
ujian hari pertama berjalan lancar, Arkan, Aryan dan para teman mereka sedang membahas soal tadi.
tapi Emily hanya memilih duduk bersandar di bawah pohon, terlebih gadis itu memang di kenal jenius.
sedang Arkan yang selesai pun ingin bertanya, tapi langkahnya terhenti oleh tangan ratu yang menahannya.
"ada apa?" tanya Arkan.
"tidak ada, apa kamu ada kegiatan setelah ujian, karena aku ingin mengajakmu dan teman-teman yang lain piknik dan menginap di salah satu rumah desa milik ayah," ujar ratu.
"apa anak-anak setuju, dan bagaimana dengan orang tua mu," tanya Arkan
"ayah memperbolehkan, dan anak-anak akan pamitan pada orang tuanya, tak perlu khawatir karena di ru ah itu ada yang akan memasak dan membereskan rumah," terang ratu.
"baiklah jika kamu mau, aku akan memberitahu yang lain, jika akan akan ikut," kata ratu begitu senang.
gadis itu pun pergi kembali ke kerumunannya, sedang akan yang mencari sosok Emily pun kehilangan jejak gadis itu lagi.
Emily hanya menyeringai dari balik pohon yang sengaja bersembunyi dari Arkan.
"bagaimana ratu, apa dia mau?" tanya Aryan
"dia sih mengiyakan, tapi nunggu lebih pasti dulu, karena kalian harus izin orang tua kalian bukan," terang ratu.
"itu benar," jawab Aryan mengangguk.
__ADS_1
Faraz dan Dewi sudah mengiyakan, karena keduanya yang memberikan usul.
di rumah, lagi-lagi Bima datang untuk menemui Alfin dan kaki ini pria itu tak datang untuk meminta harta warisan.
melainkan dia datang untuk meminjam uang sebesar seratus juta, "untuk apa uang sebayak itu om, bukankah uang pabrik tahu saja tak pernah kami minta, dan sekarang mau hutang yang untuk apa?" tanya Aira yabg bingung.
"ini untuk usaha dan pengobatan sepupu mu, Nanda sakit dan juga belum bayar kuliah, pabrik tahu juga mendalami penurunan dalam laba," bohong Bima.
"baiklah, aku akan mengambilkan cek, tapi cek ini hanya bisa di cairkan oleh Tante Vera, jadi silahkan om bawa," kata Alfin menaruh selembar cek di meja.
Bima sangat marah, pasalnya cek itu bisa membuatnya hancur, terlebih jika Vera tau dia meminta seperti ini.
"baiklah aku pamit kalau begitu, o
terima kasih sudah percaya dengan om mu ini,"kata Bima yang bergegas pergi.
Bika yang tak terpisahkan oleh apapun, tapi sekarang dia berani berhutang sendirian.
"mas kalau uang nya gak balik gimana?"tanya Aira.
"kalau begitu anggap saja bukan rejeki kita, sudah jangan pikirkan lebih baik kita bersenang-senang, mumpung ada di desa," kata Alfin.
"ya ayah benar, ayo kita kunjungi air terjun Trawas, kebetulan Adri dulu mama ingin ke sana ayah," kata Aira.
"kebetulan ada supir yang di Carikan oleh Raka, jadi kita bisa jalan-jalan, dan meninggalkan anak-anak yang dari tadi sibuk sendiri di kamar," kata Alfin merangkul pinggang istrinya.
__ADS_1
Aira hanya tertawa, pasalnya meski sudah menikah cukup lama, tapi Alfin selalu romantis dan penuh kasih sayang.
Aira menulis sesuatu di kertas dan menempelkan tulisan itu di kulkas, mereka berdua pun pergi jalan-jalan.
karena Al-Fath dan Abidzar sedang rapat dengan para bawahannya, ya keduanya memiliki usaha masing-masing.
sedang Ayana sedang belajar dadakan, pasalnya ada kelas yang wajib di ikuti semua siswa.
Al-Fath sesuai terlebih dahulu dan membaca tulisan itu, dua pun hanya tersenyum dan mulai membuat sesuatu untuk kedua saudaranya.
"Al, apa kamu lihat ayah dan mama?" tanya Ayana yang baru saja keluar dari kamar.
gadis itu melihat tulisan di pintu kulkas, dan mencebikkan bibirnya. pasalnya orang tuanya tega meninggalkan anak-anaknya untuk bersenang-senang sendiri.
"kamu mau sesuatu Ayana, aku ingin memasak omlet," terang Al-Fath.
"boleh deh, tapi jangan lupa mie goreng juga ya, dua bungkus," jawab Ayana sambil tersenyum manis.
"dasar gadis serakah, ingat tubuh mu yang bisa jadi melar karena kebanyakan makan mie," ledek Abidzar yang juga baru selesai.
"mas Al... lihat Abi, dia terus menggodaku," kesal Ayana yang merajuk.
"sudah,lebih baik bantu aku membersihkan udang-udang besar dan nanti bisa di goreng tepung," perintah Al-Fath.
"baiklah, biar aku bersihkan, dan Ayana bantu Al untuk memotong daging ayam dan juga sosis," kata Abidzar.
__ADS_1
"iya-iya, kalian berdua ini selalu kompak jika ingin menyusahkan aku," gerutu Ayana.
"jika tak ingin membantu tak apa-apa, lebih baik duduklah dan tunggu Semuanya matang, tak akan Lana," perintah Al-Fath yang tak ingin di recoki oleh saudara perempuannya itu.