
Arkan melingkarkan tubuh ular Nyai Ageng tri mustika di lehernya, Aryan yang melihatnya pun meneteskan air mata kemudian pingsan.
mereka semua pun pulang, Aryan sudah berada di kamar dan Arkan meletakkan ular kesayangan adiknya itu di sampingnya.
Arkan pun juga memilih untuk beristirahat karena kondisinya juga sangat tak baik.
sedang ketiga orang dewasa itu sedang menyambut keluarga dari Randi, mereka sedang melakukan acara makan bersama.
"kalian sangat beruntung memiliki dua putra yang begitu berbakti dan berbakat, bahkan mereka juga sering menolong semua orang dan dengan kebaikan itu, tuhan sangat menyayangi mereka," kata cenayang keluarga Kong.
"kami hanya sebisa mungkin menjadi orang tua yang baik untuk mereka berdua," jawab Raka.
"jadi apa sekarang Gadis dan Randi sudah tak dalam masalah?" tanya ibu dari Randi.
"sudah Bu, kalian bisa mengadakan acara resepsi karena sekarang semuanya sudah aman," jawab Rafa yang sudah melihat aura keduanya bersih.
"om kebetulan kita disini, bisakah menutup mata batin milikku,aku ingin hidup normal dan tak di ganggu dengan hal seperti itu," mohon Gadis.
"tentu, aku akan menutup mata batin mu selamanya," kata Raka yang berdiri dan mulai melakukan ritual ringan untuk menutup mata batin dan memagari Gadis agar tak di ganggu lagi.
setelah acara selesai mereka semua pamit, ayah dan ibu Randi juga memberikan hadiah kepada keluarga Raka.
terutama untuk kedua pemuda yang sudah membantu putra dan menantu mereka.
Rafa pun pamit karena sudah semakin malam, dan dia besok harus mengantarkan Faraz ke pondok.
Bu mut dan pak Suyatno pun merasa sedih, Gadis awalnya di kira akan jadi menantu mereka tapi apa daya karena Fahri tak menginginkan wanita itu.
"sudah Bu, sekarang ayo kita istirahat, mungkin Gadis bukan jodoh Fahri, dan aku yakin pasti suatu saat Fahri akan bertemu dengan jodohnya," jawab Wulan.
"iya nduk,ya sudah ayo istirahat," kata Bu mut.
di tempat lain, Bima sedang kesakitan, pasalnya saat tadi dia melakukan aksinya dia kepergok warga.
tapi yang aneh, tiba-tiba seluruh kekuatannya hilang, Vera yang melihat suaminya mengerang kesakitan pun hanya menertawakan pria itu.
__ADS_1
pasalnya dia merasa sedikit puas dengan hanya melihatnya, sedang dia tak berharap banyak tapi dia terus berdoa agar bisa segera terbebas dari belenggu pria tamak itu.
"sialan, kemana raja ku, kenapa dia pergi dan tak datang saat aku memanggilnya," marah Bima
akhirnya Bima pingsan karena tak tahan dengan rasa sakit yang dia rasakan.
Vera mengambil kunci di tubuh Bima saat pria itu pingsan. dia pun bergegas untuk pergi dan tak lupa dia membawa semua tanda pengenal dan uang serta perhiasan.
karena dia tentu belum tau mau kemana, sekarang yang terpenting dia pergi dan menjauh.
Vera berjalan dengan tertatih, tubuhnya lemah tak berdaya karena semua luka yang dialaminya.
sebuah mobil lewat tapi saat Vera menghentikan mobil itu, mobil itu malah terus melaju tanpa mau berhenti.
Vera yang makin lemah akhirnya pingsan di tengah jalan, beruntung ada sebuah truk pengangkut sembako.
pria itu turun dan melihat seseorang yang tertidur di tengah jalan, saat membalikkannya dia kaget melihat wanita yang sudah lama tak pernah di lihatnya itu.
"mbak Vera!" kagetnya
dia pun segera mengendongnya masuk kedalam truk dan membawanya ke klinik terdekat, tak lupa dia juga memberitahukan jika kiriman beras kaki ini mengalami keterlambatan pada konsumen dan Raka.
"mbak sudah sadar?" tanya Yanto.
"bang Yanto, Abang yang menolong saya, terima kasih bang, tapi tolong bawa saya pergi secepat mungkin bang, jika tidak suami saya akan membunuh saya," mohon Vera ketakutan.
"tapi saya harus kirim beras dulu mbak baru bisa pulang," jawab Yanto.
"baiklah aku ikut ya bang, setidaknya dia tak bisa melacak ku nantinya," kata Vera.
"baiklah, sekarang mbak ganti baju dan saya tunggu di truk, tapi maaf ya karena saya juga bawa satu kenek," kata Yanto tak enak.
"gak papa bang," jawab Vera yang bergegas ganti baju.
tanpa di duga Vera juga meminjam gunting pada suster, dan memutuskan untuk memotong rambut panjangnya.
__ADS_1
kini Vera dengan rambut pendek keluar rumah sakit, lebam di seluruh badan, mata yang bengkak dan merah.
terpaksa Yanto ikuti keinginan Vera, karena wanita itu memaksa ingin pergi sari rumah sakit.
perjalanan mereka cukup panjang, dan Yanto tak berani bertanya apapun pada Vera.
terlebih wanita itu terlihat begitu sedih, mereka sampai di sebuah yayasan yang menaungi pondok pesantren dan juga yayasan penyembuhan trauma dan gangguan emosional.
para santri dan pengurus baju membahu untuk menurunkan beras yang di kirim, Vera didik di bawah pohon sambil menunggu semuanya selesai.
seorang gadis kecil menghampiri Vera, "umi ... neneknya sakit!" kata bocah kecil itu.
seorang wanita menghampiri Vera, tapi bocah kecil itu berlari pergi masuk kedalam pondok.
"apa ibu butuh sesuatu?" tanya wanita itu lembut.
"tidak ustadzah, saya baik-baik saja," jawab Vera.
tak lama gadis kecil itu kembali ke depan Vera sambil membawa sebotol air mineral.
"nenek minum ya, biar sehat kata Ani air zamzam bagus untuk tubuh," kata Fatin kecil.
"terima kasih kami begitu pintar nak," puji Vera.
gadis kecil itu tersenyum, Vera pun di temani oleh istri dari pemilik yayasan, dan perlahan Vera merasa sedikit tenang setelah berbagi cerita.
"mbak Vera, ayo pulang Semuanya sudah selesai," ajak Yanto.
"baiklah ustadzah saya pamit dulu ya, permisi," kata Vera yang pergi.
kini dia berharap jika Bima tak menemukannya, tapi tanpa Vera sadari.
Bima sedang mengamuk di rumah Rafa dan Raka, meski dia sudah di hajar oleh Rafa dan Raka pria itu tak pantang menyerah.
"sudah ku katakan, kami tak tau ibu kecil dimana!!" bentak Raka kesal.
__ADS_1
"jangan bohong, karena hanya disini tujuan dari wanita itu, dan jika kalian berani membohongiku akan ku buat kalian menyesal," kata Bima yang sudah di pegangi oleh beberapa warga.
"buat apa kami membantu orang yang sudah jahat pada keluarganya sendiri, lebih baik pergi sebelum kami kehilangan akal sehat kami!!" teriak Rafa yang juga sudah terpancing emosi.