
Apa yang di butuhkan dalam suatu hubungan untuk membuat hubungan itu aman dan tetap harmonis? Beritahu Yuna sekarang jika kalian mempunyai jawabannya, wanita itu sangat amat membutuhkannya. Dia sudah lelah dengan semua sikap dan perlakuan Amar kepadanya.
Wanita itu hanya bisa menangis di bawah kasur dengan tangan yang terlipat di atas kasurnya itu, sesekali dia menatap tasnya yang tergeletak di atas kasur. Uang gajinya yang baru saja di transfer oleh orang pabrik sudah lenyap di ambil Amar, uang itu untuk kebutuhan rumah tangganya sehari-hari dan membayar SPP bulanan Queen.
"Mama."
Tangisan Yuna terhenti, dia terkejut ketika menemukan Queen sudah berada di ambang pintu kamarnya dengan pandangan khawatir yang terlihat jelas di mata Yuna. Anaknya itu berjalan menghampiri Ibunya dan duduk di sebelah Ibunya.
"Jangan nangis lagi,"pinta Queen pelan dengan nada bergetar.
Yuna tertegun, dia menatap mata anaknya yang berkaca-kaca. Dia tahu anaknya sudah banyak tertekan dengan rumah tangganya dan Amar serta rumah tangganya dulu dengan Papa Queen.
"Udah malam, mending kamu ke kamar. Gak usah perduliin Mama."
Queen mengernyitkan dahinya tidak suka. Mana ada seorang anak yang tega membiarkan Mamanya terpuruk sendirian, mana ada seorang anak yang akan membiarkan Mamanya bersedih.
"Mama cukup bersikap gini sama, Queen! Asal Mama tahu, Queen selalu sedih kalau Mama nangis gara-gara Om Amar, Queen selalu takut kalau Om Amar mukul atau nampar bahkan bentak Mama. Queen takut, Queen takut, Ma!"ucapnya sambil menangis. Queen menumpahkan apa yang di rasakannya selama ini kepada Yuna yang sudah terpaku di tempatnya.
"Kenapa kamu gak bilang kalau kamu tidak nyaman sama semua ini? Kenapa kamu gak bilang Mama kalau kamu—kamu punya ketakutan dan trauma akibat rumah tangga Mama yang tidak harmonis ini, Queen!"
Queen menggeleng, gadis itu menangis ketika Yuna mengguncang bahunya dengan kuat.
"Queen,kenapa!?"
"Karena Queen gak bisa, Ma! Mama selalu bersikap cuek bahkan dingin sama Queen, Queen gak leluasa buat cerita ini-itu sama Mama, Queen gak mau nambah beban Mama,"jawabnya sambil menangis.
Yuna mengerjapkan matanya yang kembali terasa memanas, dia melepaskan cengkramannya pada bahu Queen dengan lemah. Dia merasa menjadi Ibu paling egois di muka bumi ini karena masalah yang membuat anaknya menjadi trauma. Sebenarnya Yuna menyadari perlakuan dingin dan cuek dia terhadap Queen.
"Waw! Drama apa yang sedang aku lihat sekarang ini?"
Kedua perempuan itu mendongak menatap menatap Amar yang sekarang sedang bersandar di sisi pintu kamar dengan rokok yang berada di antara celah-celah jari tengah dan telunjuknya.
"Amar,"panggil Yuna pelan. Dia menatap Queen yang menatapnya dengan takut.
"Judul dramanya apa? Seorang Anak yang menceritakan keluh kesahnya kepada Ibu yang sama sekali tidak perduli? Oh atau, seorang Anak dan Ibu yang saling menceritakan keluh kesahnya satu sama lain?"
"Apa yang kamu ocehkan itu, huh? Aku tidak mengerti,"sinis Yuna sambil berdiri dari duduknya. Queen juga ikut berdiri, dia tidak mau menatap wajah Amar. Dia masih ingat saat Amar menamparnya dan melontarkan perkataan-perkataan yang menyakiti hati gadis itu.
"Ada apa Yuna? Tumben sekali kamu betah berlama-lama dengan anak ****** kecil kamu itu?"
Yuna membelalakan matanya, dia terkejut ketika Amar mengatai anaknya dengan sebutan ****** kecil.
"Jaga ucapan kamu, Amar!"
__ADS_1
Amar tersenyum sinis, pria brewokan itu menatap Queen yang sama sekali tidak berani menatap ke arahnya. Dia berjalan untuk sampai kedepan Yuna.
"Putri kesayanganmu itu ****** kecil, Yun! Menginap di rumah pacarnya, lalu pulang-pulang memakai baju cowoknya yang kaya raya itu. Mending sih kalau Queen di beri uang setelah... Yah tau lah ya anak muda jaman sekarang, tapi ini sama sekali tidak. Anakmu itu rela kehilangan mahkotanya daripada di tinggalkan oleh–"
"OM CUKUP!"sela Queen sambil mendorong Amar dengan kuat tapi pria itu hanya mundur beberapa langkah.
"QUEEN SAMA SEKALI GAK NGELAKUIN APA-APA SAMA KENAN!"teriaknya histeris.
Amar tersenyum senang ketika melihat anak tirinya itu menangis, dia menyesap rokoknya dengan tenang dan menghembuskan asapnya ke udara.
"Queen tenang!"ujar Yuna khawatir, dia memeluk anaknya yang terlihat sangat ketakutan.
"Queen sama sekali gak pernah ngapa-ngapain sama Kenan, Ma. Queen hiks gak ngapa-ngapain,"lirihnya sambil menggelengkan kepala pelan.
Kenan tidak pernah macam-macam kepada Queen, cowok itu masih menghargai Queen sebagai wanita meskipun dia terkadang memperlakukan Queen dengan kasar.
"Oh ya? Gak pernah ngapa-ngapain tapi kenapa kamu mau saja menginap di rumah pacar kamu, huh?"tanya Amar sinis.
"Amar cukup!"bentak Yuna sambil menatap tajam suaminya.
Amar menaikan satu alisnya, pria itu tidak suka jika Yuna berprilaku seperti ini kepadanya. Dengan cepat pria itu menarik Yuna dari pelukan Queen dan dengan tega menempelkan rokoknya yang masih menyala kepada telapak tangan Yuna sehingga membuat wanita itu berteriak kesakitan.
Mata Queen terbelalak, tubuhnya mematung saat menyaksikan perbuatan Amar yang kejam terhadap Mamanya.
"Om cukup,"gumam Queen pelan. Gadis itu merasa tenggorokannya mendadak kering ketika melihat darah mulai mengalir dari telapak tangan Yuna.
"Ini akibatnya kamu menatap aku tajam dan membentak aku seperti tadi!"
"OM CUKUP. LEPASIN MAMA!"teriak Queen sambil berusaha melepaskan Mamanya dari Amar, dia menangis ketika melihat Mamanya kesakitan seperti itu.
"BERANI KAMU SAMA SAYA, HUH!?"
Plak!!
"JANGAN BENTAK QUEEN, ********!!"teriak Yuna setelah menampar pipi Amar dengan keras.
Queen terpaku di tempatnya, gadis itu mendadak takut saat melihat Amar menatap Mamanya dengan marah.
"Berani kamu menampar saya, iya?"tanyanya pelan namun tajam.
"Kenapa aku harus tak–"
Plak!
__ADS_1
Plak!
Plak!
"MAMA!!!"teriak Queen histeris saat melihat Amar melayangkan tamparan kerasnya berkali-kali kepada Yuna yang sudah terjatuh ke lantai.
"BERHENTI OM, BERHENTI!!"
Bukannya berhenti, Amar malah semakin menjadi. Dia bahkan memukul bahkan menendang tubuh Yuna dengan teganya. Queen menangis saat melihat darah keluar dari mulut serta hidung Mamanya.
"Kamu lihat ini, Queen? Lihat Mama kamu ini!Kamu juga akan seperti ini jika berani melawan saya!"seru Amar sambil menyeringai lebar.
"Om jahat! Gak punya hati. Biadap!"teriak Queen sambil mencengkaram baju Amar dan menggoyangkannya.
Yuna terbatuk-batuk, dia menatap sayu anaknya yang sedang memukul-mukul tubuh kekar Amar dengan kuat. Matanya terbelalak, saat melihat Amar bersiap membawa vas bunga yang berada di meja rias Yuna. Dia berusaha bangun lalu dengan sekuat tenaga mendorong tubuh anaknya sehingga kening Queen terbentur ke lemari jati.
PRANG!
Mata Queen yang semula terpejam lantas terbuka saat mendengar pecahan kaca yang terdengar sangat keras, gadis itu menengokan kepalanya ke belakang dan itu berhasil membuat matanya melotot bahkan bibirnya terbuka karena terkejut melihat apa yang di lihatnya.
"Ma-Mama,"panggil Queen pelan.
Amar mematung, pria itu melirik tangannya yang terkena darah dan Yuna yang sudah tergeletak di lantai dengan darah yang sekarang sudah keluar dari kepalanya. Dia menenguk salivanya dengan kasar dan berlari keluar rumah.
Queen terpaku di tempatnya, dia berjalan pelan ke arah Mamanya. Dia tidak perduli saat telapak kakinya terkena pecahan vas bunga yang bertebaran di lantai.
"Mama ini Queen,"ucapnya pelan setelah terduduk di samping Yuna yang tergeletak di lantai.
Tangis Queen pecah saat Yuna sama sekali tidak menjawab ucapannya, mata wanita itu tertutup rapat.
"MAMA, MAMA INI QUEEN, MA! INI QUEEN. MAMA BANGUN, OM AMAR UDAH PERGI. OM AMAR UDAH PERGI MA. MAMA!"
"Astagfirullah, Neng Queen. Ada apa ini?"
Queen mendongak, dia menatap Bu Dalimah–tetangganya yang terbelalak melihat keadaan Yuna. Wanita itu berlari ke luar rumah sambil berteriak meminta tolong, lalu warga datang dan masuk ke rumah Queen. Mereka sama terkejutnya ketika melihat keadaan Yuna.
"Bawa ke Rumah Sakit sekarang!"seru Pak RT sambil menyuruh dua orang pemuda mengangkat tubuh Yuna.
"Pake mobil saya aja Pak, tunggu di depan dan saya akan membawa mobil saya dulu di rumah!"ujar salah satu warga sambil berlari.
Queen hanya mampu menangis. Gadis itu bangun ketika Bu Dalimah mengangkatnya, dia berjalan pelan mengikuti langlah Bu Dalimah yang membawanya ke depan rumah. Dia masuk ke dalam mobil dan memangku kepala Yuna yang bersimbah darah, gadis itu menangis sambil mengusap wajah Mamanya.
...||||...
__ADS_1
Kira-kira Yuna bakal tetap hidup apa nggak ya???