
"Lelah sekali" gumam Queen setelah mobil keluar dari area parkir butik. Gadis cantik itu memejamkan matanya sembari bersandar dengan nyaman dikursi mobil.
Matanya yang baru saja terpejam tiba-tiba terbuka kembali, dia menoleh kearah kursi driver dimana Darren yang sedang mengemudi. "Sayang.. Aku melupakan sesuatu"
Darren menoleh kesamping dengan alis mengernyit tajam "apa kamu meninggalkan barangmu dibutik? ceroboh sekali" ujarnya sembari mengurangi kecepatan mobil dan berniat untuk menepikan mobilnya.
Mendengar gerutuan Darren membuat Queen mencebikkan bibirnya "jalan saja! aku tidak meninggalkan apapun disana"
"Lalu apa yang kamu lupakan?" tanya Darren sembari menoleh dengan wajah penuh tanda tanya.
"Oma dan opa ku ingin sekali bertemu denganmu sebelum pernikahan. Apa kamu ada waktu untuk menemui mereka"
"Memangnya kamu masih punya opa dan Oma?"
Queen mendengus mendengar pertanyaan Darren barusan "oh astaga.. tentu saja masih, kalau tidak bagaimana bisa aku mengajakmu bertemu dengan mereka"
Darren hanya menarik sedikit bibirnya, dia tentu saja tahu hal itu ia hanya suka saja membuat Queen kesal. "Kalau begitu sekarang saja" ucapnya membuat keputusan, bertemu dengan mereka bukan hal yang menakutkan bagi Darren. Calon mertuanya yang galak itu saja bisa ia taklukkan apalagi kedua orang tua itu. Darren cukup percaya diri sekarang.
"benar?"
"tunjukan jalannya padaku"
Queen tersenyum dan mengangguk. Dia memberi tahu jalan mana saja yang harus Darren lewati untuk bisa sampai kekediaman opa Ibran dan Oma Marry. Jarak tempuh yang mereka lalui cukup jauh.
"Mereka berdua adalah orang tua mom Valey" Queen mulai bercerita. Sengaja ia mulai bicara agar suasana mobil menjadi hangat.
"Aku tahu"
Queen menoleh "bagaimana kamu bisa tahu?" ucapnya sembari menyernyit heran. Sepertinya ia belum memberi tahu kepada Darren tentang kedua orang tua mom nya.
"Suamimu ini sangat hebat, apa sih yang tidak bisa aku ketahui?" ucap Darren sembari tersenyum miring dan melirik Queen sekilas.
Queen melongo mendengar sikap arogan seorang Darren, ternyata selain dingin dia ternyata begitu sombong dan sedikit tengil? Melihat hal baru ini Queen sampai menatap calon suaminya dengan pandangan aneh.
"kenapa? tidak percaya?"
Queen menggeleng "bukannya tidak percaya, aku hanya heran saja dengan sikapmu yang seperti ini. Kamu seperti makhluk asing tau"
Darren menatap datar Queen, kelihatannya dia sangat tersinggung mendengar ucapan Queen barusan.
"Ah jangan marah sayang. Aku hanya terkejut sedikit kok" ucapnya sembari melendoti lengan Darren. Dia mengusal disana dan berharap Darren tidak lagi kesal. Tapi sikap tengil Darren barusan benar-benar lucu. Queen malah semakin suka jika Darren menunjukkan sisi lain dirinya padanya. Queen merasa jika Darren menganggap nya spesial sehingga Darren bisa bersikap seperti tadi.
"Aku tidak marah"
"bohong.. kamu bahkan melototi aku tadi"
"tidak"
"ck menyebalkan sekali" ucap Queen lalu dengan nakalnya ia menggigit lengan Darren.
__ADS_1
"Aw.. sakit Queen!" pekik Darren kemudian menatap jengkel kekasihnya.
Queen hanya terkikik lalu menjauhi tubuh Darren, lalu ia menjulurkan lidahnya untuk meledek calon suaminya "rasakan! nyebelin sih jadi orang"
Darren hanya bisa pasrah melihat tingkah absurd calon istrinya. Tingkah yang entah sejak kapan terasa begitu hangat karena mereka seperti tak berjarak jika candaan ringan seperti itu terjadi. Meski awal-awalnya Darren kesal namun seiring dengan berjalannya waktu pria tampan itu mulai terbiasa dengan tingkah konyol gadisnya ini.
"kenapa kamu diam saja?"
"lalu aku harus bagaimana? Apa aku juga harus membalas dengan menggigitmu?" tanya Darren tanpa menoleh, dia sedang fokus menyetir dan memperhatikan jalan.
Queen tersenyum usil lalu mendekatkan tubuhnya "boleh.. Kamu boleh menggigitku kok sayang~ mau disebelah mana?" Queen menyibak rambutnya kebelakang. "disini?"
Darren membelalakkan matanya saat Queen mulai menunjuk-nunjuk lehernya. Lalu dia mendorong kepala calon istrinya menjauh. "Jangan gila! aku sedang menyetir" mendapat serangan mental seperti itu membuat Darren terkejut bukan main. Jantungnya bahkan mulai berdetak kencang.
"jadi kamu mau menggigitku nanti setelah mobil berhenti?" Queen semakin gencar menggoda pria datar yang sedang menyetir ini, mau ia lihat sampai dimana batas kesabarannya. "aduh aku jadi tidak sabar deh.."
Darren hanya diam dan mengabaikan ucapan Queen.
"Sayang.. mau disebelah mana? ayo katakan" Queen menggoyangkan lengan Darren minta untuk diperhatikan.
Darren menoleh dan menatap tajam Queen "Queensha Karren Bramantyo!! diamlah atau aku akan benar-benar menggigit seluruh tubuhmu setelah mobil ini berhenti "
gluk
Mendapatkan ancaman yang terlihat serius, Queen menelan salivanya susah payah. Darren akan benar-benar merealisasikan ucapannya jika dirinya terus menerus memprovokasi pria ini. Queen menjauhi tubuh Darren dan duduk dengan tegap.
"Pakai sabuk pengamanmu" ucapannya pelan namun dengan intonasi rendah, sehingga Queen dengan buru-buru memakai sabuk pengaman nya "Good Girl" puji Darren sembari tersenyum.
Darren adalah pria dewasa yang tidak munafik jika ia memiliki keinginan pada tubuh Queen karena ia sangat menyukai gadisnya ini.
Maka ia sering kali hampir kebabalasan jika sedang bersamanya. Digoda seperti tadi saja tubuhnya mulai panas dan sesuatu yang lain mulai bangkit. Butuh beberapa saat untuk bisa meredakan panas pada tubuhnya dan Darren kembali melirik kekasihnya yang hanya diam saja sejak ia perlakukan dengan tegas tadi. "kenapa kamu diam saja?"
Queen menoleh dan menatap wajah Darren "kamu menakutkan, sama seperti daddy" ucapnya jujur. Queen memang merasa aura yang dikeluarkan Darren benar-benar kuat sama seperti dad Arsen. Dia tidak bisa berkutik dan menuruti ucapannya tanpa banyak berkomentar lagi. Queen merasa jika Darren benar-benar sudah bisa menjinakkannya padahal ia hanya menekannya dengan kata-kata pelan.
"maaf" ucap Darren dengan nada menyesal, dia menggenggam tangan Queen. Menariknya mendekat dan mengecupnya pelan.
Queen hanya diam dan menarik kedua sudut bibirnya sedikit sekali. Sepertinya ia sedang merencanakan sesuatu.
"aku benar-benar takut" ucapnya pelan dan sok lemah. Dia menggenggam tangan Darren dengan erat sekali seolah dia benar-benar ketakutan.
"maaf.."
"kamu jahat sekai"
"maaf"
"apa kamu tidak sayang aku lagi?"
"sayang" ucap Darren semakin panik.
__ADS_1
"apa kamu sudah tidak cinta aku lagi?"
"cin--" ucapan Darren terhenti saat menyadari sesuatu, dia menoleh dan mendapati wajah Queen yang tersenyum miring kearahnya. Dia yang tadi merasa bersalah berubah kesal.
"hahaha... kamu apa sayang?"
"ck.. sia-sia saja aku merasa bersalah padamu!" gerutu Darren.
Dan sepanjang jalan Queen terus menerus menggoda Darren. Sampai mobil berhenti didepan sebuah pagar besi yang cukup tinggi.
"tolong buka jendelanya sayang"
Darren membuka jendela mobil sesuai perintah Queen "untuk apa--"
"Oii petugas keamanan.. Queensha yang cantik jelita dataaang buka gerbangnyaaaa"
Ucapan Darren terpotong saat tiba-tiba saja Queen berteriak kencang sekali. Kepalanya ia sembulkan keluar melewati jendela mobil.
"Hey!! apa kamu sudah tidak waras?" tanya Darren , dia menarik Queen agar duduk dengan tenang.
"Aku memang lupa belum minum obat" seloroh Queen.
Darren melengos saat Queen malah mengiyakan ucapannya barusan "Biar aku yang keluar memanggil petugas keamanan untuk membukakan pintu gerbang"
"tidak usah"
Queen memberi isyarat kearah pintu gerbang dimana ada seseorang yang sedang membukakan pintu untuk mereka.
Darren hanya melongo dan menatap wajah Queen.
"Cepat maju"
Darren mengangguk lalu menginjak pedal gas pelan saat pintu gerbang sudah terbuka lebar. Dia cukup heran karena para keamanan didalam mendengar teriakan Queen barusan.
"Selamat sore nona" sapa seorang security.
"sore,, tambah lebar aja ya pak"
Pria berbadan besar itu secara spontan memegang keningnya yang memang rambutnya semakin lama semakin rontok hingga ia mulai terlihat botak meski hanya dibagian depannya saja.
Queen memecahkan tawanya ketika melihat reaksi tersebut.
"anak nakal" ucap Darren sarkas.
"hehehe... dia itu musuhku sejak kecil, jadi puas rasanya bisa mengatainya tadi" ucap Queen ketika mendengar gerutuan Darren .
"musuh?"
"ya.. waktu aku kecil, aku selalu saja ketahuan olehnya saat mau ka--" ucapan Queen terhenti ketika menyadari bahwa ia hampir saja keceplosan dan memberitahukan kenakalannya waktu kecil "ah lupakan saja"
__ADS_1
Darren menatap datar gadisnya, tentu saja ia bukan pria bodoh yang tidak tahu apa maksud ucapan Queen barusan. Calon istrinya ini memang nakal sejak dari kecil. Itu adalah fakta.