
pak Doni merasa seluruh tubuhnya terbakar dengan hebat, bahkan semua sesajen di rumahnya meledak.
tak lama tubuh pak Doni terbakar hangus di ruangan rumahnya yang di gunakan olehnya untuk pesugihan.
Rafa langsung berdiri dan menghampiri saudaranya Raka.
dia membawa dua bambu kuning, "kita selesaikan, karena ketiga anak-anak mu sudah membinasakan mahluk itu,"
Raka mengangguk, Keduanya langsung menancapkan bambu kuning itu pada bayi ghaib yang lahir untuk menangkal semua malapetaka yang bisa datang lagi.
Wulan melihat semua perut para remaja putri itu kempis, dan teriakan yang tadi dia dengar kini tak terdengar lagi.
sedang di alam lain, tiga saudara itu sedang melihat tubuh mahluk jahat itu terbakar hangus.
"Arsana, kenapa kamu bisa hanya berupa aura dan tak berwujud," tanya Arkan.
"aku sebenarnya berwujud kakak, tapi aku paling lemah dari kalian berdua, itulah kenapa aku di bawa Mbah Wira Sanjaya untuk di latih, dan aku akan menjadi kekuatan kalian, dan jika ingin memanggilku, genggam sebuah bunga kantil dan sebut namaku," kata Arsana tersenyum sebelum hilang.
kedua remaja itu membuka mata dan sudah di kelilingi orang tuanya, "kalian baik-baik saja," kata Wulan khawatir.
"kami baik Amma, tapi bagaimana dengan para mbak-mbak yang kami bantu?"tanya Arkan.
"semua sudah selamat, tadi siapa yang mengambil tombak Cokro Geni," tanya Wulan khawatir.
"yang pasti bukan Aryan, dan om Sesnag bilang penganut ilmu hitam segolo itu sudah mati hangus di rumahnya, dan besok pagi kita bisa tau dari perubahan pada rumah penganut ilmu itu," kata Aryan.
__ADS_1
"baiklah kita pulang, kita butuh istirahat, dan Rafa jangan marah lebih baik ajak putra mu Faraz pulang," kata Raka menenangkan saudaranya itu.
"baiklah, dan aku sungguh minta maaf atas kelakuan buruk putra ku," kata Rafa yang langsung mengajak putranya pergi.
Arkan dan Aryan saling pandang, pasalnya Rafa nampak begitu marah, tapi Wulan mengajak semuanya untuk pulang.
akhirnya malam panjang pun terlewati dengan tenang, benar saja rumah pak Doni berubah menjadi sebuah bangunan yang di tumbuhi lumut dan juga terlihat lusuh.
keesokan harinya, semua warga gempar saat tau siapa pelakunya, tapi beruntung Rafa dan Raka menunjukkan contoh yang baik.
keduanya tetap merawat jenazah dari pak Doni, akhirnya satu persatu warga pun mau membantu.
sedang Aryan yang masih bingung dengan ekspresi dari Rafa semalam, "kenapa belum siap, kita bisa telat," tegur Arkan pelan.
"kenapa semalam pakde begitu marah? apa kita melewatkan sesuatu?"
"dia terlalu berani menyumpahi ayah kita, apa aku perlu membuatnya sadar, jika dia tak selamanya bisa berbuat seenaknya," kesal Aryan.
"sudah tak perlu ribut, bertahan sedikit lagi, setelah lulus sekolah, kita tak perlu lagi satu sekolah dengan nya," kata Arkan.
Aryan pun tenang, kini mereka pun berangkat bersama dengan Fahri yang kembali meminjam mobil.
Wulan juga memilih tinggal di rumah orang tuanya untuk beberapa waktu, terlebih semalam cukup menguras energinya.
Wulan mengenggam sebuah bunga kantil dan menyebut lirih nama Arsana, dan putrinya pun keluar dengan pakaian yang mirip dengan yang sedang dia gunakan.
__ADS_1
"putri Amma, kenapa baru muncul dan hanya keluar saat ayah mu yang memanggil," tanya Wulan dengan suara lirih.
"aku takut melihat bunda sedih, terlebih setelah kejadian kemarin," jawab Arsana.
Wulan pun memeluk putrinya itu, meski berbeda alam Wulan tetap menyayangi putrinya itu.
pemakaman pak Doni tak semudah yang di harapkan, dari tubuhnya terus keluar lendir anyir bercampur darah.
meski sudah di mandikan dengan berbagai macam sabun, akhirnya ustadz Hasan yang sudah sepuh datang.
beliau mengambil satu gayung dan air itu di do'akan, Raka yang di suruh menguyur air itu ke tubuh jenazah pak Doni.
barulah tubuh psk doni tak mengeluarkan lendir lagi, dan kini pria itu sudah di bawa masuk kedalam rumah untuk di kafani.
beberapa kali kain kafan kurang lebar, akhirnya Rafa mengambil dua kain kafan dan menjadikannya satu, batu muat.
beberapa keanehan terus terjadi, saat jenazah akan di sholatkan di mushola, keranda tak bisa di bawa masuk karena berat dan panas.
akhirnya di putuskan di sholatkan di luar mushola, saat selesai mereka membawa jenazah untuk di kebumikan.
tapi sepanjang jalan, terus-menerus terdengar suara bayi yang menangis, dan juga permintaan tolong.
para warga tak menggubrisnya, saat jenazah ingin di masukkan ke Liang lahat, jenazah tak bisa masuk.
Raka menyuruh para penggali kubur untu mulai melebarkan makan, tapi itu kejadian terus berulang.
__ADS_1
"sudah, tekuk saja kakinya ustadz atau kita bisa seharian disini," kata seorang bapak.
"Innalilahi wa ilaihi Raji'un pak, tolong bersabar, dan saya mohon untuk semua orang ikhlas memaafkan pak Doni," kata Raka yang hanya bisa menggeleng pelan.