
Arkan yang baru beberapa langkah langsung di serang oleh Al-Fath,tapi tanpa di duga Arkan langsung menjatuhkan diri dan menyerah balik Al-Fath.
bahkan hanya dengan satu kali tarikan, Al-Fath sudah di buat jatuh ke tanah.
semua pun bertepuk tangan, "jangan terlalu berambisi membunuh musuh, kita pakai cara halus tapi mematikan," kata Arkan membantu kakak sepupunya itu.
"tentu, aku suka gayamu, baiklah ayo kita makan," ajak Al-Fath pada semuanya.
setelah sarapan, benar saja Wulan dan Raka sudah datang untuk mengajak mereka untuk berziarah.
bahkan Wulan sudah menyiapkan semua hingga yang di butuhkan, "kalian berdua tak ikut?" tanya Aira pada Arkan dan Aryan.
"tidak bude, kami mau bantu Mbah ke sawah buat panen cabe dan tomat," jawab Arkan.
"kalau begitu, apa nanti kalian mau di belikan sesuatu?" tanya Alfin.
"brownies kukus yang ada di samping rumah sakit ibu dan anak Jombang ya, tapi yang rasa pandan sama tiramisu," kata Aryan.
"iya iya, nanti di belikan, sudah cepat balik, oh ya tadi sudah ketemu bunda, ingat pamitan juga," perintah Wulan.
"bunda, pakde, dan Faraz sedang ke rumah sakit, Mbah de sedang membawa Aslan ke taman bareng kak Rania, jadi semua orang sepi," jawab Arkan.
"baiklah, kalau begitu pulang saja, dan berhenti bertengkar dengan om kalian, atau Amma marah nanti," ancam Wulan.
"siap Amma," jawab keduanya yang pergi membawa motor.
rombongan Raka dan Alfin pun menuju ke daerah Tembelang untuk berziarah ke makam orang tua mereka.
beberapa tahun lalu, Alfin, Raka, dan Rafa sepakat untuk memindahkan makam dari pemakaman umum ke tempat yang sengaja di bangun untuk pemakaman keluarga.
__ADS_1
sebuah bangunan menyerupai pendopo luas terlihat megah, dan di dalamnya ada beberapa makam.
mulai dari kakek mereka, Bu Ajeng, dan makam kedua orang tua mereka berjajar rapi.
Aira hampir jatuh pingsan karena sedih, suasana cukup pilu, terlebih Aira yang ingat bagaimana orang tuanya mati dulu.
Alfin dan seluruh keluarganya menabur bunga, penjaga makam juga datang menyapa keluarga dari Vian.
"assalamualaikum mas Raka, apa masih butuh sesuatu nanti tinggal panggil saya saja ya," kata Mbah Legi.
"inggeh Mbah," jawab Raka dengan suara sopan.
mereka pun duduk bersama dan mulai membacakan tahlil dan doa untuk semua orang tua yang sudah meninggal dunia.
saat mereka selesai berdo'a, saat akan pulang Raka dan Alfin langsung berdiri di depan istri mereka masing-masing.
"mau apa kesini? tolong pergi jangan sampai kami lupa siapa Anda," geram Raka.
"tapi sikap Anda tak mencerminkan anda bisa di hormati, terutama oleh kami," jawab Raka yang sudah tak bisa menahan amarahnya.
"sudah yah, lebih baik kita pulang, dan melihat kondisi semuanya," kata Aira mengenggam tangan Alfin.
Alfin pun berjalan dengan mengandeng Aira, sedang Wulang menarik suaminya agar tak membuat keributan di tempat peristirahatan terakhir dari keluarga mereka.
"jangan lupa, kalian itu hanya pembunuh dan putri yang tak tau diri," hina Bima.
"tutup mulut mu om, hanya karena harta kami bisa menghina kedua keponakan mu, kau serakah," kata Alfin yang tak terima semua orang di hina pria seperti Bima.
"alah tutup mulut mu yang busuk itu, kau lupa diri ternyata, anak angkat saja ikut campur, ingat kau itu cuma anak seorang bajingan," hina Bima lagi.
__ADS_1
Raka ingin menghajar pria itu tapi Wulan menahannya, "tidak mas, dia sengaja memancing amarah kita," bisik Wulan
Raka sedikit demi sedikit tenang, meski Bima terus mengoceh, pria itu sengaja ingin minta warisan milik keluarga Vian karena semua hartanya habis.
"sudah lebih baik kita pergi dan jangan pedulikan pria gila itu," ajak Raka pergi.
Aira pun ingin sekali berkunjung ke rumah tang baru selesai di bangun oleh kedua adiknya.
ternyata saat sampai, rumah itu sudah beralih fungsi menjadi sebuah rumah yatim-piatu.
"kalian begitu baik," lirih Aira.
"tidak kak, kami melakukan ini juga atas keinginan ayah dan bunda, mereka datang dan mengatakan pada kami," terang Raka.
"seandainya aku bisa melihat mereka sebentar saja, mungkin aku akan bahagia," lirih Aira sedih.
Raka mengenggam tangan Aira, dan mengarahkannya ke wajahnya, "tutup mata mbak, dan lihat siapa yang menunggu kalian di sana dengan senyumnya," kata Raka.
Aira menutup matanya dan kemudian membuka matanya dan melihat arah yang di tunjuk oleh Raka.
dia pun langsung terharu pasalnya dia melihat kenangan masa kecilnya yang sedang bermain dengan Vian dan Akira.
Aira kecil begitu bahagia bersama sang bunda, dan kemudian tanpa di duga ada arwah yang persis Vian dan Akira yang datang dan memeluk Aira.
"bunda senang bisa melihat mu tumbuh dengan bahagia, dan memiliki keluarga yang sempurna," kata Akira lembut.
"ayah juga tak perlu khawatir lagi karena kamu sudah mendapatkan pria yang tepat dan baik untuk mu," kata Vian yang memberikan kecupan di kening Aira.
kedua arwah orang yang dia cintai itu kemudian pergi perlahan, dan kenangan itu juga mulai memudar.
__ADS_1
Alfin menangkap tubuh Aira yang hampir jatuh lemas, sedang Raka pun mengangguk kearah Wulan.
setidaknya Aira bisa melihat orang tuanya meski hanya sebuah gambaran yang di pikirkan kakanya itu.