
mereka masuk dan kaget melihat kondisi dari Aina, putri ketiga dari Fandi.
usianya sama dengan Rania, tapi kondisinya sangat buruk, "Aina kenapa om, kenapa bisa sampai kondisinya seburuk ini?" tanya Wulan yang kasihan.
"aku juga tak tau, dia seperti ini setelah pulang dari liburan di darah malang," jawab Anis begitu sedih.
Raka pun menyentuh tubuh Rania, tapi tangannya terbakar hingga merah.
"ah... panas sekali, sayang coba bantu dia berwudhu, karena aku tak bisa menyentuhnya," kata Raka yang masih merasakan sakit di tangannya.
tapi anehnya saat Wulan mendekati gadis itu, Rania seakan ketakutan, "wah sepertinya aku tau kamu siapa? sekarang jawab siapa yang mengirim mu!" bentak Wulan dengan keras.
"ha-ha-ha, kau hanya manusia kemarin sore, kau tak bisa memaksaku bicara," jawab mahluk itu.
semua pun mundur, Wulan pun mengalungkan tasbih miliknya dan mulai membaca ayat-ayat pendek.
"argh!!!!! panas... lepas dan hentikan!!!! ha-ha-ha-ha sayangnya aku tak takut dengan bacaan mu itu, karena aku juga bisa," kata makhluk itu.
"kalau begitu, kamu jin muslim, tolong tunjukkan dirimu," kata Wulan menyerah.
ternyata sesosok mahluk dengan bulu putih yang cukup panjang, dengan mata merah, dan memiliki ekor dan gelang harimau.
"apa sepupu kami ini melakukan kesalahan? jika iya tolong maafkan dan biarkan dia hidup normal," mohon Wulan
"tidak semudah itu, dia dan teman-temannya telah membuat rumah kami berantakan, dan aku menyukainya, aku akan menikahinya dan menjadikannya ratu di dunia ku, jadi jangan menganggu ku," maki mahluk itu.
"tapi itu mustahil, dia seorang manusia, kalian berbeda jenis, tolong lepaskan gadis ini, kami bisa mengantikan dengan apapun yang kamu minta," lirih Wulan.
"putra mu, gantikan dengan putra yang akan ku jadikan pengikut ku, dan juga wadah untukku bersembunyi," kata mahluk besar itu.
"tidak bisa!! tak akan ku biarkan kamu menyentuh putra ku, karena mereka sudah memiliki hidup mereka sendiri," kata Raka tak terima.
__ADS_1
"bawa aku saja, buat aku mengantikan putriku, aku kasihan melihat Aina seperti ini," tangis Anis begitu pilu.
Wulan pun melihat makhluk itu sedih, dan mengerti apa yang harus di lakukan.
dia pun ikut bersimpuh bersama dengan Anis, Nina yang melihat pun melakukan hal yang sama.
"kami mohon, tolong lepaskan putri kami," mohon ketiganya.
makhluk itu berubah menjadi wujud manusia, wajahnya begitu tampan berkulit bersih.
bahkan terlihat begitu damai saat pria itu datang, "aku bukan memintanya paksa, aku mencintai putri kalian dari pertama bertemu, jika di izinkan aku ingin menjadikan dia ratuku,"
Fandi tak percaya dengan apa yang dia lihat, "tapi kalian berbeda alam," jawab Raka.
"aku tau, kami hanya perlu persetujuan dari orang tuanya, dan aku akan selalu melindunginya, dimana pun dia berada, terutama dari teman-temannya yang licik," jawab pria itu.
"aku izinkan, asalkan tolong kembalikan putri kami," mohon Anis.
raka pun terjatuh, begitupun Wulan yang terjatuh pingsan, semua pun panik.
Raka sampai di sebuah hutan kabut yang begitu pekat, tak di duga bahunya di tepuk seseorang.
"hantu!!" teriak Raka kaget.
"ya Allah tega banget istrinya di panggil hantu," kata Wulan mengerucutkan bibirnya.
"Allahuakbar dek, cintaku, sayangku, ku kira kamu hantu, karena kita di tempat asing, tapi kita kenapa bisa di sini orang kita tadi kan tak melakukan teleportasi bukan," kata Raka.
"aku mau jawab mas, tapi sayangnya aku juga tak tau," kata Wulan yang membuat Raka gemas.
seekor harimau putih menghampiri keduanya, harimau itu seakan mengajak Keduanya untuk mulai berjalan.
__ADS_1
mereka pun mengikuti harimau itu, dan sampai di sebuah Padang Savana yang luas.
"ini dimana?" gumam Raka.
tak lama terdengar suara andong, dan derap langkah kaki kuda, keduanya pun bersembunyi karena harimau tadi mengigit tangan keduanya seakan mengajak bersembunyi.
kereta kuda itu berhenti tepat di depan Raka dan Wulan, dua orang di dorong hingga tersungkur di bawah kereta kencana.
"kancamu endi, aku ora sabar gawe dolanan iki, jawabe neng endi!!! (dimana teman kalian itu, aku tidak memiliki kesabaran lebih untuk melakukan permainan ini, jawab dimana dia!!!)" bentak wanita Jawa yang terlihat begitu cantik itu.
"kami tak tau Nyai, mungkin dia selamat karena dia memiliki pelindung dari neneknya, jadi mohon lepaskan kami, kami ingin pulang ...."
mereka berdua menangis sesenggukan, pasalnya selama ini mereka terus di siksa dengan kejam.
"Selagi aku ora bisa nemokake cah wadon, aku bakal terus nyopot nyawamu, amarga sanajan ing jagad nyata sampeyan wis mati saka gunung iki. mulane kowe mulih ora ana gunane, ha-ha-ha-ha (selama belum aku bisa menemukan gadis itu, aku akan terus membawa nyawa kalian, karena di dunia nyata pun kalian sudah mati dari gunung ini. karena itu kalian pulang pun tak berguna, ha-ha-ha-ha)" kata wanita itu yang kembali menyeret kedua wanita itu untuk mengejar kereta kudanya.
kini Raka dan Wulan kembali mengikuti harimau tadi, dan mereka sampai di sebuah goa yang begitu besar.
saat masuk ternyata di dalamnya ada sebuah istana yang begitu megah, bahkan lantai istana itu terbuat dari emas.
dari kejauhan seorang gadis berlari menghampiri Raka dan Wulan, gadis itu langsung memeluk Wulan.
"Aina!!" kata Wulan begitu bahagia menemukan sepupu dari suaminya itu.
"mbak Wulan, mas Raka, kalian datang, akhirnya ku kira mas Sukrasana berbohong," kata Aina dengan senyum mengembang.
"Aina... kamu baik-baik saja, kenapa kamu nampak bahagia disini? kamu tak merindukan orang tua mu," tanya Raka yang masih mencoba menyadarkan gadis itu.
"tidak kok mas, aku merindukan mereka, setiap malam aku pulang, aku melihat ibu dan ayah menangis, tapi aku tak bisa masuk ke ragaku, karena yang sesungguhnya aku harusnya mati di gunung ini," jawab Aina sedih.
"apa maksudmu!" bentak Wulan yang masih tak bisa menerimanya.
__ADS_1