
Adri pagi ini berangkat bersama Raka untuk menemui pria biadab yang ingin melecehkan putrinya.
Raka dan Adri menuju ke rumah Bima, dan sesampainya di sana mereka pun tak menemukan siapapun.
pasalnya rumah itu sudah di sita oleh Bank, "apa ini? kenapa bisa, tunggu kita bisa bertanya kepada tetangga,"
"baiklah, permisi pak, apa anda tau kemana keluarga Bima pergi?" tanya Adri.
"lah, mas Raka tak tau, padahal keponakannya, oh ya saya kebetulan tidak tau pak, bagaimana kalau tanya pak RT, karena sebelum pergi mereka sempat membuat keributan tapi say jug lupa, ha-ha-ha-ha," jawab pria yang kebetulan lewat itu.
"baiklah pak, terima kasih ya, kalau begitu saya ke rumah pak RT," pamit Raka dan Adri.
keduanya pun bergegas ke rumah pak RT, mereka pun sampai di rumah pria sepuh itu.
"assalamualaikum pak RT," sapa Adri.
"waalaikum salam mas Adri dan mas Raka, ya Allah lama ya kita tak bertemu?" jawab pria itu bersalaman dengan kedua pria itu.
"wah ada apa ini, Monggo duduk dulu..." kata pria itu mempersilahkan.
"iya pak terima kasih, sebenarnya kami kemari ingin bertanya kemana keluarga om Bima, karena tadi kami ke rumahnya sudah kosong dan juga sudah di sita bank juga," tanya Raka.
"ya Allah mas, apa mas raka tak tau jika keluarga mas Bima sudah pindah, terlebih setelah kejadian mas Nanda yang di tahan kepolisian karena masalah pembunuhan kekasihnya bersama temannya. tiba-tiba keluarga mereka malu dan pergi dari desa, terlebih sudah mencoreng nama baik keluarga," terang pak RT.
"tapi masalahnya Tante ku tak tau di mana mereka, om Fandi dan om David juga tak tau kemana mereka pergi," kata Raka mencoba berpikir.
tapi sepertinya buntu karena tak ada yang tau keberadaan dari mereka, keduanya pun memutuskan untuk pulang karena tak ada yang bisa di lakukan.
Arkan dan Aryan sudah datang ke sekolah untuk melakukan mos, dan mereka harus menyampaikan surat pada Adit.
"kalian cari apa sih, oh ya bagaimana keadaan mbak Rania, maaf ya kami belum sempat menjengguknya," kata Emily yang sedang istirahat bersama ratu dan saudara kembar itu.
"tak masalah, kondisinya juga sudah membaik, oh aku ke ruangan pak Adit bentar ya, Aryan dari pada diem doang mending beliin minum untuk kedua teman kita itu," kata Arkan yang berjalan setelah menitipkan tasnya pada Emily.
"oki doki bos, kalian tunggu disini .. ratu jus jeruk gula dikit, kalau Emily es teh tawar," kata Aryan yang menginggat kesukaan keduanya.
"terima kasih, boleh nitip pentol juga," kata ratu.
__ADS_1
"apapun untuk mu ratuku," kata Aryan yang menoel dagu dari ratu sambil tersenyum sebelum pergi.
sedang ratu yang dapat perlakuan begitu malu, Emily melihat gadis itu dengan tatapan aneh, "ciye malu ..."
"diamlah, huh..." kesal ratu mencubit sepupunya itu.
Arkan sudah dekat dengan ruang guru, saat terdengar suara orang bertengkar.
Arkan mengambil ponselnya, ternyata itu Adit yang sedang berdebat dengan seorang guru wanita yang masih muda.
"aku bilang pergi, dan jangan mengunakan cara buruk untuk menjebak ku, karena aku tak tertarik dengan mu," kata Adit mendorong wanita itu.
"kamu buta ya, aku kurang apa pak Adit, aku itu sempurna, dan jika kamu mau menikah dengan ku, aku bisa membiayai adikmu kuliah," kata wanita itu yang masih mencoba menggoda Adit.
tapi Adit menghempaskan tangannya hingga wanita itu terjatuh, "jika kamu tak bisa ku miliki, ku pastikan akan ku buat kamu malu," kata guru wanita itu.
"Bu citra jangan aneh-aneh ingat ini sekolah!" bentak Adit.
wanita itu merobek bajunya dan membuat riasannya sedikit berantakan, Arkan menyeringai karena melihat trik itu.
"ibu jika anda berteriak, dan memfitnah pak Adit, saya akan menyebarkan rekaman anda ini," kata Arkan yang menunjukkan video yang dia rekam.
tapi Adit menahannya, "tolong pergi dan ganti baju mu, dan jangan berulah, sebelum saya benar-benar kehilangan kesabaran saya,"
"baiklah maaf pak," jawab Bu citra yang kemudian berlari pergi.
"terima kasih Arkan, ada apa kamu ke ruang guru?"
"itu pak saya di minta mbah lek untuk mengantarkan surat ini, dan semoga nanti sore pak Adit mau datang ke rumah," jawab Arkan.
"insyaallah ya," kata Adit.
Arkan pun kembali ke tempat MOS, dan berkumpul bersama teman-temannya.
mereka pun melanjutkan acara hingga jam tiga sore, mereka pulang dengan lelah.
Arkan dan Aryan langsung mandi dan sholat ashar, setelah itu mereka pun ketiduran di tempat sholat.
__ADS_1
"haduh .. mereka malah tidur di sini," gumam Raka.
"sudah ayah, mungkin mereka kelelahan, karena kegiatan sekolah sangat padat," kata Wulan.
"baiklah, aku pergi ke mushola saja..." kata Raka.
sedang di rumah, Adit sedang minum sambil melihat surat yang tadi di berikan oleh Arkan.
dia menghela nafas, pasalnya di tak pernah memiliki keinginan untuk memiliki keluarga.
dia sudah cukup memiliki adiknya, terlebih setelah kejadian terakhir yang membuatnya takut.
ustadz Rasyid pulang ke rumah, dia heran melihat kakaknya itu tengah melamun.
"kenapa mas, tumben kok kelamin begitu," tanya ustadz Rasyid.
"kamu sudah pulang, ini ada seorang ayah yang melamar mas untuk putrinya, tapi mas bingung mau jawab apa?" jawab Adit.
"ya terima saja, apalagi kalau dia orang baik, karena mas juga butuh seseorang untuk menjaga dan mencintaimu kan," kata ustadz Rasyid
"tak semudah itu, meski gadis itu baik, tapi hidup ku aja masih berantakan, jadi aku merasa tak pantas," jawab Adit meremas surat di tangannya.
"cukup mas, dulu mas bilang jika aku dewasa dan sudah bertanggung jawab atas hidupku, mas akan mencari wanita dan akan hidup bahagia bersamanya, jadi inilah waktunya, aku mohon ..."jawab ustadz Rasyid
"baiklah, nanti malam aku akan kesana, apa kamu bisa menemani ku?"
"maaf mas, sepertinya tidak bisa mas, maaf aku ada kegiatan di pondok bersama dengan para murid ku," terang ustadz Rasyid.
"baiklah dek, aku lupa jika adikku ini adalah ustadz yang begitu sibuk, dan lagi kamu juga vokalis utama dari grup sholawat yang terkenal,"
"ha-ha-ha, mas bisa saja, ya sudah hari ini mas mau makan apa, biar aku masak ya," kata ustadz Rasyid yang ingin berbakti untuk kakaknya itu.
terlebih keduanya sudah terbiasa hidup cuma berdua setelah kematian dari orang tua mereka.
bahkan hidup dari Adit dan ustadz Rasyid sangat keras hingga mereka bertemu ustadz Hasan dan keluarga.
keluarga itu mengadopsi Rasyid kecil untuk belajar dan tinggal di pondok. sedang Adit memilih untuk berjuang untuk tetap hidup di dunia yang kejam, dan tak terasa hingga bisa sejauh ini.
__ADS_1
mentalnya terbentuk selama di jalanan, kehidupan keras adalah makanan sehari-hari pria itu.