Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
bertemu lagi Nia


__ADS_3

malam hari, ketiga pemuda itu sedang kumpul dan bermain karambol.


jadilah suasana rumah begitu ramai, terlebih Husna yang terus menganggu ketiganya.


"ya Husna sudah seperti kue poci begitu mukanya kenapa tepung kanji dek," kata Arkan mengendong Husna.


"Ndak AU, ain ya...." berontak Husna.


"kamu ini, itu udah putih semua Husna," kata Faraz yang terus kalah dari Aryan.


"ya kita punya tiga kue mocci di sini, ada Faraz, Arkan dan Husna, itu kenapa rambutnya ikut putih semua sih," kata Aryan yang melihat Husna menepuk rambutnya sendiri.


"aduh nih kriting bikin gemes, nanti kamu harus mandi lagi," kata arkan mulai membersihkan adiknya itu.


tak lama Wulan dan Raka pulang, keduanya baru pulang dari acara tasyakuran di rumah tetangga.


"astaghfirullah hal adzim... kenapa ini Husna jadi cemong begini?" tanya Wulan yang melihat putri keempatnya itu.


"pasti nih ulah ketiga abangnya, sini gadis ayah kita bersih-bersih dulu, dan kalian bertiga bereskan semua tepung yang jadi satu teras," perintah Raka.


"iya ayah," jawab ketiganya.


mereka pun mulai membereskan semua kekacauan yang di buat oleh Husna.


setelah selesai, mereka pun mandi dan kumpul di depan, seperti biasa pada berebut mencari kue dari berkat yang di dapat.


"Allahuakbar, ya Allah tiga pemuda kelakuan bocah prik semua," kesal Raka melihat ketiga putranya itu.


"sabar ayah,nanti darah tingginya naik loh," goda Wulan pada suaminya.


"bukan darah tinggi yang naik, darah rendah ayah yang punya, Amma juga bikin gemes dari tadi tau gak," kata Raka mencubit pipi istrinya.


"cih sudah tua tak tau tempat," gumam Aryan.


"kamu bang sesuatu Aryan?" tanya Raka


"ayah sudah tua masih mesra-mesraan di depan anak-anak tak tau malu, kata Aryan," jawab arkan sambil menunjuk saudaranya itu.


"lemes..." kesal Aryan melempar bekas bungkus mie nagasari.


bukan kena Arkan malah kena pada Faraz, "aku dari tadi diem loh, masih urban juga, awas ya!" teriaknya mengejar Aryan.


Arkan yang tertawa juga dapat lemparan bantal sofa dari Faraz, sedang Aryan sudah kena jewer.


"ya!!! bang kamu ngajak berantem," kata Arkan tak terima.

__ADS_1


tapi dengan mudah, Faraz memiting kedua adiknya itu, Wulan hanya tertawa saja melihat kelakuan dari tiga putranya.


sedang Raka tak ambil pusing, karena sudah terbiasa melihat hal itu. Husna malah bertepuk tangan senang melihat ketiganya.


"bentar, Husna kami bukan topeng monyet loh, kenapa di tepokin," kata Faraz.


"onyet..." panggil Husna.


Faraz melepas tangannya, "siapa yang monyet?" tanya faraz gemas pada adiknya itu.


Husna tertawa keras saat Faraz menciumi pipi Husna yang nampak gembul.


setelah lepas dari Faraz kini giliran dua abangnya yang lain yang juga ikut gemas.


rumah Wulan dan Raka sekarang tak pernah sepi, terlebih dengan kepulangan Arkan jadilah suasana begitu hidup.


mereka bertiga pun memilih menonton tv sampai malam,toh besok libur kuliah.


tanpa sadar ketiganya tertidur di ruang tamu, entah malam itu suasana desa begitu tenang dengan hujan rintik-rintik yang turun.


beberapa orang sedang melihat situasi, mereka ini adalah maling yang sudah meresahkan beberapa desa tetangga.


mereka tak tau jika desa itu di lindungi oleh beberapa khodam, saat ketiganya ingin pergi.


ada sosok tinggi besar yang menghadang mereka, "siapa yang berani menganggu ketenangan desa ini, urusannya dengan ku,"


seorang melemparkan rokok itu pada Ki item, karena merasa di hina Ki item menjejalkan satu bungkus rokok itu yang sudah menyala ke mulut salah satu perampok itu.


melihat adegan itu, kedua teman perampok itu ketakutan, sedang ki item yang terlanjur marah.


membuat pria itu merokok sampai mati gosong di sebelah rumah calon korbannya.


keesokan harinya, semua warga gempar pasalnya nada pria mati dan gosong jering seperti ikan di asap.


polisi merasa aneh karena kematian itu tak wajar, tapi Idak dengan keluarga raja yang tetap santai saja.


"hari ini mau jalan-jalan ke mana nih kita, ke wonosalam sekalian cari Pete enak nih," ajak arkan.


"kalian berangkat gih, aku bisa jadi obat nyamuk jika ikut kalian berdua," kata Faraz yang sedang malas.


"ya gak seru dong, apa mau ajak Vani biar ada temennya nih bang?" tanya Aryan.


"ogah amat, cewek ganjen gitu," jawab Faraz.


"ajak Nia saja, Janu juga kenal kan, katanya hari ini dia sendirian di rumah, itu anaknya main kesini," kata Wulan yang keluar guna menyapa sepupunya itu.

__ADS_1


"idih... ini tante-tante galak ngapain datang sih,bikin orang sebel saja," kata Aryan.


"kamu ini kenapa sih,orang sana keluarganya kok ngomong gitu?" kata Wulan mencubit pipi putranya itu


Nia datang mengantarkan beberapa sayuran yang kemarin habis panen, "Tante, mau ikut ke wonosalam gak, tapi boncengan sama aku ya," tanya Faraz langsung.


"boleh, tapi kalau pulang harus beli Pete sama talas ya," kata Nia dengan lembut.


"ya Allah... kenapa semua keluarga ini penyuka Pete, kan bau," kata Aryan yang sok tak suka.


"gayamu.... padahal kamu juga doyan," kesal Arkan dan Faraz melempar bantal sofa.


"sudah kalian ini mau berangkat, atau mau bikin rumah berantakan sih, pergi sana," usir Wulan pada ketiga Putranya.


"aku duluan mau jemput kekasih dulu, kita ketemu di pasar Mojoduwur ya," kata Aryan dan Arkan yang buru-buru berangkat.


sedang Faraz dan Nia membereskan rumah sebentar batu berangkat berdua, Nia memegang pundak Faraz karena tak enak.


"jika tak nyaman, Tante bisa pegang ke bagian pinggang ku kok,tak akan ada yang marah, karena aku tak punya kekasih,malah yang aku takut nanti malah pacar Tante yang marah," kata Faraz sedikit berteriak karena di atas motor.


"aku tak memiliki kekasih," jawab Nia yang memegang jaket Faraz.


pemuda itu pun langsung menancap gas motor miliknya, saat kedua saudara memiliki sepeda motor sports.


Faraz lebih suka dengan motor keluaran pabrikan yam*ha all new XSR 155.


setidaknya dia tak akan melukai gadis yang di bocengnya, dan untuk mobil dia memilih menggunakan mobil peninggalan ayahnya.


Faraz sampai di pasar Mojoduwur, dan tak lama dua motor sports menyalipnya, Faraz meminta Nia memeluknya erat.


tak terduga Faraz langsung menancap gas motornya, jadilah tiga pria itu kebut-kebutan sambil membonceng gadis masing-masing.


dan yang lebih parah, mereka memilih jalan menanjak di pegunungan untuk melakukan aksinya itu.


Nia pun begitu erat, pasalnya dia takut karena Faraz yang berada di paling depan meninggalkan kedua adiknya.


"ya Allah, aku masih ingin hidup..."kata Nia.


Faraz hanya menyeringai dan dia sampai di tempat wisata banyumili duluan.


"kalau pulang seperti tadi,biar aku yang bawa motor," marah Nia memukul helm Faraz dengan helmnya.


"maaf ya Tante cantik," jawab Faraz tersenyum di balik helm full face miliknya.


dia pun membayar tiket masuk dan parkir motor saat dua motor yang lain datang, "wah gila bang, kamu bisa mati dengan cara mu tadi, wah.... itu tadi truk loh," kata akan tak mengira Faraz senekat itu.

__ADS_1


"tapi aku punya keberuntungan besar, apalagi bawa gadis cantik ini," kata Faraz.


mendengar ucapan Faraz,Nia pun malu dan mencubit perut Faraz, dan berhasil membuat dua adiknya bengong melihatnya, karena Faraz bisa membuat Nia yang ketus tersipu malu.


__ADS_2