QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
36. Mengungkapkan rasa


__ADS_3

Queen berdecak kesal ketika melihat Kenan masih betah duduk di atas motornya, cowok itu bahkan menghiraukan keadaan sekitarnya yang sudah sepi bahkan hampir sore.


Sekolah sudah sepi, para murid telah pulang dan yang tersisa hanya para guru dan penjaga sekolah saja. Queen sedari tadi bersembunyi di balik pilar besar di lobby sekolah, gadis itu bersembunyi dari Kenan yang sudah seminggu ini berusaha mengikutinya.


Waktu seminggu yang lalu, Rere memberitahukan kepada Queen bahwa dia melihat Kenan di gang. Sudah pasti bahwa cowok itu mengikuti Queen, untung saja gangnya berbelok-belok jadinya tidak mudah untuk Kenan menemukan tempat tinggal Queen. Saat itu juga Queen harus menghindari Kenan meski cowok itu selalu berusaha mendekatinya, Queen harus bersembunyi dulu jika Kenan mencarinya dan dia akan sengaja pulang paling akhir karena tahu Kenan akan menunggunya di parkiran.


"Ih Kenan kok gak pulang-pulang? Ini udah mau hujan,"gumam gadis itu sambil menatap Kenan yang terdiam di atas motornya.


Memang, awan sudah gelap dan kilat sudah muncul. Queen tidak mau munafik bahwa dia menghawatirkan Kenan, dia tidak mau Kenan kenapa-napa.


"Apa Queen samperin aja ya?"tanya Queen ragu.


Gadis itu menggigit bibir bawahnya, hatinya berdegup cepat saat rintikan air hujan mulai berjatuhan membasahi bumi dan Kenan masih betah duduk di atas motornya.


Rasa sakit itu masih ada, tapi entah kenapa serasa langsung menghilang kala melihat Kenan yang masih setia duduk di atas motornya. Cowok itu sepertinya tidak terganggu kala air hujan membasahi tubuh dan pakaiannya.


Queen menggeleng pelan lalu tanpa pikir panjang langsung berlari menerobos hujan untuk menyusul Kenan. Dia akan memaafkan cowok itu, dia akan berbaikan dengan Kenan. Bibir Queen mengembang saat sebentar lagi dia akan sampai ketempat Kenan berada, dia ingin memeluk cowok itu. Saat ingin membuka mulutnya untuk menyerukan nama Kenan, langkah kaki Queen tiba-tiba terhenti, senyum gadis itu surut ketika melihat Givani yang dengan terburu-buru menghampiri Kenan.


Badannya mematung saat melihat Givani yang tertawa sambil memakai jaket yang di berikan Kenan untuk menutupi seragam gadis itu yang tembus pandang. Nafas Queen tercekat kala melihat Kenan yang menyodorkan tangannya guna Givani bisa naik ke atas motor.


Gadis itu masih mematung bahkan saat motor Kenan melaju meninggalkan parkiran sekolah.


Matanya masih berfungsi dengan baik untuk bisa melihat bagaimana kedua orang itu terlihat bahagia. Maksud semuanya apa? Takdir macam apa tengah di rencanakan oleh Tuhan untuknya? Tanpa terasa tetes demi tetes air mata mulai berjatuhan mengenai kedua pipi Queen yang basah oleh air hujan, gadis itu menangis dalam diam di bawah guyuran air hujan.


"Gak mugkin,"lirihnya sambil menundukan kepala.


Tidak mungkin kedua orang yang selalu ada untuknya mengkhianati Queen, kan? Tidak mungkin kedua orang itu bermain api di belakang Queen, kan?


...||||...


Givani memeluk tubuhnya sendiri, gadis itu kedinginan. Kenan yang baru saja keluar dari kamarnya menatap Givani yang duduk di sofa Apartmen. Cowok itu tersenyum tipis lalu ikut duduk di samping Givani.


"Bajunya kurang tebel?"tanya Kenan sambil melirik bajunya yang melekat di tubuh gadis itu.

__ADS_1


Givani mendongak, dia kikuk sendiri ketika melihat wajah Kenan. Rasanya ada gelenyar aneh yang hinggap di hatinya ketika mengingat bahwa dalam satu minggu ini dia dan Kenan lumayan dekat, mereka selalu bermain ke tempat-tempat seperti Mall untuk menyegarkan otak.


"U-udah tebel kok."


Kenan mengangguk, dia menyandarkan tubuhnya ke badan sofa. Pikirannya terus tertuju kepada Queen yang selalu susah untuk di temui, cowok itu sangat ingin cepat-cepat berbaikan dengan gadis itu.


Givani menengokan wajahnya ke samping, menatap wajah Kenan dari sisi. Tampan, itulah yang ada di pikiran Givani. Satu minggu bersama Kenan sudah cukup untuk menjabarkan perasaannya. Dia sudah jelas menyukai pacar sahabatnya ini, dia nyaman dengan adanya Kenan yang selalu berada di sampingnya.


"Lo masih keinget Queen?"tanyanya pelan.


Kenan menghela nafasnya. Cowok itu balas menatap Givani dan pandangan mereka terkunci. Givani memang cantik, wajahnya mengingatkan Kenan kepada seseorang.


"Muka lo ngingetin gue sama seseorang,"ucap Kenan. Cowok itu bahkan menghiraukan pertanyaan Givani tadi.


"Siapa?"


"Nanda."


Hening, keduanya sama-sama terdiam dengan pandangan yang masih terkunci satu sama lain. Givani jelas bingung dengan siapa sosok 'Nanda' yang di ucapkan oleh Kenan.


"Lebih tepatnya sahabat gue,"jawab Kenan sambil memalingkan wajahnya ke depan.


"Suka?"tanya Givani kepo.


Kenan terdiam, mengingat perasaannya kembali untuk Nanda yang sekarang tengah pertukaran pelajar ke Jepang.


"Gue pernah suka, bahkan pernah cinta. Gue selalu memperlakukan Nanda kayak yang dia itu cewek gue, gue selalu perhatian sama dia bahkan posesif sama tu cewek. Tapi entah gimana, sejak adanya Queen, gue kayak yang ngelupain perasaan gue sama Nanda gitu aja. Queen bener-bener bikin dunia gue jungkir balik, dia satu-satunya cewek yang bikin gue gak mau kehilangan."


Givani tersentak, hatinya jelas mencelos mendengar penuturan Kenan.


"Terus, Nanda-Nanda itu dimana?"tanya Givani dengan suara parau.


"Pertukaran pelajar di Jepang."

__ADS_1


"Queen tau?"


Kenan tersenyum kecut.


"Dia gak tau karena dengan bodohnya gue gak pernah nyeritain tentang kehidupan gue ke dia,"jawab Kenan lirih.


Bahkan Kenan baru sadar jika dia sama sekali belum terbuka pada gadisnya, sedangkan gadisnya? Bahkan Queen sudah menceritakan tentang semua kehidupannya.


"Lo cinta banget sama Queen ya, Ken?"tanya Givani pelan.


Mata gadis itu berkaca-kaca, bahkan tanpa sadar dia mencengkram ujung sweater Kenan dengan erat. Pandangannya tidak pernah bisa lepas dari Kenan yang sekarang juga sedang memandangnya.


"Gue cinta banget sama dia."


Pupus sudah. Jika Kenan memang sangat mencintai Queen, lalu Givani bisa apa? Bertahan dengan rasa cinta dan sukanya lalu membutakan hatinya untuk bisa merebut Kenan dari Queen? Jelas itu tidak akan Givani lakukan.


"Mau tau satu hal?"tanya Givani dengan air mata yang sudah lolos keluar dari matanya.


Kenan menghapus air mata itu, dia tahu perasaan Givani padanya. Satu minggu dengan Givani, Kenan sudah bisa menebak perasaan gadis itu kepadanya.


"Apa?"


"Gue suka sama lo."


Kenan menghela nafasnya lalu memeluk tubuh Givani yang sudah bergetar karena gadis itu menangis.


"Lupain rasa suka lo itu, Giv. Gue gak mau lo luka cuma karena rasa suka lo sama gue. Lo cewek baik dan masih banyak cowok baik yang mau sama lo. Maaf karena gue terkesan ngasih harapan sama lo akhir-akhir ini, tapi itu semua gak lebih cuma karena gue nganggap lo adik gue sendiri. Gue cinta Queen, gue sayang dia. Kalau bisa gue nyakitin cewek itu, mungkin sekarang gue bakal balas perasaan lo. Tapi sayang, Giv. Gue gak mau lepasin Queen, gue gak mau kehilangan dia karena perbuatan bodoh gue."


Dan Givani sadar, bahwa saat detik itu juga dia harus bisa memusnahkan rasa sukanya.


Sahabat lebih segala-galanya.


...||||...

__ADS_1


Eyooo, sahabat emang lebih segala-galanya di banding satu cowok ya✨


__ADS_2