QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
52. Salah paham


__ADS_3

Tak terasa liburan telah berakhir dan itu artinya Queen sudah mulai kembali dengan kegiatannya di sekolah sebagai murid kelas 11 sekarang. Hari libur terasa begitu sebentar bagi Queen, dia ingin liburnya itu dua bulan tapi ini hanya dua minggu.


"Non!"


Queen mengalihkan pandangannya dari cermin besar di kamarnya menjadi ke pintu kamarnya yang memang terbuka. Dia tersenyum tipis ketika melihat Bi Arisa berdiri di depan pintu.


"Ada apa Bi?"tanya Queen sambil menyambar tasnya dan berjalan ke arah Bi Arisa.


"Tuan dan Non Rere sudah menunggu Nona di bawah."


Queen mengangguk sambil mengucapkan terimakasih lalu berjalan untuk ke lift. Saat sudah masuk ke dalam lift gadis itu memainkan ponselnya, senyumnya mengembang sempurna ketika melihat pesan dari Kenan.


Kenan:Morning Queenđź’‹, udah mau berangkat?


Queen:Mau sarapan dulu, berangkatnya sama Mang Sapri. Kamu sendiri?


Tak berserang lama ponselnya bergetar.


Kenan:Oke deh, sarapan yang kenyang ya Yang. Maaf karena aku gak bisa jemput kamu.


Queen:Iya gapapa.


Kenan memang tidak bisa menjemputnya, cowok itu harus mengantar Keano serta Mamanya dulu ke Rumah Sakit. Gigi Keano akan di cabut, ada gigi berlubang yang membuat Keano kesakitan.


Pintu lift terbuka dan Queen pun melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Dia mengambil duduk di sebelah Rere dan berhadapan dengan Adi. Ya Adi! Laki-laki itu hampir setiap hari memang ikut bersarapan di sini, dia juga sekalian menjemput Rere.


"Widih! Cantik banget si calon Adik ipar gue,"puji Adi sambil mengerling jahil.


"Apaan sih? Biasa aja kok."


Queen tersipu malu mendengar pujian Adi. Padahal tampilannya untuk ke sekolah biasa saja. Adi memang sering kali menggodanya, laki-laki itu akan berhenti menggoda Queen jika Rere sudah melotot karena Queen yang mulai kesal.


"Di jemput Kenan, Queen?"tanya Rere sambil mengoleskan selai coklat pada rotinya.


"Gak Teh, Kenan gak bisa jemput."


"Jemput cewek lain tuh dia,"sahut Adi memanasi Queen yang mendelik sebal.


"Kenan nganter dulu Adiknya ke Rumah sakit tau!"ketus Queen sebal.


Adi tertawa karena sudah berhasil membuat Queen sebal, sedangkan Rere hanya menggeleng tidak habis pikir dengan tingkah sahabat yang dua minggu lalu merangkap menjadi kekasihnya itu.


"Sepertinya seru sekali pembicaraan kalian, apa yang kalian bicarakan?"


Kepala Queen mendongak, dia terpaku melihat sosok yang berdiri di samping Papanya. Kenapa ada wanita berpakaian kantor itu di sini?


"Biasa Pa. Adi yang goda Queen supaya Queennya kesel,"jawab Rere sambil melempar senyum pada Tiara yang berdiri di samping David.


David mengangguk, pria itu duduk di kursi yang biasa dia duduki jika tengah makan bersama keluarganya.


"Duduk Tiara,"suruh David sambil menunjuk kursi kosong di hadapan Rere.


Saat Tiara baru saja duduk saat itu pula Queen berdiri dan membuat semua orang yang berada di meja makan menatap kearahnya dengan bingung.


"Kenapa berdiri Queen? Kamu belum sarapan kan?"tanya David lembut.


Queen mendengus keras, dia menatap Tiara dengan sinis. Queen tidak mau jika sekertaris Papanya juga ikut sarapan bersama keluarganya yang lain.


"Queen pamit ke sekolah."


...||||...


Kenan berjalan santai di koridor sekolahnya yang sudah sepi. Hari pertama masuk dia masih santai karena pastinya kegiatan KBM belum di mulai. Hari ini seluruh siswa sibuk dengan urusannya masing-masing dan para OSIS sibuk mengospek semua siswa dan siswi baru.


Sedari Kenan lewat di koridor tadi ada banyak pasang mata yang menatap ke arahnya, mata Kenan melirik sekumpulan gadis berseragam putih-biru yang sedari tadi berbisik-bisik sambil menatap ke arahnya. Sontak para gadis itu memekik tertahan kala Kenan melirik mereka.


Imut-imut sih, tapi imutan cewek gue.

__ADS_1


Kenan mengulum senyumnya ketika kata hatinya berbicara seperti itu. Cowok itu tidak ingin mengelak, memang Queen gadis imut yang selalu membuat Kenan menahan diri agar tidak membuat gadisnya susah bernafas karena Kenan melakukan...


"Ihs! Sinting,"desis Kenan ketika dia malah membayangkan ciumannya dengan Queen di atas batu.


Langkah Kenan berbelok untuk ke tangga menuju rooftop sekolah, disana ada teman-temannya yang sudah menunggu. Tapi langkah Kenan terhenti ketika melihat ada seorang gadis berseragam sama sepertinya tengah terduduk di bawah tangga. Sosok gadis itu menangis.


Mata Kenan memicing, dia tahu dan kenal sosok gadis itu.


"Givani?"


Gadis itu mendongak dan mata Kenan membulat sebentar kala tebakannya benar. Kening cowok itu mengernyit karena melihat Givani menangis, dan yang membuatnya terkejut adalah karena matanya menangkap lebam di sudut bibir serta bawah matanya.


"Giv, bibir sama mata lo kenapa?"tanya Kenan sambil berjongkok di hadapan Givani.


Givani malah tambah menangis ketika Kenan menyentuh lebam-lebam itu.


"Ken-Kenan hiks,"isak Givani sambil memeluk tubuh Kenan dengan erat.


Kenan hanya diam, tidak mengerti dengan situasi yang ada. Tapi melihat Givani yang memeluk tubuhnya sangat erat dan isakan gadis itu yang menyayat hati akhirnya Kenan memutuskan untuk memeluk balik tubuh Givani.


"Gue hiks gue ta-takut Ken, dia, dia ka-kasar hiks sama gue. Dia mu-mukul gue, dia hiks tampar gue Ken,"lirih Givani yang masih bisa di dengar oleh Kenan.


Kening Kenan mengernyit, merasa bingung dengan siapa yang di maksud dia oleh Givani. Tapi entah kenapa dia kesal sendirin ketika mendengar bahwa dia memperlakukan Givani dengan tidak baik.


"Dia siapa?"tanya Kenan pelan.


Givani mendongak, matanya masih mengeluarkan air mata. Jarak mereka sangat dekat sehingga jika di lihat dari belakang akan seperti Kenan yang sedang mencium Givani dan Givani yang melingkari tangannya di leher Kenan.


"Dia.. dia pa-pacar gu–"


"Kenan? Givani?"


Kepala Kenan dan Givano sontak menengok ke arah belakang. Kenan tertegun ketika melihat ada Queen di sana, yang paling parah adalah karena Queen menangis.


Salah paham pasti!


Queen menggelengkan kepalanya lalu membalikan badannya dan berlari kencang meninggalkan Kenan serta Givani yang masih berada di posisi yang sama.


"Giv gue harus nyusul Quee–lah Giv kenapa pingsan!?"


...||||...


"Eh, itu bukannya Nanda ya?"


"Eh, iya itu Nanda!!"


"Ya ampun princessnya sekolah balik lagi!"


"***** tambah geulis aja ya datang dari Jepang teh."


"Wah!! Pastinya bias gue yang gak lain Kenan dan Nanda bakal bareng-bareng lagi nih!!"


"Tambah bening amat Neng!"


"Queen, Kristal mah kalah! Eh tapi sekilas kok mirip Givani ya? Sama-sama cantik oy!"


Omongan-omongan itu hanya di tanggapi senyuman oleh gadis cantik berambut hitam sepinggang itu, dia tetap berjalan anggun untuk sampai ke ruang guru.


Nanda Jelina Erata. Gadis cantik kebanggaan sekolah yang baru saja pulang dari Jepang. Nanda adalah siswi populer di sekolahnya, salah satu alasan penyebab Nanda populer adalah karena Nanda berteman baik dengan Kenan, Tegar, Andra serta Verrel.


Siapa pun yang menyakiti atau mengganggu Nanda hingga membuat Nanda merasa tidak nyaman akan berhadapan dengan Kenan dan ketiga temannya yang lain. Mereka akan membalas orang yang mengganggu dan menyakiti orang itu lebih kejam.


"Hai Nanda,"sapa seorang murid yang Nanda tidak ketahui namanya.


Nanda tersenyum ramah, dia senang karena ternyata semua murid masih mengingatnya serta baik kepada gadis itu.


"Hai juga!"sapa balik Nanda riang.

__ADS_1


Nanda kembali melanjutkan langkahnya, saat di lorong kantor guru yang sepi tanpa sengaja Nanda menabrak bahu seseorang hingga membuat seseorang itu mundur beberapa langkah.


"Eh, eh sorry ya. Lo gak apa-apa kan? Hei kok nangis? Ada yang sakit?"tanya Nanda panik ketika melihat seseorang yang di tabraknya menangis.


Nanda menabrak seorang gadis yang lebih pendek darinya, wajah gadis itu manis. Saat mata Nanda melirik bedname gadis tersebut dalam hatinya dia membaca nama gadis tersebut.


Queen Lavinda. Nama yang bagus dan cantik, nama impian gue hihihi.


Nama Queen memang nama yang sangat di idam-idamkan oleh Nanda, dia pernah merengek kepada orang tuanya perilah orang tuanya yang tidak memberi nama Queen kepada Nanda. Dan rencananya Nanda akan memberikan nama Queen pada anaknya kelak bersama... Gara si cowok menyebalkan itu tentunya.


"Gu-gue hiks gapapa Kak,"jawab Queen sambil berusaha menghentikan tangisnya tapi tidak bisa.


Nanda meringis, dia merasa bersalah dengan gadis bernama Queen ini.


"Bener gak ada yang sakit? Lo nangis soalnya."


Queen menggeleng sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri. Bukan nyeri karena di tabrak oleh gadis cantik yang baru di lihatnya di sekolah ini, tapi nyeri karena apa yang dia lihat tadi di tangga rooftop.


"Gapapa kok Kak,"jawab Queen meyakinkan, jarinya menghapus air mata di kedua pipinya.


Nanda mengangguk ragu, dia masih merasa bersalah.


"Nama lo... Queen?"tanya Nanda sambil mengulurkan tangannya bermaksud untuk berkenalan.


Queen tertegun, dia menatap bingung gadis di hadapannya. Queen penasaran saja darimana gadis cantik itu tahu namanya, padahalkan Queen tidak seterkenal itu di sekolah.


"Kakak tau darimana nama gue?"tanya Queen dengan mata mengerjap.


"Dari bedname lo,"jawab Nanda sambil menunduk sebelah dada kiri Queen dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih menggantung di hadapan Queen. "Gak mau kenalan sama gue? Yahh... padahal gue pengen banget kenalan sama lo."


Queen tersentak dari lamunannya lalu gadis itu dengan cepat menerima jabatan tangan gadis di hadapannya.


"Queen."


"Gue Nanda, salam kenal ya! Kalau kita ketemu lagi nanti berarti kita berdua temen,"ucap Nanda riang.


Queen tertawa, ucapan Nanda entah kenapa membuatnya terhibur.


"Lo Kakak kelas kan ya?"tanya Queen penasaran.


Dari tampangnya sih Nanda ini seperti Kakak kelasnya, tapi anehnya Queen tidak pernah melihat Nanda di area sekolah. Dia yang tidak tahu ada sosok Nanda apa memang Nanda yang jarang menampakan diri?


"Gue kelas 12, lo?"tanya Nanda balik.


"Kelas 11 Kak."


"Adek kelas ternyata. Pantesan mukanya masih imut gini."


Pipi Queen bersemu merah, dia terkekeh untuk menutupi kecanggungannya.


"Gue kok gak pernah liat lo ya, Kak?"tanya Queen lagi.


Nanda tersenyum, pastinya Queen tidak pernah bertemu dengan Nanda karena saat kenaikan kelas 10 dua tahun yang lalu Nanda di kirim ke Jepang untuk pertukaran pelajar dari sekolahnya ini.


"Gue pertukaran pelajar ke Jepang waktu mau kenaikan kelas 11. Jadi wajar aja kalau lo gak pernah liat gue,"jawab Nanda ramah.


Kepala Queen mengangguk-angguk, dia sedikit takjub dengan Nanda. Pastinya Nanda ini orang pintar.


"Oh pantesan. Ya udah kalau gitu Kak, gue pamit dulu ya. Mau ke kelas,"pamit Queen sambil tersenyum.


"Iya silahkan, tapi Queen kalau kita ketemu lagi berarti nanti kita temenan ya!"


Queen hanya bisa mengangguk sambil terkekeh.


...||||...


**Yahhh salah paham:)

__ADS_1


Jangan lupa di like juga komen✨**


__ADS_2