
Aryan turun terlebih dahulu dari mobil, sedang Arkan masih mengambil Hoodie miliknya tak lupa dengan buku gambar yang harus di bawa.
"Arkan nanti kalau pulang kamu telpon om saja, atau telpon Mbah juga boleh," kata Fahri.
"iya om, terima kasih," jawab Arkan.
Arkan akan pergi, tapi sebuah mobil berhenti di depannya, ternyata itu adalah ratu yang baru datang.
"pagi Arkan, bye pa," kata ratu pada sang papa.
"pagi om, ratu," sapa Arkan sopan.
"pagi nak, titip ratu ya, habis dia suka sembrono," kata papa ratu
"sudah papa berangkat, nanti kesiangan," kata Rati cemberut.
"kamu sudah melukis sesuatu Raka?" tanya ratu penasaran.
"sudah, kamu melukis apa, kan tema kita kali ini budaya," kata Arkan yang mulai berjalan bersama ratu.
"aku menggambar sebuah candi yang pernah muncul di mimpiku, dan apa kamu tau ada pangeran yang juga ada dalam mimpi itu, dan pangeran Jawa itu nampak familiar di mataku," kata ratu dengan malu.
"siapa? apa kamu mengenalnya?" tanya Arkan.
"ya dan kamu mengenalnya, dia adalah kamu yang tersenyum persis saat kita pertama bertemu saat MOS," kata ratu yang langsung berlari malu.
arkan hanya tersenyum saja, dia melukis sebuah wayang Semar dan di bawahnya ada tiga orang kesatria, dua pria satu Wanita.
__ADS_1
kelas pun mulai berjalan, Faraz nampak menjauh dan tak menegur sapa pada dua saudaranya.
entah apa yang sedang di pikirkan oleh pria itu, pasalnya jika marah seharusnya Arkan dan Aryan yang lebih berhak marah.
tapi keduanya tak ambil pusing, guru sejarah datang dan memulai pelajaran, semua mengumpulkan tugas mereka.
"tunggu, kenapa masih kurang satu, siapa yang tak mengumpulkan?" tanya guru itu ketus.
"saya pak, saya tak bisa menggambar dan lebih baik tidak memaksanya bukan," kata Faraz angkuh.
"kamu tak bisa sopan, jangan merasa jika keluarga mu pemilik yayasan, tentu kamu harus tetap sopan karena aku tetap guru disini, kamu harus ingat itu," kata guru itu marah.
"memang kenapa? kamu hanya seorang guru," kata Faraz tak terima.
"kalau kau tak suka, lebih baik kau keluar dan jangan mengikuti kelas ku dan ku pastikan nilai mu nol," kata guru itu menunjuk ke arah luar.
Faraz langsung keluar tanpa bicara lagi, dia memang sedang malas untuk ke sekolah.
terlebih kawasan itu sepi karena jauh dari keramaian sekolah, Faraz benar-benar tak menyukai semuanya.
"kenapa harus Arkan, Aryan, Arkan, Aryan, memang apa hebatnya? kenapa harus di bandingkan dengan mereka terus, aku lelah harus bersikap sempurna seperti kedua orang itu," marah Faraz.
pelajaran sudah selesai, jam kedua adalah jam kosong, Arkan dan Aryan menuju ke masjid untuk sholat Dhuha dan berdoa untuk saudara mereka.
"bolehkah aku ikut sholat bersama kalian?" tanya Dewi dengan suara lirih.
"baiklah silahkan saja, toh makin banyak makin bagus," kata Arkan.
__ADS_1
"boleh aku menunggu di sana, aku sendirian jika kalian semua sholat," kata ratu memohon.
"boleh saja, tapi ingat jangan berisik ya," kata Arkan tersenyum pada ratu
"baiklah," jawab ratu.
Dewi merasa sedih melihat keakraban dari ratu dan Arkan, pasalnya dia yang satu sekolah dari dulu hanya di anggap teman oleh pria itu.
tapi ratu yang baru pindah, malah sekarang menjadi teman dekat dari Arkan dan Aryan.
Arkan menjadi imam untuk teman-temannya, ratu melihat setiap gerakan dan suara lembut dari Arkan.
apalagi saat sholat selesai, ratu mendengar Arkan yang mulai memimpin doa dan dzikir.
setelah itu, mereka semua pun keluar dari masjid dan menuju ke arah kantin.
terlihat Raka yang datang dengan sepeda motor matic milik Fahri, ya bagaimana pun dirinya masih kepala sekolah sampai tahun ajaran berakhir.
"kalian berdua, kemarilah!" panggil Raka pada kedua Putranya.
Aryan menghampiri Raka terlebih dahulu baru di susul Arkan. ketiganya nampak membicarakan sesuatu.
"eh tumben pak Kepala sekolah baik motor," gumam ratu melihatnya.
"kenapa, asal kamu tau ratu, dulu pak kepala sekolah itu terkenal memiliki teman geng motor, tapi bukan bersikap sok di jalan, geng itu malah terkenal karena baik dan duka membantu orang," kata Dewi menerangkan.
"benarkah? tapi bukankah ayah dari Rafa juga saudara kembar pak Kepala sekolah, aku pernah melihatnya di rumah dulu," kata ratu.
__ADS_1
"ya kamu benar ratu, tapi menurutku lebih tampan pak kepala sekolah dari pada ayah Faraz, terlebih pak kepala sekolah menjaga tubuhnya hingga masih terlihat tampan meski putranya sudah dewasa," kata Puput.
"yey... dasar nih Mak rempong ya, suka banget lihat orang ganteng, ingat pak kepala sekolah memiliki istri yang juga cantik," kata Aini mencubit pipi Puput gemas.