
Kenan berjalan cepat untuk sampai ke kelas Queen, cowok itu sesekali juga berlari. Kenan sangat khawatir ketika melihat Queen terlihat shock ketika dibentak oleh Bu Tina di kelasnya. Cowok itu bela-belaan menyelesaikan jawaban pada soalnya dan mengumpulkannya kedepan, dia malah membiarkan Verrel serta Tegar yang terus mencacinya karena tidak mencontekan jawaban kepada mereka.
Kenan tidak perduli. Yang di perdulikannya sekarang itu adalah Queen, gadisnya yang Kenan yakini sedang bersedih.
Setelah sampai di depan kelas 10 IPA-6, cowok itu menengokan kepalanya ke jendela. Dia bisa melihat guru sedang mengajar di kelas Queen, matanya menyapu seluruh kelas dan dia sama sekali tidak menemukan gadisnya.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Kenan memutuskan untuk berlari ke kantin, cowok itu membeli air putih kemasan dan membawanya. Kenan berlari cepat ke taman belakang sekolah yang sangat jarang di pakai oleh murid-murid di SMA Garuda.
Mata tajam itu menyapu taman belakang sekolah yang terawat rapih dengan macam-macam bunga yang menghiasi, matanya berhenti tepat di punggung gadis yang sangat dia kenali. Gadis itu sedang menghadap ke danau kecil buatan, tanpa berlama-lama Kenan pun menghampiri gadis tersebut dan berdiri di sampingnya.
Gadis itu terlihat terkejut ketika menyadari ada orang lain di taman belakang ini, dia lebih terkejut ketika menemukan Kenan yang sudah berdiri gagah di sebelahnya.
"Kenan, ngapain kamu kesini?"tanya Queen sambil menatap wajah Kenan yang tertimpa matahari.
"Nyari kamu."
"Kenapa nyari aku? Aku gak hilang kok."
"Aku khawatir, dan jangan ngilang."
"Kenapa?"tanya Queen pelan.
Kenan menarik nafasnya lalu membuangnya dengan pelan, cowok itu menunduk untuk membuka kemasan botol air mineral yang dibelinya tadi di kantin. Setelah terbuka, dia menyodorkannya kepada Queen yang menerimanya lalu meminumnya hingga tersisa setengah.
"Makasih Ken,"gumam Queen sambil kembali menatap ke depan.
Kenan tersenyum tipis, cowok tampan itu berjalan kebelakang Queen. Dia ternyata memetik salah satu bunga disana lalu berjalan kembali ke arah Queen. Tanpa di duga, cowok itu menyelipkan bunga tersebut di telinga Queen dengan lembut.
Queen yakin pipinya sudah memerah sekarang, bahkan dia tidak sadar sedari tadi sudah mengulum senyumnya terus-terusan.
"Jangan ngilang, kamu mau ngeliat aku gila nanti?"tanyanya seperti bisikan.
"Aku gak bakal ngilang Kenan, aku bakal terus di samping kamu."
Kenan tersenyum cowok itu berjalan kebelakang Queen dan memeluk tubuh gadis itu dari belakang, dia menyimpan dagunya di atas kepala Queen dengan nyaman.
"Kenan lepas, nanti ada yang liat gimana?"tanya Queen sambil berusaha melepaskan tangan Kenan yang melingkar di perutnya.
"I dont care baby,"ucapnya sambil mengeratkan pelukannya.
Queen hanya pasrah, gadis itu kembali menatap ke danau buatan yang terlihat sangat indah. Sesekali dia tersenyum geli ketika jari-jari tangan Kenan mengelus perutnya dari luar dan ciuman-ciuman kecil di atas kepalanya.
"Aku cemburu Queen,"ujar Kenan pelan.
Queen terdiam, kepalanya menengok ke samping untuk bisa menatap dengan jelas wajah tampan kekasihnya.
"Aku marah waktu ngeliat tangan Liam nyentuh kamu, aku marah waktu Liam ngusap ujung bibir kamu."
Mata mereka bertemu, Queen membiarkan saja ketika jari-jari Kenan mengusap ujung bibirnya.
__ADS_1
"Kamu tau? Gak boleh ada siapapun yang berani pengen rebut kamu dari aku, pengen jauhin kamu dari aku, pengen misahin kamu dari aku. Aku gak akan buat hidup orang itu aman-aman aja Queen, termasuk orang tua kamu, aku gak bakal tinggal diam kalau semisalnya orang tua kamu pengen misahin kita."
Queen menahan nafasnya, gadis itu ingin berbalik ke arah Kenan namun cowok itu menahannya. Rupanya Kenan lebih nyaman dengan posisi yang seperti ini.
"Aku takut Queen, aku takut kalau kamu bakal berpaling dari aku ke Liam cuma karena cowok itu sempurna. Aku takut kamu ninggalin aku demi Liam yang lembut dan memperlakukan kamu dengan sangat baik,"gumam Kenan sambil menempelkan keningnya ke kening Queen.
"Aku gak butuh kamu yang sempurna, aku gak butuh kamu yang lembut dan memperlakukan aku dengan sangat baik, Ken. Karena yang aku butuh cuma kamu yang selalu ada, kamu yang selalu siap nawarin bahu kamu buat jadi sandaran aku di saat aku lagi sedih, dan kamu yang apa adanya. Itu aja udah cukup buat aku nyaman sama kamu,"papar Queen pelan.
Memang benar, Queen tidak butuh laki-laki yang sempurna. Dia tidak butuh laki-laki yang selalu memperlakukannya dengan baik dan manis, dia tidak butuh juga laki-laki bermulut manis yang mampu membuat Queen terbang ke awang-awang lalu di jatuhkan kembali ke bumi ketika tahu bahwa laki-laki manisnya tidak lagi manis ketika menemukan 'sosok' baru yang mampu mengerti dirinya.
Setelah cukup lama hening yang menguasai kedua insan itu, kedua mata Kenan terbuka, dia tersenyum ketika melihat Queen ternyata masih menatapnya.
"Mau tau apa yang buat aku kecewa sama kamu?"tanya Kenan sambil menyimpan dagunya di bahu Queen.
"Apa?"
"Kamu ngingkarin janji kamu sendiri, sayang."
"Hah?"
"Kenapa?"tanya Kenan heran ketika melihat raut bingung Queen.
"Ingkar janji?"
Kenan mengangguk, dia menenggelamkan wajahnya di bahu Queen dan menghirup tubuh beraroma coklat itu dengan pelan. Wangi tubuh Queen ini sangat membuat Kenan kecanduan dan seperti orang sakau jika tidak menghirup harumnya.
"Janji yang mana?"tanya Queen pelan.
Queen mematung, dia baru sadar dengan janjinya kepada Kenan.
"Ya ampun Ken, sumpah aku lupa! Aku gak inget kalau punya janji sama kamu, aku..."
"Stt...!"
Queen bungkam, dia mengatupkan mulutnya.
"Lagian itu udah kejadian, kan? Oh ya, setiap kita bikin janji, pasti salah satu dari kita cium pipi pasangannya kan?"
"Iya,"jawab Queen polos.
Kenan menyeringai, cowok itu menegakan tubuhnya lalu menarik bahu Queen agar menghadap ke arahnya. Dia gemas sendiri ketika melihat mata indah Queen yang menyorotnya dengan lugu.
"Sekarang ada perubahan."
"Maksudnya?"tanya Queen tidak mengerti.
Kenan berdehem, dia mengelus pipi kekasihnya dengan lembut.
"Kalau kita bikin perjanjian dengan di akhirin nyium pipi pasangan dan kamu masih lupa dengan janji kamu. Kenapa kita gak coba ubah jadi cium bibir selesai bikin perjanjian? Biar kamu gak lupa dan inget terus dengan janji yang kita buat."
__ADS_1
Mata Queen mengerjap, gadis itu masih mencerna perkataan Kenan yang menurutnya sangat membingungkan.
"Emang boleh?"tanya Queen pelan.
"Siapa yang larang?"
"Kata Dea, Queen gak boleh mau dan harus nolak kalau seandainya Kenan ngajak Queen ciuman. Katanya itu dosa,"ucap Queen polos.
Kenan terdiam sejenak, ternyata Dea sudah mewanti-wanti Queen agar tidak bisa di ajak yang macam-macam oleh Kenan.
"Queen pernah liat cowok nyium cewek gak?"tanya Kenan penasaran.
"Belum, lagian Queen gak berani liatnya."
"Penasaran gak?"
"Penasaran gimana maksudnya?"
"Rasanya ciuman kayak pasangan kebanyakan,"jawab Kenan sabar.
Queen terdiam sejenak, keningnya terlihat mengeryit dalam. Tak lama gadis itu menggeleng ragu.
"Queen gak penasaran,"ucapnya sambil tersenyum.
Kenan berdehem.
"Kalau aku mau, gimana?"
"Mau apa?"
"Mau nyium kamu!"
"Kenan kan suka nyium Queen di pipi sama kening."
"Di bibir."
"Kata Dea gak boleh,"ujar Queen sambil menggaruk tengkuknya.
"Jangan dengerin kata temen kamu itu Queen."
"Queen juga gak mau."
"Kenapa?"tanya Kenan gusar.
Selama ini Kenan tidak berani untuk mengecup bahkan mencium bibir gadisnya secara sembarangan, dia menghargai Queen. Kenan juga heran, pasalnya dia tidak bersikap seperti ini kepada mantan-mantannya yang lain.
"Queen takut dosa."
...||||...
__ADS_1
Heran banget sama Queen, polosnya bikin pengen nampolš