
Disebuah restoran tepatnya diruang outdoor restoran lantai tiga, sepasang kekasih masih beradu bibir.
Beberapa kali mereka menjeda ciuman untuk mengambil nafas karena hampir kehabisan oksigen.
Queen mendorong dada Darren, dia mengambil nafas banyak-banyak. Wajahnya merah seperti udang yang baru saja digoreng.
Baru kali ini ia berciuman selama ini dengan Darren. Dia membenamkan wajahnya didada bidang Darren. Gadis cantik ini dapat mendengar detak jantung Darren yang berdetak dengan sangat kencang. Begitupun dengan debaran jantung nya sendiri.
Queen mendongak, ia dapat melihat jika saat ini Darren tengah menatap wajahnya.
Mereka berdua hanya saling tatap dan tampak tidak ada satupun yang mau memulai sebuah obrolan. Suasananya menurut Queen begitu aneh karena ada kecanggungan disana. "apa dia masih marah?"
Darren mengusap bibir yang tadi dia cium dengan begitu lama. Sedikit merah karena beberapa kali ia menggigitnya karena masih terasa kesal.
Sekarang saat melihat bibir Queen yang memerah, ia malah merasa sangat bersalah "ayo kita menikah!"
deg
Mata Queen melotot saat mendengar ultimatum yang Darren ucapkan. Dia memang sudah tidak melihat kilat amarah dimata pria ini, akan tetapi terdengar suara yang tertahan. Sepertinya ia memang sedang berusaha menguasai dirinya agar tidak kembali meledak.
Queen menatap lekat wajah tampan kekasihnya yang saat ini tengah menatapnya dengan wajah yang serius "menikah?" tanyanya dengan suara pelan.
"ya! aku mau menikahimu segera. Kalau bisa besokpun aku mau" ujarnya menggebu. Akan ia jadikan Queen miliknya seutuhnya.
Melihat ada yang mendekati Queen saja hatinya terbakar, ia jadi merasa takut akan kehilangan gadis yang begitu ia cintai ini.
Dan untuk kedua kalinya. Queen membelalakan matanya saat mendengar ajakan menikah Darren.
"kenapa? kau keberatan menikah denganku?! apa kau ingin menikah dengan pemuda tadi sehingga kau selalu mengulur waktu saat aku mengajakmu menikah?" ucapnya dengan menatap tajam mata cantik Queen. Dia mengepalkan tangannya dengan erat. Emosi yang tadinya sudah reda mulai terpancing kembali.
Queen menggeleng dengan cepat "tidak! bukan begitu.." ujarnya segera membantah, atau nanti pria ini kembali salah paham. Queen menarik tangan Darren saat melihat tangan itu yang terkepal kemudian menggenggamnya dengan erat.
"lalu?" tanyanya dengan nada bariton yang begitu rendah. Dia tidak menolak tangannya yang digenggam oleh Queen.
__ADS_1
gluk
Queen menelan ludah saat melihat tatapan mata Darren begitu tajam dan mengintimidasi. Dia yang biasanya biasa saja entah kenapa sekarang merasa tertekan. Gadis ini memberanikan diri menarik tangan Darren, membawanya berjalan kearah tralis yang digunakan untuk pengaman lantai ini. Mereka duduk dikursi yang memang tersedia disana agar lebih nyaman untuk berbicara.
Queen menatap jalanan yang terlihat dari sana.
Meski ia tahu jika Darren masih marah, ia tidak melepaskan tangannya karena pria ini tidak menolaknya. Lalu Queen melirik Darren yang ternyata masih saja menatapnya dengan sangat tajam "jangan menatapku seperti itu" keluhnya, karena ia merasa seperti menjadi tersangka sebuah kejahatan dan sedang diintrogasi sekarang.
"kenapa? kau merasa bersalah ya?"
"ck.. merasa bersalah dari mana? aku juga tidak melakukan kesalahan" ujarnya santai, tapi saat melihat Darren memelototkan matanya gadis ini terkesiap.
"kau merasa tidak bersalah?" Darren rema-s tangan Queen. Tapi saat melihat gadis itu menyernyit ia mengendurkan nya kembali.
"apa? aku memang tidak melakukan kesalahan apapun" ujarnya berpura-pura bodoh saat melihat mata Darren yang semakin menyalang. Kalau digambarkan dibuku sudah Queen pastikan jika sekarang mata Darren pasti berapi.
"ck! kau kira aku akan mempercayai tingkah polosmu saat ini?"
Queen menggeleng sembari menghela nafasnya dengan panjang "baiklah.. aku tidak akan berpura-pura bodoh, jadi kau cemburu pada pemuda kecil tadi kan?" ujarnya dengan wajah yang serius.
"dia hanya pemuda kecil. Aku bahkan tidak menganggapnya sebagai seorang pria. Aku menganggapnya hanya seperti adikku saja"
"cih.. adik? kau sudah memiliki dua adik mau nambah lagi? kalau kau mau adik kau bisa minta pada orang tuamu!"
Mata Queen terbelalak mendengar ucapan ketus Darren "yang benar saja aku meminta pada mom dan dad" gerutu Queen tak terima karena tadi yang sebenarnya ia hanya mengumpamakan Bara seperti adiknya saja.
cetak
"aw.." pekik Queen saat keningnya disentil oleh Darren.
"kalau tidak mau kenapa kau malah menganggap orang asing seperti adik kecil?. Kau tahu bukan jika hati manusia hanya dia dan Tuhanlah yang tahu! Aku melihat dia menatapmu dengan pandangan memuja! Jangan berani main api Queen!"
Queen menunduk, memang ia salah karena tahu jika Bara memendam perasaan padanya. Tapi ini bukan seutuhnya adalah salah Queen karena saat ia hendak menolak keinginan Bara, tiba-tiba saja aunty Emily malah memperbolehkan ia untuk bergabung.
__ADS_1
Tapi kali ini Queen tidak mau melibatkan aunty Emily dalam masalah ini, ia tidak mau sampai hubungan antara ibu dan anak itu menjadi renggang karena masalah ini. "maaf" ucapnya dengan pelan penuh dengan penyesalan. Bukan hanya akting belaka karena Queen benar-benar merasa bersalah meski ini bukan kesalahannya seratus persen.
Darren yang awalnya kembali merasa kesal seketika terdiam saat melihat wajah Queen yang menunduk, ia tidak tega melihat gadisnya ini bersedih "sial.. kenapa aku selalu tidak tahan saat melihatnya sedih"
"maaf telah membuatmu marah. Tapi sungguh aku tidak bermain api dengannya" ujarnya dengan wajah yang semakin memerah, ia mendongak dan mata merahnya benar-benar membuat Darren tidak berkutik.
Ada rasa bersalah yang tiba-tiba muncul saat melihat wajah sedih Queen. Darren jadi menyesal telah membentak dan menekan gadisnya ini.
Pria tampan ini langsung menarik Queen kedalam pelukannya. Darren tidak mau sampai gadisnya ini bersedih.
"aku tidak hanya makan malam berdua dengannya. Kau tahu kan jika aku juga bersama dengan aunty Emily. mom mu" ujarnya dengan pelan. Queen melingkarkan tangannya dipunggung Darren dengan erat.
"aku tahu batasanku tuan. Aku memiliki tunangan sekarang. Jadi aku tidak akan menjalin hubungan dengan pria lain. Aku memegang prinsip setia didalam sebuah hubungan" ucap Queen lagi karena Darren masih saja diam. Tapi ia merasa jika Darren memeluknya semakin erat.
"begini kan seharusnya aku bersikap?" batin Queen berucap. Ia akan memberikan sugesti positif agar Darren tidak selalu over thinking padanya.
Darren hanya diam ,tapi ia mendengarkan Queen berbicara.
Elus-elus punggung Darren agar pria ini nyaman berada dipelukannya "tolong percayalah padaku. Aku tidak akan meninggalkan dan tidak akan menduakanmu. Aku berjanji"
"aku juga berjanji jika aku akan memberikan kesetiaan untukmu" batin Darren menimpali ucapan Queen. Dia semakin erat memeluk Queen.
"tuan?"
"hmm?" gumam Darren, ia akan mendengarkan semua ucapan Queen saat ini.
"a-aku tidak bisa bernafas!" pekik Queen dengan kencang membuat Darren terkesiap lalu melepaskan pelukannya. Tadinya ia kira Queen hendak meneruskan ucapannya, ternyata ia telah menyakitinya tanpa sadar.
Pria ini menatap wajah Queen dengan raut wajah penuh penyesalan saat melihat Queen yang sedang mengambil nafas dengan panjang "maaf" ucapnya dengan pelan.
Dan pada akhirnya masalah terselesaikan dengan cara saling terbuka dan mengutarakan apa kemauan satu sama lain. Disebuah hubungan memang kita harus mendengarkan penjelasan terlebih dahulu sebelum mengejudge buruk pasangan kita.
Dengan saling terbuka masalah akan mudah diselesaikan tanpa adanya kesalahpahaman yang lainnya lagi.
__ADS_1
***