
Tidak terasa hari-hari berlalu begitu cepat dan minggu-minggu juga telah berlalu, saat ini SMA Garuda tengah di ramaikan oleh acara hari Ibu. Hari dimana semua anak akan mengucapkan ucapan Terimakasihnya kepada para Ibu yang telah melahirkan mereka, merawat bahkan mendidik mereka dengan sangat baik.
Queen hanya bisa tersenyum kecil ketika melihat bagaimana wajah teman-temannya yang bahagia ketika datang ke sekolah di sore hari ini dengan tangan yang merangkul bahu Ibu mereka. Ada perasaan iri yang menyelimuti hatinya, gadis itu ingin seperti mereka. Dia ingin merangkul dan pergi ke acara sekolah ini dengan Yuna.
"Bu, ini Queen. Teman dekat Dea,"ucap Dea memperkenalkan Queen pada Ibunya yang berhijab.
Queen tersenyum sopan, dia baru pertama kali bertemu dengan Ibu Dea. Dengan manis gadis yang terlihat cantik dengan gaunnya itu menyalami tangan Shifa–Ibu Dea. Ibu Dea hanya tersenyum manis, dia tidak menanyakan keberadaan Ibu Queen karena sudah di peringatkan oleh anaknya agar tidak bertanya mengenai Ibu Queen.
"Cantik sekali Queen. Manis ih, anggun lagi. Gak kayak Dea, udah cantik pakek gaun eh masih aja nampilin wajah juteknya,"ujar Shifa sambil sedikit cemberut.
Dea hanya mendelikan matanya, gadis itu memilih masa bodoh dengan sindiran halus Ibunya.
"Tapi Dea juga manis kok Bu. Dia baik sama Queen,"ucap Queen yang membuat Dea tersenyum bangga pada Ibunya.
"Ya bagus atuh Queen kalau gitu mah. Ibu juga senang kamu yang menjadi teman Dea."
Queen tersenyum lebar, dia melirik Dea. Memang, Dea itu adalah sosok sahabat yang di idamkan oleh Queen sedari dulu. Sahabat yang mampu mengerti dirinya, yang mampu menghiburnya di kala dia bersedih.
"Queen, gue sama Ibu mau ke wali kelas dulu ya? Ibu mau nerima laporan tentang gue selama sekolah di sini,"pamit Dea yang membuat Queen mengangguk.
Ibu Dea memang menyuruh wali kelas mereka untuk melaporkan sikap anaknya selama bersekolah di sini. Ibu Dea juga membayar wali kelas dengan gaji yang lumayan besar, maklum orang berada.
Queen menundukan wajahnya, dia tidak tahan juga jika harus melihat pemandangan para anak dan Ibu yang terlihat bahagia. Gadis itu merasa kesepian, Kenan masih berada di perjalanan bersama Kania untuk sampai kesekolah.
"Queen!"
Kepala Queen mendongak, bibirnya mengembang ketika melihat sosok wanita cantik yang tadi memanggilnya. Wanita yang tak lain adalah Kania itu memeluk Queen dengan erat. Queen membalas pelukan hangat dari Kania, matanya terpejam untuk mencegah air mata yang mungkin akan lolos keluar dari matanya. Dia rindu pelukan dari Yuna.
"Masa Bunda aku aja yang di peluk, akunya nggak nih Queen?"
Mata Queen terbuka, dia melirik Kenan yang sudah cemberut di samping tubuh Kania. Bibirnya mengeluarkan kekehan kecil namun sedikit serak yang membuat kening cowoknya yang tampan dengan balutan jas hitam itu mengernyit.
"Ih kamu ini, Ken! Sirik aja,"dengus Kania sambil melepaskan pelukannya dengan tidak rela.
Kania sangat rindu Queen. Dia tidak bertemu dengan Queen hampir seminggu. Kenan terus mengurung Queen di Apartmennya dan Kania yang sibuk mengurus Keano serta suaminya.
"Sini peluk pacarnya dulu,"suruh Kenan sambil melebarkan tangannya.
Queen tersenyum geli, mana berani dia memeluk Kenan di depan banyak orang seperti ini?
"Gak mau ah! Malu,"tolaknya yang berhasil membuat Kania tertawa.
Kenan mendengus, cowok itu mendudukan tubuhnya di bangku yang sudah di sediakan. Di sebelahnya ada Kania dan di hadapannya ada Queen. Kedua wanita yang sangat penting di hidupnya itu terlihat sangat cantik di matanya.
__ADS_1
"Kamu nyanyi jam berapa, Queen?"tanya Kania sambil membenarkan anak rambut Queen yang sedikit berantakan.
"Nanti jam setengah delapan, Tan."
Kania mendadak mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa malam sih, Queen? Jam segitu Tante udah harus pulang ke rumah buat siap-siap pergi ke Surabaya sama Om."
"Tante pergi ke Surabaya?"tanya Queen terkejut.
"Iya! Papa Ken yang mau tuh, dia ngotot minta Tante temenin ke Surabaya. Mana Keano harus ikut lagi,"ucapnya lesu.
"Nanti Kenan vidioin Queen yang lagi nyanyi. Bunda terima vidionya aja nanti,"timbrung Kenan yang sibuk memakan cup cake.
Mata Kania memicing, wanita itu menatap anaknya dengan penuh selidik.
"Bener ya? Awas kalau bohong. Bunda sunat lagi kamu,"ancamnya yang membuat Queen menahan tawa.
"Jangan dong! Nanti punya Ken abis."
...|||...
Tak terasa acara dimana semua anak meminta maaf dan berterima kasih pada Ibunya masing-masing dimulai. Queen hanya berusaha untuk menahan tangisnya dengan senyuman lebar ketika melihat suasana haru di hadapannya. Dia bisa melihat Dea yang menitikan air matanya ketika meminta maaf dan berterima kasih pada Ibunya, dia bisa melihat Givani yang menangis ketika mengungkapkan rasa kagum kepada Maminya, dia bisa melihat ekspresi haru para sahabat Kenan yang biasanya cuek bebek kini malah terdiam meminta maaf dan berterima kasih pada Ibunya masing-masing. Dan yang paling spesial, dia bisa melihat Kenan yang menatap Kania dengan pandangan kagum serta dengan mata yang berkaca-kaca ketika mengungkapkan betapa bangganya dia memiliki Ibu sebaik Kania.
Setelah acara berterima kasih pada Ibu masing-masing selesai, Kania memilih pulang ketika Bagas menghubunginya bahwa supir yang akan mengantar Kania pulang sudah menunggu. Sebelum pulang wanita itu memeluk Queen dengan sayang, mata wanita itu juga sembab.
"Tante sayang sama kamu Queen,"gumamnya sambil mengecup kening Queen dengan sayang.
Queen tersenyum, matanya sudah berkaca-kaca tapi dia enggan untuk menangis di hadapan semua teman-temannya.
"Queen juga sayang sama Tante. Makasih juga Tan,"ucap Queen yang membuat kening Kania mengerut.
"Makasih kenapa sayang?"
Mata Queen melirik Kenan yang diam memperhatikan interaksi antar Bunda dan pacarnya. Hatinya menghangat ketika melihat kedekatan mereka berdua.
"Makasih Tante udah ngelahirin Kenan. Makasih Tante udah ngejaga, ngerawat dan mendidik pelindung Queen dengan baik."
Kenan dan Kania terpaku di tempatnya, mereka terpaku karena ucapan manis Queen yang terlihat sangat tulus. Teman-temannya juga terlihat tidak menyangka bahwa Queen akan berbicara seperti itu.
"Kok aing baper ya, Gar?"gumam Verrel sambil memegang dadanya.
"Aing juga tersentuh sama kata-katanya,"gumam balik Tegar sambil menatap Queen kagum.
__ADS_1
Kania tersenyum lembut, wanita itu mengangguk sambil mengelus rambut halus Queen.
"Sama-sama sayang."
...||||....
Verrel, Tegar dan Dea terlihat sangat tidak sabar ketika menunggu giliran Queen untuk tampil menyanyi di atas panggung yang sudah di sediakan. Para orang tua sudah pulang semua, yang tertinggal hanya anak-anaknya yang sekarang sedang menikmati acara yang berlangsung. Dea sibuk dengan kamera ponselnya untuk merekam penampilan Queen dan di kirimkan pada Kenan nanti.
Sedari tadi penampilan band sekolah, dance dari ekskul dance serta tari-tarian sudah membuat para murid heboh dan berjoged ria di depan panggung. Queen memang ada di urutan paling akhir sebagai penutupan penampilan dari seluruh murid. Acara puncaknya di lanjut dengan DJ yang di undang oleh OSIS untuk semakin meramaikan suasana.
"CEPETAN QUEEN OI!! MCNYA JANGAN BANYAK OMONG NAPA?"teriak Verrel tidak tahu malu.
"Lain babaturan aing sia!"seru Tegar sambil tertawa.
Kenan, Givani, Andra dan Dea hanya tertawa melihat kelakuan kedua teman mereka. Sedari tadi memang MC yang tak lain adalah anak OSIS terus berbicara di atas panggung dan Verrel semakin di buat tidak sabar untuk melihat penampilan pertama Queen di sekolah ini.
"Si Queen di iringin sama siapa?"tanya Andra penasaran.
"Sama Kak Liam,"jawab Givani yang membuat Kenan tersentak.
"Liam? Serius?"tanya Kenan tak suka.
Givani mengangguk.
"Iya Kak Liam. Kak Liam di tunjuk sama pembina ekskul musik buat dampingin Queen main gitar dua hari yang lalu,"jelasnya sambil menatap mata Kenan.
"Shit!"
"KALAU GITU TIDAK USAH MENUNGGU TERLALU LAMA LAGI ATUH YA! KITA SAKSIKAN PENAMPILAN DARI QUEEN SEBAGAI PENUTUP PENAMPILAN DARI MURID YANG TADI TAMPIL KE DEPAN! JANGAN PADA BUBAR DULU NANTI SETELAH PENAMPILAN INI, KARENA NANTI BAKAL ADA DJ YANG BUAT KALIAN HARUS GOYANG SEMUA. OKE!?"
"OKE!!"sahut semua murid antusias.
Kenan terdiam, pandangannya tajam ketika melihat Queen dan Liam yang bersiap-siap di atas panggung sana. Liam terlihat duduk di bangku yang di sediakan dengan gitar yang berada di pangkuannya. Sementara Queen berdiri.
Tak lama suara gitar yang di petik membuat suasana sunyi, suara petikan gitar itu sangat lembut dan enak di dengar. Tak lama suara lembut milik Queen mengalun indah sehingga membuat sebagian murid terbawa suasana. Tak sedikit pula yang ikut bernyanyi seperti Verrel, Tegar dan Dea yang bernyanyi dengan mata berkaca-kaca.
...||||...
*Translate
Aing itu artinya aku.
Lain babaturan urang maneh mah, artinya bukan temen aku kamu mah*.
__ADS_1