
Gerald dan Gerrell melihat kakak mereka tengah duduk didepan ruang operasi sendirian. Tatapannya tampak kosong menatap pintu ruang operasi yang tertutup itu.
Mereka tahu sekali jika pikiran Queen tengah kalut.
"kak" panggil Gerrell dengan lembut, dia memegang tangan Queen untuk membuyarkan lamunan nya.
Queen yang tadi tak menyadari hadirnya seseorang menoleh, senyum dibibirnya merekah melihat kedua adiknya yang saat ini datang tanpa adanya luka sedikitpun. Sudah Queen pastikan jika mereka berhasil menangani musuh Darren. "kalian kenapa kemari?"
"kita mau menemanimu disini" ujar Gerald.
Queen tersenyum dan mengangguk "bagaimana? apa kamu berhasil memimpin pasukan kita?"
Gerald mengangguk.
"good boy" ucap Queen sembari mengusap kepala Gerald.
"aku juga memberikan kontribusi untuk kemenangan kita kak" ucap Gerrell tidak mau kalah.
Queen tergelak lalu menarik telinga Gerrell "iya. terimakasih kalian sudah berhasil menghabisi mereka. Dan kalian kembali tanpa adanya luka"
Gerald dan Gerrell mengangguk sembari tersenyum..
"bagaimana keadaan tuan Darren kak?" tanya Gerrell penasaran, dia tampak khawatir. Bukan tanpa alasan karena dia telah dijanjikan akan diberi dukungan saat akan memulai karirnya nanti.
Queen menunjuk ruangan dihadapannya "sedang diambil pelurunya oleh tim dokter" ucapnya terdengar parau. Walau bagaimanapun Gerald dan Gerrell tahu sekali bagaimana perasaan Kakak mereka pada Darren.
Perasaan kakak mereka bukan main-main. Queen benar-benar mencintai Darren.
"semua akan baik-baik saja. Kakak tenang saja" ujar Gerrell memberikan semangat untuk kakaknya itu.
Queen mengangguk "ya. kakak juga berfikir seperti itu"
"oh iya kak. Kakak tahu tadi aku telah menghabisi banyak nyawa loh" ucap Gerrell mulai bercerita. Dia berusaha mengalihkan kesedihan kak Queen "tapi yang menurutku sangat luar biasa adalah calon suamimu itu"
Alis Queen menyernyit "kenapa bisa?"
"dia berhasil menumbangkan banyak sekali musuh hanya seorang diri, lalu dia tidak bersenjata kak! walau pada akhirnya kalah dan hampir saja mati. Tapi itu sangat-sangat luar biasa sekali"
"kau itu sebenarnya mau memujinya atau menghinanya sih?" gerutu Queen.
Saat melihat wajah kesal Queen Gerrell tertawa "hahaha.. dua-duanya"
"dasar kau ini"
Ditengah obrolan tersebut, lampu operasi padam yang menandakan operasi telah selesai. Hal itu membuat Queen berdiri, saat melihat salah satu dokter keluar Queen langsung mendekatinya "bagaimana keadaannya dok? apa dia baik-baik saja?"
"maaf nona.. tuan kehilangan banyak sekali darah"
deg
Mata Queen membola melihat wajah tegang dan sendu dokter tersebut. Tangannya terkepal "apa?! ada apa dok?!"
"sekali lagi maafkan saya nona--" ucapnya dengan ambigu.
Queen langsung mendorong tubuh dokter itu tanpa mendengarkan penjelasannya. Queen dengan panik masuk kedalam ruang operasi.
Matanya terbelalak melihat Darren yang wajahnya ditutup oleh selimut "huaaa..." tangisnya pecah lalu dia memeluk tubuh Darren "sayang jangan pergi tinggalkan aku huaa.."
Queen membenamkan wajahnya diatas tubuh Darren "kenapa kau tidak bisa bertahan?! kau lemah sekali"
"kau bodoh! bangun! jangan tinggalkan aku hiks..hiks.." Tangisnya semakin pecah, dia bahkan sekarang memukuli dada Darren. "bangun! kau baru saja melamarku tadi siang, kenapa sekarang kau sudah menjadikanku seorang janda?" ucap Queen asal bicara. Dia yang tengah bersedih berbicara tanpa berfikir.
"bangun cepat atau aku akan mencari pria lain yang lebih tampan darimu--"
tuk
"aw.." pekik Queen saat merasa keningnya dipukul oleh seseorang, dia mendongak dan melihat ternyata tangan Darren yang melakukan hal itu. "ahhkk-- mayat hidup!" pekik Queen lalu turun dari atas tubuh Darren. Berusaha untuk segera kabur.
"aku belum mati bodoh!" suara Darren terdengar, hal itu membuat Queen yang awalnya hendak kabur kembali membalik badannya. Wajah Darren sudah terlihat, matanya benar-benar terbuka. Darren benar-benar belum mati.
"ka-kau belum mati?" tanya Queen. Gadis itu mengusap air mata dan ingus nya yang keluar menggunakan tangan.
__ADS_1
"kau lihat sendiri bukan? aku masih hidup! apa tadi yang kau bicarakan?! kau mau mencari pria tampan hah?!"
Queen menggeleng dan berjalan mendekati Darren "aku hanya asal bicara saja. Didunia ini kan hanya kamu yang paling tampan" ujarnya sembari memeluk Darren dengan hati-hati. Padahal tadi ia mengamuk dengan cara memukuli Darren.
Darren mendengus dan berdecih.
"pfftt.. hahaha pasangan konyol"
Queen menoleh kebelakang dimana Gerrell sedang mentertawakan dan mengatai dirinya. Dia menatap tajam Gerrell.
Gerrell yang ditatap seperti itu terkesiap lalu mundur dan menjadikan tubuh Gerald sebagai perisainya. Takut sekali melihat tatapan mematikan itu, membuatnya bergetar saja.
Lalu Queen menjentikkan jarinya pada dokter yang tadi keluar "kau kemari lah!"
Dokter itu segera mendekati Queen sembari menunduk.
"kau yang tadi memberikanku informasi palsu! gajimu bulan ini dipotong lima puluh persen!!"
Mata dokter itu terbelalak "tapi nona, tadi saya belum selesai menyampaikan informasinya, anda lebih dulu masuk kedalam ruangan ini" ucapnya membela diri. Memang benar apa yang ia katakan jika dia memang belum selesai berbicara. Dia hendak memberi tahu jika stok darah seperti nya tidak cukup dan saat ini dia membutuhkan pendonor untuk melanjutkan transfusi darah untuk tuan Darren. Tapi nanti setelah kantong darah yang sudah terpasang habis.
"delapan puluh persen karena kau menyangkalnya! kau tadi bicara ambigu seperti itu membuat orang salah paham saja!"
"maafkan saya nona. Saya sungguh tidak sengaja"
"serat--"
"baik nona. delapan puluh persen" ucap dokter itu dengan cepat saat nona mudanya hampir mengucapkan seratus persen. Dia tentu saja tidak mau sampai semua gajinya hilang. Dan Queen tidak mungkin berbohong.
Tangan Queen ia kibaskan, dia menyuruh dokter itu untuk pergi. Dengan langkah gontai, Dokter itu keluar dari ruangan tersebut.
Queen membalik tubuhnya dan kembali menatap Darren. Dia merasa malu sekali sekarang. Bagaimana dia menangis histeris diatas tubuh Darren tadi. "kenapa kau tadi menutup wajahmu dengan selimut?"
"aku ingin saja!"
Queen mendengus, dia merasa kesal sekali sekarang. Tangannya terlipat dan mulutnya mengerucut.
"nona.. saya akan membawa tuan untuk ditempatkan diruang rawat"
Gerald dan Gerrell mengangguk "tapi kakak bagaimana?"
"aku akan menemaninya"
Gerrell mengangguk lagi "kalau begitu, kita pulang dulu ya kak"
Queen mengangguk, dia berjalan keluar dari ruang operasi tersebut. Lalu disebuah persimpangan lorong mereka berjalan beda arah karena tujuan mereka memang berbeda.
Queen menghela nafasnya sebelum memasuki ruangan yang digunakan untuk merawat Darren. Suasana malam ini sangat sunyi karena hari sudah menjelang pagi. Queen membuka handle pintu.
"dari mana saja kau?! kau tidak benar-benar berniat untuk mencari pria tampan disini kan?!"
Queen mendengus saat Darren masih saja membahas hal ini. Membuatnya kembali teringat kejadian konyol tadi. "mana ada pria tampan disini, yang ada pria-pria pucat karena sedang sakit" gerutunya. Queen berjalan mendekati tempat tidur.
"cih.. kau bicara dalam keadaan tidak sadar, pasti itu adalah niat terselubung yang tersimpan dibenakmu selama ini kan?" ujarnya tampak risau, sebenarnya Darren takut, takut jika apa yang Queen ucapkan benar-benar terjadi. Darren tidak mau kehilangan cintanya.
Queen menutup mata Darren dengan tangannya "lebih baik kamu tidur, jangan bicara aneh-aneh yang membuat kesehatanmu terganggu"
Darren menghela nafasnya panjang dan mencoba melupakan kata-kata Queen tadi, dia menarik tangan Queen. Mengecupnya dengan lembut "kalau begitu ayo kita tidur bersama"
Mata Queen terbelalak mendengar ucapan ambigu Darren "tidur bersama?"
"tidur dalam artian sebenarnya! kamu berfikiran apa tadi? hal mesum ya?"
Queen menggeleng "tidak..tidak.." ucapnya dengan cepat sembari menggelengkan kepala. Menampik ucapan Darren, tapi memang sebenarnya tadi tiba-tiba saja otaknya bertraveling memikirkan hal mesum.
"aku mau saja, tapi nanti ya setelah aku sembuh. Perutku rasanya sakit sekali"
"kyaaa.. jangan harap!! kau itu suka sekali menggodaku!" ucap Queen memekik. Wajahnya memerah seperti tomat.
"hahaha kamu menggemaskan sayang"
"kamu menyebalkan!"
__ADS_1
Perdebatan terus saja terjadi sampai pasangan itu lelah.
**
Pagi harinya Darren membuka mata, cahaya matahari memasuki ruangan melalui celah celah ventilasi. Pria itu menoleh kekanan dan kiri mencari keberadaan tunangannya, dia menyernyit saat tak melihat batang hidungnya sama sekali "kemana dia?"
"siapa? gadismu?"
Darren terkesiap, dia menoleh kesumber suara dimana ada seseorang yang baru saja keluar dari toilet. Dia adalah mom Emily.
"mom?"
"kau mencari siapa Ren? Queen?"
Darren mengangguk menjawab ucapan mom Emily.
"mom menyuruhnya pulang"
"mom mengusirnya ?"
Mom Emily menatap kesal putera nya itu "kau menuduh mom mengusirnya? ck.."
"lalu?"
"mom menyuruhnya beristirahat dan pulang. Mom melihat dia sangat kelelahan sampai matanya seperti panda"
Yang Darren tahu, ia tertidur dengan memeluk tubuh Queen. Sepertinya setelah dia terlelap Queen tak tidur dan terus menjaganya sepanjang malam. Tidak beristirahat sampai keadaannya seperti yang momnya ucapkan.
"sebenarnya apa yang terjadi sampai membuatmu seperti ini? bahkan sekarang kakek dan dad mu pergi entah kemana setelah melihat keadaanmu"
Darren menghela nafasnya panjang. Mom nya tentu saja tidak pernah mengetahui tentang dirinya yang memasuki dunia bawah. Darren ragu untuk memberi tahu momnya karena takut mom nya ini khawatir. Mungkin ia akan mengatakannya nanti, tapi tidak sekarang "aku dirampok"
"menakutkan sekali negara ini. Merampok sampai menembak putera mom" ujarnya terdengar geram. Dia sampai memukul tangannya dengan kepalan tangan yang satunya.
Walau sebenarnya mom Emily tidak terlalu dekat dengan Darren mengingat karakter anaknya seperti ini, tapi hati ibu mana yang rela melihat anaknya terluka. Dia pasti geram dan marah sekali.
"aku tidak papa"
"mom merasa lega, sekarang kamu sarapan ya? biar mom suapi"
Darren menggeleng "tidak perlu. Aku makan sendiri saja"
Sembari mendengus, Mom Emily menyerahkan piring yang sudah ia pegang. Anaknya ini sudah mandiri sejak kecil. Karena hal itulah yang membuat hubungan mereka tidak terlalu hangat. Darren selalu bisa menyelesaikan masalah tanpa bantuannya.
Setelah makan dan minum obat. Darren kembali tertidur. Sepertinya itu akibat obat yang ia konsumsi.
tok tok tok
Mom Emily melihat kearah pintu yang diketuk dari luar.
Ceklek
"Hay aunty..." sapa Queen setelah membuka pintu tanpa menunggu orang yang ada didalam menyuruhnya masuk.
"kau! apa yang kau lakukan disini?! aunty sudah katakan untuk beristirahat dirumah. Dasar gadis pembangkang!" ucap mom Emily marah sembari bertolak pinggang.
Queen meringiskan giginya lalu dia berjalan mendekat, gadis cantik yang sudah tampak segar ini menggandeng tangan mom Emily. Sepertinya Queen pulang hanya untuk mandi saja "jangan marah aunty" ucapnya terdengar manis.
Queen tahu meski ucapan wanita paruh baya ini terdengar ketus, tapi sejujurnya ucapannya itu penuh dengan perhatian.
"kau gadis yang tidak mendengarkan orang tua! menyingkirlan dariku!"
Bukannya menjauh, Queen malah mengusal dilengan mom Emily. Mencoba bersikap manja agar wanita paruh baya ini luluh "jangan marah aunty. nanti cepat tua loh"
"ishh.. kau ini benar-benar gadis nakal, berani-beraninya mengejek calon mertuamu sendiri" ucap mom Emily pada akhirnya menyerah. Dia memilih untuk duduk dan diikuti oleh Queen.
"hehehe.." Queen hanya cengengesan membiarkan wanita paruh baya itu kesal.
Pada akhirnya mom Emily membiarkan Queen berada disana, dia mengajak Queen untuk sekedar mengobrol. Meski agak ketus tapi paling tidak wanita paruh baya ini mau melayani bicara Queen yang cerewet ini.
Sampai tanpa sadar Queen terlelap diatas sofa. Sepertinya memang Queen kelelahan tapi memaksa diri untuk datang lagi untuk menjaga Darren.
__ADS_1
"gadis kecil yang keras kepala" ujar mom Emily memberi julukan untuk Queen. Bagaimana tidak keras kepala padahal ia terus saja menolak Queen tapi gadis ini tidak pernah menyerah. Sudut bibirnya tertarik keatas melihat bagaimana Queen tertidur sangat pulas seperti bayi.