
"Queen, sayang!"seru Kania ketika melihat sosok yang di tunggu-tunggunya keluar dari pintu bagasi rumahnya dengan Kenan yang berada di samping gadis itu dan Keano yang berada di gendongan Queen.
"Asalamuallaikum, Tante can!"salam Queen sambil menunduk, dia tidak bisa menyalami tangan Kania atau yang biasa dia sebut Tante Can (Tante Cantik) seperti biasanya karena kedua tangannya sibuk menggendong Keano.
"Waalaikum sallam, Mantu Can. Ini kenapa Keano tidur di gendongan kamu? Ken! Kenapa kamu gak gendong Kean sih? Kasian mantu Mama pasti berat gendong Keano."
Kenan memutar bola matanya malas, cowok itu menyalami tangan Kania lalu mencium pipi Bundanya itu.
"Gimana mau di gendong sama Ken, orang ini bocah satu baru mau di angkat aja udah makin nempel sama Queen,"jawab Kenan sebal.
"Aduh, maaf banget ya Queen. Kamu jadi pegel karena gendong anak Tante,"ujar Kania sambil menatap Queen dengan pandangan tidak enak.
"Gak apa kok Tan, lagian Kean gak berat-berat banget."
Kenan kembali mendelik, dia tahu sih Adiknya itu tidak terlalu berat untuk Queen gendong. Tapi ayolah! Kenan tidak suka ketika Adiknya memeluk erat Queen dan wajah bocah itu tenggelam di leher gadisnya. Dia cemburu pada bocah yang jelas-jelas Adiknya sendiri itu.
"Biar Tante yang gendong aja sini Queen,"ucap Kania sambil berusaha menggendong anaknya.
"Hm...gak mau!"
"Ya Allah, Kean. Ini Mama Nak, kasian itu Teteh Queen gendong kamu lama-lama,"omel Kania ketika Keano menolak gendongannya.
"Gapapa deh Tan, biar Queen antar ke kamar Keano aja,"ujar Queen sambil tersenyum manis.
Kania hanya bisa mengangguk, sebenarnya dia sangat tidak enak ketika Queen menggendong Keano. Akhirnya Kania menyuruh Kenan agar mengantar Keano ke kamar anak itu yang berada di lantai dua. Mereka menaiki lift karena paksaan Kenan.
"Kenapa harus naik lift segala sih, Ken? Kita cuma ke lantai dua rumah kamu kok."
"Jangan sok kuat deh. Kayak yang gak tau aja tangga di rumah aku sepanjang apa,"sinis Kenan sambil menatap Queen.
Rumah Kenan memang sangat besar, rumah itu sudah seperti istana saja. Ada lift juga di rumah ini, di rumah ini juga ada danau buatan dan taman yang di usulkan oleh Kania kepada suaminya ketika akan membangun rumah ini. Kania memang penyuka alam.
Setelah sampai di lantai dua rumah Kenan yang terlihat lenggang, kedua remaja itu pun berjalan di koridor rumah Kenan. Di sepanjang koridor mata Queen di suguhi oleh guci-guci mahal koleksi Kania, di dindingnya juga ada beberapa foto keluarga Kenan dan keluarga besar Badesta.
Akhirnya Kenan dan Queen sampai di kamar milik Keano, kamar Keano lebih luas di bandingkan kamar Queen. Dalam hati Queen tersenyum miris, rumahnya saja mungkin hanya sebesar dapur luas milik rumah Kenan. Dengan pelan dan lembut Queen membaringkan Keano di kasur berbentuk mobil milik bocah itu, dia sedikit kesulitan ketika Keano tidak mau melepaskan pelukannya.
"Ck, nyebelin banget sih!"desis Kenan sambil memalingkan wajahnya.
"Teh Queen jangan pergi,"lirih Keano tanpa membuka matanya.
"Gak akan Kean, Teteh tetep di sini sama Keano kok."
Tak lama pelukan Keano pun terlepas, Queen tersenyum senang sambil sedikit memijat bagian belakang punggungnya karena terlalu lama menggendong Keano. Dia tersentak kaget ketika tangan besar milik Kenan menyingkirkan tangannya lalu cowok itu memijit punggungnya dengan lembut.
"Pegel?"tanyanya pelan.
Queen mengangguk sambil berdehem, dia menikmati pijitan Kenan yang boleh di akui sangat enak.
"Kenapa kamu gak jadi tukang pijit aja sih Ken? Pijitan kamu enak,"ujar Queen sambil menengokan wajahnya kebelakang guna untuk menatap Kenan.
Kenan menaikan satu alisnya, dia menghentikan aksi memijatnya lalu menarik tangan Queen lembut. Cowok itu berjalan keluar kamar Keano dan masuk ke kamar yang berada di hadapan kamar Keano.
__ADS_1
"Boleh, tapi pasien yang aku pijit cuma kamu."
Queen tertawa, dia memukul pelan punggung tegap kekasihnya. Lalu dia duduk di sofa kamar Kenan dan memainkan ponselnya.
"Tunggu sebentar ya, Queen. Aku gak bakal lama ganti bajunya kok."
...||||...
"Gimana makanannya Mancan? Enak nggak?"
Queen menelan nasi serta lauknya dengan pelan, bibirnya mengembang sempurna dengan kepala yang mengangguk semangat. Masakannya memang sangat enak, dia tidak berbohong.
"Non Queen mau pakek udangnya nggak Non?"tanya Bi Janah sambil tersenyum.
"Dia gak suka udang,"sahut Kenan tanpa menatap Bi Janah.
"Eh, gak suka ternyata. Atuh hampura ya Non, Bibi gak tau."
Queen menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Gak apa-apa, Bi."
Setelah selesai makan, Queen serta Kania sibuk melihat-lihat perpustakaan keluarga Badesta yang sangat luas. Sebenarnya Queen tidak suka berada di tempat penuh buku yang membuatnya sesak nafas seperti ini, tapi mau bagaimana lagi? Dia harus menghargai Kania yang sekarang sibuk bercerita.
"Nah Queen, jadi Tante sama Omnya itu selalu ngajak Kenan waktu kecil buat belajar disini setiap sore hari sampai mau maghrib."
Waw! Pantesan otak pacar aku itu encer banget, puji Queen dalam hati.
"Kenan gak ngeluh bosen, Tan?"tanya Queen pelan.
"Anak itu gak pernah ngeluh, Queen."
"Pantesan pinter banget,"gumam Queen sambil menunduk.
"Apa Queen?"tanya Kania yang tadi sedikit mendengar gumaman Queen.
"Eh, ng-nggak kok Tan,"jawab Queen sambil menyengir.
Kania tersenyum, wanita cantik itu pun kembali berjalan keluar dari perpustakaan di ikuti Queen di belakangnya.
Kenan pintar, dan Queen bodoh.
Kenan sangat terkenal dan Queen bahkan tidak seterkenal Kenan.
Kenan punya segalanya dan Queen... Bahkan hidup sangat pas-pasan.
Kenan sempurna sedangkan Queen... Apanya yang sempurna? Tidak ada.
Sebenarnya Queen merasa tidak pantas untuk Kenan, bahkan banyak yang tidak menyangka bahwa Kenan akan mendapatkan gadis dengan wajah dan ketenaran yang masih di bawah rata-rata. Queen bahkan jauh dari kata 'kaya' dan dia juga jauh bila di bandingkan dengan mantan-mantan Kenan yang sempurna, sexy, bahkan cantik-cantik.
Tapi kenapa Kenan memilih Queen?
__ADS_1
"Ngelamun aja!"seru Kenan sambil merangkul bahu Queen dengan erat. Dia tertawa ketika gadisnya terkejut, bahkan dia gemas sendiri ketika melihat wajah merah Queen karena malu di tertawai oleh Kania yang melihat ekspresi terkejutnya.
"Ih, Kenan!"desis Queen sambil memelototi Kenan.
"Apa sih, Queen? Lagian kenapa dari tadi ngelamun terus coba? Kamu mau kerasukan jin di rumah ini?"
Mata Queen membulat, mendadak dia menyapu pandangannya kepada seluruh ruangan ketika mendengar perkataan Kenan tentang jin.
"Emang ada jin ya di sini, Tan?"tanya Queen ngeri.
Kania semakin tertawa ketika melihat wajah polos Queen yang menatap seluruh ruangan rumahnya dengan takut.
"Gak ada, Queen! Gak ada jin di rumah ini, omongan Kenan jangan di percaya ya,"jawabnya setelah meredakan tawa.
Queen mengangguk, dia meringis karena malu Kania menertawakannya.
"Bunda kasih blush on ke muka Queen ya, hm?"tanya Kenan serius.
Kening Queen serta Kania mengerut, jari-jari Queen spontan meraba wajahnya. Perasaan Kania tidak melakukan apapun pada wajahnya.
"Bunda gak apa-apain wajah Queen kok, Ken. Emang kenapa?"
"Kok muka pacar Kenan bisa merah gini, Bun? Bikin gemes lagi!"ucap Kenan yang berhasil membuat wajah Queen tambah merah.
"Bisa aja kamu!"ejek Kania sambil kembali tertawa.
Queen mencubit pelan pinggang pacarnya dengan menatap Kania malu. Bukannya meringis karena sakit justru Kenan malah semakin merapatkan rangkulannya sehingga wajah Queen menempel pada dada bidang cowok itu.
"Kenan engap!"
"Apa? Gak denger!"
"Kenan kamu neken aku, ih!"
"Ngomongnya yang jelas, Ratu!"
"Aku nangis nih!"
Kenan melepaskan rangkulannya, cowok itu tersenyum geli ketika melihat Queen yang mengambil udara di sekitarnya dengan rakus.
"Jahat,"gumam Queen sambil cemberut.
"Jangan cemberut gitu dong, Queen. Akunya jadi pengen noyor!"
"Ih, bukannya di bujuk malah ini pengen noyor!"omel Queen sebal.
Kania melihat interaksi antar keduanya, dalam hati yang paling dalam wanita itu sangat senang melihat pasangan tersebut. Dia berharap bahwa Kenan benar-benar akan dengan Queen, dia bisa melihat ada kesungguhan di mata anaknya itu.
...||||...
Uwu banget yaa🙃
__ADS_1
*Translate
Hampura itu artinya maaf*.