QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
salah paham


__ADS_3

"lepasin.. tunggu dulu sebentar!!"


Gerrell yang baru saja keluar kamar terkejut mendengar suara dari kamar kakaknya. Terdengar seperti pekikan karena dia saja bisa mendengarnya. "sialan!! apa yang sedang mereka lakukan didalam?!"


Gerrell mendekati pintu dan menempelkan telinganya dipintu tersebut.


"*aw aw awshh... sakiit"


"pelan-pelan tuan!"


Wajah Gerrell memerah mendengar suara kakaknya yang merintih manja, dia bukanlah pemuda polos yang tidak tahu apa-apa. Gerrell sering kali menonton film biru saat sedang nongkrong dengan teman-temannya. Hanya untuk iseng semata. Jadi dia tahu apa yang sedang terjadi didalam kamar tersebut.


"haah huuh.. haaah huuh" Pemuda tampan itu membuang nafasnya berkali-kali. Menguasai dadanya yang sekarang berdebar tak karuan. Membayangkan apa yang sednag terjadi didalam kamar.


"aw.. tuan! ku bilang pelan-pelan"


Sekarang wajah Gerrell bertambah merah, bahkan sampai ketelinga "tidak bisa dibiarkan!" ucapnya, dia memundurkan tubuhnya dua langkah, lalu mengayunkan kakinya kearah pintu.


braaakk


"apa yang sedang kalian lakukan?! kak! akan kulaporkan hal ini pada dad!" pekik Gerrell tiba-tiba.


Kedua orang yang ada didalam kamar terkejut dan terkesiap saat melihat Gerrell, apalagi pemuda itu masuk kedalam kamar Queen dengan cara mendobrak pintu.


"kau sedang apa Rel?" tanya Queen heran.


"kak.. katanya kau bisa menjaga diri?! tapi ini apa?!" tanya Gerrell, jelas sekali dari nada suaranya Gerrell kecewa.


Queen mendengus, dia menatap jengah adik bontotnya itu "buka matamu!" ucap Queen memerintah.


Memang sedari tadi Gerrell menutup kedua matanya, dia takut akan melihat sesuatu hal yang merusak otak dan kepolosannya, meski dia tidak polos-polos amat.


Gerrell menggeleng "tidak mau! kau pasti sekarang tidak pakai baju kan?!"


"ck.. kau bodoh sekali sih Rel! buka sekarang matamu!"


Gerrell sedikit ragu, tapi dia membuka matanya perlahan. Dia dapat melihat kakaknya tengah duduk disofa sembari menatapnya tajam. Lalu dia menoleh kearah Darren yang juga duduk disisi Queen. "eh--" ucapnya saat melihat mereka berdua memakai pakaian lengkap


Queen berdiri dan mendekati adiknya, yang masih berdiri mematung dengan wajah cengo.


plaak


"aah-sakiit" keluh Gerrell saat kakaknya itu memukul kepalanya. Gerrell mengusap kepalanya pelan.


"apa yang kau pikirkan tadi hah?!"

__ADS_1


Gerrell menggeleng "tadi aku kira kakak--"


Queen menghela nafasnya dengan kasar "apa?! kepalamu ini isinya apa?! kenapa kotor sekali, jangan-jangan isinya debu! kalau iya biar kusuruh salah satu maid untuk memberaihkan isi kepalamu ini dengan vacum cleaner!"


Gerrell memundurkan tubuhnya satu langkah, menghindari tangan kakaknya yang hendak memukulnya lagi.


"jangan marah kak, bagaimana aku tidak salah paham, kakak merintih seperti tadi membuatku berpikiran yang iya-iya saja" ucapnya dengan jujur.


"ck.. pikiranmu ternyata sudah terkontaminasi, kakak merintih karena tanganku sakit terkena pecahan gelas" Queen mengangkat tangannya yang tadi sudah diobati dan sedang diperban oleh Darren.


Tadi ketika dia sedang membersihkan gelas yang tidak sengaja dia senggol hingga pecah, tangannya tanpa sengaja terkena pecahan gelas itu dan membuat tangan Queen terluka dan berdarah.


Gerrell meringis sembari menggaruk rambutnya yang tidak gatal "hehe ternyata aku salah paham, apa lukanya sangat parah kak?" tanyanya khawatir.


Queen menggeleng "hanya luka kecil"


"tapi ini--"


"ini ulahnya" ucap Queen sembari menunjuk Darren dengan dagunya.


Gerrell mengangguk mengerti "ka-kalau begitu lanjutan membalut lukanya kak. Aku keluar dulu"


Pemuda tampan itu langsung balik badan dan lari tanpa menunggu balasan dari sang kakak, sungguh Gerrell merasa malu sekali.


Queen menggeleng sembari menghela nafasnya panjang. Gadis itu menatap Darren yang sedari tadi diam saja. Melangkah dengan santai dan menjatuhkan tubuhnya disisi Darren.


"sialan.. gara-gara Gerrell suasana kamar ini berubah menjadi canggung sekali, apa yang harus aku katakan sekarang?" batin Queen, dia melirik Darren yang masih saja diam.


"apa yang sedang dia pikirkan sekarang?" batin Queen terus penasaran.


"kau kenapa?" tanya Darren yang merasa heran.


Queen menggelengkan kepalanya dengan cepat "tidak papa" jawabnya dengan cepat.


Darren mengangguk, dia tahu sekali jika Queen tengah malu dan canggung akibat kejadian tadi. Darren meraih tangan Queen, dia memperhatikan perban hasil karayanya "sepertinya ini kurang kencang" gumamnya mengomentari. Darren berusaha mengalihkan topik agar gadisnya tidak lagi canggung.


Queen menggeleng "ini sudah bagus kok" gadis itu menarik tangannya "lagian yang luka itu hanya jariku kenapa kau perban semuanya?" ucap Queen sedikit menggerutu.


"aku takut lukanya bertambah lebar sayang"


Queen memutar bola matanya malas, bagaimana mungkin lukanya bertambah lebar? aneh sekali.


Darren kembali menarik tangan Queen, dia mengecup perban tersebut.


blussshh

__ADS_1


Wajah Queen memerah mendapatkan perlakuan seperti itu dari Darren.


Darren mendongak dan pandangan matanya bertemu dengan mata Queen. Senyum simpul tercetak dibibir Darren saat melihat Queen melengos kesamping menghindari tatapan matanya. Wajahnya pun memerah, tampak begitu imut.


tul tul


Darren menoel pipi Queen yang tampak kemerahan.


"issh.. jangan menyentuhku"


Darren tergelak "kamu sangat menggemaskan saat blushing"


Queen menggeleng "aku tidak blushing!"


"lalu ini apa?" tanya Darren sembari menunjuk pipi Queen.


"aku bilang tidak ya tidak!" ucap Queen mengelak, dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Queen.."


Queen membuka tangannya , dia memberanikan diri menatap mata Darren "hmm?"


"aku sangat mencintaimu"


Queen diam. Dia bingung hendak menjawab apa karena merasa gugup. Padahal Queen tahu sekali hatinya memang sudah terisi oleh pria yang baru saja mengatakan cinta padanya.


"aku juga sangat mencintaimu, aduuh kenapa mulutku tidak mau bicara! bodoh!"


Darren menghela nafas panjang "apa kau tidak mencintaiku?"


Queen menggeleng.


"tidak?!" tanya Darren, dia mengepalkan tangannya dengan erat. Jangan bilang gadis cantik ini tengah mempermainkan dirinya.


Queen menggeleng dengan cepat lagi "tidak bukan itu! a-aku mencintaimu, aku malu saja saat mengatakannya"


Darren menarik sudut bibirnya, lalu memeluk Queen. Tadi dia hampir marah "kenapa malu? mana Karren yang pemberani itu? Karren yang berani dengan lantang mengungkapkan perasaannya?" ucapnya berbisik.


Queen mendorong dada bidang Darren dengan pelan "ah benar.. Karren kan memang tidak tahu malu" ucapnya menggerutu.


Darren tergelak saat melihat Queen memanyunkan bibirnya.


"isshh" ujar Queen saat Darren iseng menyomot bibirnya.


"ahhhkk-- kaaaak Queeen toloooong"

__ADS_1


Queen terkesiap saat mendengar suara Gerrell memekik "Gerrell !!" gadis itu segera berdiri dengan wajah khawatir. Kemudian dia lari kearah meja nakas dan mengambil sesuatu dilaci.


Setelah benda yang dia ambil berada ditangan, Queen segera berlari keluar dari kamarnya mengabaikan Darren yang berdiri dengan menatap tidak percaya gadisnya.


__ADS_2