
Aryan sudah mendapatkan tugas dari Raka, pria itu memberikan tugas untuk adik kelasnya.
"kenapa sih, ayah selalu merepotkan aku, dasar pria tua menyebalkan," kesal Aryan.
pasalnya selalu dirinya yang jadi pesuruh, "kenapa ngomel, lebih baik kamu kembali ke kelas, biar aku yang memberikan tugas ini,"
"terima kasih kak, kamu itu pahlawan ku memang," kata Aryan langsung memberikan tugas itu dan pergi segera.
Arkan hanya tertawa, dia tak ingin adiknya itu mengalami kesusahan, karena kelas yang akan di datangi terkenal dengan para murid yang sangat bandel.
baru juga masuk kelas, Arkan sudah di lempar sebuah penghapus papan, tapi beruntung dia bisa menghindar.
Arkan mengambil penghapus itu dan melihat ada tiga orang yang sedang menertawakan dirinya.
Arkan langsung berjalan ke arah ketiga orang itu, dia membaca mantra untuk ke tiganya.
Arkan hanya tersenyum dan menyentuh ketiga kepala murid nakal itu dan kembali ke depan kelas.
Arkan mulai membacakan tugas yang di berikan oleh Raka, setelah itu dia pun langsung kembali ke kelasnya.
"kakak kelas itu gila ya, kenapa dia menyentuh kepala kita, ha-ha-ha," kata para murid itu.
sedang di kursi paling belakang ada seorang murid mengerti apa yang di lakukan oleh Arkan, pasalnya dia juga bisa melihat yang tak kasat mata.
"kamu hebat, karena bisa menyembunyikan semua kekuatan mu," kata Adis itu.
di rumah, Bu mut sedang membantu tetangga yang sedang akan melakukan syukuran.
Wulan pun ikut datang sambil membawa bingkisan untuk pemilik hajat, dan dia pun membantu untuk menyiapkan beberapa kue.
__ADS_1
"aduh mbak Wulan makin cantik saja, apalagi masih muda sudah memiliki dua putra yang beranjak besar, mau dong jadi besan," goda salah satu ibu.
"ya Allah Bu, jika anak-anak kita berjodoh pasti bisa Bu, tapi putri ibu masih dua tahun loh," kata Wulan tersenyum.
"ha-ha-ha, gak papa loh, saya dan suami saja perbedaan umur cukup jauh kok," kata wanita itu.
semua ibu-ibu tertawa, pasalnya banyak yang ingin jadi besan dari pasangan yang sering membantu para warga itu.
terlebih mereka baru tau jika keluarga itu baru saja membantu beberapa gadis yang sudah menjadi korban pesugihan.
Raka pulang ke rumah mertuanya setelah semua pekerjaannya selesai si sekolah, sekalian mengajak kedua putranya pulang.
karena sudah jam satu siang, "ayah beli bakso dulu yuk," ajak Aryan
"Arkan mau bakso juga, kalau tidak gak mau ah ayah," kata Raka ingin tertawa.
"aku ikut ayah, kita ke bakso yang ada di belakang ind*mar*t ya, habis disana baksonya paking enak, terlebih ada pentol kanji kriwilnya," kata Arkan.
"ha-ha-ha, itu memang warung kesukaan mu, oke kita kesana untuk makan bakso," jawab Raka.
sepeda motor itu pun segera menuju ke warung bakso yang di maksud, Aryan nampak begitu senang karena sudah lama tak makan makanan itu.
mereka langsung duduk, Arkan memesan bakso untuk ayah dan saudaranya.
dia pun ikut duduk di samping Raka, "ayah ... boleh ya kami memilih SMK kamu sendiri, kami ingin sekolah di tempat pilihan kami," kata Arkan.
"tentu saja nak, kalian bebas memilih manapun itu, mau mondok juga silahkan," terang Raka yang sedang memainkan sedotan yang tersedia di meja.
"aku juga ya ayah, terlebih kami akan masuk SMK dan tak mungkin membuat ayah dan Amma malu," tambah Aryan.
__ADS_1
"iya nak, kalian bebas memilih, sekarang kita makan dulu," kata Raka yang melihat pesanan mereka datang.
Arkan juga tak lupa memesan bakso untuk semua di rumah, tapi akan di bawa nanti.
Aryan pun begitu lahap, Arkan memberikan pentol kubis pada adiknya itu.
Raka pun tak mengira dua putranya itu begitu saling menyayangi bahkan jarang ada saudara kembar yang seperti ini.
Aryan begitu senang, Arkan juga ikut tertawa, pasalnya Aryan tak bisa berhenti bergerak karena bakso yang enak.
"sudah Aryan, makan saja, dan tolong tambah pangsitnya lagi," kata Raka yang tau kesukaan Arkan.
setelah kenyang dan membayar mereka pun pulang, karena takut jika Wulan khawatir.
mereka pun pulang, dan terlihat ada mobil Rafa di depan rumah mertua Raka.
"kalian berdua masuk dan segera ganti baju, mungkin Amma kalian belum pulang dari rumah buk Yem," perintah Raka.
"iya ayah," jawab keduanya.
saat masuk, mereka berdua menyalami Rafa dan langsung menuju ke kamar untuk berganti baju.
"assalamualaikum ... wah ada tamu agung, ada apa ini? tumben siang-siang panas gini main kesini," tanya Raka tersenyum.
"cuma kangen dan ada sesuatu yang ingin aku bahas dengan mu, tentang ibu kecil, terutama sebentar lagi mbak Aira pulang," kata Rafa.
"sudah gampang itu, mas Arkan tolong ambilkan bakso dan minuman dingin untuk pakde,"
"iya ayah," jawab Arkan dari dalam rumah.
__ADS_1