
Mata Queen belum bisa terpejam walau jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam. Gadis itu malah duduk termenung di kasurnya sambil memegangi ponsel yang menampilkan kontak Kenan.
Pikirannya tertuju pada Kenan yang belum juga pulang hingga sekarang, dia tahu Kenan sedang marah kepadanya karena kejadian di kantin sekolah tadi. Tapi kenapa Kenan tidak pulang juga? Queen khawatir bila terjadi sesuatu pada Kenan.
"Ken kamu kemana sih?"gumam Queen sambil menempelkan ponsel pada telinga kanannya.
Tersambung, tapi Kenan tidak mengangkatnya. Queen tidak menyerah, gadis itu terus menghubungi Kenan dengan perasaan sabar. Ada rasa bersalah juga marah di hatinya. Rasa bersalah karena mungkin Kenan menghajar Liam karena dirinya. Dan rasa marah karena cowok itu selalu emosi dan main pukul dalam mengambil sikap.
"Ck! Kemana sih?"
Mata Queen sudah berkaca-kaca, dia sangat mengkhawatirkan Kenan. Dia tidak mau Kenan terus seperti ini padanya.
Brak!
Queen tersentak kaget, gadis itu berdiri dari duduknya lalu berlari keluar kamar. Dia yakin itu Kenan. Dan benar saja, terlihat sosok yang sedari tadi di tunggu olehnya tengah duduk di sofa dengan bersandar pada badan sofa dan kepala yang menengadah lalu mata cowok itu yang terpejam.
"Ken,"bisik Queen sambil berjalan pelan menghampiri Kenan.
Dengan perlahan Queen duduk di samping Kenan. Matanya menelititi penampilan cowoknya yang sangat berantakan, seragam sekolahnya sangat kusut. Kening Queen mengerut ketika pernapasannya mencium bau alkohol yang berasal dari tubuh Kenan.
"Kenan kamu mabuk?"tanya Queen terkejut.
Kenan masih terdiam dengan mata terpejam. Queen tahu Kenan tidak tepar di sini, cowok itu hanya sengaja mengabaikannya.
"Kenan! Kamu denger gak? Kamu mabuk ya? Kenapa sih Ken? Kenapa setiap kamu emosi kamu selalu ngelampiasin semuanya sama alkohol? Alkohol gak bakal nyelesaian semua-"
"Bisa diem gak sih!?"
Brak!
Queen tersentak kaget, dia membulatkan matanya yang berkaca-kaca ketika Kenan membentaknya. Terlebih cowok itu menendang meja berkaki pendek di hadapannya. Dia menatap Kenan yang saat ini menatapnya dengan penuh amarah.
"Gue pusing dengerin ocehan lo. Jangan sok perduli sama gue! Perduliin aja sana Liam lo yang bejat itu!"bentak Kenan dengan nafas memburu.
Tubuh Queen sudah gemetar, dia ketakutan ketika mendengar bentakan keras Kenan.
"Kamu kenapa sih Ken!? Aku nanya baik-baik sama kamu tapi kamu malah bentak-bentak aku kayak gini. Aku itu perduli sama kamu."
Kenan tersenyum sinis, dia mencekal pergelangan tangan Queen dengan kuat sehingga membuat gadis itu meringis dengan air mata yang mulai keluar dari matanya.
"Omongan lo itu bullshit,"desis Kenan sambil menatap tajam mata Queen.
"Ak-aku gak bohong. Aku ngomong jujur Ken... jangan kayak gini please. Aku takut,"pinta Queen sambil terisak.
"Takut? Lo ketakutan iya?"
__ADS_1
Queen mengangguk sambil menatap Kenan dengan memohon. Tangannya sudah sakit akibat Kenan yang mencekalnya dengan kuat.
"Kalau lo takut kenapa lo terus bertahan sama gue, hah!? Lo tau kan gue orangnya kayak gimana? Kenapa gak lo sama si anjing itu aja, hah!? Kenapa lo gak sama dia yang lebih lembut, perduli dan lebih segala-galanya di banding gue!?"
"Karena aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu."
Kenan tertawa sinis, dia menghempaskan tangan Queen dengan kasar.
"Sayang? Cinta? Lo itu cewek pembohong! Kalau lo sayang dan cinta sama gue kenapa lo selalu tolong si Liam? Kenapa lo selalu protes waktu gue nyuruh lo buat gak deketin Liam!? KENAPA LO LEBIH MILIH RANGKUL DAN NGOBATIN LIAM TADI PADAHAL COWOK LO SENDIRI JUGA LUKA, KENAPA!?"
Queen semakin terisak. Wajah Kenan memang terdapat beberapa luka lebam yang terlihat belum di obati sama sekali.
"Maaf."
"Gampang banget lo minta maaf dan gampang banget lo buat kesalahan!"
"Mau kamu apa sih, Ken!?"tanya Queen gusar.
"Mau gue?"
Queen mengangguk. Dia ingin masalahnya selesai secepatnya, dia tidak mau terus bertengkar terus-menerus dengan Kenan. Gadis itu capek.
"Bakal lo turutin, hah?"tanya Kenan sambil menyeringai.
Kenan menatap Queen dengan sayu. Tiba-tiba saja cowok itu menarik lengan Queen dan menyeret gadis itu agar mengikuti langkahnya. Dia memasuki kamar Queen lalu menghempaskan tubuh gemetar itu ke kasur milik Queen yang tidak terlalu besar. Kenan menindih tubuh Queen, dia menyimpan kedua tangan Queen di atas kepala gadis itu saat Queen terus berontak.
"Diem!"desisnya tajam.
Queen menelan ludahnya dengan susah payah, gadis itu sudah takut dengan posisi bahaya seperti ini. Sebenarnya Queen juga ingin muntah saat mencium bau alkohol di tubuh Kenan.
"Ka-kamu... kamu mau a-apa, Ken? Ja-jangan macem-macem."
Jari telunjuk kanan tangan Kenan membelai wajah Queen dengan pelan. Gerakannya menyusuri kening, mata, pelipis, hidung dan berhenti tepat di bibir bawah gadis itu.
"Ini yang gue mau, Queen! Milikin lo malam ini."
Kepala Queen menggeleng panik. Dia berusaha menarik-narik tangannya yang di cekal oleh tangan kiri Kenan di atas kepalanya. Demi apapun dia sudah ketakutan sekarang, sosok di hadapannya ini bukan seperti Kenan yang ia kenal.
"Nggak! Gak mau, Ken!"
Kenan menggeram marah, cowok itu mengcengkram dagu Queen dengan tanpa perasaan.
"Tadi lo bilang sendiri bahwa lo bakal turutin apa yang gue mau!"desis Kenan tajam.
Queen menangis. Gadis itu memang akan menuruti apapun yang cowok itu mau. Tapi bukan berarti dia akan menuruti Kenan jika kemauan cowok itu akan dapat membuat Queen membencinya sampai kapan pun.
__ADS_1
Kenan mendekatkan wajahnya. Dia tambah mencengkram dagu Queen ketika kepala gadis itu terus bergeleng-geleng. Dia bisa mendengar jeritan tertahan Queen ketika bibirnya membungkam bibir gadis itu. Dengan paksa Kenan menggerakan bibirnya tanpa memperdulikan Queen yang sudah menangis kencang.
Tangan cowok itu masuk ke dalam kaos milik Queen. Tangannya menyentuh daerah yang sama sekali tidak pernah di sentuh siapa pun. Queen menjerit takut, dia beberapa kali mencoba melawan namun bibirnya terus di bungkam oleh bibir Kenan.
Gadis itu semakin ketakutan karena Kenan tidak kunjung sadar telah melecehkan Queen seperti ini.
"Kenan, lepasin!"
Kenan tidak mendengarkan, cowok itu asik sendiri dengan kegiatannya.
"Kenan, please! Aku benci banget sama kamu sekarang. Kenan, lepasin!"seru Queen.
Tanpa di duga Kenan pun menjauhkan kepalanya dan matanya membulat saat melihat wajah kacau Queen sekarang.
"Qu–Queen...aku, aku–"
"Minggir!"desis Queen sambil mendorong tubuh Kenan untuk menyingkir dari atas tubuhnya.
Gadis itu membenarkan kaos yang di pakainya lalu dengan buru-buru, dia pun menarik koper kecil juga beberapa baju di lemarinya dengan asal-asalan.
"Kamu mau kemana?"tanya Kenan pelan.
"Aku mau pergi, aku gak bisa lagi di sini sama kamu. Aku muak Kenan,"jawab Queen sambil menahan isakannya.
Kenan mengerjapkan matanya, tanpa bisa di cegah dia memegang tangan Queen tapi yang ada malah gadis itu mendorong tubuhnya hingga mundur beberapa langkah.
"Jangan berani lagi kamu sentuh aku, Kenan!"
"Queen aku minta maaf, oke? Aku tadi gak sadar–"
"Kamu bohong! Harusnya kalau kamu mabuk kayak gini kamu masih bisa nahan buat gak lecehin aku!"
Kenan mengusap wajahnya dengan kasar. "SIAPA YANG LECEHIN KA–"
"Ya kamu! KAMU YANG LECEHIN AKU!"teriak Queen lalu gadis itu mendorong kopernya untuk cepat-cepat pergi dari sini.
"Aku minta ma–QUEEN!"
Kepalanya mendadak pening saat ingin mengejar Queen, cowok itu terduduk di lantai lalu memukul-mukul lemari yang pintunya masih terbuka.
"Kenan sialan!!!"
...||||...
Hayolo, Queen-nya pergi:)
__ADS_1