
Pembicaraan Kenan dengan Queen di apartemen minggu lalu rupanya tidak bisa dilupakan begitu saja.
Terbukti, Kenan terus kepikiran. Dia bahkan sampai tidak fokus mengerjakan banyak hal, seperti bekerja contohnya. Kenan bahkan sempat mendapatkan teguran dari Papa Bagas.
Nanda juga merasa aneh dengan Kenan. Apalagi tatapan lelaki itu selalu beda ketika sedang memperhatikannya. Pernah Nanda menangkap basah Kenan yang sedang menatap ke arahnya, pada saat dia sedang mengasuh anak-anak di rumah.
Lelaki itu seperti gugup, lantas mengalihkan pandangan sembari menghela napas dengan gusar.
Ingin sekali Nanda bertanya apa alasan Kenan jadi seperti itu, tetapi dia terlalu malas. Kenan selalu pergi, seperti sebelum Alaia di rawat di rumah sakit.
Malam ini hujan sedang turun dengan derasnya. Nanda baru saja kembali ke kamar setelah berhasil menidurkan Arthur. Saat sampai ke kamar, senyum tipis Nanda terlihat ketika Alaia tengah tertidur dipelukan Kenan yang membelakangi pintu, jadinya Nanda tidak tahu lelaki itu sudah tidur atau belum.
Nanda bergabung ke kasur. Alaia berada di tengah-tengah mereka. Percayalah, situasi seperti ini sangat membuat nyaman.
Ada kehangatan yang terselebung, sementara di luar bunyi suara hujan terus terdengar.
Pada saat Nanda tengah tersenyum karena melihat interaksi suami juga anaknya, saat itu juga Kenan membuka mata.
Dia menatap Nanda yang langsung terdiam tanpa suara. Senyum Nanda perlahan hilang ketika Kenan hanya diam dengan mata sayunya itu. Tak ada suara yang terdengar dari mulutnya. Atmosfir yang tadi terasa menyenangkan bagi Nanda, mendadak malah berubah jadi suatu hal yang entah kenapa terasa menyakitkan.
Nanda bertanya dalam hening. Pertanyaan itu hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
Jenis tatapan apa yang Kenan layangkan untuknya? Itu jelas bukan suatu kehangatan yang Nanda rindukan.
"Kenan—"
"Kalau misal kita cerai, kamu gimana?"
Nanda tercekat, Kenan juga. Mereka berdua seperti baru saja mendengar kabar bahwa besok hari akan kiamat.
Wajah keduanya pucat.
Nanda yang masih tetap menjaga kewarasan, akhirnya berusaha terkekeh pelan. Matanya yang berkaca-kaca dia tutupi dengan senyuman di bibirnya yang sampai memperlihatkan gigi.
"Jangan bercanda, udah malam. Mending kita tidur—"
__ADS_1
"Aku serius. Kamu gimana kalau semisal aku minta pisah?" Lagi dan lagi, Kenan menyela ucapan Nanda.
Nanda menarik napas, masih berusaha tetap waras meski batinnya terasa semakin berantakan sekarang. Dia tetap tersenyum, tetap melihat Kenan dengan hormat dan penuh kasih sayang. Sedangkan yang ditatap, malah menampilkan wajah dingin tanpa ekspresinya.
"Kalau misal kita pisah, aku gak mau. Untuk saat ini biarkan aku egois dulu untuk mempertahankan rumah tangga kita buat anak-anak. Aku gak mau mereka ngerasain apa yang aku rasain, Ken." Nanda menarik napas, mengatur dirinya sendiri agar tetap dapat mengontrol diri. "Aku anak broken home, kamu sendiri tau itu. Kamu tau gimana sedihnya aku karena iri orangtua aku gak selengkap orang lain. Aku selalu nangis dan cerita ke kamu kalau aku pengen orangtua aku bersatu lagi."
"..."
"Aku gak mau Arthur sama Alaia ngerasain hal itu. Aku mau mereka bahagia, dengan keluarga lengkap dan utuh. Aku gak mau mereka sedih, Ken."
Kenan menatap lekat Nanda. Dia tahu betul bagaimana kehidupan perempuan itu, secara dia mengenal Nanda semenjak masih kecil. Saat mereka masih sibuk menonton tayangan kartun di minggu pagi.
"Kalau misal aku mencintai perempuan lain, terus mau nikahin dia gimana?"
Boom!
Rasa sakit itu akhirnya meletus juga, percikannya menyakiti setiap sudut hati Nanda sampai rasanya Nanda sulit untuk bernapas dan mencerna semuanya.
Kenan bilang itu semisalnya, tetapi ntah kenapa Nanda merasa bahwa secara tidak langsung Kenan sedang meminta izin kepadanya.
...••••...
Dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya dan menyembunyikan kedua matanya, Queen menyesap kopi yang dia pesan.
Perempuan itu menengok ke jendela besar yang menampilkan kesibukan jalanan di Ibu Kota pada siang hari ini.
Tidak ada beban apa pun di hatinya, padahal orang yang bernama Kenan sedang banyak pikiran karena ulahnya.
Ayolah, Kenan mengajak Queen menikah sedangkan dia sendiri sedang menyandang sebagai suami dari perempuan lain. Wajar kan, kalau Queen meminta Kenan menceraikan istrinya terlebih dahulu?
Bibir tipis perempuan itu tanpa sadar terangkat sedikit ke atas. Dia ... merasa senang.
Entah senang karena Kenan akan menikahinya, atau senang karena Kenan akan meninggalkan Nanda. Tetapi yang pasti, suasana hatinya sangat amat baik sekarang.
Sebutlah dia perempuan jahat, perempuan murahan, atau cacian apa pun yang menurut kalian pantas untuk disematkan kepadanya, tetapi Queen sama sekali tidak peduli dengan itu semua.
__ADS_1
Nanda sudah mengambil miliknya. Jadi wajar kalau Queen ingin meminta miliknya untuk kembali.
Tengah asyik menikmati siang hari dengan secangkir kopi, suara seseorang berhasil mengalihkan perhatian Queen.
Perempuan itu mendongak, alisnya terlihat naik saat menemukan pria yang nampak dewasa beberapa tahun di atasnya tengah mengamati Queen.
Dengan anggun, Queen pun melepas kacamatanya.
"Hai, siapa ya?" Queen bertanya ramah dengan nada lembut luar biasa.
"Mas Abi, masih ingat? Karyawan di kantor Papa kamu."
Mata Queen menyipit. Masih berusaha mengingat pria yang memiliki jenggot itu.
Seingatnya, Queen tidak pernah berkenalan dengan pria berjenggot di Indonesia.
"Kamu pernah minta tolong untuk tidak memberitahukan Papa kamu kalau siang hari itu kamu mampir ke kantor Papa kamu. Padahal kamu udah ada di depan pintu ruangan Papa kamu."
Barulah Queen ingat. Dia lantas tersenyum anggun dan mempersilahkan untuk Mas Abi agar duduk di hadapannya, yang memang kosong.
Keduanya terlibat obrolan, Queen sempat meminta maaf dengan tulus karena dia sempat lupa dengan Mas Abi.
"Oh, jadi kamu tinggal di sini juga? Sama dong! Tapi Mas baru saja pindah," kata Mas Abi yang lantas membuat Queen antusias.
"Semoga betah di sini ya, Mas."
Lantas keduanya pun kembali berbincang. Mas Abi ternyata sedikit menyenangkan, terbukti dari seberapa besar usahanya untuk terus menemukan topik sampai Queen sendiri merasa tidak keberatan menghabiskan satu jam untuk mengobrol dengan Mas Abi.
Rupanya Mas Abi masih menjadi karyawan di kantor Papanya, namun untungnya dia sudah naik jabatan.
Keduanya berhenti mengobrol saat kopi di masing-masing gelas yang mereka pesan sudah habis, mereka memilih untuk naik ke unit bersamaan.
"Loh, Mas tinggal di lantai sini juga?" Queen bertanya heran, sedangkan Mas Abi mengangguk.
Demi Tuhan, Queen bisa melihat ekspresi senang Mas Abi saat pintu apartemennya tak jauh dari pintu apartemen Queen.
__ADS_1