
Darren menggandeng tangan Queen dengan lembut. Tatapan matanya kembali tajam namun ada binar berbeda sekarang. Dia yang sudah berhasil membawa Queen kembali padanya tentu saja merasa bahagia.
Maka dari itu, wajahnya yang memang sangat tampan bertambah tampan saja.
Queen saja merasa senang melihat wajah itu. Dia terus tersenyum saat melihat betapa berharganya dirinya untuk Darren. Mengingat hal itu, tiba-tiba saja hatinya membuncah dan perasaannya pada Darren bertambah berkali-kali lipat. Dia semakin mencintai pria ini.
"Kakak"
Queen menatap adiknya saat dirinya dipanggil . Senyumnya bertambah lebar melihat adik kesayangannya mulai berjalan mendekat.
Melihat Gerrell yang merentangkan kedua tangannya kearah Queen, dia dengan sigap menahan kening pemuda itu.
"ish.. apa yang kau lakukan?" keluh Gerrell terdengar tidak terima. Dia menoleh kearah Queen yang sedang terkikik. "kak" panggil nya dengan nada memelas.
"Minggir sayang. Aku mau memeluk adik kecilku" ujar Queen sembari mendekati Gerrell kemudian memeluknya.
Mendapatkan pelukan hangat dari Queen, Gerrell tersenyum lalu menoleh kearah wajah Darren yang berubah merengut. Darren menatap Gerrell tajam sekali, namun bukannya takut Gerrell malah tersenyum meledek. Kemudian menjulurkan lidahnya kearah Darren.
Darren hanya mendengus dan membuang muka kesamping melihat tingkah Gerrell yang kekanakan. Dia sendiri tidak sadar jika dirinya juga kekanakan saat melarang kakak beradik itu berpelukan.
"coba kulihat ada yang lecet atau tidak" ucap Gerrell membuka obrolan. Dia melepaskan pelukannya dengan Queen lalu memutar tubuh kakaknya untuk melihat dengan teliti jika kakaknya itu baik-baik saja.
Queen berdecak dan menonyor kening Gerrell karena merasa jengkel "aku baik-baik saja. ish"
Gerrell merengut karena keningnya ditonyor "aku takut kakak lecet, nanti dad mengamuk"
"bukan hanya dad. Dia juga pasti mengamuk" bisik Queen sembari melirik Darren "kau tahu Rel, Louis habis sama dia. Wajahnya udah nggak berbentuk lagi"
"benarkah? aku jadi penasaran"
"ah. Lupakan saja dia. Oh kau juga baik-baik saja kan?"
Gerrell berdecak "apa kau tak lihat? aku sehat dan tanpa cela. Aku masih tampan seperti biasanya" setelah berucap Gerrell mengusap rambutnya kebelakang .
"cih.. angkuhnya"
Queen menoleh kearah sumber suara, dimana Edgar berdiri. "kau disini juga?"
"ya. kau harus berterima kasih kepadaku karena sudah mengasuh anak ini"
__ADS_1
Gerrell yang mendengar itu berdecih "anak apa? kau lupa siapa aku?"
Edgar terkesiap "ah iya lupa. Maaf guru"
Queen yang tidak paham hanya angkat bahu melihat interaksi keduanya. Dia memilih menoleh kearah beberapa orang yang tak sadarkan diri. "mau kalian apakan mereka nanti?"
Darren yang melihat arah pandang Queen menghela nafas "aku belum memikirkan nya, tapi yang jelas sesuatu yang buruk sudah menanti mereka"
Queen mengangguk mengerti "kurasa mereka masih bisa berguna" ujar Queen berpendapat. Dia selalu bisa memanfaatkan siapa saja jadi dia rasa beberapa ketua bandit itu bisa Darren gunakan untuk memperkuat pondasi Black hold agar lebih kokoh. "mereka pasti memiliki banyak sekutu. Kamu hanya perlu menyiksa mereka dan setelah mereka menyerah kau bisa mengendalikan mereka sesuka hati"
"maksudmu?" tanya Edgar yang masih belum mengerti ucapan Queen.
"Kita lihat bagaimana reaksi mereka saat bangun. Kalau mereka menolak bersekutu dan memilih menentang, penyiksaan adalah jalan yang tepat. Sebelum mereka meminta ampun jangan pernah berhenti. Namun, setelah mereka benar-benar menyerah kalian obati semua lukanya sampai sembuh. Lalu lihat bagaimana rekasi mereka kedepannya"
Edgar tertegun mendengar ucapan Queen, dia berfikir sejenak "kurasa setelah itu mereka akan ketakutan dan trauma sehingga tak akan berani macam-macam"
"ternyata kau punya otak"
Edgar menoleh kearah Gerrell dengan pandangan jengkel saat mendengar ucapan menyebalkan dari mulut pemuda ini "rasanya aku ingin memasukan cabai kemulutmu Rel"
"Aku suka pedas. Jadi tak masalah"
Mendengar jawaban Gerrell membuat Edgar semakin kesal. "Aku urungkan niatku untuk berguru padamu. Aku bisa membayangkan bagaimana kau akan menyiksaku nanti"
"kaaau!!" pekik Edgar yang kemudian menjepit kepala Gerrell disela-sela ketiaknya.
Darren yang mulai lelah kembali menarik tangan Queen untuk mengikutinya "ayo pulang. Kamu perlu menyapa orang tuaku"
"tapi Gerrell"
"biarkan dia. Edgar akan menjaganya dengan baik"
Queen mengangguk lalu teringat sesuatu"Aku kotor. Aku mau mandi dulu" ujar Queen. Dia memang belum mandi sejak tadi pagi.
Darren menolehkan kepalanya "kamu masih cantik."
"Tapi bau"
Darren tergelak mendengar gerutuan Queen. Padahal gadisnya ini sama sekali tidak bau, namun ia memilih untuk menurut. Dia akan membawa Queen keapartemennya terlebih dahulu agar gadis ini bisa membersihkan diri.
__ADS_1
***
Setelah beberapa hari.. Queen hanya menikmati hari-harinya untuk berjalan-jalan dengan Gerrell selama Darren bekerja. Dia menyusuri Negara ini dengan suasana hati yang bagus karena tak ada lagi yang membuatnya khawatir.
Rumor yang menyeret nama Darren dan seorang aktris pun sudah lenyap sehingga mood Queen semakin baik saja.
Sekarang di sebuah cafe yang cukup nyaman Queen tengah duduk sembari menatap keluar jendela. Tatapan matanya lurus kearah jalan yang terlihat dari sana. Cukup ramai karena hari semakin sore dengan beberapa orang yang terus berlalu-lalang dijalan khusus pejalan kaki. Kemudian dia menoleh kearah pintu masuk dimana ada dua orang berbadan besar tengah berdiri disana. Queen mendengus melihat hal itu,ia memilih untuk mengabaikannya dari pada merusak mood.
Suasana disini cukup membuatnya hangat. Apalagi iringan musik jazz terdengar indah mengalun dan beberapa orang yang ada didalam cafe berbincang hangat dengan teman semejanya. Sedangkan Queen menyesap coffe matcha hangat pesanannya. Dia tengah mengerjakan pekerjaannya yang tadi pagi dikirimkan oleh Devika untuk ia kerjakan.
Setelah beberapa hari menganggur, Queen merasa dirinya sudah bisa mengerjakan pekerjaannya. Menjadi tidak produktif membuat tubuhnya justru menjadi sakit.
Queen juga mendapat laporan berkala dari tangan kanannya yang terus melaporkan kinerja anak buah dibawah naungan Tiger White. Meski dad Arsen masih memegang kendali, Queen sendiri sudah mulai terjun kedunia gelap tersebut.
"ehem"
Queen yang sedang menatap layar leptop mendongak saat terdengar suara deheman seseorang "ah. kamu disini?" ujarnya sembari tersenyum sedikit dan terlihat agak canggung. Queen berdiri dari duduknya kemudian memeluk sekilas pria yang tak lain adalah tunangannya.
"hmm.. Aku takut kekasihku digoda oleh pria lain setelah diam-diam pergi sendiri"
Queen memutar bola matanya jengah mendengar ucapan Darren. Kekasihnya itu jauh lebih protektif dan posesif setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Dia menyiapkan beberapa orang untuk menjaganya. Ini sangat berlebihan sekali karena ia bisa menjaga dirinya sendiri. Hal ini cukup membuatnya kesal "sendiri? lalu mereka?" tunjuk Queen pada dua orang yang berdiri disisi pintu masuk.
Darren hanya diam mendengar ucapan Queen yang terdengar agak kesal.
"Jangan kekang aku atau aku akan lari" ucap Queen dengan suara tegas dan sedikit menekan.
Darren terdiam sejenak melihat kilat jengah dimata kekasihnya ini. Menghela nafasnya panjang dan kemudian menarik Queen untuk kembali duduk "aku hanya mengkhawatirkan kamu"
"Aku tidak suka diikuti seperti seorang tahanan" gerutu Queen sembari melirik dua orang yang masih berdiri didekat pintu masuk.
Darren akhirnya mengangguk dan menyuruh anak buahnya untuk pergi dari sana. Dia kemudian menoleh kearah Queen "sudah"
"Aku hanya ingin bebas pergi. Kenapa mereka kamu suruh untuk mengikuti aku? aku bukan anak kecil atau orang tua" keluhnya lagi. Setelah kedua orang itu pergi Queen mulai merengek.
"aku hanya menyuruh mereka menjagamu kalau kamu tidak pergi bersama dengan Gerrell. " sanggah Darren dengan cepat.
"Jangan bohong. Aku cukup jeli untuk melihat hidung anak buahmu."
Mata Darren sedikit berkedut saat mendengar ucapan Queen. Ternyata gadis ini tidak bisa dibohongi. Darren memang menyuruh mereka terus mengawasi Queen dan Gerrell secara diam-diam. Setelah ketahuan begini, Darren jadi malu.
__ADS_1
Sebenarnya ia memang ingin menutupi sedikit saja keposesifannya, namun sialnya Queen mengetahui hal ini dengan mudah. Darren menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk menutupi rasa canggung nya "aku hanya khawatir sayang" wajahnya mengiba agar Queen tak lagi kesal.
Gadisnya ini terlalu bebas dan tak mau dikekang. Namun rasa khawatirnya terlalu berlebihan sehingga ia memilih jalan ini. Darren melakukan hal ini agar hatinya merasa tenang saja.