
Tak terasa sudah empat hari lamanya Queen, Kenan dan teman-teman mereka berlibur di pulau ini. Banyak yang mereka lakukan di sana, salah satunya adalah bakar-bakar daging di halaman Villa lalu berenang di sisi pulau.
Tawa terus menggelagar keluar dari mulut masing-masing karena mendengar candaan yang di keluarkan oleh Verrel serta Tegar. Ini yang akan selalu di rindukan oleh Queen, kebersamaan ini yang akan gadis itu rindukan nanti setelah dewasa dan pastinya mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing.
"Gila, Queen! Foto lo sama Kenan yang lo unggah di Instagram banyak banget komenannya,"seru Dea sambil memperlihatkan postingan yang tadi siang Queen upload ke Instagramnya.
Queen mendengus geli lalu mengambil ponselnya dan mengotak-ngatik benda canggih tersebut. Dia meringis kala melihat komentar-komentar jahat yang di lontarkan untuknya.
Gak pantes ****!!
Ahhh gak boleh sama Queen! Dari mukannya aja udah keliatan gak pantes kok!
Idih geli gue liat si Queen yang genit gitu sama Kenan, pen muntah rasanya.
Putus elah gak cocok juga!
"De,"panggilnya pelan.
Dea mendongakan kepalanya, gadis itu menatap Queen yang duduk di bibir kasur sedangkan Dea berbaring karena merasa lemas telah bermain-main di sekitaran pulau.
"Apa?"
"Gue emang gak pantes ya sama Kenan?"tanya Queen pelan.
Dea terdiam, mata gadis itu memicing. Pasti sahabatnya itu membaca komentar-komentar nyinyir dari fans-fans Kenan.
"Cocok kok. Kalian sama-sama cinta, sama-sama sayang terus sekarang sama-sama kaya."
Queen mendengus, gadis itu memikirkan sesuatu. Para fans pacarnya entah kenapa sangat membenci Queen, mereka sangat tidak suka jika Queen yang menjadi pacar Kenan.
"Udah jangan di pikirin Queen komentar-komentar mereka. Gak ada kerjaan banget mikirin hal yang gak perlu di pikirin dan gak penting juga,"ucap Dea sambil kembali bermain ponsel.
"Ya tapi De... gue kepikiran. Sebenernya gue salah apa sih sama mereka yang suka sama Kenan? Kenapa gitu mereka sebegitu gak sukanya sama hubungan gue dan Ken?"lirih Queen.
"Ck! Biarin tu gogok-gogok berkoar-koar Queen, nanti juga capek sendiri. Lagian nih ya, menurut gue lo cocok kok sama Kenan. Gak tau kenapa gue merhatiin muka kalian kok kayak ada mirip-miripnya?"
Mata Queen terbelalak, sontak gadis itu mengambil cermin kecil di nakas dan di arahkan ke wajahnya. Keningnya mengerut dalam saat mengamati lekuk wajahnya.
"Apaan sih, De? Ngaco lo,"cibir Queen sambil mendelik sebal.
"Eh tapi ya Queen, kata orang-orang kalau muka kita mirip sama seseorang itu artinya kita jodoh!"
Queen mendelik tapi tak bisa di pungkiri bahwa bibirnya tengah berkedut menahan senyuman.
"Muka gue sama Papa mirip, berarti kita jod–"
"Ih **** lo! Bukan gitu maksud 'mirip' yang gue bilang. Maksudnya itu kalau muka kita mirip sama seseorang yang gak ada ikatan darah sama kita, itu artinya besar kemungkinan bakal berjodoh,"jelas Dea gemas.
Bibir Queen mengerucut. Dia tidak percaya dengan mitos-mitos yang seperti itu.
"Udahlah bahas yang lain! Eh De, gue mau nanya dong."
"Apaan?"sahut Dea malas.
"Akhir-akhir ini kok gue gak liat Givani ya? Dia ngilang. Lo liat dia gak? Atau lo pernah ketemu sama dia mungkin?"tanya Queen sambil ikut berbaring di samping Dea.
Cowok-cowok sedang ada di halaman belakang Villa, entah sedang apa mereka yang jelas Queen dan Dea di suruh untuk masuk ke kamar. Pendengaran Queen juga sempat mendengar suara musik remix yang volumenya sengaja di buat keras-keras.
__ADS_1
"Dia ada kok, sempet papasan juga sama gue di gerbang sekolah."
"Givani ngehindarin kita ya?"tanya Queen pelan.
Kening Dea mengernyit, kepalanya menengok untuk bisa melihat wajah sahabatnya.
"Masa sih? Ke gue masih suka nyapa kok kadang-kadang, terus juga suka komen di WA kalau gue posting sesuatu. Kenapa emang?"
Queen termenung. Givani masih berkomunikasi dengan Dea sedangkan dengan Queen? Bahkan Queen tidak pernah melihat atau berpapasan dengan Givani di sekolah. Apa Givani hanya menghindarinya saja ya?
"Gapapa sih, cuma gue ngerasa kayak Giva–"
Tok, tok, tok!
Kedua gadis itu menengokan wajahnya ke pintu yang baru saja di buka oleh Kenan setelah sebelumnya di ketuk dulu. Sontak Queen langsung duduk dan Dea hanya mengangkat bahunya acuh lalu memeluk guling, matanya sudah berat.
"Ada apa, Ken?"tanya Queen sambil berjalan menuju Kenan.
Kenan tersenyum, cowok itu melirik Dea yang sudah memejamkan matanya.
"Ikut aku yu,"ajak Kenan lalu menggandeng lengan Queen.
Queen hanya diam, dia membiarkan Kenan yang menuntunnya. Kenan melangkahkan kakinya keluar Villa. Selama di perjalanan hanya hening yang melingkupi kedua remaja tersebut. Entah kemana Kenan akan membawa Queen, karena yang pasti jarak Villa dan jalan yang di lewati mereka sudah lumayan jauh.
Akhirnya setelah lumayan lama berjalan mereka berdua berhenti di depan sebuah tumpukan batu besar yang menghadap ke lautan.
"Ken, kita ngapain kesini?"tanya Queen takut.
Di sekitarnya gelap, hanya ada sinar dari rembulan di atas sana yang menerangi mereka berdua. Kenan terkekeh pelan, cowok itu menyalakan senter dari ponselnya dan mengarahkannya tepat di wajah Queen.
Kenan tersenyum lebar, dia mengusap rambut Queen dengan pelan.
"Ayo kita naik,"ajak Kenan sambil mengarahkan sinar di ponselnya ke batu-batu tersebut.
Queen menjauhkan kepalanya dari dada Kenan lalu pandangannya jatuh pada batu-batu besar yang menumpuk di depannya.
"Gak ah, takut."
Kenan berdecak pelan, cowok itu menaiki satu batu hingga tinggi tubuhnya sangat jauh dari tinggi tubuh Queen.
"Gak nakutin kok,"ucap Kenan meyakinkan.
Queen menghela nafasnya lalu menjulurkan tangannya untuk bermaksud meminta bantuan Kenan. Akhirnya mereka berdua sampai di puncak batu paling tertinggi. Queen terperangah saat melihat pemandangan laut malam di depannya, apalagi rembulan dan bintang-bintang malam yang sangat memanjakan mata di atas langit sana.
"Bagus banget Ken,"gumam Queen yang bisa di dengar oleh Kenan.
Kenan tersenyum tipis lalu mengajak Queen untuk duduk. Mereka berdua duduk saling bersisian. Hanya hening yang tercipta, kedua pasangan itu sibuk menikmati pemandangan di depannya.
"Ada apa kamu ajak aku kesini, Ken?"tanya Queen memecah keheningan.
"Pengen berduaan,"jawab Kenan pelan.
Pipi Queen bersemu, untung saja suasananya remang-remang jadi besar kemungkinan Kenan tidak akan melihat rona merah di pipinya.
"Gombal,"ejek Queen.
"Serius Queen. Hari ini kebanyakan ngabisin waktu sama temen-temen, waktu buat kita berduannya sedikit banget."
__ADS_1
Queen hanya bisa tertawa kecil. Apa yang di ucapkan Kenan memang benar, hari terakhir mereka di sini, mereka malah menghabiskan waktu bersama teman-teman yang lain.
"Tadi kenapa pada berisik banget di halaman belakang rumah?"tanya Queen mengalihkan pembicaraan.
Kenan terdiam, dia memikirkan jawaban yang tepat untuk Queen. Tadi Kenan dan teman-teman yang lain mengadakan party ala mereka sendiri, Verrel yang mengusulkan. Mereka semua minum alkohol yang ternyata di bawa oleh Verrel lalu mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol, merokok dan mendengarkan musik remix yang suaranya di perbesar lewat speaker yang tersedia.
"Cuma ngobrol-ngobrol doang,"bohong Kenan pelan.
"Ngobrol sampai kamu bau alkohol dan nafas kamu bau rokok?"sindir Queen tanpa menatap Kenan.
Kenan mengumpat dalam hati. Ternyata Queen mencium aroma tubuh dan nafasnya. Tapi Kenan bersumpah bahwa dia hanya minum dua gelas serta merokok pun hanya satu batang saja.
"Di tawarin tadi sama anak-anak, nggak bisa nolak juga. Tapi sumpah Queen, aku gak minum banyak dan ngerokok pun cuma satu batang doang."
Queen mendengus samar. Dia bukannya bermaksud untuk melarang Kenan melakukan hal yang di senanginya, tapi Queen hanya tidak mau jika hal yang di senangi oleh Kenan akan berakibat buruk pada cowok tampan itu.
"Kamu marah?"tanya Kenan pelan.
Queen menatap Kenan di bawah sinar rembulan malam, gadis itu menggeleng lemah.
"Aku yang harusnya minta maaf Ken. Kesannya aku kayak cewek yang suka larang-larang cowoknya ya?"
Kenan bergumam, cowok itu mengarahkan Queen agar menghadap ke arahnya. Setelah Queen duduk menghadap ke arahnya, Kenan mengelus pipi mulus Queen dengan pelan dan matanya tidak lepas mengamati wajah cantik Queen.
"Aku seneng kok."
"Hah?"
Kenan tersenyum, tangannya sudah berhenti mengelus pipi Queen tapi entah kenapa tangannya masih betah berada di atas pipi Queen.
"Kesannya kamu itu kayak perhatiin aku dan aku... suka. Aku suka karena kamu kesel gara-gara aku minum dan ngerokok lagi,"ucap Kenan pelan namun dalam hingga membuat pipi Queen merona kembali.
"Queen,"panggil Kenan hingga membuat mata Queen bertubrukan dengan mata Kenan.
"Hm?"
Wajah Kenan perlahan mendekat dan Queen hanya bisa terpaku di tempatnya akibat mata Kenan yang menatapnya dengan tajam namun penuh cinta.
"I love you."
Queen masih diam, nafasnya tercekat saat hidung mereka sudah bersentuhan. Tangan kanan Kenan mulai mengelus pipinya kembali dan tangan kiri Kenan merengkuh pinggangnya.
"Queen..."
"I-iya Ken,"gumam Queen pelan.
"Iya apa?"tanya Kenan memancing.
"I-iya ak-aku... aku juga cinta kamu Kenan."
Dan sepertinya Kenan akan melanggar ucapannya kepada David tentang dia yang tidak akan macam-macam dengan Queen di sini.
Cup.
...||||...
Huwaaaa aku baper🙈
__ADS_1