
"Kak Tegar!"
Tegar yang semula sedang berjalan bersama Verrel pun menengokan kepalanya ke belakang, bibir tebalnya mengembang ketika melihat sosok gadis mungil yang menjadi pacar sahabatnya itu.
"Gue aduin Kenan kalau sampe tu bibir senyumnya tambah lebar ya,"ancam Verrel sambil menyeringai.
Tegar menatap horor teman sengklek yang berada di sisinya. Bisa gawat urusannya jika Verrel benar akan mengadu kepada Kenan soal dia yang tersenyum lebar kepada pacarnya. Dia masih sayang bibirnya, dia tidak mau bibirnya itu terluka oleh kepalan tangan mematikan dari Kenan.
"Awas aja kalau lo sampe aduin gue, ya!"desis Tegar sambil melotot.
"Biarin, terserah gue ini ya mau aduin atau nggak jug–"
"Kak!"
Ucapan Verrel terpotong saat lagi-lagi suara lembut milik Queen memanggilnya. Sontak kedua cowok tampan itu tersenyum saat sosok Queen sudah berada di hadapan mereka.
"Apa, Dek? Kok tumben manggil-manggil Kakak,"ujar Tegar sambil tersenyum manis.
"Alay dasar,"cibir Verrel pelan.
Queen tersenyum. "Kakak liat Kenan nggak?"
"Oh Kenan! Dia ada di–"
"Sumpah ya, Queen! Kok cuma Tegar doang yang di sapa, gue nggak? Gak sopan itu,"potong Verrel dengan raut wajah yang di buat kesal.
Seolah baru tersadar, gadis yang memakai tas ungu itu cengengesan. Dia merasa tidak enak dengan sosok Verrel yang sekarang sudah terlihat sebal.
"Hola Kak Verrel yang tampan... Tapi tampanan Kenan! Maaf atuh, soalnya tadi gak keliatan,"ujar Queen dengan mencolek lengan Verrel pelan.
Tegar menahan tawanya, sementara Verrel sudah terkejut dengan apa yang di ucapkan Queen dengan nada tidak berdosanya itu.
"Badan gue segede gini dan gak keliatan sama mata lo itu!?"tanya Verrel histeris.
Sebagian murid yang berada di koridor sekolah menghentikan langkah mereka ketika suara keras Verrel terdengar. Queen hanya bisa cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ngakuin juga ya lo, Rel. Bagus deh lo nyadar kalau badan lo itu gede!"seru Tegar sambil tertawa.
Verrel mendengus sebal, dia mengangkat tangan kanannya lalu di arahkan ke arah Tegar.
"Maksud gue itu. Gede tapi berotot!"balas Verrel tidak mau kalah.
"Halah, Gak mau kalah dasar lo!"
Queen mengerutkan keningnya, dia memanggil Tegar bukan bermaksud untuk menonton perdebatan Kakak kelasnya. Dia ingin menanyakan keberadaan Kenan, karena cowok itu menitipkan pesan kepada teman sekelasnya untuk menyuruh Queen pulang bersama Kenan.
"Stop!"
Tegar dan Verrel terdiam, mereka dengan kompak menengokan wajahnya ke arah Queen yang sudah terlihat kesal.
__ADS_1
"Gue kesini itu buat nanyain keberadaan Kenan, bukan liat kalian paomong-omong kayak gini!"ketus Queen sambil berkacak pinggang.
"Verrel duluan nih, Queen!"
"Lo yang duluan monyet!"
"Lo kuala, lo, lo, lo,lo–"
"Gue nangis nih!"seru Queen tiba-tiba.
Verrel terbelalak, dia dengan cepat mengusap bahu Queen dengan lembut di sertai senyuman manisnya.
"Jangan nangis dong Ratu, bisa abis ntar gue sama Kenan,"ujarnya lembut.
Queen mendelik, dia menghempaskan tangan Verrel yang berada di bahunya.
"Yaudah sekarang jawab dimana Kenan!"
"Di Cafe yang ada di depan sekolah Queen,"jawab Tegar.
Queen mengangguk, dia berlari meninggalkan Tegar dan Verrel setelah mengucapkan kata terimakasih.
... ||||...
Suasana Cafe yang tidak terlalu ramai oleh pengunjung membuat Kenan nyaman duduk menanti Queen di pojok Cafe, dia memainkan ponselnya sambil menyesap ice milonya dengan tenang.
"Kenan!"
Kepala Kenan mendongak, sebelah alisnya naik ketika melihat sosok gadis berseragam ketat yang tengah tersenyum ke arahnya. Tanpa di minta gadis itu duduk di hadapan Kenan.
"Tumben sendirian, pacar lo kemana?"tanya gadis itu dengan alis yang sedikit terangkat.
Kenan menatap gadis di hadapannya dengan datar, cowok tampan yang kancing seragam atasnya terbuka dua itu menatap sinis gadis di hadapannya.
"Bukan urusan lo kan, Kristal!"desisnya tajam.
Gadis bernama Kristal itu berusaha menarik bibirnya ke atas agar membentuk sebuah senyuman manis yang di tujukan untuk Kenan. Kristal menatap mata tajam itu.
"Jutek banget jawabnya. Dulu aja lo gak jutek kok waktu gue nanya sama lo, inget ka–"
"Itu dulu, *****! Bukan sekarang,"potong Kenan sinis.
Kristal terdiam, dia sedikit kesal ketika Kenan mengatainya *****.
"Oke, gue tau itu dulu Kenan. Tapi, bisa dong kita ngulangin masa-masa dulu lagi. Kayaknya seru kalau kita ngulang waktu dimana lo selalu antar-jemput gue sekolah, waktu kita jalan bareng, waktu kita main ke Club bareng, minum bareng, dan.. waktu dimana kita ngabisin malam bersa–"
"Permisi!"
Kenan dan Kristal spontan menengokan wajahnya ke arah seseorang yang memotong ucapan Kristal. Mata Kenan hampir saja keluar saat melihat Queen sudah berdiri di samping meja yang di tempati Kenan dengan senyum gadis itu yang terlihat di paksakan. Oh jangan sampai gadis itu mendengar perkataan Kristal!
__ADS_1
"Queen,"lirih Kenan.
Kristal melebarkan senyumnya, gadis itu berharap bahwa Queen mendengar apa yang dia ucapkan tadi. Dengan bakat aktingnya, Kristal menampilkan ekspresi ramah serta bersahabat.
"Hai, Queen! Berdiri di situ dari kapan?"
Queen gelagapan, gadis itu mengulum bibirnya yang terasa sangat kering. Sebenarnya Queen mendengar perkataan Kristal yang cukup membuat hati Queen terluka, tapi dia tidak mau membuat suasana panas nantinya.
"B-baru! Baru banget kok Kak,"jawabnya sambil tersenyum.
Kristal menaikan satu alisnya, jelas sekali pacar tersayangnya Kenan itu berbohong. Tidak mungkin Queen baru berdiri di samping meja tapi ekspresi dia saat memotong pembicaraan Kristal terlihat tidak nyaman seperti itu.
"Kita pulang ya Queen,"sahut Kenan sambil bersiap membawa tasnya yang dia simpan di kursi.
"Wait dong, Kenan! Sabar, baru juga pacar lo nyampe. Lagian gue belum ngobrol sama Queen,"tahan Kristal sambil tersenyum penuh arti.
Kenan menggeram, dia menatap tajam gadis berseragam ketat itu.
"Gak pantes lo ngobrol sama pacar gue yang derajatnya lebih tinggi dari pada cewek kayak lo,"ujar Kenan pelan.
Kristal hanya terdiam, dia memperhatikan raut wajah marah Kenan yang di tujukan untuknya.
"Wow,"gumamnya pelan.
Kenan menghela nafasnya, dia menatap Queen yang juga sedang menatapnya dalam diam. Dia tahu, di balik tatapan itu ada perasaan ingin tahu serta sakit hati dan tidak nyaman karena kehadiran Kristal serta... Omongan Kristal tadi yang di potong oleh Queen.
"Kita pulang!"tegas Kenan sambil menggandeng tangan Queen.
"Queen!"panggil Kristal ketika kedua pasangan itu baru berjalan sekitar dua langkah.
Queen menengokan kepalanya ke belakang, dia tersenyum canggung ketika menatap Kakak kelas yang menjadi idola di sekolahnya serta menjadi gadis yang di cocok-cocokan dengan Kenan.
"Iya, Kak?"tanya Queen sopan.
"Lo sesekali tanya sama Kenan, apa aja yang gue serta dia lakuin selama kita deket. Oh ya! Dan tanya juga, siapa sosok si murid pintar yang sekarang lagi pertukaran pelajar di Jepang buat Kenan."
Kening Queen mengerut, dia sudah membuka mulutnya untuk menjawab perkataan Kristal yang dia tidak mengerti apa maksudnya. Tapi tangan Kenan membawanya pergi menuju kasir, setelah membayar minumannya cowok itu pun membawa Queen ke mobil.
Kristal tersenyum puas, gadis itu duduk kembali di bangku yang tadi dia tempati untuk mengobrol bersama Kenan. Gadis itu menatap minuman Kenan yang tersisa setengah, lalu dia meminumnya dengan perasaan senang serta puas karena sudah berkata yang akan membuat Kenan marah nantinya.
"Beberapa bulan lagi Kristal, sabar. Karena sabar, lo bakal dapetin Kenan lagi!"desisnya dengan tersenyum licik.
......||||......
Jujur yaa, aku sendiri gak suka sama sifatnya Kristal di sini wkwk.
*Translate
Paomong-omong itu artinya kayak adu argumen gitu*.
__ADS_1