Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
kita belum cukup umur


__ADS_3

mendengar jawaban dari orang tua Nayla, Aryan tak habis pikir, begitu mudah mereka mengiyakan permintaan pernikahan.


"om jujur ya, saya belum cukup umur loh, meski punya uang, tapi ya pasti harus sidang juga." jawab Aryan nampak syok.


"ha-ha-ha, gak sekarang juga nak, kamu harus lulus kuliah dulu setidaknya," jawab pak Bagio tertawa.


Aryan pun menghela nafas, sedang Nayla ikut tertawa pula melihat reaksi Aryan yang di todong untuk menikahinya.


"senang kau, melihat aku kaget begitu," kesal Aryan yang mencubit Nayla.


"kok ngamuk, aksen banjarnya keluar ya, ha-ha-ha-ha," ledek Nayla.


ayah Nayla makin suka pada Aryan Kren ternyata, pemuda itu memiliki darah keturunan Banjar.


itu juga adalah tanah leluhurnya, dan keinginannya memiliki menantu orang keturunan Banjar segera terkabul.


akhirnya, Aryan dan Nayla pun berangkat berboncengan, pasalnya keduanya ingin ke pasar malam terlebih dahulu.


awalnya Nayla nampak malu-malu, tapi dengan cepat Aryan menarik tangan gadis itu hingga menekuk tubuhnya.


"pegangan biar gak jatuh," teriak Aryan.


"baiklah," jawab Nayla memeluk erat pinggang Aryan.


apalagi di tunjang motor sport milik Arkan yang makin membut keduanya mepet.


keduanya pun sampai di pasar malam, setelah memarkirkan sepeda motornya.


mereka pun bergegas masuk kedalam area pasar malam, benar saja ternyata tak sebegitu ramai.


mereka berdua memilih membeli beberapa gorengan dan juga pentol, "kita ke area belakang yuk,lumayan buat duduk," ajak Aryan.


"boleh juga, beli es dulu to, nanti kalau keselek kan repot," kata Nayla pada Aryan.


"oke, mau minum apa nona?" tanya aryan dengan senyum merekah.


"apapun yang kamu belikan, kecuali rasa yang hilang," jawab Nayla.


Aryan pun langsung tersenyum mendengarnya, "aduh,baper aku... tolong Amma..."


mendengar itu, Nayla menepuk bahu Aryan, pemuda itu pun berangkat membeli pop es dua dengan rasa leci kesukaan Nayla.


keduanya duduk di area belakang pasar malam yang notabene adalah pinggiran sawah.


mereka pun tertawa bersama, hingg suar mengejutkan keduanya. krasak... krasak...

__ADS_1


"suara apa itu Aryan? apa ada mahluk astral?" tanya Nayla yang makin mendekatkan tubuhnya.


"ya kali nay, di sini ada mahluk astral aku tak melihat," jawab aryan yang merangkul pundak Nayla.


bahkan aroma tubuh Nyla juga tercium, dan ternyata ada dua muda-mudi yang keluar dari area persawahan jagung itu.


"anj*Ng, gue kira apaan, nyatanya bekantan ya," kata kasar Aryan


reflek, Nayla memukul mulut Aryan dengan tangannya, "kasar sekali,aku gak suka," marah Nayla.


"maaf deh cantik, habi bikin orang jantungan, kalian berdua gak gatal masuk ke sawah jagung tinggi gitu, itu celananya beberin dulu, keblik itu," kata Aryan menutup mata Nayla.


"udah tau deng," kesal Nayla.


Aryan pun tertawa, sedang dua pemuda-pemudi itu pun kabur entah kemana, "udah pasti nih,besok yang punya sawah ngamuk karena jagungnya rusak," kata Aryan.


"dan sepertinya aku tau ini sawah milik siapa? ah... ayah pasti ngamuk karena jagung ini siap panen," jawab Nayla.


"ya besok bilang aja sama ayah suruh pasang pagar kawat berduri, biar gak ada yang aneh-aneh lagi, bahkan aku pernah bakar saung sengaja Krena ya di gunakan untuk hal-hal mesum begitu," kata Aryan.


"hah... memang om Raka gak ngamuk?"


"tentu lah... Karena aku dan Aryan hampir membakar satu sawah siap panen, tapi untung belum meluas kebakarannya jadi bisa di hentikan," jawab Aryan tertawa.


Nayla hanya tak mengira jika Aryan dan Arkan dari kecil sangat nakal, dia ingat betul bagaimana saat kecil dulu bertemu dengan kedua pemuda itu.


meski berusia dua tahun lebih tua, tapi tubuh Nayla dan dua bocah itu sama.


"mbak Nayla cantik, ayo sini main sama adik-adiknya ini," kata wuln dengan lembut.


"takut ibu, anak itu melotot," kata Nayla yang memegang rok Bu Marlina.


"aku tidak melotot, memang mataku besar," jawab Arkan ketus.


"uwa... aku hak mu main.... di jahat..." kata Nayla menangis.


Arkan kaget melihat Nayla menangis begitu saja, tanpa di duga Aryan menghampiri Nayla, "ini coklat untuk mu, diamlah, atau nanti ada tuyul yang akan mengajak mu main," kata Aryan yang tersenyum menggoda Nayla.


bukan diam, tapi Nayla kecil makin nangis kejer, Wulan pun meminta maaf karena ulah kedua putranya.


Raka dan pak Bagio yang melihat dari jauh pun tak mengira jika kedua bocah itu tak pandang bulu untuk usil.


"maaf ya pak, Putra-putra ku yang sedikit usil, sampai nangis gitu Nayla," lirih Raka.


"iya pak Raka, lagi pula Nayla memang terlalu manja dan penakut, maklum anak tunggal, pasti ramai punya dua putra seperti mereka," kata pak Bagio.

__ADS_1


"ramai mah sudah pasti pak,tapi kadang itu juga bikin darah tinggi, gimana tidak, sawah yang hampir panen di bakar sama mereka, alasannya mau coba bakar singkong," kata Raka frustasi


"benarkah, ya Allah pak..." kata pak Bagio yang kget bukan main.


"wajah mereka saja yang imut dan ganteng,beh kalau kelakuannya persis saya kecil, gak bisa di bilangin sedikit pun," jawab Raka tertawa.


Nayla dan Aryan akan mengelilingi kota, terlebih Nayla ingin belanja untuk jalan-jalan lusa.


mereka berhenti di salah satu outlet terbesar di kota itu, keduanya langsung masuk dan naik ke lantai dua tempat pakaian di pajang.


Nayla langsung menuju ke area kemeja lengan panjang, dan memilik dua ukuran, satu untuknya dan satu lagi untuk Aryan.


tak hanya kemeja, ada beberapa kaos yang juga samaan, aran pun hanya mengikuti gadis itu saja, toh dia memang tak pernah keberatan jika Nayla memintanya memakai baju kembar.


setelah membayar, keduanya main di area Timezone, keduanya sudah heboh saat main bersama.


Aryan pun menang banyak tiket dan menukarnya, dan dapat sebuah Boneka kelinci gantungan kunci.


"boleh buat aku ya?"


"tentu, sekarang ayo pulang, karena ayah ku sudah menelpon dari tadi," kata Aryan.


"baiklah, dan terima kasih atas waktunya," kata Nayla yang berdiri di samping motor.


"buat apa berterima kasih, selama kamu bahagia aku bisa melakukan apapun untuk mu," jawab Aryan yang memakaikan helm ke kepala Nayla.


sepeda motor itu membelah jalanan malam di beberapa desa, Aryan benar-benar begitu melindungi Nayla.


sesampainya di rumah gadis itu, Aryan menyempatkan untuk pamit pada orang tua Nayla, sebelum pulang.


Aryan pun tak pulang, tapi menuju ke rumah keluarga Aris, pasalnya Raka mengirimkan lokasinya saat ini.


dengan kecepatan tinggi, dia tak butuh waktu lama untuk sampai, dan ternyata di rumah itu sangat ramai.


"ada apa ayah?" tanya Aryan yang menerobos para warga.


"tolong Niken Aryan, dia hilang entah kemana? tadi saat aku ingin ke kamarnya dia susah hilang," kata Aris sedih.


"sudah sebar semua khodam?" tanya Aryan pada Faraz.


"sudah Aryan, tapi mereka semua belum kembali,dan aku juga tak bisa komunikasi dengan khodam milik mu," jawab Faraz.


"baiklah, biar aku saja," kata Aryan yang langsung duduk bersila.


baru juga mau mulai memanggil semua khodam miliknya, seekor ular jatuh ke pangkuan Aryan.

__ADS_1


ular itu terbakar di sebagian tubuhnya, Aryan pun heran melihat itu, "siapa yang berani melakukan ini!" marahnya dengan mata nyalang.


__ADS_2