
Kenan tidak ada di rumah lagi, padahal ini hari Sabtu. Kantor pun tutup, lalu apa alasan Kenan yang memilih untuk keluyuran sedari siang sampai hari sudah malam begini?
Perubahan pada laki-laki itu semakin menjadi. Nanda hampir tidak mengenali sosoknya yang dulu sangat hangat dan selalu meluangkan waktu untuk keluarga.
"Mama..."
Nanda menunduk, melihat Arthur yang berada di dekapannya. Saat ini dia sedang berada di kamar Arthur untuk menemani bocah tampan itu, karena katanya Arthur sedang susah untuk tidur.
"Ya Sayang, kenapa?" tanya Nanda dengan suara lembutnya.
"Papa ke mana sih, Ma? Aku udah lama gak main sama Papa."
Nanda terpaku, merasa bahwa seketika hatinya seperti di remas oleh tangan besar yang kasat mata.
"Papa kan sibuk kerja."
"Sabtu juga, ya? Arthur udah jarang banget liat Papa di rumah, Ma."
Nanda ingin menangis saat mendengarnya, tetapi sebagai seorang Ibu tentu dia tidak boleh terlihat lemah di hadapan anak. Lagipula Nanda tidak mau Arthur memikirkan hal yang tidak-tidak, Nanda ingin anaknya ini bahagia tanpa memikirkan apa pun.
"Akhir-akhir ini Papa sibuk banget, gapapa ya Nak?" Nanda berusaha menghibur anaknya meski hatinya sendiri sedang menangis.
Nanda takut perubahan Kenan akan berdampak buruk bagi kondisi mental anaknya. Nanda takut Arthur akan merasa bahwa dia tidak mendapatkan kasih sayang dari Kenan lagi.
"Arthur kangen tidur sama Papa, Ma."
Nanda hanya tersenyum, lalu membawa Arthur untuk semakin lebih dekat agar bisa Nanda peluk dengan erat. Mata perempuan itu terpejam, menahan air mata agar tidak keluar dari tempatnya.
Tangan kiri Nanda menepuk-nepuk pelan punggung Arthur, berusaha membuat anak itu mengantuk lalu tidur.
__ADS_1
Sekitar beberapa menit kemudian, Arthur pun sudah mulai terlelap. Nanda bangkit dari tidurnya untuk melihat wajah sang anak yang sangat damai ketika tidur.
Senyum tipisnya hadir, dia mengelus pelan rambut Arthur.
"Mimpi indah ya, Sayang." Itu bisikan terakhir Nanda sebelum dia mengecup pelipis anak sulungnya dan pergi dari kamar Arthur.
Ketika Nanda keluar dari kamar Arthur ternyata Kenan baru saja selesai menaiki tangga.
Keduanya bertatapan dalam diam. Lalu Kenan yang terlebih dahulu memutus pandangan dengan masuk ke kamar.
Nanda hanya bisa menghela napas. Dia memenangkan diri terlebih dahulu sebelum akhirnya masuk ke kamar.
Perempuan itu melihat Kenan yang sedang membuka pakaiannya, bersiap untuk mandi.
Nanda memilih untuk mengambilkan handuk dan mendekati Kenan. Senyum tulusnya dia perlihatkan.
"Besok kamu free, kan? Kita ajak anak-anak jalan, yuk?"
Kenan terlihat berpikir dan itu membuat Nanda menghela napas. Dulu, Kenan akan langsung mengiyakan tanpa diam seperti ini.
"Kayaknya besok aku gak bisa."
"Apa yang bikin kamu gak bisa?" tanya Nanda.
Kenan berdecak. "Aku udah ada janji sama rekan bis—"
"Anak-anak kangen kamu. Mereka udah lama gak main sama kamu. Apa kamu gak punya sedikit waktu buat main sama mereka?"
Kenan menatap Nanda, tatapannya tajam.
__ADS_1
"Aku capek." Setelahnya Kenan pun berlalu dari hadapan Nanda.
Dengan kesabaran yang sudah tipis, Nanda mencekal lengan Kenan sampai laki-laki itu kembali menghadap ke arahnya.
"Capek? Kamu capek apa sih di waktu libur kayak gini?" tanyanya dengan volume suara yang sedikit naik, mata Nanda berkaca-kaca.
Kenan masih berusaha tidak terpancing emosi. Dia menarik napas, lalu melepaskan tangan Nanda yang berada di bisepnya.
"Aku baru pulang, dan aku mau mandi. Aku juga mau tidur. Aku capek, kalau kamu mau ngajak ribut ya nanti aja."
Nanda pun tersenyum miris. "Ini beneran kamu? Ini beneran Kenan yang aku kenal, kan?"
"Nan, please. Jangan mulai."
"Capek kamu bilang? Kalau pun harus ada yang bilang capek, ya itu aku! Aku yang berhak capek." Nanda menunjuk dirinya sendiri. "Aku capek liat kelakuan kamu yang jadi gak peduli gini. Aku capek sama kamu yang udah gak ada banyak waktu lagi buat aku bahkan anak-anak. Aku capek ... kamu selalu pulang malam."
"..."
"Aku gak masalah kok, kalau emang kamu udah gak peduli lagi sama aku. Aku gak masalah kalau kamu gak sayang aku lagi. Tapi Ken, please tetep peduliin anak kita. Aku mohon jangan abai sama mereka. Luangin waktu kamu buat ajak mereka main. Mereka kangen sama Papanya," ucap Nanda sembari mulai menangis.
Dia terisak di depan Kenan yang hanya diam mematung sembari menatap Nanda yang sudah rapuh.
Jika ini Kenan yang dulu, dia akan langsung memeluk Nanda dan menenangkannya. Dia akan meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.
"Aku gak bisa liat mereka dicuekin sama kamu, Ken. Aku gak bisa," ucap Nanda di tengah isakannya.
Kenan jujur saja sangat ingin meminta maaf, tetapi ntah kenapa lidahnya sangat kelu sekarang.
Lelaki itu dengan brengseknya mengabaikan Nanda dengan masuk ke kamar mandi. Dia membiarkan tubuhnya dibasahi oleh air, sementara di luar isakan Nanda semakin terdengar menyakitkan.
__ADS_1