
Queen mengendarai mobil dengan diam, matanya fokus memperhatikan jalanan yang mulai padat dengan pengandara mobil ataupun sepeda motor.
"kak"
Queen melirik adiknya yang memanggil dirinya "hmm"
"kau diam saja sedari tadi? sedih ditinggal tuan arogan ya?"
Queen mendengus "ck.. siapa juga yang sedih! aku ini kaya punya banyak uang. Jadi kalau mau menyusulnya bukan perkara yang sulit" ucapnya dengan ketus.
"lalu? kenapa kau murung?"
Queen menoleh kearah wajah sang adik yang terlihat menghawatirkan dirinya "tumben sekali kau perhatian padaku? kau kehabisan uang ya?" tanyanya sembari tersenyum usil.
Gerrell mendengus dan kembali menghadap kedepan "lupakan ucapanku tadi! menyesal aku mengkhawatirkan kakak, sungguh
menjengkelkan!" gerutunya terdengar kesal. "aku akan menjadi CEO sebentar lagi, kekurangan uang? itu tidak akan pernah terjadi padaku"
Queen kembali fokus kejalan saat melihat adiknya yang tampak kesal, dia suka sekali mengusili pemuda yang sedang beranjak dewasa itu.
Sesampainya dimansion, Queen dan Gerrell masuk kedalam dan mulai menjalankan aktivitas mereka masing-masing.
**
Didalam kamar, Queen segera berganti pakaian dengan pakaian formal karena ia hendak pergi menuju kantor.
Wajahnya yang cantik dipoles dengan begitu flawless. Sangat cantik dan terlihat lebih dewasa dari usianya.
Setelah memastikan penampilannya sempurna, Queen meraih tas branded yang senada dengan baju yang ia kenakan. Menentengnya menuju keluar dari kamarnya.
Saat keluar pas sekali dengan adiknya yang juga baru saja keluar dari kamarnya "Rald"
Gerald yang dipanggil menoleh "hmm?" hanya berdehem untuk menyahuti panggilan sang kakak.
Queen berjalan mendekati adiknya itu "kau mau kemana?"
"pasar!"
"pfffttt hahahaha" tawa gadis itu pecah saat mendapat jawaban ketus dari Gerald.
"tidak ada yang lucu" ucap acuh Gerald, dia berjalan meninggalkan kakaknya yang masih tertawa.
__ADS_1
"hey anak kulkas! tunggu kakak"
Gerald tidak peduli, ia melangkah menuju tangga. Memasang headset di kedua telinganya agar tak mendengar suara kak Queen, yang ia tahu pasti kakaknya itu hanya berniat menggodanya saja.
Queen hanya bisa mendengus melihat Gerald yang mengabaikannya "dasar bocah menyebalkan" ucapnya sembari berjalan menuruni tangga. Dia berusaha mengejar langkah kaki Gerald yang lebar.
greb
Queen berhasil mencekal tangan Gerald didepan pintu utama.
Gerald menoleh dan menatap kesal kak Queen "ada apa sih kak?! kakak selalu menggangguku!"
"siapa juga yang mau mengganggumu! aku hanya mau bertanya bagaimana penampilanku hari ini?"
Gerald memperhatikan penampilan Queen saat ini. Baju formal berwarna hitam dipadupadankan dengan rok sepan diatas lutut. Asesoris seperti kalung dan cincin melengkapi penampilan gadis ini. Jangan lupakan sepatu dan tas dengan warna senada yang menambah kesan mahal dari penampilannya kali ini. Riasan yang cukup tebal membuat Queen terlihat jauh lebih dewasa. Hal itu Queen lakukan dengan sengaja karena ia memang sengaja menyamarkan usianya yang masih kecil.
"bagaimana?" tanya Queen tak sabar mendengar pujian dari Gerald saat melihat pemuda itu memindai penampilannya.
"bi-a-sa sa-ja!!" ujarnya lalu ia pergi meninggalkan Queen karena merasa sudah siang.
Queen terbelalak mendengar jawaban datar Gerald, sebenarnya sudah bisa ditebak sih jawaban Gerald tapi ia tetap ngeyel meminta pendapat. Gadis itu memperhatikan langkah kaki Gerald yang semakin menjauh. "apa yang kuharapkan dari pria dingin seperti dia!" ucap Queen menggerutu.
"Queen.." sapa seseorang.
Valey memutar bola matanya saat anaknya memanggil seperti itu.
Queen yang melihat raut wajah momnya berubah meringis kan giginya "mom mau kemana?"
"bekerja"
"oh ya ampun.. Mom itu sudah tua lebih baik duduk dirumah saja! kenapa masih bekerja hmm? bahkan harta milik Daddy tidak akan habis jika mom membelanjakannya setiap hari"
cetak..
"aw sakit mom.." pekik Queen saat keningnya disentil oleh mom nya itu. Dia mengusap keningnya menggunakan rambut panjang miliknya.
"sepertinya mom harus membelikan mu filter agar ucapanmu itu bisa disaring terlebih dahulu Queen" ucap ketus mom Valey.
Queen terkikik melihat momnya yang kesal itu "apa mom tidak pernah mendengar istilah buah jatuh tak jauh dari pohonnya? begitulah aku mom. Aku memiliki sifat yang sama seperti dirimu. Jadi.. kalaupun aku harus membeli filter, seharusnya mom dulu kan yang beli?"
Queen membelalakan matanya saat melihat wajah mom Valey memerah, dia segera mengambil ancang-ancang untuk kabur.
__ADS_1
"Queensha Karren Bramantyo..."
"maaf mom.. aaahhhkk.. kabuuur" pekik Queen sembari berlari. Dia segera kabur dari amukan mom Valey.
Queen masuk kedalam mobil dan langsung pergi "mommy benar-benar menakutkan sekali" ujarnya sembari bergidik, dia melihat wajah garang momnya melalui kaca spion. Wajahnya tampak marah dengan tangan yang ia tekuk disisi pinggang. Dia bertolak pinggang.
Wanita paruh baya itu tampak tengah memarahinya meski ia telah berhasil kabur "untung saja aku tidak tertangkap. Bisa sakit telingaku diceramahi olehnya" ujarnya terdengar lega.
Queen melajukan mobilnya menuju kantor Global Group. Dia akan bekerja hari ini. Meskipun tidak ada ayang disisinya, Queen harus semangat bekerja.
Queen berjalan dengan anggun masuk kedalam gedung pencakar langit yang sudah berdiri puluhan tahun ini. Gadis itu menunduk saat ada yang menyapa dirinya. Meski ia tidak menjawabnya tapi gadis itu berusaha untuk tetap membalas mereka meski hanya anggukan kecil.
Queen menuju kearah lift khusus presdir yang dimana sidik jarinya yang ia gunakan untuk membuka pintu khusus itu.
Setelah sampai didalam ruangannya.
Devika masuk kedalam untuk membacakan agenda pekerjaannya hari ini. Serta memberikan beberapa dokumen yang dibutuhkan Queen.
Queen hanya diam mendengarkan.
"apa ada agenda lain setelah meeting nanti siang?"
"tidak nona" Devika menjawab dengan tegas.
Queen mengangguk "setelah meeting aku akan pulang"
"baik nona"
Queen melambaikan tangannya menyuruh asisten nya itu untuk pergi. Jadi, hari ini Queen hanya bekerja sampai sekitar jam dua atau tiga sore. Tangannya terulur untuk meraih telefon "hallo uncle Arlendra.." ucap Queen saat telfonnya tersambung, ternyata ia menghubungi salah satu ketua Tiger White. Arlendra.
"hallo nona.. ada yang bisa saya bantu?"
"aku membutuhkan bantuan uncle" ucap Queen.
"tentu saya akan membatu anda nona, apa yang nona butuhkan?"
"nanti aku akan kemarkas"
"baik.. akan saya tunggu"
"aku tutup dulu uncle"
__ADS_1
"baiklah nona.. selamat pagi"
Queen menutup sambungan telefon tersebut, menatap langit-langit ruang kerjanya dengan pandangan yang sulit diartikan.