihat mayat," kata pak RW.
"baiklah lakukan identifikasi, dan segera bawa ke rumah sakit untuk di lakukan otopsi," perintah polisi itu.
Rafa pun bisa melihat luka di tubuh bagian perut dan dada yang cukup lebar, dan dari bentuk luka itu, beberapa ulat pasti masuk kedalam tubuh mayat.
"maaf, saat melakukan otopsi, tolong sebisa mungkin mengenakan sarung tangan berlapis, takutnya itu akan menular, dan lebih baik jika bisa jangan sampai bertemu matahari, jadi tolong segera di peti saat selesai di otopsi, jangan lupa pakaikan plastik berlapis," kata Rafa.
"baik mas Rafa, tapi bagaimana dengan keluarganya," tanya polisi.
"jika tak ingin malu dan menjadi gunjingan masyarakat, seharusnya mereka tak keberatan dengan apa yang aku katakan," kata Rafa.
"baiklah kami mengerti, apapun yang mas raja dan mas Rafa lakukan pasti ini demi kebaikan kami," kata orang tua korban.
"kamu tau dimana sekarang tempat tinggal ulat tahun itu?" tanya Raka pada putranya.
"di pohon aren, yang tumbuh di rambati daun sirih di pohon aren itu, dan sekarang ada penjaga yang melindungi makhluk itu," terang Arkan sambil menyorot area yang dia maksud.
Raka dan Rafa terdiam, tak mungkin jika yang menjaga makhluk itu adalah orang yang menjadi penjaga makam juga.
"aduh... Mbah Mahmud yang menjaga, itu berarti ulat tahun kali ini datang untuk melakukan pembersihan," gumam Raka
"ya kamu benar terlebih sudah terlalu banyak ilmu hitam yang berkembang di desa kita, kamu ingat kejadian babi ngepet dan juga keblek yang sempat meresahkan,"
__ADS_1
"ya, dan masih ada dua mahluk pesugihan yang belum bisa kita bereskan karena kekurangan bukti," kata Raka menghembuskan nafasnya lelah.
"ya sudah sekarang kita urusi ini saja, karena ini akan sangat panjang dan melelahkan," terang Rafa.