
Raka pun mengusap kepala Jasmin, kemudian memilih pergi, sedang Wulan tau jika suaminya itu mungkin sakit hati karena permintaannya.
"Aryan, Faraz, tolong bantu Amma mengurus kepulangan dan pemindahan bunda kalian ke Jombang ya," kata Wulan.
"baik Amma," jawab Faraz yang berdiri terlebih dahulu.
dia sangat bersemangat untuk membawa sang bunda pulang, sedang Aryan memeluk sang Amma.
"jika Amma tak rela, kenapa melakukannya?" tanya Aryan yang tak mengerti akan sesuatu.
"kamu akan mengerti, susah sekarang lakukan permintaan dari Amma ya," kata Wulan dengan senyumnya.
tanpa terduga Arkan juga memutuskan pulang setelah mendengar pernikahan Raka.
dia ingin bersama dengan Wulan saat ini, jadilah dia meminta izin cuti dari kuliah untuk beberapa bulan.
Arkan baru mendarat dan langsung menuju ke rumah sakit untuk bertemu dengan sang Amma.
Fahri dan Fero sudah bersiap untuk pulang terlebih dahulu bersama dengan Wulan dan anak-anak terkecil.
sedang di ambulans, akan ada Aryan dan Faraz, sedang mobil mereka akan di antar oleh Fandi.
tapi, batu juga mobil mulai berjalan, ada seorang pria menghadang mobil mereka.
saat melihat sosok pria itu, Wulan langsung turun dan berlari memeluk pemuda itu.
"Amma, aku merindukan mu..." lirihnya.
"Amma juga mas, Amma begitu merindukan mu," kata Wulan yang terlihat begitu bahagia melihat putra pertamanya itu.
ambulans lewat terlebih dahulu, Arkan sempat melihat sosok yang ada di atas mobil ambulans.
"Amma sudah tau?" tanya Arkan.
Wulan mengangguk, Arkan pun memeluk Wulan lebih erat, "aku hanya ingin memenuhi pesan terakhirnya," jawab Wulan
"terbuat dari apa hati Amma ini," gumam Arkan.
"maaf menganggu kalian, kita harus segera pulang," kata Fahri.
"kalian pulang dulu, biar aku naik taksi saja," jawab Arkan.
"tidak perlu, Fahri ikutlah dengan Arkan,ambil mobil di rumah om Fandi, dan ajak dia pulang," kata Raka.
"baik mas," jawab Fahri.
rombongan Wulan dan Raka pun pulang mengikuti mobil ambulans yang telah berangkat terlebih dahulu.
Arkan melirik omnya itu, "kenapa om? heran kamu melihat ku?" tanya Arkan yang tertawa
"makin gede aja tuh badan, pasti kamu gila olahraga di Singapura ya?" tanya Fahri.
__ADS_1
"ya bisa di bilang gitu, terlebih jika kamu tinggal bersama seorang pria yang gila kesehatan seperti Al-Fath," jawab Arkan.
rombongan pun menempuh perjalanan selama dua setengah jam untuk sampai di kota itu.
mereka pun membawa Jasmin pulang karena wanita itu tak ingin di rawat di rumah sakit.
"bunda tidur di kamar ku saja, aku bisa tidur di kamar Husna," kata Faraz.
"tidak, biarkan bunda di kamar Husna," jawab Jasmin.
Arkan dan Fahri datang sangat terlambat karena keduanya harus menjelaskan pada kedua orang tua Wulan.
pak Suyatno tak percaya dengan apa yang dia dengar, dia marah tapi Arkan berhasil membujuknya.
setelah selesai, keduanya memutuskan untuk pulang, Arkan terdiam saat akan masuk kedalam rumah.
"ada apa?" tanya Fahri.
"tidak ada," jawab Arkan yang seperti ada seseorang yang memanggilnya.
terlihat semua sedang duduk di ruang tamu, Arkan menyapa Raka yang terlihat begitu suntuk.
"sudah ayah,kenapa tak menunjukkan kebahagiaan melihat putra mu ini pulang?" tanya Arkan kesal sendiri.
"tentu saja tidak, ayah juga merindukan mu, tapi ayah kesal karena kamu yang tak pernah menghubungi Niken, kamu hampir membunuh anak orang asal kamu tau," jawab Raka yang tak kalah kesal.
"maaf ayah, aku sangat sibuk," jawab Arkan.
keduanya pun memeluk pemuda itu, ketiganya tertawa senang bersama, tapi sebuah pukulan di kepala Arkan di layangkan oleh Aryan.
"dasar pria bodoh, kamu hampir membunuh anak orang karena sikap dingin mu," kesal pemuda itu.
"tebang saja, selama aku tak terluka atau mati, dia juga tak akan mati, karena ada pelindung yang menjaganya," jawab Arkan tersenyum.
tak terduga, terdengar suara adzan ashar, Jasmin pun bangkit dan ingin mengambil air wudhu.
Wulan yang melihatnya pun membantu wanita itu, "mbak mau kemana?"
"aku ingin meminta mas Raka untuk menjadi imam, kita semua sholat di rumah saja ya," mohon Jasmin.
"baiklah, tapi mbak kuat? jika tidak mbak nanti bisa duduk?" kata Wulan.
"aku kuat kok, orang tubuh aku baik-baik saja," jawab Jasmin.
Wulan pun membantunya, setelah itu dia memanggil semua orang untuk melakukan sholat berjamaah.
Aryan dan Arkan mengelar dan menyiapkan sholat untuk mereka, Raka akan menjadi imam.
Arkan nampak menghela nafas, "kenapa pakde meminta amma meminta ayah menikah dengan bude?"
arkn melihat sosok yang tersenyum di belakang tubuhnya, "karena pakde ingin mematahkan janji ayah mu sebelum pakde mengajak bude mu pergi," jawab Rafa.
__ADS_1
"tapi itu akan menjadi kesedihan terbesar untuk Faraz," kata Arkan yang melihat arwah pakdenya itu
"aku percaya pada keluarga ini untuk menjaganya dan Husna, kamu tentu juga tak akan membiarkan itu terjadi bukan," jawab Rafa yang kemudian menghilang.
Arkan pun menghela nafas, pasalnya dia kira jika Wulan susah kehilangan ilmunya, tapi ternyata wanita itu tetap saja begitu sensitif terlebih Rafa yang menampakkan dirinya pada Wulan.
Jasmin mengambil mukenah yang dia miliki yang sama persis dengan Wulan.
akhirnya mereka semua mulai sholat berjamaah, Jasmin mulai sedikit sesak nafas.
tapi dia tetap mengikuti semua gerakan dalam sholat, dan saat berdiri untuk rakaat terakhirnya.
dia melihat sosok yang tersenyum kearahnya, dan ada para pendamping di sekitarnya.
nafas Jasmin juga mulai sangat berat, dan saat sujud di rakaat keempat.
Jasmin tak bangun lagi, Wulan menahan tangisnya, isak kan Wulan terdengar di barisan Arkan dan Fahri.
Raka pun mengucapkan salam, dengan reflek setelah salam Wulan membalikkan tubuh Jasmin.
ternyata Wanita itu sudah meninggal dalam keadaan yang begitu baik, bahkan dia tersenyum.
"mbak Jasmin.." panggil Wulan terisak.
mendengar itu, semua menoleh kecuali Arkan dan Raka. Faraz langsung menghampiri bundanya itu.
"bunda bangun bunda!" panggil Faraz.
Fahri memeriksa nadi dan nafas Jasmin, wanita itu sudah meninggal dunia, Faraz pun langsung memeluk jenazah sang bunda.
Raka langsung menyentuh pundak Faraz, "sudah nak, bunda mu dan ayah mu sudah bersama, mereka sudah bahagia," kata Raka.
Faraz pun menoleh ke arah Raka, dia tak percaya dengan ucapan dari Raka.
tapi tak terduga, dia bisa melihat sosok Rafa yang berdiri bersama dengan Jasmin, mereka pun tersenyum kearahnya sebelum pergi di bawa oleh dua cahaya.
"yang sabar le," kata Wulan yang masih sesenggukan juga.
Wulan ingat bagaimana dia meminta Raka menikahi Jasmin, pasalnya dia bisa melihat sosok Rafa.
"dia hanya merindukan aku bukan Wulan, dia melihat suami mu sebagai aku, sampai dia gila seperti ini, seandainya... seandainya ..." kata Rafa menyentuh wajah dari Jasmin.
itulah saat Wulan memutuskan untuk mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya.
"tapi bunda kenapa meninggalkan kami Amma?" tanya Faraz dengan pilu.
pemuda itu tetap memeluk tubuh dari jenazah Jasmin, Wulan pun memeluk Faraz.
Arkan pun mengendong jenazah dari bunda tirinya itu dan membaringkan ke atas bayang bambu yang sudah di ambil oleh Fahri.
tempat yang baru saja di gunakan sholat itu, kini berubah menjadi tempat terakhir untuk Jasmin.
__ADS_1