QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
kepribadian yang sulit ditebak


__ADS_3

Melihat bagaimana karakter Karren sebelumnya. Louis merasa melihat orang lain ketika gadis itu sedang fokus mengerjakan lukisannya. Wajahnya yang cantik nan lembut semakin bersinar ketika ia bersikap baik. Tubuhnya mengeluarkan aura yang berbeda. Saat ini Karren terlihat jauh lebih dewasa dan begitu menawan.


Setiap gerakannya anggun, matanya yang sedang fokus memancarkan keindahan yang memabukkan. Louis merasa jika gadis yang beberapa saat tadi mengamuk dan gadis yang menggodanya bukanlah gadis yang sama.


Dia seperti berubah tiga ratus enam puluh derajat.


"Apa Darren menyukai Karren yang cantik seperti ini? Gadis yang selalu semberono namun dibalik itu semua ada keindahan yang menakjubkan?" batinnya mulai bertanya-tanya.


Sudah Louis pastikan pasti seperti itu. Darren menyukai gadis cantik dan anggun ini.


Namun hipotesa Louis salah. Darren malah tergila-gila pada sifat ceria Queen. Ucapannya yang nyeleneh selalu menghidupkan suasana. Hatinya yang sudah lama kering seperti dialiri air segar setelah mengenal gadis cantik yang saat ini masih diperhatikan oleh mantan sahabat Darren ini.


Louis tanpa sadar terus memperhatikan wajah cantik Queen cukup lama. Dia melihat gadis itu terus terfokus pada satu titik yaitu lukisan yang sedang dia buat. Meskipun dalan keadaan fokus, dapat Louis lihat ada binar berbeda diiris cokelat itu. Itu seperti binar gadis yang sedang jatuh cinta. Sebenarnya apa yang sebenarnya sedang ia lukis?


"ada apa Louis?"


Louis terkesiap saat tiba-tiba saja Queen mendongak dan menatap wajahnya. Mata mereka bersitatap beberapa saat sebelum akhirnya pria itu memutus kontak mata tersebut. Berdehem sekali untuk mengurangi rasa malunya setelah ketahuan memperhatikan gadis ini dengan begitu intens.


"apa aku terlihat cantik?" tanya Queen dengan suara menggoda, dia tersenyum usil kearah pria yang saat ini menatapnya jengah.


"Cantik dari mananya?"


"Dari segala sisi. Benar bukan? bahkan aku melihat sendiri jika kau terpesona tadi"


Louis mendengus "kau terlalu percaya diri nona"


"cih.. Masih mengelak. Padahal kau sudah ketahuan" gerutu Queen, kemudian ia kembali menatap lukisannya. "ah.. sungguh karya yang menakjubkan. Louis apa kau mau membeli lukisan ini?"


Louis yang awalnya acuh pada Queen kembali memperhatikan gadis itu. "lukisan jelek saja mau kau jual?" ujarnya mengejek. Louis tentu saja tidak percaya jika hasilnya semenakjubkan apa yang diucapkan oleh Queen.


"Bahkan kau belum melihatnya sudah berbicara seperti itu! Dasar tak berperasaan"

__ADS_1


Louis menatap lelah gadis itu "biarku lihat" ucapnya yang kemudian berdiri dari duduknya. Sejujurnya ia juga penasaran akan hasil lukisan gadis ini namun ia merasa gengsi untuk mendekat. Berjalan kearah jendela karena gadis itu melukis didepan jendela yang gordennya terbuka. Suasana desa terlihat jelas dari sana.


"Lihatlah.. indah bukan?" tanya Queen dengan bersemangat memperlihatkan lukisannya pada Louis. Dia sudah bersusah payah membuatnya.


Louis menatap jengah gadis yang sedang tersenyum manis padanya. Kalau saja dia bukan sandera yang cukup berharga, sudah ia lempar tubuh gadis ini keluar dari jendela. Dia menggeram kesal karena seharusnya ia bisa menebak saat melihat binar cinta dimata gadis ini barusan.


"kenapa kau terlihat kesal? aku sudah bersusah payah membuatnya dan kau tak bisa mengeluarkan pujian sedikit saja? kau benar-benar menjengkelkan"


"apa yang harus aku puji? kau bahkan menggambar musuhku! kalau ada yang menjengkelkan disini adalah dirimu!" ujarnya sembari menunjuk kening. Dia jengkel karena ternyata Queen menggambar wajah Darren. Wajah mantan sahabatnya yang sedang berusaha ia jatuhkan kedudukannya.


Braak


Tiba-tiba saja pintu kamar didobrak dari luar. Setelah terbuka masuklah seorang pria dengan aura membunuh menatap kearah mereka berdua "jauhkan tanganmu dari gadisku!!" ucapnya menekan. Dia adalah Darren.


Louis yang terkejut segera menjauhkan jarinya dari kening Queen, dia juga kemudian berdiri dengan tegak karena sebelumnya ia sedikit menunduk guna untuk melihat hasil lukisan Queen. Perintah Darren seperti mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.


Aura Darren begitu kuat ketika melangkah masuk kedalam kamar membuat Louis tanpa sadar malah mengikuti ucapannya. Alam bawah sadarnya seperti terbiasa akan perintah yang mutlak tersebut.


"Sayang.. Kamu datang?" tanya Queen riang. Dia berdiri dari duduknya. Namun sebelum ia mendekati Darren, Louis menahan tangannya.


Melihat hal itu Darren bertambah murka. Dia segera berjalan cepat dan memukul wajah Louis sekuat tenaga.


bug


Louis terjatuh kebawah. Sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Louis tak sempat menghindar karena Darren bergerak begitu cepat dan gesit. Dia menggeram dan mengusap sudut bibirnya "breng-sek!"


"kau yang breng-sek! menggunakan cara menjijikkan ini untuk melawanku? cih.. sampah!" ucapan yang keluar dari mulut Darren hanya cacian. Otaknya sudah dikuasai amarah sehingga kata-kata kasar itu keluar begitu saja.


Louis terkikik mendengar ucapan menyakitkan dari mulut Darren. Dia yang awalnya tertunduk mendongakkan wajahnya "aku memang sampah! sampah ini akan berubah menjadi monster mengerikan yang akan membuatmu menderita!" Louis berdiri, pipinya terasa kebas dan sakit. Darah terasa anyir saat masuk kedalam mulutnya.


"anjing saja setelah diberi makan oleh majikannya, dia akan setia. Tidak seperti kau dan Tristan! Kalian malah menggigit orang yang selama ini baik dan melindungi kalian. Kalian memang lebih rendah dari binatang!"

__ADS_1


Louis melotot mendengar ucapan Darren yang semakin menyakitkan. Dia masih diam, namun tangannya terkepal erat.


"Akan kuperlihatkan bagaimana cara kerja dunia hitam ini, agar kau membuka mata dan tak akan berani macam-macam lagi! apalagi sampai berani menggunakan orang-orang terdekatku untuk mengancam" setelah berucap seperti itu, Darren melirik Queen yang hanya diam melihat mereka berdua.


"baji-ngan! kau benar-benar membuatku marah Ren!" setelah berucap seperti itu, Louis berlari mendekati Darren. Tangannya mengambil sesuatu didalam saku celananya.


Melihat Louis yang terlihat murka, Darren tak akan lagi diam. Dia akan melupakan hubungan mereka dulu. Dia sudah terlanjur kecewa dan marah akibat perbuatan Louis dan dad nya.


Matanya yang tajam menyadari jika Louis mengambil pisau lipat, ketika Louis semakin dekat Darren menghindar kemudian menendang punggung Luois sehingga pria itu kembali tersungkur.


"Dengan kemampuan mu ini aku mulai mengkhawatirkan nyawamu"


Louis menoleh kearah Queen saat mendengar gadis itu berbicara. Gadis yang sedang menyandarkan punggungnya ketembok itu terlihat berbeda. Jika tadi ia melihat kecantikan Queen ketika ia sedang melukis, sekarang kondisinya berbeda. Queen yang anggun itu terlihat mengintimidasi jika dilihat dari matanya yang sekarang berubah tajam.


Kenapa rasanya kepribadian gadis ini sulit sekali Louis ditebak?


"Jangan menatap gadisku.sialan!" pekik Darren.


bug


"ahhhkk--" pekik Louis saat Darren menendang tubuhnya. Dia yang tadi teralihkan oleh Queen tak menyadari jika mata Darren semakin dingin dengan kilat amarah yang semakin membara.


Darren yang begitu posesif tentu saja tidak suka jika kekasihnya diperhatikan oleh pria lain. Dia menjadi gelap mata dan terus membabi buta. Louis yang awalnya masih bisa meladeni gerakan Darren lama-kelamaan kelelahan dan akhirnya dia semakin terpojok.


Setelah kembali tersungkur Darren trus memukul Louis padahal pria itu sudah terkapar tak sadarkan diri.


Umpatan terus keluar dari mulutnya, dia terus mengeluarkan cacian dan makian kearah tubuh yang sudah tak berdaya.


***


Aduh author kasihan sekali melihatmu Louis...

__ADS_1


__ADS_2