QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
25. In The Hospital


__ADS_3

Mata Queen yang semula terpejam akhirnya terbuka, gadis itu mengernyitkan keningnya ketika rasa nyeri menjalar di perutnya. Apa dia tidak jadi bergabung bersama Yuna?


Queen tahu saat ini pasti dia sedang berada di Rumah Sakit, tapi siapa yang membawanya? Bagaimana keadaan Dea yang sempat di cekik oleh Amar? Apa sahabatnya itu baik-baik saja? Kepalanya dengan perlahan menengok ke arah samping. Dia sedikit terpaku ketika melihat Givani yang tertidur dalam dekapan... Kenan?


Mungkin Givani tadi kecapean, ujar Queen dalam hati.


Dia mengedarkan pandangannya kepada ruang yang di yakini Queen sebagai ruang rawat inap. Disini hanya ada Queen, Givani dan Kenan.


...||||...


Paginya Kenan terbangun ketika merasakan ada sebuah gerakan seseorang, cowok itu membuka matanya dengan perlahan. Pandangannya tertuju ke perutnya, disana ada sepasang tangan yang melingkar dengan erat. Givani, ternyata tangan itu milik Givani yang masih tertidur lelap.


Dengan perlahan Kenan berusaha melepas lingkaran tangan tersebut, setelah tangan Givani terlepas dia pun bangun dari posisi tidurnya yang berada di sofa. Kenan berdiri dan menatap kearah ranjang di mana Queen berbaring, Kenan menghela nafasnya. Ternyata mata indah Queen masih terpejam.


Cowok itu memutuskan untuk berjalan ke kamar mandi, dia membasuh wajahnya lalu terdiam menatap pantulan bayangannya di cermin. Entah kenapa ada perasaan bersalah kepada Queen yang masih tertidur, dia merasa bersalah karena sudah memeluk bahkan tidur bersama Givani dalan sofa yang tidak terlalu besar. Bahkan Kenan dan Queen tidak pernah tidur dalam posisi seperti itu. Kenan tidak berani, dia takut kelepasan jika tidur dalam posisi rawan seperti itu bersama Queen.


"Shit! Lagian ngapain gue bisa kelepasan tidur dalam posisi pelukan kayak gitu sih?"gumamnya sambil mengacak rambutnya hingga berantakan.


Kenan memutuskan untuk keluar dari kamar mandi. Saat dia mendongak untuk menatap Queen, alangkah terkejutnya Kenan ketika melihat gadisnya sudah terduduk di ranjang dengan tatapan yang mengarah kepada jendela yang masih tertutup gorden. Kenan pun melangkah ke arah jendela lalu menyibakkan gorden sehingga membuat Queen menyipitkan matanya karena sinar matahari yang menerpa wajah gadis itu.


"Kenan silau ih,"rengeknya dengan wajah cemberut.


Kenan terpaku. Ini bukan mimpi kan? Ini benarkan gadisnya sudah bangun?


"Ka-kamu udah bangun?"tanya Kenan gugup.


"Iyalah! Kalau belum mana mungkin aku bisa duduk terus kesilauan kayak tadi,"ketusnya.


Tanpa bisa di cegah senyum Kenan pun mengembang, cowok itu berjalan ke arah Queen lalu memeluk gadis itu dengan erat. Dia menghiraukan pekikan tertahan gadisnya karena pelukannya yang tiba-tiba, dia juga mengeratkan pelukannya ketika di rasa gadisnya memberontak meminta di lepaskan.


"Bentar! Masih kangen ini,"lirihnya sambil terus memeluk Queen.


Queen terdiam, entah kenapa perasaan kesal menghampirinya ketika melihat wajah Kenan. Perasaan yang jarang sekali di rasakan olehnya selama berpacaran dengan cowok ini.


"Kapan bangun?"tanya Kenan ketika sudah melepaskan pelukannya, cowok itu memilih berdiri di hadapan Queen dengan kedua tangan yang di simpan di sisi tubuh Queen yang masih cemberut.


"Tadi malem."


Kepala Kenan mengangguk-angguk, matanya terus menatap wajah gadisnya yang nampak pucat.


"Kenapa gak bangunin aku pas kamu bangun?"


Queen menatap mata Kenan, entah kenapa dia masih kesal. Kenapa sih dengan perasaanya?


"Gak mau ganggu!"


gak mau ganggu kamu lagi tidur sama Givani. Pelukan lagi,lanjutnya dalam hati.


Kenan terdiam, ini perasaanya saja atau bagaimana? Kenapa Queen seperti sedang kesal kepadanya? Dia ada salah kah?


"Ada yang sakit?"tanya Kenan pelan namun lembut.


"Perut!"


"Apa?"


Queen berdecak, gadis itu mendelikan matanya sambil menunjuk perutnya sekilas. Dia sedang tidak ingin mengulangi ucapannya. Kenan hanya bisa menghela nafasnya, cowok itu mendorong Queen agar berbaring kembali di tempat tidur dengan pelan. Queen hanya mengerutkan keningnya bingung.


"Eh! Mau ngapain?"tanya Queen panik sambil menahan tangan Kenan yang ingin menyingkap baju Rumah Sakitnya.


"Liat bentar. Awasin tangan kamu."

__ADS_1


"Gak mau."


Kenan menaikan satu alisnya, cowok itu menatap Queen dengan pandangan bingung.


"Why?"


Pipi Queen panas. "Malu, atuh."


"Ngapain harus malu?"


Pletak!


"Aw!"ringis Kenan sambil mengusap keningnya dengan cepat. Cowok itu menatap Queen dengan pandangan bertanya. Kenapa dia di jitak?


"Apa? Marah, Kesel, iya?"tanya Queen beruntun.


"Kenapa sih?"tanya Kenan kesal.


Queen mendengus keras. Dia malu lah jika Kenan sampai harus menyingkapkan kaosnya, cowok itu tidak peka memang!


"Gak mikir apa? Aku malu Ken! Malu... emang kenapa harus pakek mau buka baju aku gitu sih?"


Bibir Kenan berkedut, dia sebisa mungkin menahan tawanya ketika mendengar kekesalan kekasihnya.


"Dih, geer banget maneh! Aku cuma mau ngangkat baju kamu sedikit doang, gak sampe di buka. Eh, tapi emang aku boleh kalau ngebuka baju kamu?"


Mata Queen melotot. Kenapa otak Kenan jadi seperti ini?


"Ih Kenan naon sih maneh? Teu jelas pisan!"geramnya sambil memalingkan wajah.


Kenan terkekeh pelan, cowok itu duduk di bibir ranjang dengan tangan yang kembali ingin menyingkap baju Queen. Cowok itu berdecak kesal ketika Queen terus saja menepis tangannya.


"Cicing heula, dodol! Aku mau cek memar yang ada di perut kamu,"gumamnya namun masih bisa di dengar oleh Queen.


"Udah liatnya?"


"Belum."


"Kenapa liatin sampai sebegitunya sih?"tanya Queen sambil berusaha duduk tapi tak lama terbaring lagi karena Kenan mendorongnya.


"Sakit?"tanya Kenan sambil sedikit menekan salah satu memar di perut Queen sehingga membuat gadis itu meringis.


"Makannya jangan nakal! Jangan bohong, jangan gegabah. Ngerti?"


Queen menggigit bibir bawahnya, gadis itu sebenarnya ingin menangis. Tapi dia tahan karena sadar di sini dia yang salah, dan wajar jika Kenan terlihat marah bahkan sampai menekan memar di perut Queen.


"Maaf,"ucap Queen pelan.


Kenan ingin menjawab, tapi deringan ponselnya membuat cowok itu mengatupkan bibirnya kembali. Matanya menyapu seluruh ruangan untuk mencari keberadaan ponselnya, dia mendengus ketika melihat ponselnya yang berada di nakas samping ranjang Queen. Dia mengambilnya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya masih berada di atas perut rata Queen.


Mama calling...


"Hallo? Asalamuallaikum, Ken! Ya ampun kamu sama Queen kemana aja sih, huh? Gak tau apa Mama sama Papa cemas nunggu kalian sampai malam? Kenapa gak kabarin Mama kalau kalian gak bakal pulang ke rumah?"


"Ken lagi di Ru–"


"Kita lagi di Apartmen, Tante!"potong Queen sedikit berteriak karena posisinya yang sedikit jauh dari ponsel Kenan.


Kenan mengerutkan keningnya, dia bertanya melalui tatapannya kenapa Queen berbohong. Tapi Queen hanya mengucapkan 'nanti' lewat gerakan mulutnya, Kenan tahu apa maksud Queen makannya dia hanya mengangguk.


"Loh? Kalian di Apart? Kenapa gak kabarin dulu sih? Supaya Mama sama Papa gak cemas, Ken. Eh hari ini kan hari sabtu, kamu sama Queen mau gak gabung sama Mama, Papa dan Keano buat main ke Villa kita yang ada di Ciwidey? Lumayan nginep satu hari."

__ADS_1


Kenan terdiam, dia ingin jika keadaan Queen baik-baik saja saat ini.


"Maaf Ma, kayaknya kita gak akan ikut. Ken sama Queen udah ada janji buat main sama temen-temen,"bohongnya sambil menatap jendela.


Queen memperhatikan raut wajah Kenan yang biasa saja, dia tidak tahu apa yang di bicarakan oleh Kenan dan Kania. Queen menengokan wajahnya ke kiri dimana ada Givani yang masih terlelap di sofa sana. Perasaan kesal menghampiri Queen lagi saat mengingat bagaimana tangan Kenan yang mendekap tubuh Givani dan tangan Givani yang melingkar di perut Kenan.


Gue aja belum pernah tidur dalam posisi pelukan kayak gitu! ketusnya dalam hati.


"Yaudah kalau gitu. Iya-iya Ken bakal jaga Queen, sampein sama Keano jangan nakal di sana. Jangan ganggu Mama sama Papanya yang bakal bikin Adik buat, Ken. Hm.. Hati-hati!"


Kenan memutuskan sambungannya, cowok itu menatap Queen yang sedang menatap Givani dengan bibir yang sedikit mengerucut. Kenapa ekspresi Queen terlihat sebal? Cowok itu mengelus memar Queen sehingga membuat gadis itu tersentak kaget.


"Kenan, ih!"


"Apa?"


"Ngapain di elus?"tanya Queen bingung.


Kenan menyeringai.


"Mau gak memarnya cepet ilang, Yang?"tanya Kenan balik.


"Mau. Tapi gimana caranya?"


Kenan tersenyum lebar ketika menatap wajah polos Queen yang menatapnya dengan pandangan bingung saat ini. Cowok itu membungkukan tubuhnya sehingga membuat wajahnya berjarak dekat dengan wajah cantik Queen.


"Caranya... memar kamu harus di elus sama aku setiap hari,"jawab Kenan pelan. Matanya menatap mata Queen yang masih menatapnya dengan bingung.


"Bakal sembuh?"


Kenan mengangguk. Dia sibuk meneliti setiap inci wajah pacarnya. Pandangannya berhenti tepat di bibir Queen, pandangannya kembali lagi menatap ke arah mata Queen.


"Apa?"tanya Queen pelan ketika melihat tatapan sayu Kenan.


"Boleh ya?"


Kening Queen mengernyit. Boleh ya? Boleh untuk apa? Dia sama sekali tidak mengerti dengan tatapan minta izin dari Kenan.


"Boleh apa?"tanya Queen.


Kenan mengerjapkan matanya pelan. Cowok itu menggeram pelan lalu mengecup kening Queen cukup lama, dia bisa merasakan tubuh Queen menegang. Setelah puas, Kenan mengecup pelan kedua pipi gadisnya. Wajahnya bertambah maju saat mengecup puncak hidung Queen, dia menurunkan wajahnya ketika mencium dagu Queen.


"Kenan,"panggil Queen pelan. Gadis itu merasakan posisinya yang kurang enak di pandang ini. Untung saja orang di luar jendela sana tidak akan bisa melihat posisinya dengan Kenan di sini. Tapi ingatkan Queen jika di dalam ruang rawat ini bukan hanya ada dirinya dan Kenan. Tapi ada juga Givani!


"Boleh ya, sayang?"


Nafas Kenan memburu, matanya tidak berpaling dari bibir Queen yang seolah sedang memanggilnya.


"Ken, maksudnya apa?"


Kenan berdecak sebal. Dia kesal dengan Queen yang tidak mengerti-mengerti juga. Tanpa menunggu jawaban Queen, cowok itu memiringkan wajahnya sehingga hidung mancungnya menyentuh pipi Queen. Tapi ketika bibirnya sedikit lagi mendarat di objek yang sedari tadi dia perhatikan, suara lembut milik Givani membuat kedua insan itu tersentak kaget dan Kenan yang segera menjauhkan tubuhnya akibat tangan kiri Queen yang tidak terpasang infus mendorongnya.


"Kalian mau ngapain?"


Shit! ****! ******! Dikit lagi, *******! seru Kenan di dalam hati.


...||||...


*Translate


Maneh artinya kamu

__ADS_1


Naon sih maneh artinya apa sih kamu.


Cicing heula artinya diem dulu✨*


__ADS_2