
"sudah Queen.. dia sudah pergi jangan sedih lagi" ucap mom Emily dengan lembut. Dia melihat mata gadis cantik yang ada didepannya ini masih berkaca-kaca.
Queen mengangguk dan mengusap sudut matanya "terimakasih aunty"
Mom Emily mengangguk dan menepuk kepala Queen.
"ehem"
Queen dan mom Emily menoleh kesumber suara, mereka menatap seorang pria tampan yang tak lain adalah Darren sedang berjalan mendekat kearah mereka.
"gilaaa.. tampan sekali" batin Queen memuji ketampanan Darren. Pria itu hanya mengenakan celana pendek dan kaos. Rambutnya sudah tidak tertata rapi seperti biasanya, sedikit acak-acakan tapi entah kenapa malah menambah ketampanan Darren. Pria itu tampak santai dan sangat keren.
"Ren.. kamu tidak melihat mom ya?" tanya mom Emily sedikit kesal saat melihat arah pandangan Darren hanya terpaku dan tertuju pada gadis yang ada disebelahnya.
Darren menoleh kearah mom Emily dengan alis mengkerut "lihat" jawab Darren seadanya.Ia segera mendekati Queen dan menarik pinggangnya. Membuat gadis yang tadi sedang terpesona akan ketampanan Darren terkejut.
"ck.. ya mom tahu.. dunia hanya milik kalian berdua! kalian mengobrolah.. mom mau kekamar dulu" mom Emily segera meninggalkan mereka berdua diruang tamu.
Queen masih diam. Tapi jantungnya berdegub dengan kencang saat wangi maskulin dari parfum yang Darren kenakan masuk kedalam indera penciumannya. Wangi yang selalu membuatnya nyaman saat berada di sisi pria tampan yang masih memeluknya ini.
Queen mendongakkan sedikit kepalanya, dia dapat melihat tatapan mata Darren yang biasanya tajam sekarang melembut. Hal itu membuat deguban jantungnya bertambah kencang. Darahnya terasa berdesir dan mengumpul diwajahnya.
Darren menarik kedua sudut bibirnya melihat gadis yang masih dia peluk ini tampak salah tingkah. Sungguh terlihat sangat menggemaskan sekali.
"jangan menatapku seperti itu tuan!" ujar Queen, dia memutuskan kontak mata mereka dengan memalingkan wajahnya kesamping.
"why?"
"kau bisa membuat aku terkena serangan jantung"
Darren tergelak saat mendengar kejujuran gadisnya. Darren menarik tangan Queen dan meletakan tangan itu diatas dada bidangnya.
Queen terbelalak dan kembali menatap wajah Darren "apa yang kau--"
"rasakanlah!"
Queen menyernyitkan alisnya, tapi sejurus kemudian dia mengerti akan apa yang baru saja Darren ucapkan. Queen memejamkan matanya saat merasakan degub jantung Darren yang ternyata sama cepatnya dengan dirinya.
Queen membuka mata dan kembali mendongak sehingga mereka kembali saling bersitatap.
"aku juga merasakan apa yang kau rasakan Queen"
Queen menarik kedua sudut bibirnya, ternyata Darren juga berdebar saat berada disisi nya sama dengan dirinya.
"jadi jangan ragukan lagi perasaanku Queen, aku sangat-sangat mencintaimu"
blusshh
__ADS_1
Wajah Queen bertambah merah. Mirip seperti udang yang baru saja digoreng. "sialan.. aku benar-benar sudah jatuh kedalam pesonanya"
"kau sungguh tidak romantis boy! merayu seorang gadis diruang tamu" ejek seseorang diambang pintu.
Queen terkesiap saat mendengar ucapan itu, dia segera mendorong dada bidang Darren sehingga pelukan itu terlepas. Queen menggaruk tengkuknya saat melihat ternyata yang datang adalah dad Edward. Sepertinya pria paruh baya itu baru saja pulang dari kantor.
"baru pulang dad?" tanya Queen untuk menghilangkan kecanggungan yang dia rasakan.
Queen melirik Darren tapi yang membuatnya heran dia tampak biasa saja, tidak malu setelah terpergok sedang bermesraan dengannya, bahkan wajahnya pun kembali datar.
"ya.. kamu baru datang?"
Queen mengangguk dan segera meraih tangan dad Edward. Menyalami dan mengecup punggung tangan pria paruh baya itu.
Dan seperti biasa, Dad Edward masih kaget saat Queen melakukan hal itu. Karena memang dinegara ini tidak ada budaya cium tangan keorang yang lebih tua.
"jangan mencium tangannya! bahkan kau saja tidak pernah mencium tanganku!" protes Darren.
Hal itu membuat dad Edward tergelak saat melihat anaknya yang biasanya sangat berwibawa sekarang bersikap kekanakan.
"kau mau aku cium juga?" tanya Queen.
Darren mengangguk dengan cepat.
"baiklah sini" Queen menarik tangan Darren "aku akan menganggap kau seperti uncle ku kalau begitu"
Darren terkesiap dan segera menarik tangannya "tidak usah!" ucapnya sembari melengos kesamping.
Darren yang merasa ditertawakan menatap kesal pria paruh baya itu.
"jangan menatapku begitu boy! kalau begitu dad masuk dulu ya Queen"
"ah-iya iya" jawab Queen dengan cepat.
Queen terkesiap saat tangannya ditarik oleh Darren "hey! kau mau membawaku kemana?"
Darren tidak mempedulikan Queen, dia tetap menarik tangan Queen kearah belakang. Queen hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan Darren.
Dan ternyata Darren membawa Queen ketaman belakang. Kerlip lampu-lampu taman yang ditata sedemikian rupa membuat taman itu sangat indah. Darren membawa Queen kesalah satu gazebo dan mengajaknya duduk disana.
Queen memperhatikan sekeliling, taman ini sangat cantik sekali. Ada kolam renang yang sangat luas juga. "cantik sekali" pujinya.
Darren menoleh dan memperhatikan Queen, wajahnya sungguh cantik sekali. Tangannya terulur untuk menyelipkan anak rambut yang sedikit menutupi wajah cantik Queen.
Queen menoleh dan tersenyum. Senyum yang menurut Darren sangat cantik. Bahkan jika bisa hanya dirinyalah yang bisa menikmati senyum cantik tersebut. Tidak boleh ada pria lain yang melihat kecantikan gadisnya. Jiwa posesif Darren mulai keluar.
"kenapa membawaku kemari?"
__ADS_1
Darren menggeleng. Dia tidak menjawab dan memilih untuk memeluk gadis ini saja.
"kenapa hmm?" Queen mengusap punggung Darren saat mendengar des-ahan nafas Darren yang berat.
"apa aku egois?"
"apa maksudmu?" tanya Queen tidak mengerti.
"jika hanya aku yang boleh memilikimu? ah- bukan! maksudku kamu hanya boleh melihatku, tidak boleh melihat pria lain"
Queen tergelak mendengar penuturan Darren.
"kenapa tertawa?" tanya Darren dengan kesal. Dia melepaskan pelukannya dan menatap tajam gadisnya.
"sekarang aku akan mengembalikan pertanyaan itu padamu, apa aku juga egois jika hanya aku yang boleh memilikimu?"
Darren menggeleng dengan pasti "tidak. Karena aku hanya mencintaimu"
"nah.. akupun sama tuan. Aku hanya akan melihatmu, tidak untuk pria lain. Mungkin saat aku melihat pria lain seperti melihat tiang penyangga saja" ucapnya sembari berkelakar agar suasananya kembali mencair.
Darren tahu sekali jika Queen mencintainya. Tapi dia tidak bisa mengelak jika pesona Queen sungguh membuat Darren takut. Takut kehilangan Queen. Jika suatu saat ada yang mencintai Queen lebih dari dirinya.
Queen memegang tangan Darren "percayalah.. aku hanya melihatmu tuan"
Darren mengangguk dan kemudian menarik Queen masuk kedalam pelukannya. "aku sangat mencintaimu, jangan kamu tergoda oleh pria manapun walaupun dia berada diatasku!"
Queen membiarkan Darren memeluknya. Sebenarnya Queen bingung saat Darren tiba-tiba berbicara seperti itu.
Setelah beberapa saat Queen melepaskan pelukan mereka "seharusnya aku yang berbicara seperti itu tuan!"
"kenapa?"
"pakai nanya lagi, banyak sekali gadis yang mengharapkan dirimu! contohnya nona J!"
Darren tergelak saat Queen tampak tidak sudi menyebut nama Jane "kau bisa mengatasi mereka kan? buktinya tadi kau bisa mengusir salah satunya?"
Mata Queen membola "kau melihatnya?"
Darren mencubit hidung Queen karena merasa gemas "tentu saja, kau sangat pintar berakting!"
Tentu saja Darren melihat karena pada saat Queen sedang ditekan oleh Jane sebenarnya Darren melihat dari kamera pengawas yang dia sambungkan ke leptopnya. Darren melihat semuanya.
Queen meringiskan giginya "kau tidak marah aku menipu mom mu?"
"untuk apa? justru aku mendukungmu" ucap Darren dengan serius.
Queen tertawa mendengar ucapan Darren dan Queen kembali memeluk Darren. Ternyata pria ini mendukungnya padahal dia dengan sengaja memanfaatkan situasi untuk menjebak Jane.
__ADS_1
**
Sorry selama bulan Ramadhan slow update..