
hari ujian pun tiba, semua murid yang di panggil kemarin berangkat lebih awal, sedang Arkan dan Aryan datang dengan santai saja.
Mereka sudah menyiapkan semua yang akan di ujikan bukan, pasalnya mereka sudah belajar.
"hei Randu, tumben usah Dateng, bawa buku segala aduh yang pintar sekali," kata Aryan.
"kamu mengejekku, tapi aku berdoa semoga nanti akan mudah dalam mengerjakan ujiannya, huh... jadi deg-degan nih," seru Randu sambil menghela nafas.
"coba saja untuk menutup mata dan ingat kedua orang tua mu yang akan bangga saat kamu lulus dengan nilai terbaik, semangat oke," jawab Arkan
"baiklah, semangat!!" teriak kedua pemuda itu.
mereka pun masuk ke kelas masing-masing, Aryan dan Arkan memilih berdzikir untuk menenangkan hati mereka
tak lama semua murid memasuki ruang kelas, terlihat Deni datang sambil mengebrak meja Arkan.
"aku akan memiliki nilai tertinggi saat ujian Nasional kali ini, karena aku yang akan jadi juara umum," kata Deni dengan marah.
"terserah saja, dan selamat atas kepercayaan dirimu," jawab Arkan.
Aryan tertawa melihat hal itu, tak lama suara bel masuk terdengar sangat nyaring.
tiga pengawas memasuki ruangan kelas, ternyata para pengawas sangat kejam terlebih tatapan mata mereka angkat tajam.
para pengawas mulai membagikan kertas ujian pada semua murid, Aryan memimpin doa sebelum memulai ujian.
Arkan pun mulai menyebut nama Raka dan Wulan sebelum memulai membuka kertas ujian.
semua murid mengerjakan dengan tenang, berbeda dengan semua murid yang ikut ujian, Deni tanpa memeriksa langsung menulis semua jawabannya.
terlebih dia memang salah satu murid yang di panggil ke ruang khusus, dan yang paling menyebalkan adalah dia menulis semua jawaban yang di katakan oleh guru pelaksana.
sedang murid lain berusaha untuk mengerjakan semua sendiri terlebih dahulu.
Arkan bahkan terlihat begitu fokus, bahkan dua puluh menit sebelum bel berbunyi.
pria itu sudah selesai dengan semua soal di kertas pertanyaan itu. tak lupa dia memeriksa kembali semua jawabannya.
saat ujian selesai, semua murid di kumpulkan di aula untuk membahas pengawas apa melanggar peraturan atau tidak.
sedang di rumah di desa, Wulan sedang menerima kunjungan dari Jasmin dan Faraz.
keduanya menjengguk Aluna yang baru pulang dari rumah sakit, dan tak lupa mereka membawa oleh-oleh.
__ADS_1
tapi di rumah hanya ada Wulan dan Bu mut, karna raka memilih membantu mertuanya dari pada harus bertemu Jasmin.
"aduh maaf ya mbak Jasmin, mas Raka sedang sangat sibuk jadi tak bisa menemui mbak," kata Wulan.
"tak apa-apa, aku kesini juga ingin melihat gadis kecil ini," kata Jasmin.
"Aluna.... bangun dek, masak mas Faraz datang malah kamu tidur seperti ini," kata Faraz.
"namanya juga masih bayi mas, oh ya kenapa kamu hanya disini, coba tanya ke bulek, tentang apa yang kamu rasakan," kata Jasmin.
"ada apa Faraz?" tanya Wulan yang bingung melihat keponakannya itu nampak sedih.
"ini Tante, sebenarnya aku merasa jika beberapa hari ini ada arwah yang terus mengawasi ku setiap saat, itu membuatku tak nyaman," kata Faraz.
"apa kamu pernah mencoba mengajaknya berbicara, coba katakan seperti ini, jika kamu ingin bicara dan bantuan, silahkan tunjukkan diri kalian dan bicara!" kata Wulan dengan suara membentak.
tak di duga, ada arwah datang dan menunjukkan eksistensinya, padahal masih pagi.
"mau apa? kalau minta bantuan jangan membuat Faraz ketakutan, kamu bisa!" bentak Wulan .
"tolong... bayiku... sakit..." lirih hantu wanita itu.
"apa dia Faraz?" tanya Wulan pada keponakannya itu.
Raka menutup mata Wulan dan membacakan doa, "pergi atau aku membunuh dan memusnahkan mu," ancam Raka.
arwah itu pun pergi, dan suasana hati Wulan pun sedikit membaik, pasalnya istrinya itu sempat terpengaruh oleh perasaan dari arwah itu.
"jadi bagaimana om?" tanya Faraz.
"kamu harus lebih berani, dan jika kamu tak suka ancam saja, buat arwah itu mengerti jika kamu tak ingin membantunya," Jawab Raka.
"siap om, terima kasih, ayo bunda kita pulang, karena sudah siang," ajak Faraz.
sedang Jasmin menatap tajam dengan tatapan kerinduan, ya bagaimana pun wajah Raka dan Rafa sangat mirip.
Faraz tak ingin jika nantinya Jasmin melakukan hal aneh karena emosinya belum sepenuhnya seimbang.
Faraz takut jika Jasmin akan melakukan hal aneh, pasalnya wanita itu terus memeluk baju Rafa beberapa bulan terakhir ini.
Arkan dan Aryan sudah menyelesaikan ujiannya selama empat hari ini.
setelah ujian negara, kini akan di lanjutkan dengan ujian praktik.
__ADS_1
mulai dari ujian praktek agama yang mengharuskan mereka menghafal surat pendek di jus Amma.
surat yang biasa di baca saat sholat tarawih, sedang untuk olahraga, mereka mengambil nilai dari cabang olahraga atletik.
bahkan begitupun dengan kejuruan yang mereka ambil, tak butuh waktu lama, Luna hati akhirnya semua berakhir.
"jadi kita akan liburan kemana? Jogja atau malang?" tanya beberapa murid.
"terserah saja, tapi sebaiknya secepatnya, karena kami ingin segera mencari fakultas untuk melanjutkan belajar," Jawab aryan.
"sebaiknya setelah pengumuman, jadi kalian bisa tenang, dan mulai besok akan ada beberapa universitas yang datang untuk menjelaskan keunggulan tempat mereka," saut kepala sekolah.
"baiklah, kami mengerti," kata semua murid yang mengiyakan.
mereka pun harus menunggu dua Minggu,dan selama itu mereka pun melihat-lihat beberapa kampus unggulan.
kebetulan Arkan mengajukan beasiswa untuk kuliah di Mesir untuk mendalami ilmu-ilmu agama.
tapi sayangnya mereka tidak di terima, jadi keduanya pun memilih kuliah di universitas Indonesia.
meski awalnya di tolak oleh Wulan, akhir yang setelah dibujuk akhirnya Wulan mengizinkan kedua Putranya untuk kuliah di luar kota.
dan waktu yang di tunggu-tunggu datang, hari pengumuman hasil dari ujian negara.
nama Arkan dan Aryan bertengger di nomor satu dan dua dari semua murid, sedang nama Randu ada di urutan nomor lima.
"Alhamdulillah... kita lulus dan dengan nilai yang memuaskan," kata ketiganya.
sedang Wawan dan murid yang mendapat bantuan dari guru berada di barisan belasan nomor urut.
nilai mereka sangat tidak memuaskan meski tetap lulus, sedang di nomor tiga dan empat ada dua gadis yang juga mengejutkan semua orang.
"wah ternyata selama ini mereka pintar ya, Wawan bagaimana nilai mu?" tanya Aryan.
"lulus meski tak bisa mengalahkan si kembar ini, wah kalian luar biasa, dengan mendapatkan nilai hampir sempurna," puji Wawan.
"sudah kukatakan belajar yang rajin, pasti bisa, sudah sekarang semuanya kita siapkan untuk pariwisatanya ke Jogjakarta," kata Randu dengan semangat.
"tunggu dulu, ada pria yang sangat sombong kemarin, dia seharusnya mengakui kesalahannya karena berani menganggu dan menantang kami bukan," kata Aryan mencari sosok Deni.
"dia sedang Mali mungkin, karena nilainya sangat minim dan di urutan terakhir meski dia juga lulus," saut teman mereka yang lain
"sudah, sekarang kita pulang, lusa kita berangkat untuk perjalanan tiga hari dua malam," kata Arkan yang tak ingin memperpanjang masalah.
__ADS_1