
tak terasa sudah tiga bulan, Husna berada di rumah pak Suyatno bersama dengan Raka dan wulan.
Faraz juga sudah kembali ke pondoknya untuk melanjutkan pendidikannya.
hari ini keluarga Raka kembali ke rumah lama mereka yang sudah mengalami perombakan besar-besaran.
pasalnya dia menambahkan dua kamar lagi untuk kedua putrinya, bahkan Raka sampai harus membeli tanah di samping rumahnya demi mendapatkan keinginannya itu.
terlebih di kita lamanya, kedua putranya sudah menunjukkan kemampuan mereka.
Raka tak ingin ada desas-desus yang mengatakan jika kedua putranya itu adalah anak jin atau apalah itu.
terlebih di desa lama mereka, ada banyak kenangan untuk Husna dan Faraz jadi mereka berdua mengalah kembali.
"aduh ini rumah besar banget sih ayah, tapi yang tinggal cuma kita berlima yang dua juga gak akan di sini," kata Wulan merasa sedih
"ini Anna ngomong apa sih, orang Faraz akan pulang jika setiap Kamis malam, dan berangkat lagi Jum'at malam, ya masak aku harus terus berbagi kabar dengan Aryan," kata Faraz yang memang baru datang.
"ya gak mau lah, taman Husna, aduh kamu kok makin gemesin sih, rambutnya keriting kayak mie gini," kata Aryan yang sedang bermain dengan Husna.
"tapi cantik kan, ya gak papa Amma, nanti dua gadis kita juga butuh kamar sendiri-sendiri, aduh jadi ingat kemarin waktu ke rumah sakit, masak ada orang yang bilang kalau ayah doyan karena di tanya begini, bapak anaknya berapa? ya ayah jawab dong lima, eh orang yang tanya pun tertawa," kata Raka bersungut-sungut kesal.
"ya memang, ayah baru sadar," jawab Wulan tertawa
"amma...." protes dari ketiga pria itu.
Wulan hanya tertawa melihat ketiganya, bahkan Aluna begitu bahagia bersama Faraz.
Raka tak mengira jika Faraz bisa berubah sebaik ini, dan Aryan tang juga bisa menerima keadaan.
sedang salah satu dari putranya itu berada di sebuah rumah yang juga baru di renovasi sesuai arahan Raka.
"assalamualaikum..." salam Arkan.
"waalaikum salam, nas Arkan sudah datang, ayo masuk," ajak Aiden adik dari Niken.
"mbak Niken, mas Arkan datang ini, cepat keluar," teriak Alden yang langsung menyalami arkan.
"kalian sedang belajar? atau membuat kekacauan," kata Niken yang turun dari lantai dua rumah.
dia tak mengira adik-adiknya itu membuat rumah seperti kapal pecah karena hanya ingin membuat tugas kerajinan tangan.
"memang kalian sedang mengerjakan tugas apa?" tanya Arkan penasaran terlebih melihat begitu banyak bambu.
"entahlah mas, kami juga tak tau, habis masak di suruh buat kerajinan dari bambu, bisa edan ini!!" kata Aiden frustasi.
"buat keranjang sama kurungan ayam Jan mudah, lihat tutorial di YouTube," kata Arkan.
"wah bebar juga, mas Arkan mau bantu ya," mohon Alden.
"gak boleh, Arkan milik mbak, kalian kerjakan sendiri tuh tugas, dasar," ketus Niken yang langsung menarik Arkan.
Arkan pun mengenggam tangan Niken dengan erat, dua hanya tersenyum melihat Niken yang seperti ini.
"aku mau di ajak kemana?" tanya Arkan yang mengikuti Niken.
"kita main di atas, biar mereka di bawah, kenapa mereka terus menganggu sih," kesal Niken.
__ADS_1
"sabar, orang cantik itu harus sabar," kata Arkan yang langsung membuat wajah Niken memerah Karena malu.
ternyata di balkon lantai dua sudah di persiapkan oleh Niken, "maaf aku hanya menyiapkan acara sederhana, karena kamu mengatakan sangat mendadak,"
Arkan pun tersenyum, "ini sudah lebih dari cukup, ayo kita lihat apa kamu sudah bisa masak,"
keduanya pun duduk di karpet, Arkan mengeluarkan sebuah kue yang tadi dia buat sendiri.
"ini akan menjadi makan malam kita yang pertama dan terakhir, karena setelah ini kamu harus pergi," kata Niken sedih.
"tenang saja, aku pergi juga tidak untuk lama, kita juga masih bisa terus telepon dan mengirim pesan bukan," jawab Arkan yang memberikan potongan kue.
Niken meneteskan air matanya, "jangan sedih, aku cuma pergi dua tahun, paling lama tiga tahun, seandainya bisa aku juga ingin membawa mu, tapi kita sama-sama masih muda, dan pasti orang tua mu tak akan setuju," jawab Arkan menghapus air mata Niken.
"ugh.... menyebalkan, baiklah aku juga akan berjuang di sini, sekarang kita makan dulu," kata Niken yang di angguki oleh Arkan.
Arkan mengangguk, Aris dan Ayu yang baru saja datang dari kondangan pun hanya memantau kedua remaja itu dari kamera CCTV.
setelah makan malam uang di siapkan oleh Niken, keduanya sempat sholat isya' dan mengaji bersama.
Arkan bahkan menjadi imam untuk keluarga Aris, "jadi Arkan kapan berangkat, kata ayah mu, semua sudah selesai kan persiapannya?" tanya Aris
"insyaallah besok siang om, tolong doakan aku agar bisa lulus dengan nilai memuaskan, dan nitip gadis nakal ini ya," kata Arkan mengacak jilbab Niken.
"ih... rusak jilbabnya," kesal gadis itu menampik tangan Arkan.
"jangan galak-galak dong,nanti gak ada yang mau nih," ledek arkan.
"kalau begitu aku akan memaksa mu menikahiku, gampang kan," kata Niken keceplosan.
Arkan tersenyum mendengar itu, sedang Ayu juga merasa jika putrinya itu benar-benar menyukai putra dari teman suaminya itu.
"siap mas," jawab keduanya.
setelah berpamitan pada orang tua Niken, Arkan di antar Niken ke depan, di depan rumah Arkan memberikan sebuah kalung pada Niken.
"apapun yang terjadi, mau kamu sudah memiliki kekasih atau menikah, tolong jangan pernah lepas kalung ini, karena aku ingin merasa selaku dengan dengan mu melalui benda kecil ini," kata arkan yang begitu serius.
"tapi ..."
Niken pun menghentikan ucapannya, dia sadar jika Arkan tak mau mengikat dirinya seperti Emily.
"baiklah," jawab Niken.
Arkan pun menyentuh pipi Niken untuk terakhir kalinya, dan kemudian berjalan menuju motornya.
tanpa di duga Niken memeluk Arkan dari belakang, "tapi aku hanya ingin menikah dengan mu, maafkan aku..." suara Niken terdengar terisak.
"maaf Niken, karena kita tak tau dengan siapa kita berjodoh," jawab Arkan yang sebenarnya juga merasa sedih karena dirinya, Niken sekarang dalam keadaan bahaya.
Arkan pun pergi dari rumah itu, Ayu menghampiri putrinya itu,Niken pun langsung memeluk sang ibu dengan erat.
"dia akan kembali kan bunda, dia akan kembali kan?" gumam Niken dalam tangisnya.
"berdo'a saja untuk yang terbaik nak," jawab Ayu.
Arkan pun segera menghentikan motornya di sebuah jalan yang sudah cukup sepi, area persawahan itu jarang di lalui orang-orang.
__ADS_1
"maafkan aku Niken... maafkan aku ..." tangis pria itu.
sosok nyai Nawang dan prabu Wira Sanjaya datang bersama semua khodam milik Arkan.
Nyai Nawang memeluk Arkan, "sudah le, dia takkan kenapa-kenapa selama kalian berdua menjaga keris itu, dan tempuh pendidikan mu dengan serius ya, dan buatlah keluarga mu bangga."
"iya eyang uti," jawab Arkan.
semua pasukan menunjukkan sujud perpisahan pada Arkan, karena pria itu akan meninggalkan bumi kelahirannya.
dan tugas mereka untuk menjaga kini akan di pegang oleh Aryan dan Faraz, mereka akan melanjutkan perjuangan dari orang tuanya.
Arkan pun menunjukkan sosoknya yang sebenarnya, "selamat jalan prabu.." kata semua pasukan ghaib itu.
nyai Nawang dan prabu Wira Sanjaya tak mengira jika titisan mereka begitu hebat.
Arkan sampai di rumah sudah melihat dua saudaranya berduri sambil senyum-senyum tak jelas.
"ada apa? kenapa kalian menatapku seperti itu, aku mengantuk," kata Arkan yang ingin masuk kedalam kamarnya.
"tunggu dulu, tidak semudah itu kamu pergi," tahan Aryan pada kakaknya itu.
"kamu mau mati huh," kesal Arkan.
"tidak tuh, bagaimana makan berdua dengan Niken, berjalan lancar dong," tanya Aryan penasaran.
"ih kepo!" jawab arkan kesal
"pasti lancar dong, kalau gak pasti akan sudah emosi jiwa tidak tertolong," jawab Faraz tertawa.
keduanya pun bertos ria, sedang Arkan meninggalkan keduanya, "terserah kalian berdua,"
Arkan memasukkan beberapa foto yang ingin dia bawa, yaitu foto keluarga barunya, dan juga foto dirinya dan seseorang.
"aku bisa, demi membanggakan orang tua ku," gumam arkan yang sudah siap untuk berangkat.
bahkan dia juga memeriksa kembali semua surat-surat berharga, seperti paspor, visa dan juga identitas.
meski sebenarnya tak butuh visa, tapi Arkan jaga-jaga saja, tak lupa kartu tanda masuk ke universitas terbaik di negara itu juga tak boleh ketinggalan.
malam itu tubuh Niken merasa begitu gerah, Niken mengalami ketindihan, hingga gadis itu tak bisa bergerak.
dia merasakan hawa dingin di sekitarnya. "ya Allah kenapa ini, tubuhku tak bisa bergerak," batin Niken.
...********************************...
halo semuanya....
author hanya ingin memberitahukan kepada Semuanya, jika kisah ini akan di tinggal pergi oleh Arkan dan Niken ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜.
dan fokus cerita ini akan pada dia pemuda yang gak kalah aduhai dan koplak juga, Aryan dan Faraz yang akan meneruskan jalan yang pernah di pilih orang tua mereka dulu.
semoga kalian gak sedih ya, karena mereka akan menghadapi kesulitan-kesulitan yang lebih lagi.
terlebih Faraz yang baru tau kutukan dari keluarga ibunya, apa dia bisa menyelamatkan Husna?
atau malah dia sendiri yang akan jadi keturunan keempat yang menjadi tempat tinggal pesugihan mahluk parasit itu.
__ADS_1
ikuti terus kisahnya...
love you....